Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.
Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.
Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.
namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.
Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.
Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.
Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cocok sama dia sih
"Hati-hati di jalan ya, om." Yiwa memeluk erat Bagus.
Bagus mengusap belakang kepala Yiwa dengan lembut, penuh kasih sayang. "Kamu jaga diri baik-baik ya. Sekarang sudah jadi seorang istri. Kelakuannya jangan yang ajaib. Kasihan itu suami mu nanti."
Yiwa melepaskan pelukan Bagus. "Apasih, om! nyebelin!"
Bagus tertawa pelan. "Ini juga, sama suami nanti jangan sering prengat-prengut."
"Iya-iya!"
"Sini peluk tante dulu!" Ida merentangkan kedua tangannya. Lalu membawa Yiwa ke dalam pelukan.
"Tante bakal kangen banget sama anak bandel ini deh. Pokoknya kamu harus sering ke kota, titik!" Ida mengeratkan pelukannya.
Yiwa juga membalas pelukannya tak kalah erat. "Siap, tante."
Lalu terakhir, Sandi hanya diam di tempatnya. Memang sedari tadi anak itu hanya diam memperhatikan.
"Lo nggak mau peluk gue, San?" Yiwa bukannya tak paham dengan Sandi. Namun ia hanya tidak ingin sandi merasa sedih. Sebenarnya diamnya Sandi seperti ini cukup membuatnya terluka. Karena ia sudah menganggap Sandi seperti adik kandungnya sendiri.
Sandi tidak berbicara apapun, tapi tubuhnya bergerak memeluk erat Yiwa. Perasaan berpisah ini sangat berbeda dengan saat di stasiun hari itu. Karena saat itu ia masih berpikir bahwa kakaknya nanti pasti akan kembali ke kota karena merasa tidak betah. Tapi sekarang, dengan adanya pernikahan dan bagaimana sosok Mas Nara yang sangat dewasa membuatnya sedikit merasakan takut. Takut kehilangan.
Kehilangan sosok kakak yang selalu ia kagumi.
Baginya, Yiwa bukan sekedar kakak perempuan yang cerewet. Tapi, Ia juga seperti kakak laki-laki pelindung. Menolongnya saat hampir jadi korban bully sewaktu SD. Membantunya mengerjakan tugas pr yang susahnya di luar nalar. Memberinya nasihat soal percintaan padahal dia sendiri pacaran juga nggak pernah serius. Dan banyak lagi.
Sandi benar-benar mengaguminya. Bagaimana Yiwa yang bisa bertahan saat kedua orangtuanya secara bersamaan meninggalkannya untuk selamanya. Ia tahu saat itu pasti hidupnya sudah hancur, tapi Yiwa masih bertahan dengan luka yang ia simpan sendiri. Sandi sangat mengagumi betapa kuatnya Yiwa bertahan.
Maka dari itu, ia pernah berjanji akan menjaga kakaknya dengan baik. Ia cukup khawatir saat tahu bahwa Yiwa akan menetap tinggal di desa. Namun dengan hadirnya sosok Mas Nara yang begitu dewasa membuatnya percaya bahwa di desa ini, kakaknya pasti akan baik-baik saja.
"Kakak jaga diri baik-baik, ya." lirih Sandi.
Yiwa mengangguk dipelukan Sandi. "Lo juga! jaga diri, nurut sama orang tua."
"Aku selalu nurut kok! Kak Yiwa tuh yang harus nurut sama suaminya."
Yiwa memukul punggung Sandi. "Jangan ikut-ikutan!"
Sandi terkekeh. "Iya-iya." Ia melepaskan pelukan kakaknya lalu mendekat ke Nara yang ada di sampingnya.
"Aku balik dulu ya, Mas Nara. Titip kakakku yang bawel ini."
Nara menyambut jabatan tangan Sandi. "Iya, San."
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, mereka pun masuk ke dalam mobil. Yiwa, Nara, dan Mbah Sekar masih di sana sampai mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan.
"Ayo, mbah!" ajak Yiwa.
"Kamu pulang dulu saja sama Den Nara, nduk. Mbah mau mampir ke rumah Bu Ningsih." jawab mbah Sekar.
Yiwa mengangguk. "Iya, mbah."
Mbah Sekar pun pergi ke arah berlawanan dengan Yiwa.
"Ayo," ajak Nara.
Yiwa menurut dan berjalan di samping Nara. Bahkan setelah setengah perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali di antara keduanya.
"Ra, gue-- "Mas Nara!" belum sempat Yiwa melanjutkan ucapanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil Nara dari belakang.
Yiwa dan Nara menoleh. Seorang perempuan berjalan menghampiri mereka. Yiwa memperhatikan penampilan perempuan itu. Baju yang sangat sopan. Rok panjang yang menonjolkan kesan feminim dan anggun. Sangat berbeda dengan dirinya. Seperti preman, karena hari ini ia pakai celana yang di bagian lututnya ada robek-robeknya.
"Mas Nara, apa kabar?" tanya perempuan itu.
Bahkan suaranya sangat lembut. Ini sih benar-benar menggambarkan perempuan desa sekali.
Nara tersenyum ramah. "Baik, Dinar."
"Jadi namanya Dinar."
Yiwa beralih memperhatikan Nara. Dari atas ke bawah, lalu melihat Dinar. "cocok sih mereka. malah lebih cocok sama dia."
"Ini Mbak Yiwa ya?" Suara Dinar mengalihkan pikiran Yiwa yang dari tadi suk membandingkan.
Yiwa tersenyum agak canggung dan mengangguk. Ia mengulurkan tangan lebih dulu. "Yiwa,"
Dinar tersenyum dan menyambut jabatan tangan Yiwa. "Aku Dinar, mbak. Teman nya Mas Nara."
"Mas Nara ya? padahal orang-orang manggil dia Den Nara."
Yiwa melepaskan jabatan tangannya. "Teman?"
Dinar mengangguk. "Iya, teman sejak kecil."
"Kalian seumuran?" tanya Yiwa.
Dinar kembali mengangguk.
"Kalau gitu jangan panggil gue mbak. panggil Yiwa aja. kita beda empat tahun." kata Yiwa.
Nara yang mendengar itu ada rasa terkejut sedikit. "Jadi dia ingat."
"Eh! nggak, mbak. Oh ya! maaf ya, waktu pernikahan aku nggak bisa datang. Soalnya waktu itu aku lagi di kota."
"Tidak apa-apa, Nar." jawab Nara.
Yiwa mencibir dalam hatinya saat melihat respon Nara. "Sok ramah banget!"
"Aku duluan ya Mas Nara, Mbak Yiwa!"
Yiwa dan Nara hanya mengangguk. Setelah Dinar pergi, Yiwa pun menyampaikan isi pikirannya.
"Lo lebih cocok sama dia sih. Keknya kalo nggak terjebak sama gue, lo pasti nikahnya sama dia."
Nara menoleh. "Kenapa berpikiran begitu?"
"Ya lo lihat diri lo sendiri. terus lihat si Mbak Dinar itu. Kalian kaya cerminan. lo versi cowok dan dia versi cewek." jelas Yiwa.
Nara hanya diam mendengarkan. Ia tidak mau banyak berkomentar tentang ini.
"Gimana kalau kita cerai aja. lo nanti bisa nikah sama dia. gimana? baguskan ide gue?" tanya Yiwa.
Nara tidak menjawab, ia justru balik bertanya. "Apa menurut kamu saya mencintainya?"
"Ya nggak tahu sih. Tapi kan lo juga nggak cinta sama gue. Jadi kalau cerai nggak papa kan?"
"Kita nggak akan bisa cerai, Yiwa. Hubungan ini bukan cuma tentang status. Sawiji ing ludira bukan ritual biasa. Ada perjanjian nyawa tak tertulis di antara kita. Kamu tidak bisa mencintai orang lain begitupun saya."
Yiwa diam tak menjawab. Kalimat Nara mengusik pikirannya.
"Semakin kamu atau saya mencoba saling menjauh, ada harga yang harus dibayar. entah itu rasa sakit fisik, batin atau bahkan kematian."
Oke. Yiwa semakin dibuat takut dengan kalimat-kalimat Nara.
"Tapi gue nggak akan bisa mencintai lo, Ra. Dan lo juga harus tahu batasan lo. Dari awal gue udah bilang kalau jangan berharap gue mencintai lo."
Nara menatap Yiwa dengan lekat-lekat. "Saya tidak akan berharap pada sesuatu yang mustahil."
Yiwa mengerutkan keningnya, bingung. "Apa-apaan maksud kalimat itu. jadi menurut dia gue nanti bakal cinta gitu sama dia?"
"Sudah, tidak perlu kita bahas lagi. Kita pulang dulu."
Nara menggenggam tangan Yiwa dan mengajaknya melanjutkan jalan. Yiwa bingung. Ia melihat tangannya yang di genggam Nara.
Ada rasa nyaman di sana. Ia ingin menolak tapi sisi lainnya justru dengan senang hati menerima.
Ia bingung sekarang. "Nggak mungkin kan kalo gue--- Nggak nggak!"
...♡Bersambung ♡...
Btw saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa boleh singgah profile saya. Terima kasih /Smirk/