menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10 : elang perak dan dua bayangan penjaga
Setelah berhasil menyeberangi jembatan yang disambungkan oleh Lunaris, Raja Xavier kini melangkah menaiki tangga batu yang panjang dan megah menuju pintu masuk utama istana Obsidian Empire.
Jalan setapak ini sangat berbeda dengan jalan di desa. Di sini, keindahan terasa lebih mewah dan megah. Di kedua sisi jalan, hamparan bunga-bunga indah bermekaran dengan rapi. Ada Mawar Hitam yang memancarkan aura tajam, Anggrek Bulan yang harum semerbak, dan tentu saja, Bunga Bulan yang berkilau seperti kristal putih di sepanjang pagar.
Mereka tumbuh subur dan terawat sempurna, seolah-olah baru saja disiram dan dibersihkan.
"Indah sekali..." gumam Xavier sambil berjalan pelan, matanya tak lepas memandangi keelokan taman ini. "Elara benar-benar mencurahkan hatinya untuk tempat ini. Siapa sangka kerajaan kematian bisa seindah ini..."
Semakin dekat ke gerbang utama, suasana semakin hening. Hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang memantul di dinding-dinding batu yang tinggi.
⚔️ Sosok yang Menyeramkan
Akhirnya, Xavier berdiri tepat di hadapan Gerbang Besar Istana. Pintu itu terbuat dari besi hitam yang ditempa dengan ukiran rumit, sangat tinggi dan kokoh.
Di depan pintu itu, berdiri dua sosok perajurit yang sangat besar.
Mereka mengenakan baju zirah (armor) hitam penuh yang menutupi seluruh tubuh, lengkap dengan helm yang menutupi wajah sepenuhnya. Mereka berdiri tegak kaku, tidak bergerak sama sekali, memegang pedang besar yang ditancapkan ke tanah.
Pada pandangan pertama, Xavier mengira mereka hanyalah patung peringatan atau baju zirah kosong yang dipajang sebagai hiasan, karena mereka begitu diam dan kaku.
"Indah sekali armornya..." bisik Xavier, ia merasa tidak ada bahaya, jadi ia dengan santai mengulurkan tangan ingin mendorong pintu gerbang besi itu.
Saat tangan Xavier baru saja menyentuh permukaan pintu...
Dua sosok armor besar itu tiba-tiba bergerak!
Asap hitam pekat keluar dari celah-celah baju besi itu, menyatu dan memadat, membentuk tubuh yang kokoh. Dalam sekejap mata, dua perajurit raksasa itu berdiri tegak sempurna, pedang mereka diangkat tinggi-tinggi menghalangi jalan Xavier!
Mereka benar-benar hidup!
Namun, yang lebih mengejutkan adalah di atas tiang gerbang, berdiri seekor burung yang sangat besar. Ukurannya sebesar singa, bulunya berwarna hitam pekat dengan semburat warna perak keemasan di sayapnya. Matanya tajam dan cerdas, menatap lurus ke arah Xavier.
🦅 Ourobort, Sang Pengintai
Xavier mundur selangkah, tidak karena takut, tapi karena terkejut. Ia tersenyum melihat ketangguhan para penjaga ini.
Kedua perajurit bayangan itu tidak mengeluarkan suara. Mereka hanya menatap tajam, siap memenggal kepala siapa saja yang berani melangkah lebih jauh. Mereka adalah mesin pembunuh yang tidak punya mulut untuk berbicara, hanya punya tangan untuk membunuh.
Tapi, burung besar itu yang angkat bicara.
Suaranya keras, serak, namun jelas dan berwibawa. Burung itu mengepakkan sayapnya sekali, menciptakan angin kencang yang menerbangkan jubah Xavier.
"Siapa yang berani menginjakkan kaki di halaman suci istana Tuanku?!" seru burung itu, matanya menyala tajam. "Dunia cahaya dan dunia kematian adalah hal yang bertolak belakang! Apa yang dicari oleh secercah cahaya sepertimu di tengah kegelapan abadi ini?!"
Xavier menunduk hormat dengan sopan.
"Salam, wahai penjaga yang gagah. Aku Xavier, Raja dari Kingdom of Serenity. Aku datang untuk bertemu dengan Ratu Elara."
"Hah! Raja Cahaya?" cibir burung itu, ia terbang turun dan mendarat tepat di pundak salah satu perajurit besar itu, menatap Xavier dari jarak dekat. "Banyak Raja dan Kaisar sombong yang datang ke sini dengan niat membunuh Tuanku atau mencuri kekayaannya! Apakah kau juga sama? Ingin kepala Tuanku agar kau bisa terkenal?!"
"Nama saya Ourobort," lanjut burung itu dengan bangga. "Aku adalah mata dan telinga yang menjaga gerbang ini sebelum kau masuk ke aula utama. Aku tidak akan membiarkan siapa pun lewat jika tujuannya tidak murni!"
Kedua perajurit bayangan di sampingnya kembali mengangkat pedang mereka lebih tinggi, siap menyerang kapan saja jika Ourobort memberi komando.
🛡️ Ujian Keikhlasan
Xavier tidak mundur. Ia justru tersenyum hangat, lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar menunjukkan bahwa ia tidak membawa senjata tajam sedikit pun.
"Aku tidak membawa pedang, Ourobort. Aku tidak membawa pasukan. Aku datang dengan tangan kosong dan hati yang terbuka."
"Aku tahu banyak hal tentang Tuanku kalian. Aku tahu dia tidak sejahat yang dikatakan orang. Aku tahu dia kesepian. Aku tahu dia memikul beban berat sendirian."
Mata Ourobort terbelalak sedikit mendengar kata-kata itu. Ia menatap mata Xavier dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan. Namun yang ia lihat hanyalah ketulusan yang murni.
"Kau... kau tahu apa yang kau katakan?" desis Ourobort, suaranya mulai melunak. "Banyak yang takut bahkan hanya menyebut nama Tuanku. Tapi kau bicara seolah kau mengenalnya selama bertahun-tahun."
"Aku mengenalnya lewat cerita, lewat buku, dan lehat hati ini," jawab Xavier sambil menepuk dadanya. "Aku datang bukan untuk mengambil apa pun. Aku datang untuk memberikan sesuatu. Memberikan kehadiran, memberikan teman, dan memberikan cinta yang mungkin sudah lama hilang darinya."
Ourobort terdiam. Ia menoleh ke kiri dan kanan menatap kedua rekan perajuritnya yang bisu itu. Mereka sepertinya juga merasakan hal yang sama. Tidak ada ancaman dari pria ini.
Setelah hening beberapa saat, Ourobort menghela napas panjang.
"Hmm... Sudah ribuan tahun aku berdiri di sini... dan kau adalah manusia pertama yang tidak berbau darah dan keserakahan..." gumam Ourobort. "Baiklah... Aura kebaikanmu cukup kuat untuk melewati ujian ini."
"Minggir," perintah Ourobort pada kedua perajurit itu.
Dengan gerakan serempak dan berat, kedua perajurit bayangan itu menurunkan pedang mereka dan mundur selangkah, membuka jalan lebar untuk Xavier. Mereka kini tidak lagi terlihat mengancam, melainkan memberi hormat yang kaku.
"Masuklah, Raja Xavier," ucap Ourobort lebih lembut. "Tuanku ada di dalam aula utama. Tapi ingatlah... di hadapan Ratu Elara, jagalah sikapmu. Hatinya setajam pisau, tapi rapuh seperti kaca. Jangan sampai kau membuatnya kecewa, atau bahkan aku akan mencakar matamu keluar."
"Aku mengerti, dan aku berjanji," jawab Xavier tegas.
Dengan hati berdebar bahagia, Xavier melangkah melewati gerbang itu, melewati Ourobort yang gagah dan dua perajurit bayangan yang dingin.
Kini, ia benar-benar berada di dalam istana tempat tinggal Elara.
Bersambung...