Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Restoran mewah berbasis internasional yang terletak di lantai 30 hotel bintang 5 itu memiliki suasana yang sangat elegan. Irama musik jazz mengalun lembut, lampu kristal menggantung mewah, dan dinding kaca raksasanya menyuguhkan pemandangan kota Jakarta dari ketinggian.
Di sanalah Kirana sekarang berada. Duduk dengan punggung tegak lurus sembilan puluh derajat, kedua tangan terlipat rapi di atas pangkuan, mata menatap lurus ke depan dengan ekspresi sedingin es di kutub utara.
Di seberangnya, Raditya Baskara sedang sibuk memotong daging steak wagyu miliknya dengan gaya yang jauh dari kata anggun. Alih-alih menggunakan pisau dengan elegan, Radit justru memegang garpu dan pisau seperti orang yang siap melakukan demonstrasi memasak di televisi.
"Ra, kamu tahu tidak kenapa daging sapi ini harganya mahal?" tanya Radit setengah berbisik.
"Karena ini daging sapi wagyu kualitas A5 yang diimpor langsung dari Jepang, Pak," jawab Kirana tanpa mengubah nada suaranya sedikit pun.
Mendapat jawaban itu Radit menggelengkan kepala, membuat beberapa helai rambutnya yang sengaja ditata acak-acakan ikut bergoyang.
"Salah. Daging sapi ini mahal karena semasa hidupnya mereka tidak punya cicilan KPR seperti kamu. Jadi, mereka tidak pernah stres, ototnya rileks, jadi dagingnya empuk. Makanya, kamu jangan terlalu kaku, nanti kalau kamu jadi daging, teksturnya pasti alot" ucap Radit tersenyum bodoh.
KPR ( kredit pemilikan Rumah ).
Mendengar itu Kirana memejamkan mata sejenak, menghitung sampai tiga dalam hati untuk mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya.
"Terima kasih atas analisis biologinya yang sangat tidak relevan itu ya Pak. Namun, mohon saya ingatkan kembali bahwa lima menit lagi wartawan dari Executive Magazine akan tiba. Tolong rapikan serbet Anda" ucap Kirana dengan profesionalnya.
Tepat setelah Kirana menyelesaikan ucapannya, seorang wanita paruh baya berpenampilan modis dengan kamera menggantung di lehernya berjalan mendekati meja mereka. Dia adalah Mbak Sarah, jurnalis senior yang terkenal dengan pertanyaan-pertanyaan tajamnya.
"Selamat siang, Pak Raditya, Mbak Kirana. Maaf membuat kalian menunggu" sapa Mbak Sarah dengan ramah sambil menjabat tangan mereka bergantian.
"Oh, tidak apa-apa, Mbak Sarah. Kami juga baru saja membahas tentang manajemen tingkat stres pada komoditas lokal" ujar Radit sambil mengedipkan sebelah mata ke arah Kirana, yang langsung dibalas Kirana dengan tatapan datar.
Wawancara pun dimulai. Awalnya, semua berjalan lancar dan profesional, terlepas dari segala tingkah ajaibnya Radit. Ketika berbicara tentang strategi ekspansi Baskara Group ke pasar Eropa, cara bicaranya berubah menjadi sangat karismatik, lugas, dan penuh percaya diri. Sisi jenius inilah yang terkadang membuat Kirana sedikit, ingat hanya sedikit menaruh rasa hormat pada bosnya itu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Setelah tiga puluh menit membahas bisnis, Mbak Sarah menurunkan tablet catatannya dan tersenyum penuh arti.
"Baik, Pak Radit. Pertanyaan terakhir saya ini agak sedikit melenceng dari urusan korporasi kita, tapi pembaca kami selalu penasaran dengan kehidupan pribadi seorang CEO muda yang sukses seperti Anda" ujar Mbak Sarah, matanya melirik sekilas ke arah Kirana yang duduk di samping Radit. "Baskara Group baru saja meluncurkan lini pakaian siap pakai bertema 'Modern Companion'. Banyak rumor mengatakan di kalangan internal bahwa inspirasi terbesar Anda untuk proyek ini adalah seseorang yang sangat dekat dengan Anda setiap hari. Apakah itu benar?" lanjutnya.
Radit terkekeh pelan. Sifat usilnya yang tadinya tertidur tiba-tiba bangkit dengan kekuatan penuh. Ia melirik Kirana, lalu menopang dagunya dengan satu tangan, dia menatap sekretarisnya itu dengan pandangan yang dibuat-buat penuh rindu.
"Haha... Mbak Sarah ini bisa saja mencium bau-bau rahasia" goda Radit. "Ya, bisa dibilang begitu. Saya tidak akan bisa melangkah sejauh ini tanpa seseorang yang selalu berdiri di samping saya. Seseorang yang em... Meskipun hatinya sedingin es batu di tukang es keliling, tapi kehadirannya sangat menghangatkan dompet perusahaan" lanjutnya tersenyum lebar.
Mbak Sarah langsung menegakkan tubuhnya, matanya berbinar mencium aroma berita eksklusif.
"Oh? Sedingin es batu? Apakah itu merujuk pada seseorang di ruangan ini, Pak Radit?" tanya Mbak Sarah penuh semangat.
Kirana menyadari arah pembicaraan ini mulai berbahaya. Dia segera berdeham kecil, mencoba mengalihkan topik sebelum imajinasi Radit merusak harga saham perusahaan.
"Maaf, Mbak Sarah. Maksud Pak Raditya adalah sinergi profesional antara seluruh jajaran direksi dan staf administrasi—"
"Aduh Kirana, jangan terlalu formal begitu ah" potong Radit cepat sambil tertawa. "Mbak Sarah, sekretaris saya ini memang pemalu kalau di depan publik. Dia selalu berusaha menyembunyikan... Kedekatan kami di balik tumpukan berkas-berkas laporan" lanjutnya.
Mendengar itu mata Mbak Sarah membelalak dan juga penuh binar.
"Jadi, rumor yang mengatakan bahwa CEO Baskara Group terlibat hubungan asmara dengan sekretaris pribadinya itu fakta?" tanya Mbak Sarah antusias.
Kirana bersumpah di dalam kepalanya, dia sudah membayangkan tiga puluh cara untuk menenggelamkan Radit ke dalam laut. Namun, di dunia nyata, wajahnya tetap seperti patung manekin.
"Pak Radit hanya bercanda, Mbak Sarah. Hubungan kami murni profesional di atas kontrak kerja—"
HATCHIII!!!
Tiba-tiba, Radit bersin dengan sangat keras. Tubuhnya tersentak ke depan, dan tanpa sengaja tangannya menyenggol cangkir kopi panas yang berada di dekatnya. Cangkir itu terguling hingga cairan hitam pekat di dalamnya langsung tumpah ke atas celana kain mahal milik Radit.
"Aduh! Panas, panas, panas!" Radit langsung berdiri, melompat-lompat kecil seperti katak yang kepanasan sambil mengibas-ngibaskan celananya.
Melihat hal itu, insting sekretaris profesional Kirana langsung mengambil alih kendali tubuhnya. Tanpa ekspresi panik sedikit pun, Kirana menyambar kain serbet bersih dari meja. Ia melangkah mendekati Radit, berlutut dengan satu kaki di depan bosnya, dan dengan gerakan cepat namun pasti, ia mulai menepuk-nepuk kain serbet itu ke celana Radit untuk menyerap noda kopi.
"Diam sebentar, Pak. Jangan banyak bergerak atau nodanya akan melebar ke mana-mana" perintah Kirana dengan suara tegas, matanya fokus pada tugas membersihkan celana tersebut.
Radit membeku. Ia menunduk, menatap Kirana yang sedang berlutut di depannya dengan wajah serius. Dari jarak sedekat ini, Radit bisa mencium aroma samar lavender dari rambut Kirana yang disanggul rapi. Detak jantung Radit tiba-tiba melewatkan satu ketukan. Bukan karena kopi yang panas, melainkan karena posisi mereka yang mendadak terlihat sangat... intim.
"K-Kirana... sudah, tidak apa-apa..." bisik Radit, mendadak gugup untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
Namun, Kirana tidak mendengarkan. Ia mendongak, menatap mata Radit dengan kacamata yang sedikit turun.
"Sedikit lagi, Pak. Ini celana edisi terbatas, kalau tidak segera ditangani, kainnya bisa—"
KLIK! KLIK! KLIK!
Suara rentetan blitz kamera yang intens memotong ucapan Kirana. Radit dan Kirana langsung menoleh serentak ke arah sumber suara.
Di sana, Mbak Sarah sedang memegang kameranya dengan senyum kemenangan terbesar yang pernah ada dalam sejarah jurnalistiknya. Dari sudut pengambilan gambar Mbak Sarah, posisi Kirana yang sedang berlutut di depan Radit sambil memegang celananya, ditambah tatapan mata mereka yang saling mengunci, terlihat persis seperti adegan lamaran yang sangat romantis dan penuh drama.
"Luar biasa! Foto ini, gestur ini. Ini adalah defenisi dari cinta yang tulus dan penuh perhatian di luar batasan bos dan bawahan!" seru Mbak Sarah dengan nada terdengar sangat puas. "Pak Radit, Mbak Kirana, terima kasih banyak atas konfirmasi visualnya! Artikel ini akan menjadi topik trending nomor satu besok pagi!" lanjutnya.
Sebelum Kirana sempat berdiri dan menjelaskan hukum fisika di balik insiden kopi tumpah tadi, Mbak Sarah sudah mengemas barang-barangnya dengan kecepatan kilat, menjabat tangan Radit yang masih syok, lalu berlari keluar restoran seolah takut fotonya akan dihapus.
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi meja nomor dua belas itu. Kirana bangkit berdiri perlahan, merapikan rok hitamnya yang tidak bersalah. Dia menatap pintu keluar tempat Mbak Sarah menghilang, lalu mengalihkan pandangan datarnya ke Radit yang kini tampak seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen.
"Pak Raditya Baskara" panggil Kirana dengan nada suaranya yang terdengar lebih dingin daripada es di dalam es teh manis pinggir jalan.
"Y-ya, Ra?" Radit menelan ludah, senyum konyolnya lenyap tak berbekas.
"Besok pagi, pasti saham perusahaan kita akan berpotensi mengalami fluktuasi akibat berita fiksi romantis ini" ucap Kirana sambil merapikan tabletnya ke dalam tas. "Dan saya pastikan, saya akan memasukkan biaya kompensasi kesehatan mental ke dalam anggaran lembur saya bulan ini" lanjutnya.
Radit hanya bisa melongo menatap sekretarisnya yang berjalan pergi meninggalkannya dengan langkah tegap, tanpa tahu bahwa besok pagi, seluruh jagat maya akan gempar karena foto mereka tadi.