NovelToon NovelToon
Nona Mafia Yang Menyamar

Nona Mafia Yang Menyamar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.

sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.

namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?

novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pagi harinya

Matahari belum sepenuhnya terbit saat Alessandra membuka matanya. Kebiasaan sejak kecil yaitu bangun pukul 04.30, meditasi setengah jam, lalu bersiap. Hari ini berbeda. Hari ini dia tidak akan pergi ke kantor pusatnya di distrik keuangan Acelia. Hari ini dia akan menjadi orang lain.

Dia duduk di ranjangnya dalam posisi lotus, menutup mata. Bintang-bintang di dalam tubuhnya berdenyut pelan dengan sepuluh titik cahaya yang tersebar dari dada hingga pusar. Api menyala di bintang pertama, air mengalir di bintang kedua, kegelapan mencekram di bintang ketiga, cahaya berkilau di bintang keempat, tumbuhan merambat di bintang kelima. Lima elemen. Empat berlawanan. Sebuah keajaiban yang bahkan para tetua Akademi Alexandra tidak percaya keberadaannya.

Fokus, ucapnya dalam hati. Jangan biarkan emosi menguasai.

Tapi emosinya sudah mulai beriak sejak semalam. Sejak tiga pria itu mengira dia adalah Allegra. Sejak dia membaca artikel tentang gadis malang yang tidak pernah dicintai keluarganya.

Alessandra menghela napas, lalu turun dari ranjang.

Kamar mandi pribadinya luas, dengan marmer hitam dan emas. Dia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Wajah itu halus, dingin, dengan mata coklat terang yang tajam memang mirip dengan foto Allegra yang dia lihat. Tapi Allegra terlihat lebih lembut, lebih patah.

"Hari ini," bisiknya pada bayangannya. "Hari ini kamu bukan Valeria Alessandra. Kamu Valeria Allegra. Gadis cupu, kutu buku, penakut."

Dia merapikan rambut hitam pendek sebahu yang biasanya dibiarkan tergerai. Kali ini, dia mengikatnya kecil di belakang model yang sama seperti di foto Allegra. Lalu dia mengambil pita merah dari meja riasnya.

Pita itu bukan pita biasa. Wali angkatnya yang memberikannya tahun lalu, setelah dia berhasil memenangkan perang mafia pertama. Di balik lipatan kain sutra merah itu, tersemat sebuah jarum mikro beracun sebuah racun yang bisa melumpuhkan pemilik bintang hingga lima tingkat dalam hitungan detik.

"Untuk keadaan darurat," ucap Purnomo saat itu. "Semoga tidak pernah kamu pakai."

Alessandra mengikat pita itu dengan rapi. Jarumnya tersembunyi sempurna.

Lalu dia mengambil kacamatanya —rimless glasses dengan rantai emas yang bergelantung anggun. Dia menempelkannya ke hidung. Seketika, tekanan akrab menyelimuti sepuluh bintang di dalam tubuhnya. Elemen-elemennya meredam. Kekuatannya terperangkap. Dia terlihat seperti manusia biasa.

Sempurna.

Dia mematikan lampu kamar dan berjalan menuju pintu.

Aroma sarapan menyambutnya begitu kaki mungilnya menginjak lantai marmer lorong utama. Rumah besar bergaya neo-klasik itu terbangun perlahan dan para pembantu mulai sibuk di dapur, para penjaga berganti shift di pos-pos strategis.

Ini bukan rumah biasa.

Setiap pembantu di sini telah melalui serangkaian tes ketat: latar belakang, loyalitas, kemampuan beladiri dasar, bahkan tes kebohongan dengan bintang cahaya tingkat rendah. Gaji mereka lima kali lipat dari rata-rata pembantu di Acelia. Tapi resiko kematian juga lima kali lipat. Karena di rumah ini tinggal ketua mafia paling ditakuti di Kaldora.

Alessandra tidak pernah meremehkan keselamatan. Dia punya musuh di mana-mana.

"Selamat pagi, Nona Alessandra." Seorang pembantu bernama Mbok Ratmi membungkuk hormat.

"Selamat pagi, Mbok Ratmi. Papa sudah bangun?"

"Sudah, Nona. Beliau di ruang makan."

Alessandra mengangguk kecil. Dia berjalan menyusuri lorong, melewati ruang keluarga yang luas dengan sofa kulit hitam, melewati perpustakaan pribadinya yang berisi ribuan buku tentang strategi perang dan hukum bisnis, hingga akhirnya tiba di ruang makan.

Purnomo Wijaya sudah duduk di ujung meja panjang. hidup Wijaya, no Wijaya no life :v

Pria itu berusia 45 tahun, tapi penampilannya tidak lebih dari 35. Posturnya tegap, bahu lebar, dengan rahang tegas yang mengingatkan pada singa. Rambut hitamnya mulai diselingi uban di pelipis, tapi itu justru membuatnya tampak lebih berwibawa dan lebih tampan. Matanya hitam pekat, tajam, mampu membuat bawahannya gemetar hanya dengan sekali lihat.

Tapi saat melihat Alessandra berjalan masuk dengan rambut terikat pita merah dan kacamata bergantungan, matanya melembut.

"Ale," sapanya dengan senyum tipis. "Kamu sudah bangun."

"Pagi, Papa." Alessandra mendekat, lalu membungkuk sedikit dan mencium pipi kanan Purnomo. Wangi aftershave khas papanya menusuk hidungnya dengan aroma kayu dan jeruk yang selalu mengingatkannya pada masa kecil.

Purnomo menepuk punggungnya pelan. "Wah, anak Papa sudah bergaya jadi gadis SMA. Ayo duduk, makan dulu. Nanti kita bahas rencananya."

Alessandra duduk di kursi sebelah kanannya bukan di seberang. Itu kebiasaan mereka sejak dia masih kecil. Purnomo selalu ingin dia di sampingnya, bukan di depan.

Mbok Ratmi menyajikan nasi goreng dengan telur ceplok, tahu goreng, dan sambal terasi. Kesederhanaan yang kontras dengan ukuran meja dan rumah itu.

"Makan dulu, Ale. Nanti dingin."

"Baik, Papa."

Suasana hening beberapa saat. Alessandra makan dengan lahap namun tetap anggun sebuah kebiasaan yang dia pelajari dari pelatih etiket saat berusia 12 tahun. Purnomo sesekali mengawasinya dari samping, matanya penuh kelembutan yang tidak pernah dia tunjukkan pada orang lain.

"Ale," ucap Purnomo setelah piringnya hampir habis.

"Hm?" Alessandra mendongak, mulutnya masih mengunyah nasi.

"Jadi kamu benar-benar serius mau lakukan ini? Menyamar jadi gadis itu?"

Alessandra menelan makanannya, lalu menyeka bibir dengan serbet. Wajahnya kembali datar dingin seperti biasanya. "Aku udah bilang iya, Papa. Aku tidak suka mengulang janji."

Purnomo mendengus. "Kamu ini. Di depan orang lain formal banget, 'saya-beliau-anda'. Di depan Papa kadang manja, kadang kayak robot dingin dan kadang formal kayak kerja aja. Susah ditebak moodnya, kamu tahu?"

"Papa yang terlalu banyak komentar." Alessandra mengambil gelas jus jeruk. "Jadi, di mana alamat keluarga Sunjaya? ale harus datang jam berapa?"

"Jam 8. Soalnya mereka masih malas-malasan, tapi kita mau bikin kesan kamu 'pulang' setelah seminggu hilang. Sudah Ku atur dengan asistenku, Kinan. Dia yang akan menjemputmu pukul 07.30."

"Kinan ikut? Berarti dia akan tahu identitas palsu saya?"

"Kinan bisa dipercaya. Dia sudah bersamaku sejak dulu." Purnomo menatap mata Alessandra. "Dan kamu tahu, Ale, dia juga sudah berjanji setia mati padamu."

Alessandra tidak menjawab. Kinan memang asisten sekaligus pengawas yang diberikan Purnomo sejak dia berusia 16 tahun. Wanita 28 tahun itu pendiam, setia, dan sangat mematikan dalam bertarung.

"Baik," ucap Alessandra akhirnya. "Lalu soal identitas Ale gimana?. Apa ale harus menggunakan bahasa gaul?"

"Iya. Lo-gue. Karena Vale—maaf, Allegra itu anak muda. Ngomongnya biasa aja. Tapi kalau kamu lupa pakai formal, gapapa. Anggap aja efek trauma hilang seminggu."

"Papa sudah menyelidiki Allegra?"

"Sedikit. Yang penting: dia kutu buku, penakut, sering di-bully. Temannya cuma dua yaitu Mutiara dan Laras. Keluarganya: Ayahnya Hendra Sunjaya, ibunya sudah meninggal. Kakak-kakaknya tiga: Dika (20), Raka dan Riko (18, kembar). Lalu ada adik angkat baru namanya Saskia. Dia... licik."

Alessandra mengerutkan kening. "Adik angkat?"

"Diangkat setelah kematian ibu allegra. Cepat banget, kan?" Purnomo menyipitkan mata. "Keluarganya malas mencari Allegra. Mereka lebih sibuk sama anak baru itu."

Dingin menjalar di dada Alessandra. Bukan karena elemen kegelapan. Tapi karena marah.

"Papa," ucapnya dengan suara yang terdengar seperti es. "ale minta izin. Ale tidak hanya akan menyamar. Ale akan menghancurkan keluarga itu."

Purnomo tersenyum. Bukan senyum lembut seperti tadi. Tapi senyum seorang mantan ketua mafia yang bangga pada anak didiknya.

"Sudah saya kira. Lakukan sesuai caramu, Ale. Tapi ingat satu aturan."

"Apa, Papa?"

"Jangan sampai ketahuan. Kalau identitasmu terbongkar, musuhmu dari mafia selatan akan langsung menyerang. Kamu belum cukup kuat untuk lawan mereka semua sendirian."

Alessandra menunduk. Sepuluh bintang di tubuhnya berdenyut yang mengingatkan bahwa dia punya kekuatan yang bahkan sejarah tidak pernah catat. Tapi papanya benar. Musuhnya banyak. Dan dia belum pernah bertaruh dengan nyawa.

"Saya mengerti, Papa."

Purnomo mengusap rambutnya pelan. "Sudah, makan habiskan. Nanti Kinan jemput."

"Baik, Papa." Alessandra kembali mengambil sendok. Tapi sebelum menyuap, dia menoleh dan mencium pipi Purnomo sekali lagi.

"Ciuman kedua?" Purnomo mengerjap. "Mood-mu lagi baik."

"Karena Papa sudah menyiapkan sarapan favorit saya." Alessandra tersenyum tipis sebuah senyum yang hanya Purnomo dan mungkin Kinan yang pernah lihat. "Terima kasih, Papa."

"Tuh kan, manja. Ayo makan."

Alessandra tertawa kecil. Hanya sebentar. Lalu wajahnya kembali datar seperti biasanya.

Tepat pukul 07.30, bel pintu berbunyi.

Kinan tiba.

1
azka aldric Pratama
kenapa gk nyari belangnya si anak pungut aja ...dr pada kelamaan berdebat 🙄🙄🙄
azka aldric Pratama
ini mc cewenya seorang kultivator / apa Thor 🤔🤔🤔
Elda Elda
👍👍👍👍👍👍👍👍👍
shinobu
aku suka sekali ceritanya min😍😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!