NovelToon NovelToon
Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Dikejar Cinta Pak Guru (Dipaksa Menikah Dengan Orang Mati Season 2)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Fantasi / Iblis
Popularitas:823
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Vince adalah seorang guru sekaligus pemilik saham terbesar di SMA Taruna. Awalnya ia mau untuk menjadi kepala sekolah, namun setelah kedatangan murid dengan paras yang begitu mirip dengan cinta pertamanya.
Vince mengurungkan niatnya untuk menjadi kepala sekolah.
Ternyata muridnya itu adalah anak kandung dari cinta pertamanya yang bernama Naura, Naura di paksa menikah dengan vampir.
Murid Vince yang menjadi cinta pertamanya adalah Maura, Maura tidak tahu jika dia bukanlah anak kandung dari Stela.
Maura adalah anak dari raja vampir Liam, Lian dan juga Naura.
Lian maupun Liam dulu sangat mencintai Naura, namun Naura meninggal dunia setelah beberapa hari melahirkan bayi Maura.
Naura meninggal dengan cara mengenaskan dengan menjadi tawanan raja vampir.
Lian sendiri menikah dengan Stela, namun detik detik meninggalnya Naura. Lian mengatakan hal yang menyakitkan Stela, membuat Stela menaruh dendam kesumat bahkan kebencian pada Maura, apalagi wajah Maura itu sama persis dengan ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

Maura terlihat terus memohon kepada gurunya, agar gurunya itu bisa menjaga rahasianya perihal masalah cambuk menyambuk tadi.

Vince sendiri yang melihat wajah menyedihkan dan memohon yang di tunjukkan oleh Maura, sungguh tidak mempunyai pilihan lain. Selain dirinya harus menuruti permintaan gadis itu.

Vince menatap muridnya dengan wajah heran, "Kenapa kamu terus memohon seperti ini padaku? Apa kamu lupa? Saat pendaftaran kemarin, kamu terlihat sangat sombong dan angkuh. Bahkan, kamu yang baru lulus SMP berani untuk memukulku, seorang laki-laki dewasa! Apakah kau itu Muara kecil yang sangat sombong kemarin?" ujar Vince dengan nada suara sarkastik yang membuat ucapan terasa pedas.

Semburat merah agaknya mulai muncul di kedua pipi Maura, ia merasa begitu malu dengan kata-kata yang keluar dari bibir gurunya. Akhirnya, ia mulai mengingat saat pendaftaran kemarin, dimana dirinya memang berlaku sombong dan kasar kepada Vince. Akan tetapi, sekarang keadaan berubah sepenuhnya, membuat Maura merasa takjub dan bingung.

"Apakah ini hukuman untuk kelakuan ku kemarin? Mengapa aku harus merasakan malu seperti ini di hadapan guru yang telah kulukai hatinya?" batin Maura dengan pilu. Wajah sendu dan menyedihkan Maura lambat laun menghilang, lalu ekspresi wajahnya itu berganti menjadi malu.

"Nah, baru ingat kamu! Makanya jadi anak itu jangan kurang ajar sama orang yang lebih tua!" tegur Vince sembari menyadarkan Maura akan kesalahannya.

Seketika wajah Maura yang sebelumnya terlihat malu berubah menjadi kesal dan marah. "Kenapa Pak Pin malah menuduh aku anak kurang ajar? Dia seharusnya bisa introspeksi diri, apakah seorang yang lebih tua pantas berperilaku seperti itu, memelukku tanpa izin padahal kita sama sekali tidak saling mengenal. Aku hanya berusaha membela diri dari perlakuan yang kurang ajar itu," ungkap Maura dengan nada suara tidak terima.

Vince, yang mendengar perkataan Maura, langsung menegur, "Lah, kamu kok malah ngatain Bapak kurang ajar sih!"

Tiba-tiba ekspresi wajah Maura berubah menjadi bingung. "Iya... ya, memang aku tahu kalau hal itu kurang tepat. Tapi kan tadi Pak Pin duluan yang memprovokasi dengan menyebutku kurang ajar. Jadi, aku merasa harus membalas kata-kata Pak Pin itu!" Saat Maura menyadari betapa gegabahnya ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya, ia langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Perasaan takut dan juga tidak enak seketika menyelimuti hati Maura. Karena sekarang ini ia memang membutuhkan bantuan gurunya, tapi kenapa mulutnya itu sama sekali tidak bisa rem untuk tidak mengajak gurunya itu bertengkar.

"Ya, sudah. Kalau begitu aku mau keluar! Biarkan aku telepon ke dua orang tua angkat kamu, biar mereka segera datang kesini! Dan bapak akan langsung ceritakan pada mereka tentang luka cambuk yang ada di punggung mu itu!" ancam Vince dengan suara kesal, merasa hatinya terguncang oleh perkataan yang baru saja dilontarkan muridnya itu.

"Kenapa Pak Pin harus begini? Bukankah katanya ingin membantu saya?" gumam Maura sambil menahan air mata yang hampir jatuh. Dia berharap permainan air matanya dapat membuat gurunya tersentuh dan akhirnya bersedia untuk membantu.

"Maura, ingat ya! Aku belum mengatakan jika aku bersedia untuk membantu mu, Maura. Terus buat apa kamu itu meminta bantuan pada orang kurang ajar seperti aku ini!" ujar Vince dengan nada meninggi, membuat Maura semakin terperanjat.

"Apa maksud Pak Pin sebenarnya? Apakah ia hanya ingin menyudutkan atau benar-benar ingin menolongku?" pikir Maura sambil mencoba untuk mengendalikan perasaannya. Hati kecilnya meneriakkan kebimbangan, karena sikap gurunya yang begitu membingungkan.

"Orang mau minta bantuan saja masih sombong dan juga arogan, sok sokan ngatain orang yang mau di mintai bantuan dengan embel embel kurang ajar," sindir Vince dengan suara keras sembari terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu yang ada di ruang inap Maura.

Hembusan nafas kasar nampak keluar dari dalam rongga hidung Maura, melihat punggung gurunya yang semakin menjauh. Di tambah lagi gurunya yang terlihat mengeluarkan hape yang ada di saku celananya, sungguh hal itu membuat Maura sampai di buat mengeluarkan keringat dingin.

"Aduh Pak Pin beneran marah? Gimana ini? Kalau sampai dirinya itu menceritakan semuanya sama Mamih Cherly," gumam Maura dalam hatinya, ia terlihat sangat panik. Lantas ia memilih untuk mengabaikan segala rasa sakit yang ada di tubuhnya, ia pun terlihat bangkit dari brangkar miliknya.

Setelah bisa turun dari brangkar miliknya dengan gerakan yang terlihat sangatlah gesit, Maura terlihat berlari dengan kencang ke arah gurunya dengan mengerahkan seluruh tenaganya.

Tangan Vince sekarang ini terasa seperti tersengat aliran listrik, kala tangannya itu memegang handle pintu kamar inap muridnya. Ia merasa tubuhnya itu gemetar, bahkan aliran listrik itu sampai terasa masuk ke dalam hatinya.

"Maura, kenapa turun dari brangkar? Lalu kenapa kamu itu seenaknya memegang tangan Bapak? Jangan bertingkah kurang ajar ya sama Bapak," tegur Vince dengan nada ketus.

Vince berusaha keras untuk mengubah ekspresi wajahnya menjadi marah, walaupun yang sebenarnya sekarang ini ia rasakan. Jantungnya berdetak begitu kencang saat tangannya itu di pegang oleh Maura.

Vince merasakan getaran yang sama seperti saat dulu dirinya itu bersentuhan fisik dengan mendiang Naura.

Setelah mendengar teguran dari gurunya, Maura pun buru buru menjauhkan tangannya yang tadi memegang tangan Vince.

Maura menatap gurunya dengan sebuah cengiran kuda, guna menutupi rasa malu yang saat ini sedang mendera dirinya.

"Tolong lah Pak Pin, jangan marah dan juga ngambek seperti ini! Nanti Pak Pin itu cepet tua loh! he he he."

"Biarin, memang umur saya sekarang ini sudah tua kok!"

"Pak saya mohon maafin saya, iya ya saya mengakui yang kurang ajar itu saya. Bukan Pak Pin, tolong Pak! Bantu saja, hiks. Jangan katakan perihal cambuk pada Mamih saya! Kalau Pak Pin itu mau membantu saya, saya janji akan menuruti apapun yang Pak Pin katakan. Tolonglah Pak!" Maura terlihat memohon, bahkan ia terlihat akan membungkukkan badannya, guna bersujud di kaki gurunya itu. Air maa

Vince langsung memegang ke dua lengan Maura, guna menghentikan aksi yang akan di lakukan oleh muridnya itu.

"Iya sudah, aku akan membantu mu. Tapi sesuai yang kamu katakan barusan, kamu harus menuruti semua yang aku katakan," ujar Vince sembari memapah  tubuh muridnya itu untuk kembali ke brangkar.

Glek

Maura menelan ludahnya yang kelu, seraya berkata dalam hatinya. "Semoga saja, Pak Pin itu tidak meminta hal yang aneh aneh!"

Beberapa saat pun berlalu, akhirnya ketegangan yang tadi terjadi antara murid dan guru yang sama sama aneh dan juga keras kepala pun akhirnya menghilang.

Sekarang keduanya terlihat duduk saling berhadapan.

Dengan Maura yang duduk di atas brangkar miliknya, dan Vince duduk di kursi yang ada di samping brangkar.

"Sebelum benar benar bersedia membantu mu? Bapak ingin kamu ceritakan semuanya dengan jujur. Perihal kehidupan yang kamu jalani selama ini," kata Vince serius.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!