"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Hadiah dari Sang Iblis
Sinar matahari tidak mampu menembus gorden beludru tebal di kamar utama yang bernuansa gelap itu. Ruangan tersebut masih terasa seperti tengah malam, dipenuhi keheningan dan aroma perpaduan musk, tembakau, serta antiseptik yang menguar tipis di udara.
Aletta perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kehangatan luar biasa yang melingkupi tubuhnya, dan sebuah beban berat yang melingkar posesif di pinggangnya.
Kesadarannya langsung kembali dalam seketika. Aletta terkesiap. Ia menunduk dan melihat sebuah lengan kekar dengan tato naga hitam melingkar erat di perutnya. Punggungnya menempel rapat pada dada bidang yang naik-turun dengan ritme napas teratur.
Ia ketiduran. Semalam, setelah mengobati luka di bahu Xavier, kelelahan fisik dan emosional yang menderanya membuat Aletta tak sadar memejamkan mata saat bersandar di kepala ranjang. Dan sekarang, ia terbangun di ranjang sang penguasa mafia, terkurung dalam pelukannya.
Dengan sangat berhati-hati agar tidak membangunkan suaminya, Aletta mencoba menyingkirkan lengan besar itu. Namun, baru saja jemarinya menyentuh lengan Xavier, cengkeraman pria itu justru semakin mengerat, menarik tubuh Aletta hingga tak menyisakan jarak satu milimeter pun di antara mereka.
"Kau merusak pagiku jika kau kabur sekarang, Sayang," suara serak khas bangun tidur yang luar biasa berat dan memabukkan terdengar tepat di telinga Aletta, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Aletta menelan ludah, memutar tubuhnya perlahan hingga berhadapan dengan Xavier. Mata kelabu pria itu sudah terbuka, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Aletta tercekat. Rambut hitam Xavier berantakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih rileks tanpa aura membunuh yang biasa ia kenakan bak sebuah topeng.
"A-aku harus kembali ke kamarku," cicit Aletta, berusaha terdengar tegas namun gagal karena jantungnya berdegup terlalu kencang. Matanya refleks melirik bahu kiri Xavier yang terbalut perban. "Bagaimana lukamu?"
Xavier menyeringai tipis melihat rona merah di pipi istrinya. "Jauh lebih baik berkat perawat pribadiku. Tapi kurasa aku masih membutuhkan perawatan lebih lanjut... di ranjang ini."
Pria itu sengaja mencondongkan wajahnya, menyapukan ujung hidungnya ke rahang Aletta. Hembusan napas Xavier yang hangat menggelitik kulit leher Aletta, memicu sengatan listrik kasat mata yang membuat tubuh gadis itu membeku.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu menyelamatkan kewarasan Aletta.
"Bos. Laporan pagi," suara Diego terdengar samar dari balik pintu ganda yang tebal.
Aura rileks di wajah Xavier seketika lenyap, digantikan oleh ketegasan mutlak sang pemimpin. Xavier melepaskan pelukannya, duduk bersandar di kepala ranjang, dan menarik selimut untuk menutupi tubuh bawahnya.
"Masuk," titah Xavier singkat.
Diego melangkah masuk dengan setelan jas rapi, menghentikan langkahnya beberapa meter dari ranjang dengan kepala tertunduk hormat, sama sekali tidak berani menatap ke arah Aletta yang kini duduk dengan canggung sambil merapikan rambutnya.
"Selesai, Bos," lapor Diego dengan suara datar tanpa emosi. "Markas pelabuhan El Cuervo sudah rata dengan tanah. Pemimpin mereka, Hector, mencoba kabur melalui jalur laut, tapi orang-orang kita berhasil menyergapnya. Kepalanya sudah diamankan sesuai perintah Anda."
Aletta menahan napas. Tangannya mencengkeram erat selimut sutra di pangkuannya. Pembantaian itu benar-benar terjadi semalam, saat ia tertidur lelap di ranjang pria yang memerintahkannya.
Xavier mengangguk pelan, ekspresinya sedingin es. "Bagus. Kirimkan sisa-sisa Hector ke rumah keluarganya di perbatasan sebagai peringatan. Biarkan seluruh kartel tahu apa akibatnya jika berani mengarahkan peluru ke istriku."
"Baik, Bos," Diego membungkuk, lalu segera keluar dari ruangan, menutup pintu rapat-rapat.
Ruangan kembali sunyi, namun kini terasa jauh lebih mencekam bagi Aletta. Ia menatap Xavier dengan pandangan nanar. "Kau benar-benar membunuh mereka semua."
Xavier menoleh, menatap Aletta dalam-dalam. "Mereka mencoba membunuhmu, Aletta. Di duniaku, kau membalas satu peluru dengan seribu peluru. Jika kau merasa kasihan pada mereka, ingatlah bahwa mereka tidak akan ragu menembus kepalamu jika punya kesempatan."
Aletta terdiam. Logikanya berteriak bahwa ini salah, namun sudut hatinya yang paling dalam menyadari bahwa pria ini menumpahkan darah demi melindunginya.
Xavier menghela napas panjang, meredakan ketegangan di antara mereka. Ia meraih sebuah tablet hitam dari laci meja nakas, mengutak-atiknya sejenak, lalu menyerahkannya kepada Aletta.
"Sebagai imbalan karena kau bersikap sangat manis dan patuh semalam dengan mengobati lukaku," ucap Xavier dengan nada yang tiba-tiba melembut, "aku punya hadiah untukmu."
Aletta mengerutkan kening, menerima tablet tersebut. Matanya seketika membelalak sempurna saat melihat layar yang menyala. Itu bukan sekadar rekaman CCTV seperti sebelumnya, melainkan sebuah panggilan video yang terhubung langsung.
Di layar itu, tampak ayahnya duduk di kursi roda di taman rumah sakit yang asri. Wajah pria paruh baya itu terlihat jauh lebih segar, perbannya sudah dilepas, dan ia sedang menikmati secangkir teh.
"Aletta? Al... ini benar kau, Nak?" Suara parau ayahnya terdengar dari speaker tablet, bergetar penuh kerinduan.
"Ayah!" Air mata Aletta langsung tumpah tak terbendung. Jemarinya mengusap layar tablet dengan gemetar, seolah ingin memeluk ayahnya. "Ayah tidak apa-apa? Mereka tidak menyakiti Ayah lagi, kan?"
"Ayah baik-baik saja, Nak. Dokter di sini merawat Ayah dengan sangat baik," jawab ayahnya dengan senyum lega yang membuat dada Aletta terasa lapang. "Tuan Xavier... dia menepati janjinya, Al. Dia memindahkan Ayah ke rumah sakit VIP terbaik dan menjamin keselamatan Ayah. Bagaimana denganmu, Nak? Apa dia menyakitimu?"
Aletta menelan ludah. Ia melirik Xavier yang duduk diam di sebelahnya, mengawasi interaksi itu dengan wajah tanpa ekspresi, namun tatapannya menuntut sebuah jawaban dari bibir Aletta.
"Aku... aku baik-baik saja, Ayah," Aletta tersenyum di sela tangisnya. "Xavier menjagaku dengan baik. Ayah fokus saja pada penyembuhan Ayah, ya? Aku akan segera menjenguk Ayah."
"Syukurlah, Nak. Jaga dirimu baik-baik."
Sambungan video itu terputus dari sistem pusat. Aletta memeluk tablet itu ke dadanya, menangis lega hingga bahunya bergetar. Beban berat seberat ribuan ton yang menekan dadanya selama berhari-hari akhirnya terangkat. Ayahnya aman.
Sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba terulur, menghapus air mata di pipi Aletta dengan ibu jarinya. Aletta mendongak, menatap Xavier melalui pandangannya yang mengabur oleh air mata.
"Kau bilang aku iblis," bisik Xavier lembut, mengusap rahang Aletta. "Tapi iblis ini selalu menepati janjinya, Aletta. Mulai sekarang, berhentilah melawanku. Berdirilah di sampingku, serahkan seluruh kepercayaanmu padaku, dan aku bersumpah... seluruh dunia akan berlutut di bawah kakimu."
Untuk pertama kalinya, Aletta tidak menepis sentuhan pria itu. Pertahanan keras yang selama ini ia bangun hancur lebur di pagi itu. Ia memejamkan mata, membiarkan Xavier menarik tengkuknya perlahan.
Dan saat bibir hangat Xavier menyentuh bibirnya dalam sebuah ciuman yang lembut, posesif, dan menuntut—Aletta akhirnya membalasnya. Ia menyerah pada pesona sang penguasa kegelapan.