Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 : Kegundahan
Abi Zayn menatap wajah Azima, kemudian mengusap rambut putri nya lembut.
" Masalah nya, tuan Ibrahim meminta pernikahan mu bersamaan dengan A. "
" APA? kenapa cepat sekali, Abi?" Azima panik.
Abi Zayn tertunduk lesu. Membicarakan pernikahan Azima tidak begitu membuat ia bahagia. Abi Zayn masih menganggap Azima itu putri kecil nya yang sama seperti puluhan tahun lalu. Mungkin karena Azima manja dan tidak pernah lepas dari nya. Berbeda dengan A, Abi Zayn justru berharap A secepatnya membina rumah tangga . Padahal, usia Azima dan A sama.
" Tuan Ibrahim sudah mendapatkan undangan pernikahan A. Karena itu, ia minta pernikahan mu dan Ayyazh di langsungkan di hari yang sama."
Azima duduk di kursi , kepala nya oleng dengan kaki yang tidak mampu menopang bobot tubuh nya.
" Sekali lagi Abi tanya, apa kamu tidak ingin bertemu dengan Ayyazh?" Tanya Abi Zayn, suara yang biasa tegas dan berwibawa, hari ini terdengar goyah dan bergetar.
Tatapan lurus Azima serasa menembus dinding pembatas, ia tak berminat dan tak berniat sama sekali. Bertemu pra nikah juga tidak ada faedah. Toh, pada akhirnya, ijab Kabul itu akan terlaksana juga .
Perjodohan. Hal yang tidak bisa lepas dari keluarga besar Brawijaya. Di mulai dari buyut, hingga sekarang dan tidak menutup kemungkinan akan berlanjut terus menerus. Shaka dan Selia yang hidup di luar negeri pun bisa saja merasakan hal sama dengannya, apalagi Zoya dan Hafi, pun akan menikah karena di jodohkan .
Anehnya, tidak ada satupun dari perjodohan itu yang mengalami kegagalan. Justru dari perjodohan itu lah, terpupuk cinta yang dalam, kasih dan sayang serta kebahagiaan mampu mereka raih .
Haruskah Azima berpegang teguh pada hasil akhir perjodohan para pendahulu nya? Dalam lubuk hati terdalam, Azima meminta itu, ia ingin yang terbaik untuk ibadah terpanjang nya di dunia.
" Tidak perlu , Abi. "
Jawaban singkat dari Azima seketika membuat hati Abi Zayn terenyuh. Jika A, jelas terlihat masih ada rasa tidak suka dengan perjodohan ini. Namun, Azima pasrah. Tidak ada perlawanan , pun membantah tidak ia lakukan.
Di luar ruangan, ada umi Tata yang menguping, sesekali ia mengusap cairan bening yang menetes di jalur yang sama. Ia tidak berani masuk. Bagi umi Tata, Azima adalah dunia nya, anak penurut dan penyayang itu adalah segalanya. Dan sekarang, ada seorang pria yang meminta dunia nya itu. Sungguh, ia tidak rela untuk melepas .
" Baiklah, Abi akan bicarakan dengan Abi grandpa."
Abi Zayn keluar, tinggal lah Azima yang menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangis nya pecah . Bukan tidak ingin menikah. Di usia nya sekarang, memang sudah pantas ia membina sebuah rumah tangga. Masalah nya, ia sama sekali tidak mengenal keluarga Moez, apalagi laki laki yang akan menjadi calon suami nya. Ia pernah bertemu dengan istri tuan Ibrahim, dan menurut Azima, nyonya besar itu sangat baik. Tapi tetap saja, ia tidak yakin dengan calon pasangan nya. Yang semakin membuat Azima gundah adalah, pria itu tinggal jauh dari Indonesia. Otomatis Azima akan turut serta ke sana. Lalu, siapa yang akan menemani umi Tata dan Abi Zayn jika ia tidak ada?
Tidak sama seperti kakak sepupunya, Safa dan Marwah. Walau Safa sudah mengantongi kewarganegaraan negara tempat tinggal ratu Elizabeth, tapi masih ada Marwah yang selalu bersama aunty Zara dan uncle Ezar.
*
*
Abi Zayn duduk berhadapan dengan Abi grandpa di mansion Brawijaya.
" Apa tidak bisa di batalkan saja, Bi?" Pinta Abi Zayn.
" Mungkinkah Zizi menolak?" Tanya Abi grandpa pelan.
" Di situlah masalahnya, ia bahkan menerima Ayyazh tanpa keinginan bertemu lebih dulu."
Abi Grandpa menghela nafas kasar. " Untuk membatalkan, Abi tidak begitu yakin, Zayn."
" Kenapa? Mungkinkah ada perjanjian di antara kalian?" Zayn mencoba menelusur.
Perlahan Abi grandpa mengangguk.
Hening. Hanya terdengar suara burung murai berkicau di taman belakang.
Tidak ada sepatah kata pun baik dari Abi Zayn maupun dari Abi grandpa, hingga umi grandma hadir memecah kesunyian.
" Apa yang kalian bicarakan? Masih seputaran Zizi?" Tanya umi grandma mendudukkan tubuh di samping Abi grandpa.
Bersamaan , Abi Zayn dan Abi grandpa menggoyangkan kepala ke atas dan kebawah.
" Umi sangat paham apa yang kamu pikirkan, Zayn. Zizi adalah bayangan mu, dan kamu tidak ingin bayanganmu itu hilang. Tapi kamu tidak akan bisa menahan Zizi di samping mu selamanya, nak. Zizi di titipkan Allah padamu hingga waktu nya tiba, dan sekarang lah saat nya. Jika gundah mu karena ragu dengan keluarga Moez, umi dan Abi yang akan jadi penjamin nya. Kamu tenang saja."
Helaan nafas Abi Zayn terdengar cukup kasar.
*
*
Rumah sakit Brawijaya.
Seperti tidak memiliki beban hidup, Azima melayani pasien bak tak terjadi apa apa, senyum secerah mentari pagi di sertai gurauan jenaka sesekali ia lontarkan pada beberapa pasien lansia yang mengalami depresi berat karena penyakit yang mereka derita.
Nanti setelah matahari sejajar dengan sumbu, barulah mood nya mulai memburuk. Dengan suasana hati yang buruk itu, Azima tetap melakukan aktifitas siang nya. Sholat dan makan siang.
Azima melangkah gontai ke tempat biasa ia menikmati bekal makan siang nya. Dari kejauhan, Annasya melambaikan tangan , ia pun mengurai senyum dan berjalan cepat ke arah Annasya yang sudah menunggu .
" Sudah lama?" Tanya Azima kemudian mendudukkan tubuh nya tepat di samping Annasya.
" Tidak juga."
" Ayo makan, aku sudah kelaparan." Ajak Azima.
Annasya mengangguk, ia pun membuka bento yang di bawa dari rumah. Annasya nampak lahap, lauk Azima yang berlebih ia pindahkan ke tempat bekal nya. Hal berbeda terjadi pada Azima. Annasya memperhatikan itu dan memutuskan berhenti dengan makannya.
" Katanya lapar, kenapa tidak makan?" Annasya bingung dengan Azima yang sejak tadi hanya membuat berantakan nasi dan lauk yang tersusun rapi.
Lelah mengaduk nasi, Azima meletakkan sendok di sertai helaan nafas panjang.
Ia menatap Annasya yang sedang minum, netranya berkaca kaca. " Abi grandpa menjodohkan ku dengan cucu kawan baik nya."
" Uhuk." Annasya terbatuk. Azima menceritakan kegalauannya di saat yang tidak tepat.
" Apa...? " Annasya terkejut. " Kamu juga? "
Azima mengangguk pasrah, sementara Annasya mendesah panjang .
" Aku pikir ini berakhir di A dan aku saja." Annasya tertunduk lemas.
" Pikiran mu salah, Sya. Aku justru berpikir, semua keturunan Brawijaya tidak akan menikah tanpa adanya perjodohan. Shaka, Selia, Zoya ataupun Hafi, mereka akan melewati itu. "
" Kamu benar. Keluarga mu memang aneh jika berbicara soal pasangan. Tapi yang mengesankan, meski di jodohkan, tidak ada satupun dari mereka yang tidak bahagia, itulah kenapa aku mengatakan keluarga mu aneh."
" Kamu juga tidak lama lagi akan masuk dan menjadi bagian dari keluarga aneh ini."
Annasya membenarkan dengan mengangguk.
" Jadi kapan acara pertunangan mu ?"
" Pertunangan? Memangnya kamu ada?"
Annasya menggeleng.
" Sudah di putuskan, aku menikah bersamaan dengan mu ."
" APAAA, SECEPAT ITU?"
...****************...
habisnya setiap bab ko ya dikir amat, mana nunggu up sehari berasa lama banget, eh giliran udah up baru baca dh abis🙈🙈
wah parah Malah di samain sma batu, g sekalian zi sama dindingnya 🤣