NovelToon NovelToon
Dari Pecundang Jadi Legenda

Dari Pecundang Jadi Legenda

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:36.2k
Nilai: 5
Nama Author: waseng

Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan Pertama Kekuatan

Lorong itu sempit dan menurun tajam.

Semakin dalam Qiu Liong melangkah, udara terasa makin pengap. Bau darah dan lembap bercampur, menusuk hidungnya. Cahaya dari mulut gua telah sepenuhnya hilang, digantikan kegelapan yang hanya bisa ia “rasakan” melalui inti di dalam dirinya.

Dua keberadaan itu masih ada.

Lemah.

Berkedip seperti bara hampir padam.

“Cepat…” bisiknya pada diri sendiri.

Tiba-tiba

Suara gesekan kasar terdengar dari depan.

Bukan satu.

Banyak.

Qiu Liong berhenti.

Kehampaan dalam dirinya bergerak, menyebar seperti riak tak terlihat. Dalam kesadaran barunya, ia “melihat” bentuk-bentuk samar di dinding dan langit-langit lorong.

Laba-laba Batu.

Makhluk tingkat rendah, namun bergerak dalam kelompok. Tubuhnya sebesar anjing kecil, dengan kaki-kaki tajam seperti belati.

Dan di tengah lorong

dua murid sekte tergeletak, terjebak dalam jaring tebal berwarna keabu-abuan. Wajah mereka pucat, napasnya lemah.

Darah mengering di pakaian mereka.

Salah satu dari mereka masih bergerak sedikit.

Yang lain hampir tak sadar.

Amarah mendidih di dada Qiu Liong.

Namun berbeda dari sebelumnya.

Bukan amarah panas dan liar.

Lebih seperti kedalaman sunyi yang perlahan mengembang.

Laba-laba pertama menyadari kehadirannya.

Desis keras menggema.

Lalu satu per satu makhluk itu turun dari dinding.

Mengelilinginya.

Dulu, dalam kondisi seperti ini, kakinya mungkin sudah gemetar.

Namun sekarang—

ia merasa tenang.

Aneh sekali.

Seolah rasa takutnya ditelan sesuatu.

“Ini sentuhan pertamamu,” suara dari dalam dirinya berbisik samar.

“Jangan biarkan ia menguasaimu. Kuasai ia.”

Laba-laba pertama melompat.

Cepat.

Qiu Liong menggerakkan pedangnya.

Terlalu lambat.

Namun sebelum cakar itu menyentuh wajahnya

sesuatu di dalam dirinya bereaksi.

Kehampaan itu mengalir ke lengannya.

Bukan seperti qi biasa yang mendorong.

Melainkan seperti ruang yang menelan.

Cakar laba-laba itu menyentuh pedangnya

dan hancur.

Bukan terpental.

Bukan terpotong.

Melainkan retak dan terurai seperti batu rapuh.

Makhluk itu menjerit, tubuhnya terguncang.

Qiu Liong sendiri membeku.

Apa… yang baru saja terjadi?

Tanpa berpikir panjang, ia mengayunkan pedangnya sekali lagi.

Kali ini bukan dengan kekuatan otot

melainkan dengan niat.

Kehampaan itu mengikuti kehendaknya.

Pedang itu tidak memancarkan cahaya.

Namun saat menyentuh tubuh laba-laba

makhluk itu membeku sesaat, lalu runtuh seperti debu yang kehilangan bentuk.

Tidak ada darah.

Tidak ada teriakan panjang.

Hanya kehancuran yang sunyi.

Jantung Qiu Liong berdetak keras.

Ini… kekuatannya?

Laba-laba lain menyerbu serentak.

Dulu, ia pasti sudah panik.

Kini ia berdiri diam.

Mengatur napas.

Merasakan inti di dadanya.

Ia tidak perlu memaksakan aliran qi.

Ia hanya perlu… membuka ruang.

Saat makhluk-makhluk itu mendekat, Qiu Liong melangkah maju.

Setiap tebasan pedangnya membawa kehampaan.

Bukan ledakan.

Bukan gelombang energi.

Namun setiap sentuhan menghancurkan struktur makhluk itu dari dalam.

Seperti fondasi yang dicabut.

Seperti eksistensi yang ditolak.

Dalam hitungan napas, lorong itu kembali sunyi.

Sisa-sisa tubuh laba-laba runtuh menjadi serpihan abu keabu-abuan.

Qiu Liong berdiri di tengahnya.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia menyadari sesuatu.

Ia tidak merasa puas.

Tidak merasa bersalah.

Tidak merasa ngeri.

Perasaan-perasaan itu seperti… berkurang.

Sedikit.

Namun nyata.

“Setiap penggunaan… ada harganya,” suara itu berbisik pelan.

Ia menatap telapak tangannya.

Baru saja ia menyelamatkan dua nyawa.

Namun yang ia rasakan hanyalah ketenangan dingin.

Ia bergegas menuju kedua murid itu.

Memotong jaring, mengangkat tubuh mereka perlahan.

Salah satu membuka mata samar.

“Qiu… Liong…?” suaranya lemah, tak percaya.

Ia dulu mungkin akan tersenyum canggung.

Kini, ia hanya mengangguk pelan.

“Kita pulang,” katanya singkat.

Di dalam dadanya, inti kekosongan berdenyut lembut.

Sentuhan pertama kekuatan itu telah terjadi.

Dan Qiu Liong tahu

ia baru saja melangkah ke jalan yang tak bisa lagi ia tinggalkan.

1
Mbah Haryo
novel ini sperti cerita du dunia sekuler..dg sgala pertarungan moralitasnya...
bukan sperti cerita fantasi dunia persilatan...hhhh
Mbah Haryo
moralitas & idealisme buta....
yg tidak melihat simana dunia dia hidup..
hanya membuat orang menjadi bodoh..

didunia anjing makan anjing...
maka siapapun hrs siap mnjadi anjing...haaakak...
Mbah Haryo
narasinya masih sama sj dr awal sampai capter ini...hhhh
Mbah Haryo
masih sj dg narasi yg sama...bukan ini bukan itu tapi anu...
terus sj bgitu..wekekkekek.
jd boring dah ach...
Mbah Haryo
jagoanya mumet terlalu banyak masalah yg gak perlu...hhh
Mbah Haryo
baru kali ini ada pendekar yg banyak pikiran..bwakkakakk
Mbah Haryo
dapat inti kekosongan..tp malah tiada guna..hadeuewh...
Mbah Haryo
terooss aj..bukan ini tapi itu..bukan anu tapi panu...
gitu terus diakhir cpt..
Mbah Haryo
asyuuuddahlah....
Mbah Haryo
cerita yg awalnya bagus...jadi membosankenlah..
karakter yg m3mbingungken...hhh
Mbah Haryo
speeti bukan cerita silat..tp monolog cerita silet
Mbah Haryo
sdh sjauh ini..blas gal ada uraian ttg kultivasi...lalu dr mana kmampuan teknik jagoan ne...?
krn kekosongan tak adacm tekniknya...hhh😄
Mbah Haryo
penjelasan yg berulang..dr dpan sampe blakang..beih .wekekkeksk...
Mbah Haryo
smangkin jaoh dbaca...
kita malah kayak jd wong pekok....hhhh
Mbah Haryo
dwuleeg njiaaraann..cerita bagus tp malah berkutat di monolog" yg berulang...boring geess
Mbah Haryo
kalo gak berkembang...anu..caoo..
Mbah Haryo
mbooouuullleeeetttss ae....
gak berkembang bliaass ceritane...
Mbah Haryo
ya sudah..skarang mulai ptualangan kultivasinya dong...
pencerahan trous..kapan ngewenya..???🤣
Mbah Haryo
oke..sampai dsini masih bagus
Mbah Haryo
yah...cukup bagoes diawal cerita...jika konsisten dg bagoesnya...maka nganu..
ini jlas bagoes...hhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!