"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Drrttttt… Drrtt… Drrrtt …
Tiba-tiba, keheningan di bawah pohon beringin tua itu pecah oleh getaran kuat dari saku celana abu-abu Arash.
Ponselnya berdering nyaring, menampilkan nama sang ayah di layarnya.
Arash tersentak, buru-buru menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut sebelum suara deringnya memancing perhatian lebih jauh.
"Assalamualaikum, Ayah," sapa Arash, berusaha meredam intonasi suaranya agar terdengar sekeren dan setenang mungkin di bawah tatapan mata merah sang makhluk penunggu pohon.
"Waalaikumussalam. Arash, kamu di mana, Nak? Kenapa belum pulang? Ini sudah lewat jam pulang sekolahmu agak lama," tanya Arfin dari seberang telepon.
Nada suaranya sarat akan rasa khawatir yang khas dari seorang ayah yang protektif terhadap anak sulungnya.
Arash memejamkan mata, merutuki kelalaiannya yang terlalu asyik membuntuti mobil Devano sampai lupa waktu.
"Astaghfirullah, maaf Ayah. Ini Arash masih di rumah teman, kerja kelompok sebentar buat tugas akhir kelas tiga. Arash lupa ngabarin Ayah tadi pas selesai bel kelas, maaf ya, Yah."
"Ya sudah, jangan lama-lama ya, Nak. Sudah sore ini, langit juga kelihatan agak mendung. Ingat, nanti malam di pondok pesantren ada jadwal pengajian rutin. Kamu harus ikut nemenin Ayah," tutur Arfin mengingatkan kewajiban mingguan keluarga mereka.
"Iya, Ayah. Ini tugasnya udah hampir selesai kok. Arash langsung jalan pulang sekarang," jawab Arash, memberikan kepastian.
"Hati-hati di jalan, Nak. Jangan ngebut pakai motor, Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam, Ayah."
*Klik.*
Sambungan telepon terputus. Arash menghela napas berat, menatap layar ponselnya yang menggelap sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku denim.
Dia mendongak, menatap kembali ke arah sosok hitam besar bermata merah yang masih setia nangkring di atas dahan pohon rindang tersebut bersama Lala yang melayang centil di sekitarnya.
"Mbah, biasanya mereka yang datang ke dalam sana bakal menghabiskan waktu berapa lama ya?" tanya Arash, mencoba mengorek informasi terakhir sebelum dia terpaksa harus angkat kaki dari area keramat ini.
"Sampai tengah malam nanti, cah bagus," jawab makhluk itu dengan suara beratnya yang bergetar rendah, seolah mengguncang dedaunan kering di sekitar halaman.
"Waduhh..." Arash menggigit bibir bawahnya, mendadak dilanda kebingungan tingkat dewa.
Dia jelas tidak bisa bertahan di tempat terpencil dan menyeramkan ini sampai tengah malam.
Selain karena perintah Ayahnya untuk menghadiri pengajian, membolos dari rumah hingga larut malam tanpa alasan yang jelas pasti akan memicu kecurigaan besar dari Bundanya, Fatimah.
Dan jika Bundanya sudah mulai mengeluarkan radar interogasinya, rahasia kemampuan indigonya bisa berada dalam ancaman serius.
Melihat raut wajah Arash yang ditekuk penuh kebingungan, Lala yang sejak tadi sibuk memutari dahan pohon mendadak melayang turun.
Dia berhenti tepat di depan wajah Arash, mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedikit lebih berguna dari biasanya.
"Mas... gimana kalau aku yang di sini aja buat mantau?" tawar Lala, mengajukan diri dengan sukarela.
Arash mengernyitkan dahi, menatap roh cewek berpakaian hitam itu dengan pandangan sangsi.
"Kamu yakin mau tinggal di sini sendirian? Kesambet apaan kamu?’’
"Iya, yakin! Kan Lala udah kenal sama Om Satpam ini, jadi Lala gak takut lagi," ucap Lala dengan nada kelewat percaya diri.
Tanpa ragu-ragu, hantu cegil amnesia itu kembali melayang naik ke atas, mendekati sosok hitam besar bermata merah yang penampilannya bisa membuat anak kecil pingsan dalam tiga detik.
Lala bahkan dengan berani bertengger di salah satu dahan besar tepat di samping lengan berbulu makhluk tersebut.
Arash menatap pemandangan di atasnya dengan mulut sedikit melongo jengah.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala hantu di depannya ini.
Tadi saat pertama kali mendengar tawa menggelegar sang penunggu pohon, Lala adalah pihak yang paling pertama bersembunyi di balik punggung Arash sambil gemetaran ketakutan.
Tapi lihat sekarang? Hanya dalam hitungan menit, Lala sudah terlihat sangat akrab, bahkan posisinya saat ini seperti anak kucing kecil yang sedang bermanja-manja di dekat majikan barunya yang berukuran raksasa.
"Ya sudah kalau gitu. Mbah, saya titip Lala ya di sini. Tolong diawasin," kata Arash, mengalihkan pandangannya pada sang penunggu pohon beringin.
Sifat jahil Arash mendadak kumat demi membalas dendam atas kejengkelannya di kantin tadi.
"Kalau nanti dia nakal, masukin aja dia ke dalam rumah tua itu buat dijadikan tambahan tumbal pesugihan."
"Ihhhhh! Mas ganteng kok jahat banget sih sama calon makmumnya sendiri!" seru Lala protes keras, wajah cantiknya yang pucat langsung merengut sebal sembari menghentak-hentakkan kaki transparannya di udara.
‘’Makmum darimana woy, istigfar kata aku mah, La. Inget sadar diri!’’ kata Arash bergidik ngeri sendiri.
‘’Ihhh sumpah mas, kamu kejam sekali padaku,’’
Makhluk hitam besar di atas pohon itu kembali meledakkan tawa beratnya, merasa sangat terhibur dengan interaksi tidak biasa antara manusia indigo dan roh halus di hadapannya.
"Hahaha... pergilah, le. Urus kewajiban manusiamu. Biar urusan mengawasi pintu ini menjadi bagian dari tugas kami."
Arash terkekeh pelan, merasa sedikit lega karena setidaknya Lala aman berada di bawah perlindungan sang penjaga gaib yang tampaknya cukup kooperatif ini.
"Terima kasih, Mbah. Saya permisi dulu. Assalamualaikum."
lambaian tangan transparannya mengiringi langkah kaki Arash yang berjalan mundur kembali menuju tempat motor sport-nya disembunyikan.
Arash segera memakai helm full-face hitamnya, menyalakan mesin motor sport hijau kesayangannya yang menderu keras, lalu memutar arah untuk meninggalkan kawasan sempit nan rusak tersebut.
Sepanjang perjalanan pulang membelah jalanan kota Surabaya yang mulai meredup tertutup awan mendung sore hari, isi kepala Arash sama sekali tidak bisa tenang.
Pikirannya dipenuhi oleh rentetan teka-teki mistis yang saling bertabrakan satu sama lain.
Dia mencoba menghubungkan titik-titik misteri yang ada, rintihan perempuan di ruang Kepala Sekolah, status hilangnya Fira yang merupakan keponakan dari Pak Bakti,
absennya Devano selama dua hari yang ternyata dihabiskan untuk mendatangi tempat ritual pesugihan bersama orang tuanya, hingga potongan memori Lala yang berkaitan dengan wangi melati dan vanilla di dalam rumah tua kolonial tersebut.
Arash mencengkeram stang motornya lebih erat, menghela napas panjang di balik kaca helmnya yang gelap.
Dia tidak pernah menyangka bahwa kemampuan indigo yang selama ini mati-matian dia sembunyikan demi menjalani hidup normal sebagai anak SMA sholeh, justru menyeretnya masuk terlalu dalam ke pusaran konspirasi kriminal yang melibatkan dunia hitam.
‘Ya Allah, jadi detektif itu sangat melelahkan. Tapi aku terlalu terjun, dan aku semakin penasaran dengan semua ini,’
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
bisa kan,,,sapa,,
Assalamualaikum dlu😅😅😅