NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: JARING PERTAMA TERBENTANG

Bab 11: Jaring Pertama Terbentang

Deru angin dari terowongan bawah tanah stasiun MRT Istora Mandiri berembus kencang, menerbangkan beberapa helai rambut hitam pekat Valerie Vespera saat dia menuruni anak tangga eskalator. Jam sibuk sore hari telah mengubah area stasiun menjadi lautan manusia berbaju korporat yang bergegas pulang. Di tengah kepungan kemeja necis dan langkah kaki yang terburu-buru, sosok Valerie dengan sweter rajut biru lamanya tampak begitu tenang, mengalir mengikuti arus massa seperti air yang tak beriak.

Tiga puluh meter di belakangnya, Roni—detektif swasta amatir sewaan Alethea—mulai menembus kerumunan dengan napas yang agak memburu. Topi baseball-nya diturunkan serendah mungkin, sementara matanya bergerak liar, mengunci punggung kurus Valerie sebagai satu-satunya target. Bagi Roni, membuntuti seorang siswi SMA yang berjalan kaki di area terbuka adalah hal mudah, namun menembus labirin bawah tanah Sudirman di jam pulang kantor adalah cerita yang sama sekali berbeda.

Valerie berjalan mendekati mesin gerbang tap-masuk otomatis. Matanya sempat melirik pantulan kaca pembatas di sampingnya. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Roni pura-pura sibuk memeriksa saldo kartu elektroniknya di mesin seberang sambil terus mengarahkan pandangan ke arahnya.

Seulas senyuman dingin, tipis, dan sarat akan ejekan terukir di sudut bibir Valerie. ‘Amatir,’ batinnya hambar.

Begitu melintasi gerbang tiket, Valerie tidak langsung menuju ke peron kereta yang searah dengan jalan pulang ke Menteng. Dia justru berbelok tajam ke arah koridor penghubung menuju gedung perkantoran Pacific Place yang terintegrasi di bawah tanah. Langkah kakinya dipercepat secara konstan, memaksa Roni di belakangnya untuk ikut mempercepat langkah dan mulai kehilangan kewaspadaan strukturalnya sebagai seorang pengintai.

Begitu tiba di tikungan koridor yang padat oleh antrean gerai makanan cepat saji, Valerie memanfaatkan ruang buta di balik pilar beton raksasa. Dengan gerakan yang begitu gesit dan terlatih, dia menyelinap masuk ke dalam lift darurat gedung menara kantor yang pintunya kebetulan sedang terbuka karena petugas kebersihan sedang mendorong troli.

KLIK.

Pintu lift tertutup dengan senyap.

Dua detik kemudian, Roni tiba di tikungan pilar dengan wajah panik. Dia menoleh ke kiri dan ke kanan, menembus ratusan kepala manusia yang berlalu-lalang, namun sosok gadis bersweter rajut biru itu telah lenyap bak ditelan bumi. Roni mengumpat pelan, meremas topi baseball-nya dengan rasa frustrasi yang membuncah. Dia tidak tahu bahwa dari balik celah sempit di lantai atas gedung yang sama, Valerie sedang melihat ke bawah menatap kebingungannya dengan ketenangan seorang dewa catur.

Sementara drama pengecekan amatir itu selesai di bawah tanah, di lantai sepuluh Gedung Griya Cakrawala, atmosfer bisnis yang sesungguhnya sedang mendidih. Julian Prakasa berdiri di tengah ruang kerja CEO yang minimalis, dikelilingi oleh tiga layar monitor raksasa yang menampilkan pergerakan arus kas perdagangan obligasi dan grafik utang jangka pendek sub-kontraktor nasional.

Tepat pukul sembilan malam, pintu lift eksekutif berdenting halus. Valerie melangkah masuk ke dalam ruangan setelah melakukan transisi pakaian di ruang privat gedung. Kemeja putih kasualnya terpasang rapi, dan tas kanvas usangnya diletakkan begitu saja di atas sofa kulit premium.

"Bagaimana posisi vendor semen Elrod Corp, Julian?" suara Valerie memecah kesunyian ruangan, terdengar begitu renyah namun dingin, mengalirkan daya tekan yang kuat.

Julian segera melangkah mendekati meja mahoni hitam besar, membawa sebuah draf hukum yang tebal. "Semuanya berjalan sesuai dengan kalkulasi algoritma Anda, Nona V. Tiga vendor semen lapis ketiga—PT Garuda Beton, CV Semen Perkasa, dan PT Cakrawala Konstruksi—malam ini resmi menandatangani draf pengalihan piutang (cessie) kepada Pecunia Corp."

Julian mengulas senyuman sinis yang teramat puas. "Gilbert Elrod benar-benar arogan. Dia menunda pembayaran termin proyek jalan tol mereka senilai total tiga puluh dua miliar rupiah selama enam puluh hari demi mempercantik laporan keuangan kuartalan Elrod Corp di bursa efek. Ketiga vendor tersebut sudah berada di ujung tanduk krisis likuiditas, tidak mampu membayar gaji buruh dan bunga bank."

Julian mengetuk layar tabletnya, memunculkan angka transaksi final. "Kita membeli seluruh hak tagih piutang tiga puluh dua miliar itu hanya dengan modal tunai dua puluh dua miliar empat ratus juta rupiah dari sisa akun kustodian kita. Potongan harga tiga puluh persen karena mereka butuh dana talangan darurat malam ini juga untuk menghindari pailit."

Valerie menyandarkan punggung tirusnya pada kursi kebesaran berbahan kulit premium. Jemari tangannya terlipat di bawah dagu, sementara sepasang mata hitam pekatnya menatap hamparan lampu kota Jakarta dari balik dinding kaca besar.

"Dua puluh dua miliar untuk membeli leher logistik Elrod Corp," gumam Valerie pelan, nadanya sedatar es namun menyimpan kekejaman yang absolut. "Artinya secara hukum, detik ini juga, Pecunia Corp adalah pemilik mutlak atas seluruh pasokan beton dan semen yang sedang mengalir ke area proyek strategis mereka di koridor Jawa Barat."

"Benar, Nona V," jawab Julian dengan kilatan mata penuh gairah balas dendam. "Dan sesuai klausul hak veto yang Anda diktekan kemarin, jika Elrod Corp gagal melunasi seluruh piutang tersebut dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam ke depan, kita memiliki hak hukum mutlak untuk menghentikan seluruh suplai material di lapangan secara sepihak tanpa bisa digugat."

Valerie mengetuk permukaan meja kayu hitamnya sekali. "Jangan tunggu tiga hari, Julian. Lakukan besok pagi tepat pukul sembilan, bertepatan dengan jam pembukaan bursa saham Jakarta."

Julian tertegun sejenak, menatap Valerie dengan pandangan takjub bercampur ngeri. "Besok pagi? Tapi Nona, batas waktu jatuh tempo mereka secara draf kontrak awal sebenarnya masih tersisa seminggu jika mengikuti perjanjian lama dengan vendor."

"Perjanjian lama itu sudah mati begitu piutang mereka jatuh ke tangan Pecunia Corp, Julian," sela Valerie dingin, tatapannya begitu tajam mengunci pupil mata Julian. "Gilbert Elrod suka menggunakan kekuatan modal untuk menindas yang kecil. Sekarang, mari kita tunjukkan padanya bagaimana rasanya dihantam oleh dinding modal yang jauh lebih besar dan tidak berwajah. Hentikan seluruh truk semen di gerbang proyek besok pagi. Biarkan beton yang setengah matang di lapangan mengering dan rusak sebelum waktunya."

Julian menundukkan kepalanya dalam-dalam, rasa hormatnya pada gadis remaja di hadapannya ini telah melampaui logika kemanusiaan biasa. "Dimengerti, Nona V. Perintah penahanan logistik akan dieksekusi besok pagi pukul sembilan tepat."

Pukul sebelas malam, suasana di kamar tidur mewah Alethea di lantai dua mansion Menteng tampak sunyi. Alethea sedang duduk di depan meja riasnya, mengoleskan krim malam mahal ke wajah mulusnya sembari sesekali melirik layar ponselnya yang diletakkan di samping cermin.

Sebuah bunyi berdenting menandakan sebuah surel masuk. Alethea dengan cepat meraih ponselnya, membuka pesan dari Roni sang detektif swasta.

Namun, begitu membaca baris pertama, senyuman puas di wajah Alethea langsung lenyap, digantikan oleh gurat kekesalan yang mendalam.

Nona Belmont, saya minta maaf yang sebesar-besarnya.

Target memiliki kemampuan membaca medan yang sangat tidak wajar untuk anak seumurannya. Dia sengaja memancing saya ke dalam kepadatan arus jam sibuk di Stasiun MRT Istora Mandiri dan menghilang di balik area buta lift darurat gedung komersial. Saya kehilangan jejaknya sejak pukul lima sore.

Berdasarkan pantauan informan saya di area pasar tradisional dekat stasiun akhir, kemungkinan besar dia hanya berputar-putar mencari makanan murah atau keluyuran di area kumuh kota sebelum kembali ke Menteng.

Alethea melempar ponselnya ke atas kasur dengan dengusan kasar. "Sialan! Dasar detektif tidak berguna! Mengikuti anak bodoh seperti itu saja bisa lolos!"

Alethea mondar-mandir di dalam kamarnya dengan napas yang memburu. Meskipun laporan Roni mengatakan Valerie kemungkinan hanya keluyuran di area kumuh, instink ular palsunya tetap tidak bisa tenang. Kehilangan jejak Valerie selama enam jam di pusat kota bukanlah sesuatu yang bisa dia sepelekan.

Dia berjalan menuju jendela balkon, menatap ke arah halaman bawah tanah yang gelap tempat kamar gudang Valerie berada. Lampu di dalam kamar gudang itu tampak padam dari luar, menandakan sang penghuni mungkin sudah tertidur lelap setelah seharian beraktivitas.

Alethea meremas pegangan besi balkon dengan erat, kukunya yang dihias kutek mahal tampak memutih. 'Kamu boleh lolos hari ini dari mata-mataku, Valerie...' bisik Alethea dengan kebencian yang mendalam, matanya menyipit kejam menembus kegelapan malam Menteng. 'Tapi besok, di bawah atap rumah ini dan di bursa bisnis Papa, aku akan memastikan tidak ada lagi tempat bagi sampah sepertimu untuk bersembunyi.'

Alethea tidak tahu, dan tidak akan pernah membayangkan dalam mimpi paling buruknya sekalipun, bahwa pada detik yang sama di dalam kamar gudang bawah tanah yang gelap itu, Valerie sedang berbaring dengan mata terbuka lebar. Di tangannya, ponsel retak seribu miliknya memancarkan cahaya redup, menampilkan draf konfirmasi dari Julian bahwa perintah penutupan jalur logistik Elrod Corp telah terkunci rapat di sistem komputer perbankan.

Jaring pertama telah terbentang sempurna dari kamar pojok yang pengap ini, dan besok pagi, seluruh langit kemegahan dinasti Elrod akan mulai merasakan guncangan gempa finansial yang pertama.

Bersambung.....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!