Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 – generasi perusak bangsa
Bab 11 – generasi perusak bangsa
“mending kamu diam saja, sekali ngomong bikin sakit hati,” ujar Rani melotot ke Rangga.
Rangga benar-benar tak mengerti kenapa mereka semua menyalahkannya. Padahal dia memang hanya mengungkapkan hal yang sebenarnya. Nadia sejak kecil tidak pernah ikut kursus apa pun. Yulia sekolah di TK unggulan, Nadia bahkan tidak sekolah TK. Yulia masuk SD favorit, sedangkan Nadia hanya sekolah di SD biasa.
Tapi anehnya, Nadia yang belajar di tempat dengan fasilitas minim justru bisa menjadi juara umum tingkat kota, sementara Yulia hanya menjadi nomor dua. Saat SMP pun begitu. Yulia masuk SMP setara internasional, sedangkan Nadia masuk SMP negeri gratis. Namun Nadia tetap mampu mengalahkan siswa-siswa dari sekolah favorit.
“mah aku lelah,” Yulia berkata dengan nada menyedihkan.
“lihatkan karena perbuatan kamu, anakku jadi sedih,” Rani melotot ke arah Rangga yang tak berdaya.
Rani membawa Yulia ke kamarnya, diikuti oleh Rini. Tinggallah Rangga berdiri sendirian.
Sekali dia melihat ke arah lorong tangga darurat tempat Nadia biasa naik ke kamarnya. Sekali lagi dia melihat ke arah Yulia yang berjalan menjauh.
Dalam hati dia hanya bisa berkata, susah sekali jadi lelaki.
**
“mah tolong tinggalkan aku.”
Yulia duduk di ranjang king size di dalam kamar paling mewah di rumah itu. Bahkan Rini yang merupakan anak pertama pun tidak memiliki kamar semewah miliknya.
“kamu yang sabar ya, kamu anak baik. Papah kamu memang begitu. Nanti mamah kasih pelajaran.”
Rani mengelus dada Yulia dengan lembut.
Tak lama kemudian Rani dan Rini keluar dari kamar. Kini Yulia sendirian.
Dia melangkah ke pintu lalu menguncinya dari dalam.
Begitu memastikan tak ada siapa pun di sana, rahangnya langsung mengeras. Tangannya mengepal erat. Seprai di atas ranjang diremas kuat-kuat.
“brengsek kamu Nadia. Kamu harus mati, Nadia,” geram Yulia, menahan diri agar tidak berteriak.
Citra sebagai malaikat tidak boleh rusak hanya karena amarah.
Kemudian Yulia menelepon seseorang.
“bagaimana pekerjaan anak buah kamu, ha? Kenapa tidak mengawasi Nadia? Kenapa Nadia bisa direkomendasikan oleh profesor?”
Nadanya tegas dan tajam. Sungguh benar-benar sosok yang berbeda.
“kemarin mereka hampir tawuran, terus kerja di bengkel. Setelah itu aku enggak ngerti kenapa Nadia bisa dapat rekomendasi profesor,” terdengar suara lelaki di seberang telepon.
“pokoknya aku enggak mau tahu. Nadia tidak boleh menjuarai olimpiade itu. Aku enggak rela, benar-benar enggak rela,” erang Yulia marah.
“kamu jangan emosian. Jangan marah-marah. Tenang saja, kita akan ganggu konsentrasi Nadia. Kita punya foto dia saat sedang balapan, merokok, dan beberapa foto saat Nadia bertarung. Dia itu pelajar bermasalah. Bisa rusak negara ini.”
Pria itu menasihati Yulia. Entah siapa sebenarnya dia.
Sambungan telepon terputus.
Namun amarah Yulia tak kunjung reda.
Dia masuk ke sebuah ruangan kecil lalu mengisap sesuatu yang membuat dirinya tenang. Perlahan tubuhnya terasa ringan, pikirannya melayang.
Setelah mengisap benda itu, Yulia kembali ke kasur.
Tak butuh waktu lama sebelum akhirnya dia tertidur.
..
Dua Minggu sebelum olimpiade, suasana di media sosial sudah ramai.
Sebuah unggahan provokatif dari akun @pejagamoralitas menyebar bagaikan api yang tertiup angin.
“seorang siswa nakal dari sekolah bermasalah lolos jadi peserta olimpiade, ini bahaya untuk kemajuan negara ini”
Tulisan itu diikuti oleh beberapa foto Nadia.
Foto Nadia sedang merokok bersama teman-temannya.
Video Nadia sedang mengikuti balapan liar.
Foto Nadia sedang terlibat perkelahian.
Dalam waktu sehari saja, narasi itu sudah menyebar ke mana-mana. Berbagai akun me-repost unggahan tersebut dengan alasan khawatir terhadap masa depan bangsa.
Berbagai tuntutan dari netizen pun menggema.
“usut tuntas keterlibatan panitia yang meloloskan Nadia sebagai peserta olimpiade”
“tolak Nadia sebagai peserta olimpiade”
“panitia harus mengutamakan moralitas ketimbang kecerdasan. Orang-orang cerdas dengan moralitas rendah akan menghancurkan bangsa”
Di kantor panitia olimpiade, terjadi ketegangan antar komisioner.
“kita tidak bisa begitu saja mengabaikan desakan netizen. Kredibilitas kita sebagai panitia dipertaruhkan di sini,” ujar Ibu Ratna dengan nada tajam.
“benar. Kita harus mencoret nama Nadia dalam kepesertaan. Kalau enggak, orang mulai meragukan kredibilitas olimpiade ini,” kata Pak Luki.
Beberapa hari lalu Rani menitipkan sesuatu kepadanya. Dia yang biasanya tidak pernah membahas moralitas, tiba-tiba berubah menjadi seorang moralis.
Diki diam melihat wajah rekan-rekannya.
Dalam hati dia berkata, orang kalau sudah kenal sama uang haram begini, otaknya pada konslet.
“pak Diki, anda sebagai ketua komisi harusnya mengambil kebijakan segera. Jangan anggap enteng masalah ini. Kita terus-menerus ditekan oleh netizen,” ucap Luki mendesak.
Diki menarik napas malas.
“kita bertugas menyelenggarakan olimpiade ini sebaik mungkin. SOP penerimaan peserta sudah ada, juri juga sudah disiapkan dengan baik. Sudah fokus saja ke situ. Enggak usah dengarkan apa kata netizen.”
“enggak bisa begitu saja, Pak. Kita punya tanggung jawab moral. Jangan sampai orang yang tidak bermoral malah jadi juara nantinya,” ucap Luki dengan rahang mengeras.
“moralitas?” gumam Diki sambil menegakkan tubuhnya. “moralitas yang mana? Mereka masih anak remaja. Mereka itu punya potensi baik dan buruk tergantung bagaimana orang dewasa mengarahkan. Kalian ini kenapa repot-repot mengurus moral peserta?”
“anda jangan pisahkan moralitas dan kecerdasan, Pak Diki. Anak cerdas tanpa moralitas hanya akan jadi monster ke depannya,” ucap Ibu Ratna.
“moralitas yang mana, Bu Ratna? Apa anak merokok disebut tak bermoral? Anak berantem disebut tak bermoral? Anak balapan liar disebut tak bermoral?”
Pak Diki menghela napas berat.
“saya ini perokok berat. Setiap ada persoalan berat, saya selalu merokok. Saya merokoknya sama Pak Luki juga. Dan andai Pak Luki ingat Prof Hadi, pencipta cairan cuci darah dengan bahan yang terjangkau itu. Dia selalu bercerita kalau dulu dia anak STM yang setiap minggu tawuran. Ini hanya masalah anak remaja. Semua masih bisa diarahkan.”
Luki mendecih.
Memang apa yang diungkapkan Diki ada benarnya. Namun dia sudah menerima uang. Pokoknya Nadia harus dicoret.
“kenapa kamu ngotot Nadia menjadi peserta? Apa anda menerima sogokan?” tanya Luki.
Diki menatap tajam pada Luki.
“anda punya bukti?” ucapnya tajam. “anda ini intelektual, harusnya jangan asal bicara. Asal anda tahu, Nadia itu direkomendasikan oleh Prof Hengki.”
Suasana mendadak hening.
Prof Hengki adalah legenda. Termasuk Diki dan Luki, keduanya pernah dibantu oleh profesor itu saat menempuh pendidikan.
“sekarang gini aja,” ucap Diki.
Dia mengeluarkan selembar kertas.
“kalian kerjakan soal ini dari Prof Hengki. Kalau kalian bisa mengerjakan dalam waktu lima menit, maka aku akan mencoret nama Nadia dari kepesertaan.”
Lima orang di ruangan itu melihat kertas tersebut secara bergantian.
Kemudian Diki menyalakan monitor besar. Beberapa soal matematika muncul di layar.
“kerjakan sekarang. Aku hitung lima menit dari sekarang.”
libas saja mereka si pecundang