NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:678
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angkuh di Luar, Menjerit di Dalam

Lina masih memegangi perutnya yang kaku. Kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak riuh oleh suara tawanya yang menggelegar, memantul di antara dinding-dinding tripleks yang mulai berjamur. Bagi Lina, melihat Dika—pemuda pendiam yang biasanya hanya bisa menunduk pasrah saat ditagih uang sewa—tiba-tiba memasang wajah sok dingin sambil mengoceh tentang kaisar naga adalah hiburan komedi terbaik minggu ini.

Namun, bagi Dika, tawa itu bagai hantaman palu gada seberat sepuluh ribu jin yang

menghancurkan fondasi harga dirinya.

Ia berdiri tegak, berusaha mempertahankan postur tubuhnya yang tegap. Sepasang matanya yang masih menyisakan sisa-sisa pendar emas Mata Takdir menatap Lina dengan tajam. Sinar mata yang di Alam Langit mampu membuat ribuan jenderal iblis gemetar ketakutan, kini hanya dibalas dengan lambaian tangan meremehkan dari seorang anak SMA.

“Tertawalah sepuasmu, manusia fana,” ucap Dika. Suaranya rendah, bergaung dengan wibawa artifisial yang ia paksakan keluar dari tenggorokannya.

“Ketidaktahuan adalah berkah bagi makhluk seperti kalian. Tapi ingat, roda takdir telah berputar. Dinasti kemiskinan yang mengikat raga ini akan segera runtuh.”

Lina menyeka air mata di sudut matanya, mencoba meredakan sisa tawa yang masih menggelitik dadanya.

“Aduh, Dika... stop, please. Gue bisa mati jantungan kalau lo lanjut akting kayak begitu. Lo mending ikut teater sekolah gue aja deh, asli. Daripada jadi kurir paket, bakat halu lo ini lebih menghasilkan tahu nggak?”

Dika tidak menyahut secara lisan. Ia hanya mendengus dingin, membuang muka ke arah jendela yang menampilkan pekatnya langit Jakarta pasca-badai mistis tadi. Tampangnya tampak begitu misterius, seolah-olah dia sedang memikirkan strategi perang untuk menaklukkan benua baru.

Namun, di dalam kepalanya, jeritan batin Dika justru terdengar jauh lebih histeris dan merana.

“Aduh Gusti, hancur... beneran hancur martabat gue sebagai sesepuh kultivasi! Kenapa kutukan petir sialan ini nggak bisa diajak kompromi? Mulut batin gue kenapa bocornya lancar banget kayak keran rusak? Ini kalau si Lina cerita ke ibunya, bisa-bisa besok pagi gue diusir dari kosan karena dianggap udah gila dan stres akibat kelaparan! Mana perut gue udah bunyi lagi dari tadi, laper banget demi dewa!”

Kruuuk...

Seolah merespons suara batin tersebut, perut Dika mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring di dalam keheningan kamar.

Lina langsung menghentikan senyumnya. Pandangannya beralih ke arah perut Dika, lalu kembali menatap wajah pemuda itu yang kini mulai memerah sampai ke telinga. Lina menghela napas panjang, tatapan matanya yang tadi penuh ejekan kini berubah menjadi sedikit melunak, menyiratkan rasa kasihan yang mendalam.

“Jadi... dari tadi lo belom makan, Dik?” tanya Lina. Tonal suaranya turun satu oktav, tidak lagi galak.

Dika buru-buru melipat tangan di dada, mencoba menutupi perutnya. “Makan adalah kebutuhan sekunder bagi seorang praktisi spiritual tingkat tinggi. Energi kosmik di sekitar kita sudah cukup untuk mengisi—”

“Sialan, kenapa dia harus nanya soal makan sih?! Kan gue jadi makin laper! Terakhir gue makan itu kemarin siang, cuma sebungkus mie instan dibagi dua buat pagi sama malem. Sekarang dompet gue bener-bener kosong melompong, cuma ada selembar uang dua ribu perak yang udah lecek dan robek di pinggirnya. Kalau gengsi gue nggak setinggi langit, udah dari tadi gue berlutut minta nasi rames ke si Lina!”

Dengar ratapan batin yang begitu detail dan mengenaskan itu, Lina tidak bisa lagi menahan rasa ibanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala, menyadari bahwa di balik segala omong kosong tentang dewa dan langit, Dika yang ada di depannya ini tetaplah Dika yang dia kenal:

seorang pemuda yatim piatu miskin yang sedang berjuang bertahan hidup di kerasnya ibu kota.

Tanpa banyak bicara, Lina membalikkan badan.

“Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana, awas lo kalau kabur.”

Lina melangkah pergi, meninggalkan pintu kamar kos yang terbuka sedikit.

Begitu sosok gadis itu menghilang dari

pandangan, Dika langsung merosot. Bahunya turun, ekspresi wajahnya yang semula sedingin es kini berubah menjadi lesu. Ia duduk di pinggiran kasur tipisnya yang sudah kempes, memandangi kedua telapak tangannya sendiri yang tampak kasar akibat terlalu sering membawa paket-paket berat.

“Mata Takdir... apa gunanya kekuatan tertinggi ini kalau untuk beli sepiring nasi saja aku tidak mampu?” gumam Dika dalam hati, kali ini dengan nada yang benar-benar lelah.

Ia memejamkan mata, mencoba mengalirkan sisa energi spiritual di dalam tubuhnya. Sesaat

kemudian, ia membukanya kembali. Kali ini, ia memfokuskan pandangannya ke arah meja kayu di sudut ruangan. Di matanya, garis-garis energi duniawi mulai terlihat. Lembaran uang dua ribu perak yang lecek di atas meja memancarkan aura abu-abu yang sangat tipis—simbol dari nilai ekonomis yang hampir tidak ada artinya.

Namun, Mata Takdir tidak hanya bisa melihat nilai suatu barang. Kekuatan sejati dari mata ini adalah melihat celah keuntungan, masa depan dari sebuah tindakan, dan titik balik dari nasib seseorang.

“Jika ingatan tubuh ini tidak salah, besok adalah hari di mana agen kurir tempatku bekerja akan mengadakan audit besar-besaran karena kasus hilangnya barang-barang mewah kiriman pelanggan. Manajer korup itu... dia berencana menuduhku sebagai kambing hitam agar dia bisa mengantongi uang asuransi.”

Sebuah senyuman tipis, kali ini senyuman yang benar-benar dingin dan penuh perhitungan, terukir di bibir Dika.

“Bagus sekali. Kau ingin bermain denganku? Mari kita lihat siapa yang akan bertekuk lutut besok pagi.”

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar kembali mendekat. Dika dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi datar dan acuh tak acuh.

Lina masuk kembali ke dalam kamar membawa sebuah piring seng berisi nasi putih hangat yang mengepul, lauk satu potong telur dadar tebal, dan siraman kuah kecap di atasnya. Bau harum dari telur dadar yang baru matang itu langsung menyeruak, memenuhi ruang kamar kos yang pengap dan seketika membuat air liur Dika hampir menetes.

“Nih, makan,” kata Lina sambil menyodorkan piring tersebut ke depan dada Dika.

“Ibu tadi masak kebanyakan. Daripada mubazir dibuang, mending lo habisin. Tapi awas ya, jangan mikir yang aneh-aneh lagi dalam hati lo! Kuping gue sensitif!”

Dika menatap piring itu dengan pandangan beralih-alih antara harga diri seorang calon dewa dan tuntutan perut yang sudah melilit. Perlahan, ia menerima piring tersebut.

“Kebaikan kecilmu ini akan dicatat oleh langit, Lina. Kelak, saat aku kembali ke puncak keabadian, aku akan memberimu satu wilayah kultivasi utuh di Alam Langit,”

ucap Dika, berusaha tetap terdengar berwibawa saat mengambil sendok.

Lina hanya memutar bola matanya malas. “Serah lo deh, Dik. Yang penting itu nasi diabisin, piringnya taruh di depan pintu kalau udah selesai.”

Lina membalikkan badan untuk keluar, namun sebelum ia melangkah melewati pintu, Dika mendongak. Matanya menatap punggung Lina, dan seketika itu juga, Mata Takdirnya aktif tanpa sengaja.

Di atas kepala Lina, muncul sebuah untaian benang merah yang tampak kusut, bersinggungan dengan benang hitam pekat yang melambangkan nasib buruk yang akan datang dalam waktu dekat. Mata Takdir memberi Dika

penglihatan instan: besok sore, saat pulang sekolah, Lina akan dihadang oleh sekelompok penagih utang (debt collector) liar di gang depan akibat utang lama almarhum ayahnya yang ternyata belum lunas.

Dika tertegun. Gerakan sendoknya terhenti di udara.

“Benang hitam nasib buruk... skalanya cukup besar untuk menghancurkan kehidupan damai gadis ini dan ibunya. Penagih utang itu akan bertindak kasar.”

Suara batin Dika bergema, kali ini tanpa ada unsur komedi sama sekali, melainkan penuh dengan nada serius yang tajam.

“Lina sudah memberiku makan malam ini. Hutang budi ini adalah karma yang harus kubersihkan pertama kali. Besok sore... aku sendiri yang akan memutus benang hitam sialan itu.”

Lina yang baru saja akan melangkah keluar, tiba-tiba menghentikan kakinya tepat di ambang pintu. Tubuhnya membeku selama beberapa detik. Ia mendengar dengan sangat jelas suara batin Dika yang barusan—suara yang sama sekali berbeda dengan suara "jamet halu" beberapa menit lalu. Suara batin yang ini terasa sangat berat, penuh tekanan, dan memancarkan rasa aman yang luar biasa kuat hingga membuat bulu kuduk Lina meremang.

Lina menoleh sedikit, melirik Dika dari sudut matanya. Pemuda itu kini sedang menyuap nasi telur dadar ke dalam mulutnya dengan lahap, seolah-olah fokusnya hanya ada pada makanan di piringnya.

“Dika...” panggil Lina pelan.

Dika mendongak dengan mulut yang masih penuh nasi. “Hmm? Ada apa?”

Lina menatap Dika dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bingung, penasaran, dan sedikit debaran aneh di dadanya setelah mendengar niat Dika untuk melindunginya besok sore. Namun, karena sifat dasarnya yang gengsi dan galak, Lina akhirnya hanya mendengus kecil.

“Nggak ada apa-apa. Makannya pelan-pelan, kayak nggak makan setahun aja lo,

” ketus Lina, lalu segera berjalan cepat meninggalkan area kos-kosan dengan wajah yang entah mengapa mendadak terasa sedikit panas.

Dika melanjutkan makannya hingga butir nasi terakhir bersih tak tersisa. Ia meletakkan piring kosong itu di lantai, lalu kembali berbaring di atas kasurnya yang keras. Matanya menatap

langit-langit kamar yang tripleksnya mulai melar, sementara pikirannya sudah melayang menyusun rencana untuk hari esok.

“Hari pertama di bumi... perut sudah kenyang,” batin Dika sambil tersenyum kecil sebelum perlahan memejamkan mata untuk beristirahat.

“Besok, panggung sandiwara ini akan dimulai. Agen kurir, manajer korup, dan para penagih utang... bersiaplah untuk menyambut kedatangan Yang Mulia Dika.”

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!