NovelToon NovelToon
Vengeance Of A Killer.

Vengeance Of A Killer.

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Anak Genius / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Ilmu Kanuragan
Popularitas:331
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Lucas, pembunuh bayaran paling mematikan dari Akademi Bayangan Utara, adalah master pisau dengan elemen air yang tak tertandingi. Obsesinya untuk menjadi yang terbaik dan persaingannya dengan Diana, senior ahli pedang es, membentuk dirinya. Namun, kedamaian hancur saat akademi diserang. Master Loe dan Niama gugur, memicu amarah Lucas yang melepaskan kekuatan airnya menjadi badai penghancur. Di tengah reruntuhan, Lucas bersumpah membalas dendam atas kematian mereka. Dengan sebuah lambang spiral gelap sebagai petunjuk satu-satunya, ia memulai misi pencarian dalang di balik kehancuran ini. Akankah balas dendam mengubahnya atau ia menemukan kebenaran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Rahasia Di Menara Terpencil

Kedua penjaga itu saling pandang, raut wajah mereka menunjukkan sedikit kekaguman. Mereka telah melihat banyak bakat, tetapi kemampuan mengendalikan air sehalus itu cukup jarang. Bola air itu kemudian membentuk sebuah pedang kecil, lalu kembali menjadi bola, dan akhirnya lenyap begitu saja ke udara. Setelah beberapa saat hening, penjaga bermata satu itu mengangguk pelan. "Baiklah, Lucian," katanya, suaranya kini sedikit melunak, "kau memiliki bakat yang menarik. Kami akan mengizinkanmu masuk, tapi jangan berharap banyak. Akan ada ujian lebih lanjut di dalam."

Lucas tersenyum tipis, merasa lega karena langkah pertamanya berhasil. "Terima kasih banyak, Tuan. Saya tidak akan mengecewakan kepercayaan kalian," jawabnya dengan rendah hati. Penjaga itu memberi isyarat agar Lucas mengikutinya, sementara penjaga lainnya tetap berjaga di gerbang. Lucas melangkah melewati gerbang megah itu, merasakan jantungnya berdebar kencang. Ia telah masuk ke sarang musuhnya, dan ini adalah awal dari segalanya.

Bagian dalam sekte itu jauh lebih besar dari yang Lucas bayangkan. Bangunan-bangunan kayu tradisional berjejer rapi, dikelilingi taman yang terawat indah dengan pohon-pohon rindang dan kolam-kolam air yang jernih. Lucas melihat beberapa murid sedang berlatih di halaman, mengayunkan pedang dengan gerakan yang lincah dan elegan. Udara dipenuhi suara derap kaki dan desingan pedang yang beradu, menciptakan suasana yang hidup namun penuh disiplin.

Penjaga bermata satu itu membawa Lucas menyusuri lorong-lorong yang berkelok. Selama perjalanan, Lucas mencoba mengamati setiap detail, mulai dari arsitektur bangunan hingga ekspresi wajah para murid. Ia berusaha mencatat setiap informasi yang mungkin berguna untuk misinya. Sesekali, ia melirik ke arah kolam-kolam air, merasakan koneksi elemennya yang kuat dengan lingkungan sekitar.

Mereka tiba di sebuah aula besar yang berfungsi sebagai ruang penerimaan. Di sana, seorang wanita paruh baya dengan pakaian serba putih duduk di meja, mencatat sesuatu di atas gulungan perkamen. Wanita itu memiliki aura yang tenang, tetapi matanya memancarkan ketegasan. Penjaga bermata satu itu berbicara sebentar dengannya, lalu menunjuk ke arah Lucas.

Wanita itu menatap Lucas, menilainya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Jadi, kau yang memiliki elemen air itu, ya?" tanyanya, suaranya lembut namun penuh wibawa. Lucas mengangguk. "Nama saya Fiona, saya bertanggung jawab atas pendaftaran murid baru. Ceritakan sedikit tentang dirimu, Lucian."

Lucas mengulangi cerita samaran yang telah ia siapkan: seorang pengembara yatim piatu yang haus akan pengetahuan pedang dan kebetulan menemukan bakat dalam mengendalikan air. Ia menambahkan sedikit sentuhan dramatis agar ceritanya lebih meyakinkan, tanpa berlebihan. Fiona mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, dan mencatat beberapa poin penting.

"Baiklah, Lucian. Berdasarkan ceritamu dan demonstrasi yang para penjaga lihat, kau diterima untuk mengikuti ujian tahap pertama," kata Fiona, menyerahkan sebuah gulungan perkamen kecil kepada Lucas. "Ini adalah panduan untuk ujian fisik dan elemen. Temui instruktur di halaman pelatihan besok pagi. Dan ingat, disiplin adalah kunci di sini."

Lucas menerima gulungan itu dengan hormat. "Terima kasih, Nona Fiona. Saya akan melakukan yang terbaik," jawabnya. Fiona lalu menunjuk seorang murid senior untuk mengantar Lucas ke kamarnya. Kamar itu sederhana, hanya berisi ranjang kayu, meja kecil, dan lemari. Lucas tahu ini adalah kesempatan untuk beradaptasi dan mengamati lebih jauh.

Malam itu, Lucas tidak bisa tidur dengan tenang. Ia membaca gulungan perkamen berulang kali, memahami setiap persyaratan ujian. Ini bukan hanya tentang kekuatan, tetapi juga ketahanan dan kecerdasan. Ia juga memikirkan Diana. Apakah Diana baik-baik saja di tempat ini? Apakah ia tahu tentang Master Brian yang sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di benaknya.

Saat fajar menyingsing, Lucas sudah bangun. Ia melakukan pemanasan ringan di dalam kamarnya, mencoba merenggangkan otot-ototnya. Ia tahu ia harus tampil meyakinkan sebagai murid baru yang bersemangat. Setelah mengenakan jubah abu-abu yang diberikan Fiona, ia menuju halaman pelatihan, tempat ujian akan dimulai.

Halaman pelatihan sudah ramai. Banyak pemuda dan pemudi lain yang juga akan mengikuti ujian, semuanya tampak gugup namun antusias. Instruktur, seorang pria berotot dengan pedang di punggungnya, mulai menjelaskan aturan ujian. Ada serangkaian rintangan fisik, diikuti dengan demonstrasi elemen.

Lucas mengikuti setiap ujian dengan hati-hati. Ia tidak ingin terlalu menonjol, tetapi juga tidak ingin terlihat lemah. Ia menggunakan kelincahannya untuk melewati rintangan fisik dengan mulus, dan saat tiba gilirannya mendemonstrasikan elemen air, ia menampilkan kontrol yang halus dan terkendali, seperti yang ia tunjukkan pada penjaga gerbang.

Instruktur itu mengamati Lucas dengan seksama. Setelah semua peserta selesai, ia mengumumkan hasil. Beberapa dinyatakan gagal, sementara yang lain, termasuk Lucas, dinyatakan lulus dan akan melanjutkan ke tahap berikutnya, yaitu latihan dasar pedang. Lucas merasa lega, satu rintangan lagi terlewati.

Latihan pedang dimulai keesokan harinya. Lucas, yang sudah terbiasa dengan pisau air dan teknik pembunuh bayaran, harus menyesuaikan diri dengan pedang kayu. Ia berpura-pura menjadi pemula, membuat beberapa kesalahan kecil yang wajar, tetapi tetap menunjukkan potensi yang menarik. Ia mempelajari setiap gerakan, bukan untuk menguasainya, tetapi untuk menyerap gaya bertarung Sekte Pedang Berbunga.

Selama latihan, Lucas sesekali melihat Diana. Gadis itu berlatih dengan serius di area yang berbeda, mengayunkan pedang kembarnya dengan anggun. Ia tampak jauh lebih kuat dan percaya diri. Lucas merasakan kerinduan yang mendalam, tetapi ia tahu ia tidak bisa mendekatinya dulu. Penyamarannya harus tetap terjaga.

Ia juga melihat Ellyza, yang berlatih bersama Diana. Ellyza tampak lincah dan cepat, sesekali melepaskan kilatan petir yang terkontrol dari pedangnya. Lucas menyadari bahwa Diana dan Ellyza adalah dua murid yang sangat berbakat, dan keberadaan mereka di sini semakin menguatkan dugaannya tentang Master Brian.

Minggu-minggu berlalu, dan Lucas terus beradaptasi dengan kehidupan di Sekte Pedang Berbunga. Ia belajar tentang hierarki, aturan-aturan tak tertulis, dan juga mencari tahu tentang aktivitas Master Brian. Namun, Master Brian jarang terlihat di depan umum, membuat Lucas kesulitan untuk mendapatkan informasi langsung.

Suatu sore, saat Lucas sedang berlatih sendiri di sudut halaman, ia mendengar percakapan antara dua murid senior. Mereka membicarakan tentang pertemuan rahasia yang sering diadakan Master Brian di sebuah menara terpencil di bagian paling belakang sekte. "Katanya, hanya murid-murid terpilih yang boleh masuk," bisik salah satu murid.

Lucas menyerap informasi itu. Menara terpencil, pertemuan rahasia, murid terpilih. Ini jelas petunjuk penting. Ia harus mencari cara untuk mendekati menara itu, atau setidaknya mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di sana. Ia tahu ini akan berbahaya, tetapi ia tidak punya pilihan.

Ia mulai merencanakan langkah berikutnya. Menara itu pasti dijaga ketat, dan Master Brian tidak akan membiarkan siapa pun yang tidak ia percayai mendekat. Lucas harus mencari tahu rute teraman, waktu yang paling tepat untuk menyusup, dan juga cara untuk menyembunyikan kehadirannya dari deteksi elemen Master Brian.

Malam itu, di kamarnya, Lucas membuka gulungan peta sekte yang berhasil ia dapatkan secara diam-diam. Ia melacak lokasi menara terpencil itu, menganalisis setiap detail, setiap jalan setapak, setiap bayangan. Ia akan menggunakan elemen airnya untuk menyelinap, bergerak tanpa suara, dan menjadi bagian dari kegelapan.

Ia tahu misi ini akan sangat berisiko. Jika ketahuan, penyamarannya akan terbongkar, dan nyawanya akan terancam. Namun, demi membalas dendam atas kehancuran Akademi Bayangan Utara dan melindungi Diana, Lucas rela mengambil risiko apa pun. Ia tidak akan berhenti sampai Master Brian membayar semua perbuatannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!