Alesha rela mengorbankan impian dan kebahagiannya demi rumah tangga yang ia perjuangkan sepenuh hati dan menerima hinaan dan cacian oleh keluarga suaminya.
Namun semua pengorbanannya berakhir sia-sia ketika ia mengetahui suaminya berselingkuh dan mengaku belum menikah.
Memilih pergi adalah langkah paling menyakitkan yang pernah ia ambil. Tetapi tanpa disadari, keputusan itu justru membawanya pada kehidupan baru yang lebih baik.
Alesha mulai bangkit. Ia ingin membuktikan bahwa keputusannya meninggalkan masa lalu adalah pilihan yang tepat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak ada yang peduli
"Alesha, mana sarapannya, hah?!"
Alesha mempercepat pekerjaannya di dapur, buru-buru menyusun hidangan ke meja makan.
"Lama banget sih, kami sudah lapar," keluh Helena—ibu mertua Alesha.
"Maaf, Bu..." ucap Alesha pelan.
"Makanya kalau kerja yang becus," sahut Renata sambil menatap sinis kakak iparnya.
Alesha hanya diam. Sudah terlalu sering ia diperlakukan seperti itu. Setelahnya, ia kembali ke dapur untuk mengambil dan menyajikan masakan lainnya.
Tak lama, semua menu sarapan sudah tersaji di meja makan. Saat Alesha hendak ikut duduk, Helena langsung menghentikannya.
"Alesha, setrika baju ibu sekarang."
"Bu, aku ingin sarapan dulu," ucap Alesha.
"Kamu ingin melawan ibu, hah?" Helena menatap tajam Alesha. "Setrika baju ibu sekarang!"
"Ada apa sih? Ribut-ribut dari tadi." ucap Aldo—suami Alesha yang baru keluar dari kamar dengan pakaian rapi dan siap berangkat kerja.
"Istri kamu tuh, nggak mau setrika baju ibu," jawab Helena.
Aldo langsung menatap tajam istrinya.
"Mas, aku ingin sarapan dulu, lalu aku akan setrika baju Ibu," ucap Alesha.
"Setrika dulu baju Ibu," jawab Aldo tanpa ragu.
Alesha menatap suaminya sejenak, mencari pembelaan yang tak kunjung datang. "Tapi, Mas..."
"Alesha, jangan membuat masalah di pagi hari. Ibu hanya minta bajunya disetrika, kan?" potong Aldo dengan nada dingin.
Helena tersenyum puas melihat putranya membela dirinya.
"Nah, dengar itu. Suami kamu saja menyuruh begitu."
Alesha menunduk. Jemarinya mengepal pelan di samping tubuhnya.
"Baik, Mas."
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik menuju ruang setrika.
Belum sempat melangkah jauh, sebuah pakaian melayang dan jatuh tepat mengenai lengannya.
Bruk.
Alesha menoleh.
Renata berdiri sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Sekalian setrika punyaku juga."
Alesha menatap tumpukan pakaian yang baru saja dilemparkan kepadanya.
"Renata, bajumu masih banyak..."
"Kenapa? Nggak mau?" sahut Renata sinis. "Kakak ipar yang baik harusnya membantu adik iparnya, kan?"
Helena terkekeh pelan.
"Itu benar. Sebagai menantu, seharusnya kamu tahu mana yang harus diprioritaskan."
Ucapan itu membuat dada Alesha terasa sesak.
Padahal sejak pagi ia memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, serta mengurus semua kebutuhan keluarga itu seorang diri.
Namun, tak seorang pun pernah menganggap usahanya.
Alesha melirik Aldo, berharap suaminya akan mengatakan sesuatu.
Sayangnya, pria itu hanya duduk santai di kursinya sambil menikmati sarapan.
"Sudah, kerjakan saja. Jangan membuat semuanya menunggu," ujar Aldo.
Hati Alesha terasa semakin sesak.
"Baik."
Dengan suara lirih, ia mengambil pakaian milik Renata lalu membawanya ke ruang setrika.
Perutnya sudah keroncongan sejak tadi, tetapi ia tidak berani menyentuh makanan sedikit pun.
Dari ruang makan terdengar suara tawa Helena dan Renata yang sedang mengobrol.
Sementara itu, Alesha berdiri seorang diri di depan meja setrika.
Alesha segera menyetrika pakaian itu. Ia juga harus bersiap pergi bekerja.
Beberapa saat kemudian, baju milik mertua dan iparnya telah selesai disetrika. Di saat yang bersamaan, suara motor suaminya terdengar dari luar rumah.
Alesha segera berlari menghampiri suaminya. Namun, saat ia sampai di depan rumah, Aldo sudah pergi tanpa berpamitan padanya.
"Mas Aldo..." lirihnya. Ia tidak mengerti mengapa suaminya pergi tanpa berpamitan kepadanya.
"Baju ini mana?" ucap Helena, membuyarkan lamunan Alesha.
"Di ruang setrika, Bu, dengan baju Renata. Aku sudah setrika," jawab Alesha.
Tanpa mengucapkan terima kasih, Helena langsung berbalik badan dan pergi begitu saja.
Alesha hanya bisa mengelus dadanya. Ia sudah terbiasa dengan sikap semua orang yang ada di rumah ini, meski tetap saja terasa menyakitkan.
Alesha berjalan ke meja makan, ingin sarapan sebelum berangkat kerja.
"Kosong..." lirihnya.
Di meja makan, tidak ada sisa makanan sama sekali. Yang tersisa hanyalah piring-piring kotor yang belum sempat dibereskan.
Alesha menatap piring-piring kotor itu beberapa detik.
Perutnya terasa perih karena sejak pagi belum ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, ia sudah terbiasa.
Dengan napas pelan, Alesha mengambil segelas air putih lalu meminumnya untuk mengganjal perutnya yang kosong.
Setelah itu, ia segera membersihkan meja makan dan mencuci piring yang menumpuk di wastafel.
Jam di dinding menunjukkan pukul 07:30.
"Astaga!"
Alesha langsung berlari ke kamarnya. Ia hampir terlambat bekerja.
Dengan cepat ia mengenakan pakaian sederhana miliknya, lalu memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tas lusuh yang sudah bertahun-tahun dipakainya.
Sebelum keluar rumah, Alesha sempat melirik ke arah ruang tamu.
Tidak ada satu pun orang yang memperhatikannya.
Helena sedang menonton televisi, sementara Renata sibuk bermain ponsel.
Padahal sudah dua tahun Alesha menjadi bagian dari keluarga ini. Dua tahun pula ia berusaha menjadi menantu dan istri yang baik, meski tak pernah sekali pun merasa benar-benar diterima.
Alesha menggigit bibirnya pelan lalu melangkah keluar rumah.
Sesampainya di pinggir jalan, ia mengangkat tangan untuk memanggil ojek yang kebetulan lewat.
"Ojek, Pak!"
Motor itu berhenti di depannya.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya sang pengemudi.
"Kompleks sebelah, Pak."
"Oh, tempat laundry rumahan itu ya?"
Alesha mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Iya, Pak."
"Naik, Mbak."
Alesha segera duduk di jok belakang.
Motor itu melaju meninggalkan kawasan tempat tinggalnya.
Sepanjang jalan, Alesha hanya menatap kosong ke depan.
Tubuhnya lelah, hatinya pun sama lelahnya.
Setiap hari ia melayani keluarga suaminya tanpa pernah benar-benar dihargai.
Bahkan suaminya sendiri tidak pernah berada di pihaknya.
Tak terasa, matanya mulai memanas.
Namun Alesha buru-buru mengusap sudut matanya.
Ia tidak boleh menangis, ia harus kuat.
Sebab jika ia berhenti bekerja, tidak ada yang akan membantunya membayar kebutuhan hidupnya sendiri.
Beberapa menit kemudian, motor itu memasuki kompleks perumahan yang cukup elit. Deretan rumah mewah berjajar rapi di sepanjang jalan, sangat berbeda dengan kompleks tempat Alesha tinggal.
Alesha tersenyum kecil saat melihat tempat kerjanya selama ini.
Setidaknya, di tempat itu masih ada orang-orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya Alesha bersiap untuk pulang kerja.
"Sha, pulang bareng yuk," ajak Luna—rekan kerja Alesha sambil menepuk motornya.
"Motor baru, Lun?" tanya Alesha sambil memperhatikan motor Luna yang tampak berbeda dari biasanya.
Luna mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Sha. Motorku yang dulu sudah sering masuk bengkel. Karena tabunganku sudah cukup, jadi deh beli motor ini. Bagus nggak?"
Alesha mengangguk. "Bagus, Lun."
"Yuk naik, aku antar kamu pulang."
Alesha pun pulang bersama Luna. Sepanjang perjalanan, Luna banyak bercerita tentang motor barunya itu. Dalam hati, Alesha berpikir bahwa jika gajinya bisa ia tabung, mungkin ia juga sudah bisa membeli motor sendiri. Namun, apa daya, hampir seluruh gajinya selalu habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tak selang lama, mereka pun sampai di tujuan.
"Terima kasih, Luna. Hati-hati di jalan," ucap Alesha.
"Oke, bestie. Aku pamit ya," ucap Luna lalu kembali melajukan motornya, meninggalkan Alesha.
Alesha baru masuk ke dalam rumah, saat pintu belum sempat tertutup—
"Alesha, ibu minta uang."
ayoookkkk semangat
semangat
💪💪💪💪💪
😤😤😤😤😤😤😤😤😤kuweseeellleee rekkk...
yg Suai siapa tapi yg dituntut nafkahi siapa. kan gendeng yaaa.. ga DA kewajibannya mantu atau istri menafkahi keluarga nya apa lagi menafkahi kluarga suami.😄😄😄
ibu ini lupa minum obat inii pastii makanya rada kumat 🤭
mending sekalian beneran kerja jadi babu luar negri makan gratis tinggal gratis digaji besar. sama aja kan kayak kau tinggal dirumah kluarga suami mu, macam babu. bedanya babu luar negri digaji🤣🤣🤣🤣
lahhh ini sudah lah dihina dijelekkan dibabuin ga dihargai, dinafkahi ala kadarnya saja. boro boro mau beli berlian segunung🤣🤣🤣🤣
lanjut lahhhhhh
Thor kira kira kalau buat cerita, LG anteng2 baca sudah dibuat darah tinggi thorrrrrrr teganya dikau pada daku. 🤣🤣🤣🤣
coba Thor masukin aku kedalam novel mau aku geprek itu mertua dan ipar laknatnyaaa... sudah ga dinafkahi kok masih mau aja punya suami modelan gitu....
astaghfirullah
astaghfirullah
astaghfirullah
sabarrrr sabarrr... orang sabar rejekinya lebaaarrrrrrrrrrrr😁