NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

​Deru mesin mobil Pak RT perlahan meredup saat mereka memasuki gang hunian padat penduduk. Jantung Arumi bertalu-talu kencang, menabrak rongga dadanya dengan ritme yang tak beraturan. Di depan pagar rumah sederhananya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir rapi, kontras dengan dinding-dinding gang yang mulai kusam. Beberapa tetangga tampak mengintip dari balik jendela mereka, memandangi dua orang pria berbadan tegap mengenakan setelan jas hitam yang berdiri berjaga di samping mobil tersebut.

​Begitu Pak RT menghentikan mobilnya, seorang laki-laki tua berambut memutih dengan pakaian katun berkualitas tinggi keluar dari teras rumah Arumi. Langkah kakinya gemetar, wajahnya yang dipenuhi kerutan penuaan tampak pucat dan dirayapi rasa bersalah yang teramat dalam. Mata pria tua itu berkaca-kaca saat menatap wajah Arumi yang baru saja turun dari motor.

​"Kamu... kamu pasti Arumi, kan? Anak dari adikku, Praga..." suara pria tua itu bergetar parah.

​Tanpa aba-aba, pria tua yang tak lain adalah Pakde Kalim kakak kandung dari almarhum bapaknya Arumi melangkah maju. Tubuhnya tiba-tiba merosot ke bawah, kedua lututnya ditekuk di atas semen teras, dan tangannya terulur hendak bersujud tepat di kaki Arumi untuk memohon ampunan.

​Melihat tindakan ekstrem orang asing tersebut, Arumi tersentak hebat. Rasa takut, bingung, dan penolakan instan merayapi tubuhnya. Dengan gerakan refleks, Arumi langsung melangkah mundur dengan cepat hingga punggungnya menabrak dada Pak RT yang berdiri kokoh di belakangnya sebagai tameng pelindung. Bu RT yang melihat kepanikan Arumi dengan sigap langsung merangkul pundak wanita itu, mendekapnya erat seolah menegaskan bahwa tidak akan ada yang bisa menyakitinya hari ini.

​Belajar dari kejadian keributan dengan keluarga Pras kemarin pagi yang sampai memancing tontonan warga, Pak RT tidak ingin suasana gang kembali gempar. Beliau memasang wajah tegas, menatap pria tua yang masih bersimpuh di teras.

​"Maaf, Bapak... siapa pun Bapak, tidak pantas rasanya bersujud di luar seperti ini hingga mengundang perhatian tetangga. Mari, kita masuk dan selesaikan semuanya di dalam rumah secara baik-baik," ujar Pak RT dengan nada penuh wibawa namun tidak terbantahkan.

​Pakde Kalim perlahan bangkit dengan dibantu oleh salah satu ajudannya. Ia mengangguk lemah, menyeka air mata yang mulai menetes di pipinya. "Baik, Pak RT... terima kasih."

​Saat pintu depan dibuka, dua pasang kaki kecil langsung berlari kencang dari arah dalam rumah Bu Ida. Bintang dan Langit yang tampaknya sengaja menunggu kepulangan ibunya, langsung menghambur dan memeluk erat pinggang Arumi. Kedua bocah itu menatap takut-takut ke arah rombongan orang asing yang berpakaian rapi di halaman mereka.

​"Ibu... Ibu nggak apa-apa?" bisik Bintang, mendongak menatap wajah Arumi yang masih tegang.

​Arumi mengusap rambut kedua anaknya, mencoba tersenyum meski bibirnya bergetar. "Ibu nggak apa-apa, Sayang. Masuk ke dalam dulu, ya."

​Mereka semua akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang tamu rumah Arumi yang jauh dari kata mewah. Bu Ida, Pak RT, dan Bu RT tidak beranjak sepeser pun; mereka memilih tetap tinggal di sana, berdiri mengelilingi Arumi sebagai keluarga pengganti yang siap pasang badan.

​Suasana ruang tamu yang sempit itu mendadak penuh sesak ketika dua ajudan Pakde Kalim masuk sambil memanggul beberapa kotak besar berbungkus kertas kado mahal. Kotak-kotak itu berisi berbagai macam mainan robotik dan mobil-mobilan canggih ukuran besar. Mereka menaruh mainan-mainan mahal tersebut di atas lantai tegel tua, tepat di sudut ruangan, membuat ruang tamu yang sederhana itu tampak semakin kontras dan penuh.

​Pak RT mengambil posisi duduk di kursi tunggal, sementara Arumi duduk di sofa panjang sambil merangkul kedua anaknya yang duduk gelisah. Pakde Kalim duduk di sofa seberang dengan kepala tertunduk dalam.

​"Baiklah," Pak RT membuka suara, memecah keheningan yang mencekam. "Bisa Bapak perkenalkan diri terlebih dahulu? Dan apa keperluan Bapak datang mencari keluarga almarhum di kota merantau ini?"

​Pria tua itu menarik napas berat, jemarinya yang mulai keriput saling bertautan erat. "Nama saya Kalim... saya adalah kakak kandung dari almarhum bapaknya Arumi. Saya datang ke sini untuk mencari adik saya... tapi tetangga bilang dia sudah tiada beberapa tahun lalu. Saya... saya datang untuk menebus dosa besar saya di masa lalu yang sangat kejam kepada adik saya sendiri."

​Mendengar nama Kalim meluncur dari mulut pria itu, ingatan Arumi seolah ditarik paksa ke masa belasan tahun yang lalu. Ingatan tentang malam-malam penuh air mata di mana ibunya menangis di sudut dapur, dan bapaknya yang duduk terbatuk-batuk di kursi kayu sambil memandangi kertas-kertas kosong.

​Emosi Arumi yang sejak tadi ditahannya seketika meledak. Dadanya kembang kempis, napasnya memburu menggebu-gebu, dan air mata yang sejak pagi ia bendung akhirnya tumpah ruah membasahi pipinya. Kali ini bukan karena sedih, melainkan karena amarah, kepedihan dan dendam masa lalu yang membakar seluruh sukmanya.

​"Jadi... jadi Bapak orangnya?!" serang Arumi dengan suara melengking tinggi, bergetar hebat menahan badai emosi yang meluap-luap. Ia berdiri dari duduknya, menunjuk Pakde Kalim dengan jari yang gemetar. "Bapak yang namanya Pakde Kalim?! Kakak kandung macam apa yang tega menghancurkan hidup adiknya sendiri?!"

Dulu Arumi memang tidak dekat dengan keluarga bapak nya jadi dia tidak tahu wajah pakdenya hanya tahu ceritanya saja.

​"Arumi, maafkan Pakde, Nak... Pakde khilaf waktu itu..." ratap Pakde Kalim, air matanya kian deras.

​"Maaf?! Bapak bilang maaf?!" jerit Arumi, tangisnya pecah seada-adanya di hadapan semua orang. "Bapak tahu tidak?! Jika waktu itu Bapak tidak bersikap kejam, jika Bapak tidak membawa kabur dan menipu seluruh uang jatah warisan yang mutlak menjadi hak Bapak saya, Bapak saya masih bisa hidup bersama saya di sini hari ini! Bapak saya tidak akan mati secepat itu!"

​Suasana ruang tamu berubah menjadi sangat pilu. Bintang dan Langit yang ketakutan ikut menangis sambil memegangi daster ibunya.

​"Bapak saya itu sakit-sakitan setelah diabaikan dan ditipu oleh kakak kandungnya sendiri!" lanjut Arumi, suaranya serak namun penuh dengan penekanan yang menusuk hulu hati Pakde Kalim. "Uang warisan yang Bapak bawa kabur itu... uang itu harusnya digunakan untuk membiayai kuliah saya dulu! Bapak saya berjanji mau menyekolahkan saya sampai sarjana dari uang itu. Tapi karena kekejaman Bapak, bapak saya harus bekerja sebagai buruh kasar siang dan malam dengan tubuhnya yang ringkih demi membiayai hidup kami, sampai akhirnya beliau jatuh sakit dan meninggal dalam penderitaan! Bapak penipu! Bapak pembunuh secara tidak langsung untuk bapak saya!"

​Mendengar penuturan Arumi yang begitu menyayat hati, Bu RT dan Bu Ida yang duduk di dekatnya tidak mampu lagi menahan diri. Wajah kedua wanita paruh baya itu berubah merah padam karena ikut merasa kesal, marah, dan muak yang teramat sangat kepada Pakde Kalim.

​Selama belasan tahun yang lalu, Bu RT dan Bu Ida adalah tempat curhat utama bagi almarhumah ibu Arumi. Mereka berdua yang menjadi pendengar setia setiap kali ibu Arumi menangis meratapi nasib suaminya yang ditipu oleh keluarga sendiri di kampung halaman hingga harus merantau jadi gelandangan sebelum akhirnya bisa membangun rumah ini. Mereka tahu persis bagaimana hancurnya mental dan fisik orang tua Arumi akibat ulah keji pria tua yang sekarang duduk di hadapan mereka dengan pakaian mewahnya.

​"Oalah... jadi tujuannya sampeyan datang ke sini bawa mainan mahal ini untuk apa?!" semprot Bu Ida dengan nada ketus dan mata melotot kesal. "Mau pamer kekayaan?! Mau menebus nyawa Pak Praga yang sudah tenang di kuburan pakai barang-barang plastik ini?! Terlambat, Pak! Dulu saat keluarga Arumi kelaparan dan bapaknya batuk darah, sampeyan di mana?! Sampeyan bersenang-senang pakai uang haram hasil menipu adik sendiri!"

​"Betul!" timpal Bu RT, tangannya ikut bergetar karena emosi. "Saya sendiri yang menyaksikan bagaimana hancurnya ibunya Arumi dulu. Setiap hari menangis karena suaminya tidak punya biaya untuk berobat akibat uangnya habis ditipu. Sekarang setelah orangnya sudah tidak ada, setelah Arumi berjuang sendirian sampai berdarah-darah, sampeyan baru datang membawa penyesalan? Benar-benar keterlaluan!"

​Pakde Kalim hanya bisa merunduk pasrah, membiarkan dirinya dihujani makian dan kemurkaan oleh Arumi dan para tetangga yang tahu betul sejarah kelam keluarganya. Ruang tamu itu kini dipenuhi oleh gema tangis haru, amarah yang membumbung, dan bayang-bayang dosa masa lalu yang akhirnya menuntut balas di bawah atap rumah tua peninggalan sang korban.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!