NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. PASAR BEBAS

"Kamu tega nikam aku dari belakang, Rin!"

Erina merasa dirinya seperti terdampar dalam adegan novel atau sinetron, tanpa script atau peringatan sama sekali--ketika tiba-tiba Harum menangis dan berulang kali menudingnya saat makan siang, seakan ia adalah antagonis yang selalu tersenyum sinis dan menghancurkan orang lain dengan sadis.

"Rum--"

"Tega kamu, Rin! Tega!"

"Rum--"

"Teganya, teganya, teganyaaa!"

"Kamu ini kenapa sih--nangis beneran, kesurupan, atau mau dangdutan?"

Bingung sekaligus habis sabar, Erina pun menimpuk Harum dengan tutup botol teh dingin yang baru dibukanya.

Harum terdiam sejenak saat tutup botol itu jatuh melenting dari dahinya yang mulus ke lantai keramik retak. Tetapi sedetik kemudian, tangisannya kembali meledak.

"Eeeh, ada apa ini? Siapa yang meninggal?"

Winnie masuk ke pantry dengan kaget dan menghampiri Harum yang sesenggukan di atas meja.

"Kewarasannya Harum udah duluan ke alam baka tuh, Mi," gerutu Erina. "Nggak jelas banget dia, dari tadi kayak gini sambil nyalah-nyalahin aku..."

"Memang salahmu!" Harum mengangkat wajahnya yang kusut dan basah dengan marah. "Kamu tahu aku suka dan ngincar Aa, tapi kenapa kamu malah ngerebut dia dariku...?"

Erina dan Winnie sama-sama melongo.

"Aa... Aa siapa? Aa Ujang, si anak gudang? Kalian rebutan... heh, dia udah punya istri!" tegur Winnie.

"Bukan--siapa juga yang rebutan--nggak ada itu, Mi! Ngaco nih Harum... kamu make narkoba, ya?!" Erina mendelik curiga ke arah Harum.

"Narkobaku cuma satu--si Aa! Dan kamu tega rebut dia dari aku... buktinya kemarin kamu pulang bareng dia, kan!" jerit Harum, telunjuk lentiknya kembali terarah ke hidung Erina.

"Apa sih--"

Kesadaran baru perlahan menghantam Erina. Netranya pun membola.

"Aa... maksudmu Aa itu, Pak Alvin?"

"KAN... NGAKU KAN KAMU AKHIRNYA! DASAR JAHARAA!"

"Haissh, apaan sih!" Erina mendesis kesal, namun matanya melirik gugup. "Nggak benar itu..."

"Nggak usah ditutupi, satu gudang ini juga sudah tahu kemarin malam kamu pulang sama Pak Alvin," timpal Winnie kalem.

Mulut Erina sempat megap-megap sejenak seperti ikan mas ditarik keluar dari akuarium kaca.

"Bonita security yang cerita ke anak-anak," jelas Winnie sambil membuka kotak bekalnya yang berisi nasi merah, tumis sayur, dan telur dadar. "Kemarin dia jaga malam dan jadi saksi--katanya Pak Alvin nawarin tumpangan, dan kamu mengiyakan..."

"Kerekam juga di kamera CCTV!" tambah Harum sengit. "Tega emang kamu, Rin...!"

Erina menghela napas berat dan panjang. Tak hanya di lingkungan kontrakannya, di lingkungan kerjanya pun ia kini jadi topik panas hanya gara-gara semalam pulang dengan Alvin Hermawan.

"Yah... aku memang pulang sama Pak Alvin... tapi bukan berarti ada serpihan Ind*mie nempel di pantat panci...," gumam Erina pelan, kepalanya tiba-tiba tertusuk menyakitkan lagi.

"Hah?" Winnie urung menyuap telurnya dan ternganga.

"Maksudnya... ya udah cuma pulang bareng aja, nggak ada maksud lain atau apa... jadi please lah nggak usah mikir macam-macam," keluh Erina.

Sejenak tak ada yang bicara--Harum sibuk membuang ingus berkali-kali dengan tisu, sementara Winnie mengunyah makanannya sebanyak tiga puluh kali sampai sehalus pantat bayi.

"Mami nggak bermaksud ikut campur--tapi kalau memang iya kalian jalan bareng, atau lanjut ke hubungan yang lebih serius, ya nggak apa-apa, itu hak kalian," kata Winnie tenang.

"Mami!" Harum menatap Winnie marah.

"Lho, memang iya, kan? Pak Alvin dan Rina sama-sama single. Kalau mau jadi double, ya itu hak mereka, dong..."

"Tapi kan aku duluan yang suka--" protes Harum tak terima.

"Ya kalau kamu suka dan mau, hak kamu juga... tapi ini pasar bebas, Sayang. Siapa aja yang single berhak saling lirik dan melakukan penjajakan sebelum benar-benar meresmikan. Jadi bukan hakmu melarang-larang orang untuk saling dekat apalagi sayang... nggak baik itu, Rum."

Nasihat Winnie begitu telak dan dalam. Harum pun terdiam, meski wajah cantiknya jadi kian muram.

"Rum..."

Erina menahan sakit di kepalanya sambil memegang tangan Harum--yang disangka Harum itu adalah genggaman seorang sahabat yang ingin memberi penghiburan dan kekuatan.

"Punya obat sakit kepala, nggak? Obatku habis..."

Harum membelalak.

"Dasar! Kukira kamu... aaah, emang nyebelin kamu, Rin!"

Meski sambil mengomel jengkel, Harum tetap bangkit dan berjalan menuju kotak P3K di sudut pantry, lalu mengambil obat sakit kepala dan memberikannya pada Erina.

"Trims..."

Erina menenggak obat itu dengan cepat.

"Kamu masih sering pusing, Rin?" tanya Winnie prihatin. "Udah periksa ke dokter?"

"Aku cuma kecapekan, Mi," sahut Erina pelan. "Tahu sendiri kerjaanku banyak... dan aku juga harus masak katering setiap pagi... yah mau gimana lagi..."

"Kalau emang nggak enak badan itu istirahat, bukannya maksain diri!" tukas Harum sengit--kemarahannya kini berganti alasan, bukan lagi karena cemburu buta. "Kalau perlu izin pulang atau cuti... pasti aku approved!"

"Terus gajiku dipotong? Nggak, makasih," tolak Erina mentah-mentah.

"Hiiih kamu tuh ya kalau dibilangin--"

"Bu Erina."

Alvin tiba-tiba masuk ke dalam pantry dan menyapa ramah.

Erina seketika menegakkan punggung dan membuka sorot mata menjadi selebar danau toba.

"Pak Alvin," yang membalas sapaan justru Harum--ia buru-buru merapikan rambut dan tersenyum. "Mau makan siang bareng di sini?"

"Ya... saya sudah pesan katering sama Bu Erina. Tapi sampai sekarang belum saya terima. Ada di mana ya, Bu?"

Sikap dan cara bicara Alvin sudah kembali ke setelan awal sejak pagi ini di kantor. Ia bukan lagi laki-laki yang bicara santai dan antusias melihat mainan kapal getek atau makan tiga mangkuk soto babat tanpa jaim (jaga image) sama sekali seperti semalam di pasar.

"Oh... iya. Maaf, saya lupa... sebentar..."

Erina bangkit perlahan dan mengambil sekotak katering untuk bosnya itu yang disimpannya dalam tas khusus di rak sudut pantry.

"Kalau suka hangat, bisa dihangatkan dulu di microwave, Pak... mau saya hangatkan?"

Alvin mengangguk. "Boleh. Terima kasih."

Erina meletakkan makanan itu di microwave dan memutar tombol. Sembari menunggu, ia bersandar di dinding dengan mata terpejam. Telinganya samar saja mendengar obrolan di antara Alvin, Harum, dan Winnie--yang membahas makanan kesukaan Alvin.

"Saya memang lama tinggal di Australia dan Jerman, tapi makanan favorit saya tetap Nasi Padang..."

"Wah, kebetulan, menu katering Erina hari ini rendang daging dan gulai daun singkong lho, Pak... rasanya nggak kalah dari restoran Padang terkenal!" timpal Winnie dengan nada riang, membuat Harum membelalak dan cemberut di sebelahnya.

Alvin tertawa kecil.

"Ya, saya tahu menunya itu, makanya saya sengaja pesan, penasaran... apa benar seenak itu?"

Ting!

Denting microwave membuat Erina kembali membuka mata meski terasa berat dan menyakitkan. Ia mengambil makanan itu dan memindahkannya ke atas meja.

"Silakan dinikmati, Pak. Semoga cocok sama rasanya," kata Erina datar.

"Trims, Bu Erina," Alvin tersenyum. "Hmm. Aromanya enak."

"Mau ke mana, Rin?" tanya Winnie saat Erina berjalan pelan dan terhuyung menuju pintu.

"Musholla," sahut Erina singkat.

"Rin--"

Harum memanggil Erina, tetapi Erina mengabaikannya. Ia sudah melangkah lebih jauh dan memasuki area musholla kecil yang ada di sudut timur laut gudang.

Usai mengambil wudhu dan mengenakan mukena, Erina menunaikan sholat Dzuhur sambil duduk dan bersandar di dinding. Kepalanya terlalu sakit sehingga ia tak kuat berdiri lama-lama.

Selesai sholat, Erina merebahkan dirinya di atas sajadah dengan posisi miring. Rasanya sedikit lebih nyaman. Ia pun memejamkan mata seraya bertasbih dalam hati.

Barangkali karena efek obat, kantuk mulai menyergap Erina. Tanpa sadar, ia pun jatuh tertidur.

"Rin..."

Erina membuka mata--kaget setengah mati saat melihat Alvin berlutut tak jauh darinya dan membangunkannya.

"P-Pak Alvin!" gagapnya. "Ada apa, Pak...?"

"Kamu baik-baik saja, Rin? Apa kamu sakit? Perlu kuantar ke dokter?"

"Saya--saya baik-baik saja...," Erina perlahan menegakkan punggungnya yang basah oleh keringat, kepalanya masih terasa sakit dan berat. "Sudah waktunya kerja, ya? Maaf saya ketiduran..."

"Sudah waktunya pulang, Rin."

"HAH?!"

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!