NovelToon NovelToon
The Baskara'S Bride

The Baskara'S Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Rolls-Royce hitam mengkilap itu berhenti dengan perlahan di depan gerbang besi tempa kediaman megah keluarga Wijaya.

Di balik kaca mobil yang gelap, Ambar menatap lurus ke depan.

Pemandangan di halaman rumah yang dulu ia tinggali itu sungguh kacau balau.

Beberapa truk boks besar terparkir sembarangan. Petugas kurator berseragam resmi mondar-mandir mengangkut barang-barang—mulai dari sofa kulit mahal, lukisan-lukisan koleksi Hendra, hingga kotak-kotak berisi pakaian bermerek milik Gea.

Di tengah kekacauan itu, tiga sosok yang sangat Ambar kenal sedang berdiri mematung, dikelilingi oleh petugas keamanan hotel.

Pengawal Baskara membukakan pintu mobil. Ambar melangkah keluar terlebih dahulu.

Ia mengenakan kacamata hitam besar, blazer kremnya berkilau tertimpa matahari pagi.

Sepatu hak tingginya mengetuk aspal dengan mantap.

Begitu ia berdiri tegak, ia berbalik untuk membantu Baskara turun dari mobil dan duduk di kursi roda peraknya.

Kehadiran Ambar dan Baskara bagaikan petir di siang bolong bagi keluarga Wijaya. Hendra, Shinta, dan Gea serentak menoleh.

Wajah mereka pucat pasi, kotor oleh keringat dan air mata frustrasi.

"Ambar!" teriak Hendra, suaranya parau. Ia mencoba berlari mendekat, namun ditahan oleh dua petugas keamanan.

"Ambar, tolong! Suruh mereka berhenti! Ini rumah Papa! Ini harta Papa!"

Shinta, yang rambutnya sudah acak-acakan, ikut menjerit hysteris.

"Ambar, kamu anak durhaka! Tega-teganya kamu melakukan ini pada orang tuamu sendiri! Kami yang membesarkanmu!"

Ambar diam membisu. Ia melepaskan kacamata hitamnya, menatap mereka dengan tatapan dingin, tanpa emosi sedikit pun.

Di sampingnya, Baskara hanya menyeringai tipis, menikmati tontonan kehancuran musuh-musuhnya.

"Membesarkanku?" suara Ambar terdengar jernih namun tajam, memotong teriakan Shinta.

"Maksud Mama, membesarkanku dengan sisa makanan Gea? Membesarkanku dengan pukulan dan hinaan setiap hari? Ataukah membesarkanku dengan puntung rokok di punggungku?"

Mendengar kata-kata Ambar, petugas kurator dan keamanan serentak menoleh, menatap Hendra dengan tatapan menghujat.

Skandal penyiksaan anak yang dilakukan keluarga terpandang ini mulai terkuak di depan umum.

Melihat situasi yang semakin menyudutkan mereka, dan menyadari bahwa Ambar benar-benar memegang kunci nasib mereka, Hendra mengambil keputusan nekat.

Ia melepaskan diri dari pegangan petugas, lalu menjatuhkan dirinya berlutut di atas aspal panas, tepat di hadapan kaki Ambar yang terbalut sepatu mahal.

"Ambar, maafkan Papa, Nak," isak Hendra, air mata penyesalan—atau mungkin ketakutan kehilangan harta—mengalir deras membasahi wajahnya yang keriput.

Ia mencoba meraih ujung celana Ambar. "Papa salah. Papa khilaf selama ini. Tolong, jangan usir Papa. Jangan biarkan Papa hidup di jalanan di usia senja ini."

Gea, yang melihat ayahnya bersujud, ikut panik. Rasa gengsinya runtuh total demi keselamatan hidupnya.

Ia berlari dan ikut bersujud di samping Hendra, mencengkeram kaki Ambar erat-erat.

Gaun pengantin yang ia banggakan kemarin kini kotor terkena debu aspal.

"Mbak Ambar. Gea mohon, Mbak," ratap Gea, wajahnya hancur oleh tangisan.

"Mbak boleh ambil Jayden, Mbak boleh ambil semuanya! Tapi tolong, jangan usir Gea. Gea nggak bisa hidup miskin, Mbak! Gea nggak tahu harus pergi ke mana!"

Shinta berdiri terpaku beberapa meter di belakang mereka, menatap suami dan putrinya yang bersujud di kaki "sampah" yang dulu mereka injak-injak.

Rasa malu dan syok membuatnya tak bisa bersuara, hanya air mata yang terus mengalir deras.

Ambar menunduk, menatap ayah dan adiknya yang kini meringkuk di kakinya bagaikan pengemis.

Di balik wajahnya yang tenang, hatinya bergejolak.

Bukan rasa kasihan, melainkan rasa puas yang mendalam melihat keadilan akhirnya ditegakkan.

Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke arah Baskara.

Suaminya itu mendongak, memberikan tatapan posesif yang seolah berkata, "Keputusan ada di tanganmu, Ratuku."

Ambar kembali menatap Hendra dan Gea. Ia melepaskan kakinya dari cengkeraman Gea dengan perlahan namun tegas.

"Kalian memohon agar tidak diusir ke jalanan?" tanya Ambar dengan nada datar.

"Tapi bukankah itu yang kalian lakukan padaku? Kalian mengusirku di tengah hujan badai, tanpa uang, tanpa tempat tuju, setelah menyiksaku habis-habisan."

Ambar mundur satu langkah, berdiri tegak di samping kursi roda Baskara.

"Maaf, Papa... Gea," ucap Ambar, senyum sinis yang mematikan terukir di bibirnya.

"Rumah ini bukan lagi milik Wijaya. Rumah ini, adalah hadiah pernikahan dari suamiku, atas namaku. Dan aku, Ambar Mahendra, tidak menerima tamu sampah di rumahku."

Ambar memberikan isyarat kepada kepala petugas kurator.

"Petugas, silakan lanjutkan tugas Anda. Pastikan tidak ada satu pun barang Wijaya yang tertinggal di dalam. Rumah ini harus bersih sebelum aku menempatinya."

Petugas kurator mengangguk mantap. Mereka segera menyeret Hendra dan Gea yang terus berteriak histeris, menjauhkan mereka dari area rumah yang kini resmi menjadi milik Ambar.

Shinta hanya bisa mengikuti suami dan anaknya dengan langkah gontai, meninggalkan kemewahan yang selama ini mereka banggakan untuk selamanya.

Jayden melangkah masuk melewati gerbang yang sudah tidak lagi dijaga oleh orang-orang suruhannya.

Dengan setelan jas yang kusut dan wajah yang memancarkan keputusasaan yang dibalut kesombongan, ia menghampiri Ambar yang sedang berdiri di teras rumah megah itu.

"Ambar! Hentikan semua kegilaan ini!" seru Jayden, suaranya bergema di halaman yang kini sepi dari barang-barang keluarga Wijaya.

Ia menatap Ambar dengan tatapan yang ia pikir masih bisa menaklukkan hati wanita itu.

Ambar hanya melipat tangan di dada, menatap Jayden datar.

"Apa lagi yang kamu mau, Jayden? Bukannya petugas sudah mengusirmu tadi malam?"

Jayden maju selangkah, mencoba meraih tangan Ambar namun tertahan oleh tatapan tajam pengawal di belakangnya.

"Ambar, dengarkan aku. Kembalikan rumah ini. Ayo kita menikah. Aku tahu kamu melakukan semua ini hanya untuk memancing perhatianku, kan? Aku tahu jauh di dalam lubuk hatimu, kamu masih mencintaiku. Aku bersedia meninggalkan Gea untukmu sekarang juga."

Keheningan sesaat menyelimuti teras itu, sebelum akhirnya suara tawa Ambar pecah.

"Hahaha! Hahahahahaha!"

Ambar tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang.

Ia menatap Jayden seolah pria itu baru saja menceritakan lelucon paling konyol di abad ini.

"Cinta? Kamu bilang aku masih mencintaimu?" Ambar menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.

"Jayden, kepercayaan dirimu itu benar-benar penyakit. Kamu pikir setelah semua penghinaan yang kamu berikan, aku masih menginginkan pria pecundang sepertimu?"

Ambar kemudian bergeser sedikit ke samping, menunjuk ke arah pintu utama di mana Baskara duduk tenang di atas kursi roda peraknya, memperhatikan mereka dengan tatapan sedingin es.

"Jayden, apa kamu tidak bisa melihat siapa yang duduk di sana?" suara Ambar kini merendah, penuh penekanan.

"Dia adalah Baskara Mahendra. Suamiku. Pria yang memberiku harga diri saat kamu menginjak-injaknya. Pria yang memberiku dunia saat kamu membuangku ke jalanan."

Baskara menyeringai tipis, memberikan isyarat agar kursi rodanya mendekat ke arah mereka.

Aura kepemimpinannya membuat Jayden otomatis mundur selangkah karena terintimidasi.

"Tuan Jayden," ucap Baskara dengan suara bariton yang berat.

"Sepertinya Anda butuh cermin untuk melihat posisi Anda sekarang. Anda tidak lebih dari seorang pengangguran yang mencoba mengemis pada istriku. Jika Anda masih berani menyebut kata 'menikah' sekali lagi, saya pastikan sisa hidup Anda tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi."

Jayden gemetar, keringat dingin mengucur di pelipisnya.

Ia baru menyadari bahwa Ambar yang sekarang bukan lagi Ambar yang bisa ia kendalikan dengan kata-kata manis.

"Pergi dari sini, Jayden," usir Ambar dengan nada jijik. "Sebelum aku berubah pikiran dan meminta petugas keamanan menyeretmu seperti anjing liar."

1
falea sezi
g perawan. kah kok. ambar. langsung ke atas g skit kah/Smug/
tiara
waduh thor bikin deg-degan aja nih,akhirnya Badkara kembali sadar semoga Jayden tertangkap segera ya
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
tiara
semoga Jayden dapat di hadang oleh pengawal Ambar yah.dan dibuat tidak bisa berulah lagi
tiara
sabar Ambar berdoa saja semoga lancar operasinya dan cepat bisa berjalan lagi
tiara
lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: ok kak
total 1 replies
tiara
keluarga Wijaya masih terus membuat Ambar ga nyaman sepertinya,
my name is pho: iya kak
total 1 replies
tiara
apa keluarga Wijaya menginsyafi kesalahannya atau tabah tetpuruk ya,lanjuut
tiara
cepat sembuh Ambar biar bisa lihat kejutan apa yang dibuat oleh suamimu yang kaya
tiara
wah pa Baskara ko bisa kecolongan sih
Alex
sambil nahan nafas Thor bacanya
tiara
lanjuut thor
tiara
nasi sudah jadi.bubur, bekerjalah kalian pa Wijaya jika ingin punya uang
tiara
dimulainya kehancuran keluarga wijaya,lanjuut thor semangat upnya
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
tiara
perjanjian pra nikah mulai di hapus satu demi satu hingga akhirnya mungkin dihapus semua 😄😄😄
tiara
bagus pa Baskara hempaskan mantan sejauh mungkin
tiara
wah mantan Bastian mau melakukan apa ya terhadap Ambar.lanjuut thor
tiara
pa Wijaya nikmatilah hasil kejahatanmu pada anak kandung sendiri dan lebih membela anak tirimu
tiara
lanjuut thor semangat upnya,ga sabar lihat kehancuran keluarga Wijaya.agak aneh juga sih mengapa ayahnya begitu benci sama anaknya atau karena Gea dan ibunya yang sudah menghasut ps Wijaya ya
tiara
lanjuut thor seru niih, jadi deg-degan aku nunggu reaksi keluarga wijaya
tiara
Mereka mulai saling terbuka dan saling membutuhkan semoga kebahagian selalu menyertai tuan Baskara dan istrinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!