NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Umpan dan Jeratan

Umpan dan Jeratan

​Pesan dan foto dari Gavin semalam benar-benar menghancurkan sisa-sisa rasa hormatku padanya. Melihat punggung Mbak Siska yang tampak lemas di bawah kendalinya membuat ulu hatiku perih, tapi di saat yang sama, sebuah api kemarahan yang dingin mulai menyala di dadaku.

​Gavin pikir dia bisa mempermainkanku? Dia pikir dia pemilik tunggal jiwaku?

​"Oke, Mas. Kalau itu permainan yang kamu mau, mari kita lihat siapa yang akan berlutut duluan," bisikku pada pantulan diriku di cermin pagi ini.

​Aku tidak lagi memakai kemeja kerah tinggi. Sebaliknya, aku memilih kaos putih yang sedikit ketat dengan potongan leher yang memperlihatkan sedikit tulang selangkangku—dan sengaja tidak menutupi tanda merah di leherku dengan bedak setebal kemarin. Biarkan dia melihatnya. Biarkan dia tahu bahwa tanda itu masih ada, namun aku tidak lagi takut.

​Di Kampus - Rapat Panitia Seminar

​Aku sengaja datang lebih awal. Dan seperti yang sudah kuduga, Raka sudah ada di sana. Wajahnya masih lebam, sudut bibirnya membiru, namun matanya berbinar saat melihatku masuk.

​"Rum! Lu oke?" Raka langsung berdiri, mendekatiku dengan cemas.

​"Gue oke, Rak. Malah gue yang khawatir sama lu," aku tersenyum manis—senyum paling manis yang pernah kuberikan pada Raka. Aku sengaja berdiri sangat dekat dengannya, hingga aroma parfum jeruknya menyatu dengan udara di sekitarku.

​"Gue nggak apa-apa, Rum. Serius. Cuma luka kecil," Raka menyentuh ujung kepalaku pelan. "Gue cuma takut dia nyakitin lu lagi."

​"Dia nggak akan berani, Rak. Ada lu kan yang jagain gue?" ucapku dengan nada manja yang belum pernah kugunakan sebelumnya. Aku melirik ke arah pintu masuk aula.

​Dan benar saja. Di sana, Gavin baru saja masuk bersama beberapa staf rektorat untuk penutupan acara seminar hari kedua. Langkahnya yang tadinya berwibawa mendadak terhenti saat matanya menangkap posisiku yang sedang bersandar manja di lengan Raka.

​Aku bisa melihat rahangnya mengeras. Buku jari tangannya yang memegang tas kerja tampak memutih.

​"Arum, ayo duduk. Rapatnya mau mulai," ajak Raka sambil menarik kursi untukku.

​Aku duduk dengan anggun, sengaja menyilangkan kaki jenjangku yang terekspos karena rok mini yang kupakai. Aku tahu mata Gavin sedang menguliti setiap inci tubuhku dari kejauhan.

​Saat sesi diskusi dimulai, Gavin duduk di kursi kehormatan yang letaknya tepat berhadapan dengan meja panitia. Aku tidak menunduk. Sebaliknya, aku menatapnya lurus. Setiap kali Raka berbisik di telingaku untuk menanyakan soal konsumsi, aku sengaja tertawa kecil dan menyentuh lengan Raka secara terang-terangan.

​Aku bisa merasakan aura gelap terpancar dari arah Gavin. Dia sedang terbakar hebat.

​"Pak Gavin, ada masukan untuk evaluasi hari ini?" tanya salah satu dosen.

​Gavin terdiam sejenak. Matanya tertuju pada tanganku yang sedang memainkan pena, lalu beralih ke leherku—di mana jejak 'karya'-nya masih terlihat samar. "Saya rasa... koordinasi panitia terlalu 'intim'. Terkadang orang lupa batasan antara profesionalisme dan... pergaulan bebas," ucapnya dengan suara yang sangat dingin dan tajam.

​Seluruh ruangan mendadak sunyi. Raka tampak tersinggung, tapi aku justru tertawa kecil di dalam hati.

​Setelah rapat selesai, aku sengaja berpamitan pada Raka dengan cara yang lebih berani. "Rak, anterin gue ke perpus ya? Ada buku yang berat banget nih."

​"Siap, Tuan Putri," Raka merangkul bahuku.

​Saat kami berjalan melewati Gavin, aku sengaja berhenti sebentar. "Sore, Mas Gavin. Gimana semalam sama Mbak Siska? Nyenyak kan tidurnya?" tanyaku dengan nada polos, namun mataku menatapnya dengan kilat kemenangan.

​Gavin menatapku dengan tatapan yang bisa membunuh seketika. "Sangat nyenyak, Arum. Bahkan lebih nikmat dari yang bisa kamu bayangkan."

​"Syukurlah. Soalnya aku juga nyenyak banget semalam... setelah dianter Raka pulang," aku mengusap lengan Raka di depan mata Gavin. "Ayo, Rak. Nanti keburu sore."

​Aku bisa mendengar suara retakan dari pena yang dipegang Gavin. Dia baru saja mematahkan penanya karena emosi yang meluap.

Aku berdiri mematung di antara rak-rak buku besar yang menjulang tinggi. Perpustakaan lantai dua ini memang jarang didatangi mahasiswa kalau sudah lewat jam empat sore. Harusnya ini tempat yang aman untuk sembunyi, tapi aroma kayu cendana yang mulai menyeruak di sekitarku membuktikan kalau aku salah besar.

​"Rum? Lu di sebelah mana? Buku referensinya kok nggak ada ya?" suara Raka terdengar dari rak seberang, hanya terhalang dua baris buku besar.

​"Gue... gue di rak bagian sejarah, Rak! Cari aja pelan-pelan!" jawabku dengan suara yang sebisa mungkin dibuat normal, padahal lututku sudah gemetar hebat.

​Tiba-tiba, sebuah tangan besar muncul dari celah buku, menarik pinggangku dengan sentakan kuat hingga punggungku menabrak dada bidang seseorang. Aku nyaris berteriak kalau saja sebuah telapak tangan yang hangat tidak langsung membungkam mulutku.

​Gavin.

​Dia berdiri di belakangku, mengurungku dengan tubuhnya yang tinggi tegap. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang tenang namun kuat di punggungku. Dia tidak memakai jas, hanya kemeja putih yang lengan bajunya digulung kasar, memperlihatkan urat-urat tangan yang membuat imajinasiku liar seketika.

​"Lepas..." bisikku saat dia sedikit melonggarkan bekapannya, namun tangannya yang lain tetap mengunci pinggangku.

​"Kamu berani sekali hari ini, Arum," bisik Gavin tepat di telingaku. Napasnya yang hangat menyapu kulit leherku, membuat bulu kudukku berdiri. "Sengaja pamer leher di depan bocah itu? Kamu sengaja menantangku?"

​Aku mencoba menguatkan hati, meski napasku mulai berantakan. "Kenapa emangnya? Raka suka kok liatnya. Dia bilang... leherku cantik."

​Aku bisa merasakan tubuh Gavin menegang. Cengkeramannya di pinggangku mengerat, membuat napasku tertahan. "Jangan pernah sebut namanya saat aku menyentuhmu seperti ini, Arum. Kamu tahu persis apa yang bisa kulakukan kalau aku sedang marah."

​"Mas Gavin nggak punya hak buat marah. Mas punya Mbak Siska, ingat?" aku membuang muka, mencoba mempertahankan gengsiku. "Lagian, Raka jauh lebih lembut daripada Mas yang cuma bisa maksa."

​Gavin terkekeh rendah, sebuah tawa yang sangat maskulin dan berbahaya. Dia memutar tubuhku agar menghadapnya. Kini, aku terhimpit di antara rak buku dan tubuhnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dariku. Matanya yang gelap menatap tepat ke bibirku yang gemetar.

​"Lembut?" Gavin mengusap ibu jarinya di atas bibir bawahku, menekannya pelan hingga bibirku sedikit terbuka. "Pria lembut tidak akan bisa membuatmu gemetar seperti ini, Sayang. Pria lembut tidak akan bisa memberikan rasa panas yang kamu dambakan setiap malam."

​"Gue... gue nggak dambain Mas!" sahutku, menggunakan 'gue-elo' untuk membentengi diriku.

​"Bohong," bisik Gavin. Tangannya turun, jarinya dengan berani mengusap tanda merah di leherku yang sengaja tidak kututupi. "Tanda ini masih berdenyut, Arum. Dan aku bisa merasakan betapa cepatnya jantungmu berpacu sekarang. Kamu menginginkanku, sama seperti aku menginginkanmu saat ini."

​Gavin mendekatkan wajahnya, hidungnya menghirup aroma di ceruk leherku. Dia tidak menciumku, dia hanya menggesekkan hidungnya perlahan, memberikan sensasi geli yang menyiksa.

​"Rum? Lu kok diem aja? Ketemu nggak bukunya?" Suara Raka terdengar semakin dekat, mungkin hanya berjarak satu rak lagi dari posisi kami.

​Jantungku rasanya mau copot. Aku menatap Gavin dengan tatapan memohon, tapi dia justru memberikan seringai iblisnya. Gavin sengaja menggerakkan tangannya ke pinggulku, meremasnya pelan di bawah kaos ketat yang kupakai.

​"Jangan... Mas, Raka ada di sana..." rintihku sangat pelan, hampir tak terdengar.

​"Biarkan saja. Bukankah ini yang kamu inginkan? Digoda di bawah hidung pelindungmu?" Gavin semakin menekan tubuhnya ke arahku. Aku bisa merasakan kerasnya sabuk kulitnya menekan perutku.

​Tangannya menjalar ke belakang kepalaku, menarik rambutku pelan hingga aku terpaksa mendongak menatapnya. Dia tidak menciumku, tapi bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari bibirku. Aku bisa merasakan panas napasnya, aroma mint yang memabukkan, dan keinginan besar untuk menutup jarak itu.

​"Satu kata darimu, Arum... dan aku akan menciummu di depan pria itu sekarang juga," ancam Gavin, suaranya serak penuh nafsu.

​Aku menggigit bibirku, menahan desahan yang nyaris lolos. Gengsiku masih setinggi langit, tapi tubuhku rasanya mau luruh ke lantai. Aku benci betapa aku sangat menikmati ketegangan ini.

​"Mas... pergi..." ucapku, namun tanganku justru tanpa sadar meremas kemeja putihnya, menariknya agar tidak menjauh.

​Gavin menyadari pengkhianatan tanganku. Dia tertawa kecil, sangat puas. "Mulutmu bilang pergi, tapi tanganmu bilang jangan lepaskan. Kamu benar-benar gadis kecil yang nakal, Arum."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki Raka berhenti tepat di ujung rak kami. "Rum?"

​Gavin dengan cepat menarik kepalanya, namun dia tetap mengurungku, tubuhnya menempel sempurna padaku agar Raka tidak bisa melihatku dari sudut rak. Dia menempelkan telunjuknya di bibir, menyuruhku diam.

​Aku menahan napas, tidak berani bergerak sedikit pun. Di depanku, wajah Gavin tampak sangat tampan dalam jarak sedekat ini. Peluhnya sedikit membasahi keningnya, dan kilatan obsesi di matanya membuatku merasa sangat... diinginkan.

​"Oh, kayaknya dia ke toilet kali ya," gumam Raka dari balik rak. Suara langkah kakinya terdengar menjauh, menuruni tangga.

​Begitu suara langkah Raka menghilang, Gavin melepaskan bekapannya tapi tidak menjauhkan tubuhnya. Dia menatapku dalam-dalam, tangannya mengusap pipiku dengan lembut yang tidak biasa.

​"Kamu selamat kali ini, Arum," bisiknya. "Tapi jangan pikir permainan ini selesai. Besok, aku akan menjemputmu dari kampus. Dan pastikan kamu tidak bersama pria itu, atau aku akan melakukannya lebih dari sekadar menggoda di perpustakaan."

​Gavin melepaskan kurungannya, merapikan kemejanya yang sedikit kusut karena remasanku, lalu berjalan pergi meninggalkan lorong rak buku seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​Aku jatuh terduduk di lantai, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Leherku masih terasa panas bekas usapan jarinya. Aku menyentuh bibirku sendiri, masih merasakan sisa panas napasnya.

​"Gila... dia bener-bener bikin gue gila," gumamku.

​Aku tahu, aku harus menjauh. Tapi bayangan Gavin di perpustakaan tadi—kekuatannya, aromanya, dan dominasinya—justru membuatku semakin tidak sabar menanti hari esok. Gengsiku perlahan mulai runtuh, terkalahkan oleh gairah yang ia tanamkan dalam setiap sentuhan kotornya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!