NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 23: DIAM YANG MENJADI KEKUATAN

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 23: DIAM YANG MENJADI KEKUATAN

Di tengah kemiskinan mereka, di tengah kekurangan makanan dan pakaian, di tengah rumah yang sederhana itu... Ria menemukan harta yang paling berharga. Ia tahu benar, perjalanan hidupnya masih panjang, mungkin masih banyak ujian dan kesusahan yang datang nanti. Tapi satu hal yang ia yakin betul sekarang: ia tidak akan takut lagi. Ia tidak akan lelah lagi. Ia tidak akan menangis sendirian lagi. Karena sekarang, di setiap langkah kakinya, ada tiga bayang-bayang tegap yang selalu ada di sampingnya. Dulu ia berjalan sendirian, tapi sekarang, mereka berjalan beriringan, sehati dan sejiwa, membuktikan bahwa kasih sayang dan kebersamaan adalah kekayaan terbesar yang tak ternilai harganya.

Namun, kebahagiaan dan kebersamaan mereka itu ternyata tidak disukai oleh semua orang. Banyak warga desa yang masih saja memandang rendah, berbisik-bisik sinis, dan menatap dengan mata tidak suka. Bagi mereka yang biasa meremehkan Ria sebagai "anak gembel", "anak miskin", melihat ketiga pemuda itu selalu ada di samping Ria, menjaganya, dan mengantar jemputnya, rasanya jadi makin kesal dan iri hati. Di jalan, bisik-bisik makin tajam terdengar.

"Halah, sombong amat si anak susah... cuma dibela Abangnya dikit, jalannya langsung tegak, sok berkuasa banget sih..."

"Biarpun dibela, tetep aja anak miskin. Bajunya aja masih itu-itu juga, lusuh dan ada tambalannya. Makan juga pasti cuma daun-daunan hasil kebun, mana ada enak... dasar anak kampung gak ada apa-apanya."

"Di sekolah juga sama, gak ada satu pun teman yang mau ngomong atau duduk sebelahan sama dia. Sendirian terus, kayak orang asing. Mana ada yang mau berteman sama anak gembel."

Ria mendengar semua itu, jelas sekali. Di sekolah pun keadaannya sama saja, bahkan lebih perih lagi. Di dalam kelas, saat jam istirahat atau jam kosong, teman-temannya yang berpakaian bagus dan bersih selalu berkumpul ramai-ramai, tertawa dan bercanda. Kalau Ria lewat atau mau duduk di tempatnya, mereka langsung diam, memalingkan muka, atau sengaja bergeser menjauh seolah takut tertular sesuatu. Ada yang sengaja berbisik sambil menunjuk ke arah baju Ria yang sederhana dan lusuh itu, mulut mereka bergerak membentuk kata-kata "gembel", "miskin", "gak berguna".

Tapi Ria? Ria hanya diam.

Ia duduk tenang di bangku paling depan, di pojok yang paling ujung, tempat yang memang selalu ia tempati sendirian sejak dulu. Ia merapikan kembali ujung hijabnya yang sederhana namun selalu rapi dan bersih, menutupi kepala dan dadanya dengan sempurna, kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sejak kecil. Wajahnya tenang, tak ada guratan marah, tak ada air mata, tak ada tatapan benci membalas mereka. Ia hanya menunduk diam, membuka bukunya, dan mulai membaca.

Diam itulah kuncinya.

Sejak kecil, Ria sudah sadar betul posisinya. Mereka memang anak orang kaya, baju bagus, makanan enak, rumah mewah. Sedangkan dia? Dia anak miskin, makan sehari-hari hanya apa saja yang ada di kebun belakang rumah: singkong, daun singkong, daun pepaya, atau umbi-umbian saja. Nasi pun jarang ada lebih, kadang dicampur jagung biar cukup masuk perut. Tapi Ria tak pernah mengeluh, tak pernah malu, dan tak pernah iri hati.

Justru di balik tubuhnya yang kurus kering, di balik perutnya yang sering kali hanya terisi sayur rebus saja, tersimpan satu anugerah terbesar dari Tuhan yang tak dimiliki teman-temannya yang berpakaian bagus itu: otak yang sangat cerdas dan ingatan yang tajam sekali.

Itu rahasia terbesar Ria. Rahasia yang tak diketahui siapa pun di desa itu, tak diketahui teman-temannya yang sering mengolok, bahkan tak diketahui oleh ketiga kakaknya sendiri.

Bagi Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah, Ria hanyalah adik perempuan mereka yang lemah, kurus, miskin, sering dihina, dan harus mereka lindungi agar tidak disakiti orang. Mereka tahu Ria rajin belajar, tapi mereka tak pernah tahu seberapa hebat otak adik mereka itu bekerja. Mereka tak pernah tahu, bahwa di saat teman-temannya sibuk tertawa, bermain, dan menghinanya, Ria diam-diam menyerap semua pelajaran dengan sangat cepat dan tepat.

Mulai dari kelas 6 SD, sampai sekarang naik ke kelas 1 SMP, lalu masuk ke kelas 2 SMP ini, Ria selalu, selalu menjadi Juara Pertama.

Nilainya selalu paling tinggi di atas semua murid, melebihi anak-anak pejabat, melebihi anak-anak orang kaya yang buku dan alat tulisnya lengkap, melebihi siapa pun. Padahal buku pelajaran Ria bekas pemberian orang, tulisannya kecil-kecil agar cukup kertas, dan ia belajar hanya di bawah cahaya lampu minyak yang redup di rumah kayu itu. Tapi setiap kali ujian, setiap kali pembagian rapor, nama Ria selalu dipanggil paling awal, dengan nilai yang membuat semua orang ternganga.

Dan yang paling hebat, meski jadi juara terus, Ria tetaplah Ria. Ia tak pernah sombong, tak pernah memamerkan kepintarannya, tak pernah sekalipun ia balas ejekan teman-temannya dengan kata-kata jahat. Ia tetap diam, tetap menunduk, tetap sabar, tetap duduk sendirian.

Siang itu, jam pelajaran terakhir berlangsung. Pak Guru masuk ke kelas dengan membawa buku rapor dan lembar hasil ujian bulanan. Wajah beliau tampak sangat puas dan tersenyum lebar, sesuatu yang jarang terlihat. Beliau meletakkan berkas itu di meja, lalu menatap seluruh murid satu per satu, hingga matanya berhenti tepat pada sosok Ria yang duduk tenang di pojok depan, hijabnya tertutup rapat, wajahnya sederhana dan polos.

"Anak-anak... Bapak mau bilang satu hal," suara Pak Guru terdengar tegas dan jelas, membuat seisi kelas hening seketika. "Hasil ujian bulan ini sudah Bapak periksa semuanya. Jujur saja, Bapak bangga sekali, tapi juga sedih melihat sikap kalian."

Beliau mengambil satu lembar kertas, mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Di kelas ini, ada satu murid yang nilainya paling tinggi, sempurna hampir di semua mata pelajaran. Dia mengalahkan kalian semua, yang baju bagus, yang buku lengkap, yang makanannya enak dan bergizi. Dia mengalahkan kalian semua, padahal kalian tahu betul keadaan dia seperti apa. Kalian tahu dia anak siapa, kalian tahu dia hidup seperti apa, kalian tahu dia sering makan apa saja..."

Suasana kelas jadi makin hening. Teman-teman Ria saling pandang, ada yang cemberut, ada yang tertawa kecil mengejek dalam hati. Mereka sudah bisa menebak siapa yang dimaksud Pak Guru. Pasti bukan si anak gembel itu, pikir mereka. Mana mungkin anak yang cuma makan daun-daunan bisa pintar?

Pak Guru menunjuk langsung ke arah Ria.

"Dia adalah Ria!"

Satu kelas langsung riuh rendah kaget. Mulut mereka terbuka lebar, mata mereka melotot tak percaya. Ada yang berbisik keras, "Ah masa sih? Gak mungkin! Dia kan anak gembel, bodoh pasti!", ada yang wajahnya memerah malu dan iri hati, ada yang menatap Ria dengan pandangan tak percaya sama sekali.

Pak Guru mengangkat tangan menenangkan mereka, suaranya makin keras dan penuh kekaguman.

"Diam! Dengar baik-baik! Sejak kelas 6 SD, Ria selalu juara 1. Kelas 1 SMP juga juara 1. Dan sekarang di kelas 2 SMP ini, sekali lagi dia jadi Juara 1 dengan nilai rata-rata tertinggi di atas 9,5! Kalian dengar itu? Di atas 9,5! Kalian yang baju bagus, makan enak, tapi nilai kalian di bawah dia semua!"

Pak Guru berjalan mendekati meja Ria, berdiri tepat di samping murid kesayangannya itu. Beliau menatap Ria yang masih saja duduk diam, tenang, wajahnya biasa saja seolah mendengar hal yang sudah biasa saja, tak ada bangga berlebihan, tak ada senyum kemenangan ke arah teman-temannya.

"Lihat Ria... Lihat dia baik-baik," lanjut Pak Guru sambil mengelus kepala Ria pelan, membuat teman-temannya makin iri dan tak percaya. "Dia anak yang Bapak paling banggakan seumur hidup jadi guru. Bapak tahu benar, dia makan sehari-hari cuma hasil kebun, singkong, sayur daunan saja. Dia gak punya buku tambahan, gak punya les, gak punya apa-apa. Dia pulang sekolah langsung kerja berat di rumah Bu Rini. Dia gak pernah punya teman, dia selalu sendirian. Dia sering kalian olok, kalian panggil gembel, kalian jauhi... Tapi apa yang dia lakukan? Dia marah? Dia balas jahat sama kalian? Dia mengadu? TIDAK! Dia diam. Dia sabar. Dia malah buktikan semuanya dengan cara dia sendiri. Dia belajar mati-matian, dia serap ilmu sekuat tenaga, dia buktikan bahwa kemiskinan harta bukan berarti kemiskinan otak dan akal."

Pak Guru menatap seluruh murid dengan tajam.

"Kalian bilang dia gembel? Kalian bilang dia miskin? Dengar ini... Menurut Bapak, Ria lah anak paling kaya di kelas ini. Dia kaya hati, dia kaya akal, dia kaya kesabaran. Dia anak yang berhijab sejak kecil, anak yang tahu diri, anak yang gak pernah malu pada keadaan. Kalian yang baju bagus tapi hatinya kotor dan mulutnya jahat... kalian yang sebenarnya miskin. Ingat kata-kata Bapak ini baik-baik. Nanti kalian akan sadar, siapa yang sebenarnya bakal sukses dan mulia hidupnya."

Setelah jam pelajaran selesai, Ria berjalan keluar kelas dengan tenang, masih sama seperti biasanya. Di belakangnya, teman-temannya masih berbisik-bisik, ada yang makin benci, ada yang mulai diam karena sadar mereka kalah jauh, ada yang makin heran. Tak ada yang berani lagi berteriak-teriak memanggil nama jelek, setidaknya untuk hari itu.

Di depan gerbang sekolah, seperti biasa, Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah sudah menunggu berdiri tegak di sana, senyum mereka paling lebar dan paling hangat. Begitu melihat Ria keluar, Bang Ardiansyah langsung menyambar tas sekolahnya, Bang Hamza memastikan jalan di depan aman dan bersih, dan mereka berjalan beriringan pulang.

"Gimana sekolahnya hari ini, Dik? Ada apa aja? Aman kan gak ada yang berani jahat?" tanya Bang Hamza santai, sama seperti biasa, tak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di dalam kelas.

Ria tersenyum tipis, menggeleng pelan. "Biasa saja Bang... Belajar, terus pulang."

Dia tak cerita soal nilai, tak cerita soal jadi juara 1 lagi, tak cerita soal apa yang dikatakan Pak Guru. Dia diam saja. Itu rahasianya. Dia mau membuktikan kepintarannya bukan untuk dipuji Abang-abangnya, bukan untuk dibanggakan, tapi untuk mengubah nasib keluarganya nanti. Dia mau buktikan, biarpun kami miskin, biarpun kami makan seadanya dari kebun, kami bisa jadi orang hebat.

Di dalam hati Ria, ia berjanji: Simpan saja dulu kepintaran ini... Nanti saat aku sukses besar, saat aku bisa mengangkat derajat Bunda dan Abang semua, barulah kalian tahu betapa besarnya anugerah yang Tuhan titipkan lewat otakku ini. Sekarang, biarkan aku diam, belajar, dan berjuang... Diam itu kunci, dan kesabaran itu jalan menuju kemenangan.

Di tengah jalan, orang-orang desa yang melihat mereka lewat masih saja ada yang menatap sinis, masih ada yang berbisik mengejek baju Ria yang lusuh. Tapi Ria berjalan tegak, diapit ketiga kakaknya yang gagah, hatinya tenang dan damai. Dia tahu satu hal yang orang lain tidak tahu: dia bukan sekadar anak miskin yang bisa diinjak-injak sembarangan. Dia adalah permata yang terbungkus kain sederhana, permata yang berkilau indah di dalamnya, menunggu saat yang tepat untuk bersinar terang menerangi seluruh hidup keluarganya.

Dan itu baru permulaan. Juara 1 ini akan terus ia pertahankan, sampai kapan pun, sebagai bukti bahwa anak miskin pun bisa jadi yang terdepan, asalkan dia sabar, ikhlas, dan tidak pernah putus asa.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!