NovelToon NovelToon
Bocil Milik Mafia Hyper

Bocil Milik Mafia Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi / Cintapertama / Nikahmuda / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:20.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pandaimut

Aca Latasya Anesia dikenal sebagai badgirl yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Mulutnya tajam, sikapnya liar, dan hidupnya selalu penuh masalah. Tidak ada yang berani mengusiknya sampai sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Motor kesayangannya menabrak mobil mewah milik Aron Darios Fernandes. Bukan sekadar CEO muda yang dingin dan berkuasa, Aron adalah sosok di balik organisasi mafia paling berbahaya di kota pria yang namanya saja sudah cukup membuat orang gemetar. Mobilnya rusak. Situasi penuh ketegangan. Namun alih-alih takut, Aca justru menatapnya tajam dan melawan tanpa ragu. Di detik itulah sesuatu yang gelap dan berbahaya tumbuh dalam diri Aron sebuah obsesi. Bukan amarah bukan dendam melainkan keinginan untuk memiliki. Sejak saat itu, hidup Aca tak lagi sama. Ia menjadi target perhatian seorang pria yang tak pernah gagal mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Dan yang lebih mengerikan Aron tidak mengenal kata menyerah “Aku tidak tertarik jadi milik siapa pun,” Aca mendesis dingin. Aron hanya tersenyum tipis, matanya penuh dominasi. “Sayangnya kamu tak lagi punya pilihan. Baby girl.” Dalam dunia yang penuh kekuasaan, bahaya, dan permainan gelap, satu hal menjadi pasti. Sekali Aron terobsesi, tidak ada jalan keluar lagi bagi Aca untuk bebas pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandaimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suka Sandra?!

“Ini bukan bahan diskusi, Bara,” nada Aron berubah menjadi lebih dingin dan tajam dari sebelumnya. “Gue gak butuh pahlawan di sana. Gue butuh algojo. Dan saat ini, Sandra adalah target pribadi gue.”

Bara menatap Aron tajam, mereka kembali berada dalam posisi konfrontasi. “Ini perang gue juga, Ar. Lo gak bisa mutusin semuanya sendirian!”

Aca langsung masuk ke tengah-tengah mereka lagi. Ia tidak bisa membiarkan keduanya pecah saat musuh sudah berada di depan mata.

“Kalian gak bisa jalan sendiri-sendiri sekarang! Itu yang Sandra mau! Dia mau kita pecah dan hancur dari dalam!”

Aron menatap Aca cukup lama. Ia lalu mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Tangannya naik, menyentuh pipi Aca dengan gerakan yang sangat pelan dan lembut.

Sebuah kontras yang sangat aneh dengan aura membunuhnya yang masih terpancar kuat.

“Kamu tetap di sini, Aca. Jaga sistem. Jangan biarkan satu pun sinyal asing masuk ke markas ini,” bisik Aron.

Aca langsung menggeleng kuat. Matanya mulai berkaca-kaca. “Gak. Gue ikut. Gue gak mau cuma nunggu di sini sambil denger kabar buruk lagi.”

“Enggak boleh sayang.” tegas Aron.

“Aron, dengerin gue…”

“Aku gak mau kehilangan kamu juga, Aca!” potong Aron, suaranya sedikit meninggi namun segera ia tekan kembali.

Kalimat itu pelan, tapi efeknya cukup untuk membuat Aca terdiam seribu bahasa. Ada rasa protektif yang begitu besar dalam nada suara Aron, sesuatu yang jarang ia tunjukkan secara verbal.

Bara menghela napas kasar, mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Sial... ini makin kacau. Oke, Aron. Gue tetep ikut, tapi gue bakal jaga perimeter luar. Lo masuk ke dalam. Itu kesepakatan gue.”

Aron menatap Bara sebentar, lalu akhirnya mengangguk kecil. “Sepakat. Tapi jangan pernah masuk sebelum gue kasih kode.”

Di sisi lain kota, Sandra duduk santai di sebuah kursi kayu tua di dalam gudang utara. Ia menatap layar tabletnya yang kini menunjukkan koordinat GPS.

Ia tahu, mangsanya sedang dalam perjalanan.

Salah satu anak buahnya mendekat dengan langkah ragu.

“Nona, kita sudah kirim videonya. Tapi apakah kita benar-benar siap menghadapi Aron?”

Sandra mengangguk pelan, menyesap minumannya.

“Dia bakal datang. Gue jamin seratus persen. Aron bukan tipe pria yang bakal ngebiarin kematian orangnya lewat gitu aja.”

“Bagaimana kalau dia bawa semua pasukannya? Bagaimana kalau dia ngebawa Bara dan unit tempurnya?” tanya anak buahnya lagi, nada suaranya terdengar cemas.

Sandra tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat mengerikan di bawah lampu gudang yang berkedip.

“Bagus kalau dia bawa semuanya. Makin banyak yang datang ke tempat ini makin besar kehancuran yang bisa kita ciptakan dalam sekali serangan.”

Sandra berdiri perlahan, merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang ada di sana. “Persiapkan target selanjutnya. Kita gak boleh kasih mereka napas.”

“Target selanjutnya siapa, Nona?”

Sandra menatap hujan deras yang mengguyur di luar jendela gudang. Matanya sedingin es di kutub utara. “Perempuan itu. Aca.”

Hening sejenak di ruangan itu. Anak buahnya tampak terkejut.

“Lo pikir Aron bakal diem aja setelah ini?” lanjut Sandra pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Enggak. Dia bakal datang buat balas dendam, dan dia pasti bakal mikir kalau Aca paling aman kalau ditinggal di markas atau dibawa ikut secara diam-diam. Dan di situlah kita bakal hancurin titik terlemah dia.”

Kembali ke jalanan kota yang basah. Aron menyetir mobil sport hitamnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, membelah genangan air hujan yang menghantam kaca depan.

Bara duduk di kursi sebelah, tangannya menggenggam senjata dengan kuat, wajahnya tegang namun fokus.

“Lokasi pastinya di mana, Ar?” tanya Bara, matanya terus memantau keadaan sekitar jalanan yang sepi.

Aron menjawab tanpa menoleh sedikit pun, pandangannya terpaku pada jalan di depan. “Gudang lama di sektor utara, dekat dermaga tua. Tempat yang sempurna buat pembantaian.”

“Lo yakin dia ada di sana? Bisa aja ini cuma pengalihan.”

“Dia sengaja ninggalin jejak digital di video tadi, Bar. Dia mau gue tahu di mana dia sembunyi,” jawab Aron dingin.

Bara mendengus kasar. “Berarti ini jebakan murni. Kita masuk ke mulut buaya.”

Aron tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat langka. “Iya, ini jebakan.”

“Dan lo tetep mutusin buat masuk?”

“Gue juga bawa jebakan gue sendiri, Bar. Jangan kira gue datang dengan tangan kosong.”

Tatapan mereka bertemu sebentar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, setelah semua keributan dan adu ego soal ciuman tadi, mereka berdua benar-benar sinkron. Mereka adalah dua predator yang sedang bergerak menuju satu titik maut.

Namun, di belakang mereka, tanpa mereka sadari sepenuhnya dalam kecepatan tinggi itu, satu mobil lain mengikuti dengan jarak yang terjaga.

Mobil itu melaju tanpa menyalakan lampu utama, hanya lampu kecil yang redup, menyelinap di antara bayangan pohon dan bangunan.

Di dalam mobil itu, duduklah Aca.

Tangannya menggenggam setir dengan sangat kuat hingga jari-jarinya memucat.

Matanya merah karena menahan tangis, namun ada tekad yang sangat keras di sana.

“Lo kira gue bakal diem aja di markas kayak boneka pajangan, Aron...” bisiknya pelan pada dirinya sendiri.

Napasnya memburu mengikuti irama detak jantungnya yang cepat.

Matanya fokus menatap lampu belakang mobil Aron di kejauhan.

“Gue gak selemah yang lo pikir. Dan gue gak bakal biarin lo ngadepin Sandra sendirian setelah apa yang dia lakuin ke Rendi.”

Malam semakin dalam.

Hujan bukannya reda, malah semakin deras, seolah alam sedang ikut berduka atau mungkin sedang bersiap mencuci darah yang akan segera tumpah.

Semua orang kini bergerak menuju satu titik yang sama di gudang tua sektor utara.

Tempat di mana perang ini akan berubah selamanya.

Dari sekadar permainan strategi dan perebutan kekuasaan, menjadi pembantaian nyata yang akan menyisakan banyak mayat. Dan kali ini, tidak ada lagi jalan untuk mundur.

Tidak ada lagi ruang untuk ego. Hanya ada hidup atau mati. Perjalanan itu terus berlanjut di tengah badai, menuju puncak dari segala dendam yang telah lama dipendam.

Malam ini, kota ini akan menjadi saksi bisu runtuhnya salah satu perusahaan, atau lahirnya seorang penguasa baru yang lebih kejam.

Dan di tengah semua itu, Aca melaju, tanpa menyadari bahwa dia sendiri adalah bagian dari rencana besar Sandra yang lebih mematikan.

“Lo suka sama Sandra Ar?” tanya Bara tiba tiba.

“Gue suka….”

“LO BRENGSEK MAU SELINGKUHIN ADEK GUE HAH?!” kali ini Bara benar benar kesal pada sahabatnya itu. Awas aja kalau Aron berani menduakan adeknya ia bakal bunuh Aron.

1
Riza Afrianti
cari gara2 lu
Riza Afrianti
typo thor
Riza Afrianti
hahah
Riza Afrianti
haha lucunya
Riza Afrianti
gila lu
Wahyu Ningtyas
thor
Wahyu Ningtyas
awas tu ca Sandra mau ambil aron
Pandaimut: Makin gila pastinya🤣🤣
total 3 replies
aku
woww aca 🤣🤣 kejutan 😁😁
Pandaimut: Kan aku bilang juga apa🤣🤣
total 1 replies
Nindy bantar
lanjut thor 💪💪💪💪
Pandaimut: Nanti tak kasih double up tapi bentar ya😁😉
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
awas bara nanti kau yang dibunuh aron karna selalu gangguin mereka🤣🤣
Pandaimut: Nanti Aron bisa di cincang Aca kalau itu terjadi kak🤣
total 1 replies
Nindy bantar
🤣mampir thor
Pandaimut: Semoga makin betah kak🥰😅
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
eh Sandra dewi udah sama Harvey mois aja dah biar aron sama aca
Pandaimut: Ngakak aku🤣🙏
total 1 replies
Wahyu Ningtyas
bisa bisanya ya ron🤣🤣
Pandaimut: Kasih paham kak🤣🤣
total 1 replies
Elis yulianti
cerita nya menarik ka,, aku suka
Pandaimut: Trimakasih kak semoga makin suka ya🥰🙏
total 1 replies
Elis yulianti
lanjut ya ka
Pandaimut: Siap kakak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!