Katarina terjebak dalam raga seorang gadis malang yang tinggal di panti asuhan, Karina Putri.
Namun sebuah takdir mempertemukannya dengan seorang wanita kaya raya yang tiba-tiba mengangkat Karina sebagai putri angkatnya.
Tetapi bukan itu masalahnya, melainkan tiga kakak angkat Karina yang ternyata adalah tokoh utama dalam novel yang pernah dibacanya. Lalu takdir ketiga kakak angkatnya tidaklah baik, mereka akan mati ditangan tokoh utama wanita.
Namun, Karina tidak akan membiarkan hal itu terjadi, ia akan mengubah takdir ketiga kakak angkatnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 09
Kedatangan Jemian yang tiba-tiba, membuat Pak Yasa selaku kepala sekolah terkejut. Biasanya kunjungan Jemian tiga bulan sekali, tetapi baru bulan kemarin Jemian berkunjung, sekarang pria itu datang lagi hanya ingin melihat adik angkatnya yang sedang mengikuti pelajaran di sekolah.
“Maaf kalau hidangannya sedikit,” ucap Pak Yasa dengan perasaan tidak enak.
Jemian masih belum membuka suaranya, pria itu sebenarnya hanya kebetulan lewat dan ingin mampir sebentar… sebelum pergi ke kantor.
“Di mana kelas Karina?” Jemian akhirnya membuka suara.
“Di Unggulan 1, saya akan mengantar Tuan Jemian untuk ke sana!” Kata Pak Yasa dengan ramah.
Jemian beranjak dari duduknya, mengabaikan hidangan yang tersaji di atas meja. Ia masih kenyang dan tidak ada banyak waktu untuk menikmati makanan tersebut.
Suasana di koridor sekolah sepi, hanya ada beberapa guru yang hendak masuk ke dalam kelas untuk mengajar.
“Apa Karina memakai nama Adhitama?” Tanya Jemian saat mereka berada di dalam lift khusus.
“Tidak, Bu Lesa berpesan kepada saya untuk merahasiakan siapa Karina. Hanya guru-guru yang mengetahui siapa Karina,” jelas kepala sekolah.
Lesa memang meminta agar tidak bersikap terlalu mencolok kepada Karina, sebab itu akan menimbulkan salah paham di antara murid yang lain. Lesa juga tidak ingin teman-teman Karina memanfaatkan nama Adhitama untuk menjadi teman dekat Karina.
“Di kelas, apa ada yang mengganggunya?” Jemian ingin tahu lebih banyak.
“Tidak ada, karena para murid di Unggulan 1 berasal dari keluarga terpandang semua dan mereka juga diseleksi menggunakan tes ketat,” jawab kepala sekolah.
Tidak terasa lift sudah berhenti dan Jemian keluar lebih dulu, disusul kepala sekolah yang mencoba mengimbangi langkah lebarnya.
Jemian menghentikan langkahnya di depan pintu yang terdapat papan nama Unggulan 1. Ia melihat dari jendela kalau Karina sedang maju ke depan dan menjawab soal-soal yang ada di papan tulis.
“Guru-guru juga memuji kepintaran Karina dalam menjawab pertanyaan,” ucap kepala sekolah.
Jemian menganggukkan kepalanya, kedua mata tajamnya masih belum lepas dari sosok Karina yang terlihat dari balik kaca jendela.
“Jawabanmu benar semua! Kamu mendapatkan bonus dua poin!” Seru sang guru setelah melihat jawaban Karina.
Semua teman-teman sekelasnya bertepuk tangan dan memuji Karina yang dari kemarin selalu benar menjawab pertanyaan para guru, tidak ada tatapan iri… karena mereka juga memiliki keahlian di bidang masing-masing.
Karina kembali ke bangkunya, dan ia langsung diberikan dua jempol oleh teman sebangkunya.
“Keren! Padahal soal di depan susah banget!” Bening berdecak kagum dengan teman barunya.
“Terima kasih Bening,” balas Karina dengan senyuman cerahnya.
Jemian tersenyum tipis, melihat wajah bahagia adik angkatnya. Kini ia tidak perlu khawatir lagi dengan sekolah Karina, karena gadis itu sudah memiliki teman dan juga berada di kelas terbaik.
Karina merasa ada yang memperhatikannya, ia menoleh ke arah jendela dan sedikit terkejut saat matanya bertemu dengan mata tajam kakak pertamanya.
Entah sejak kapan Jemian berada di sana, Karina melempar senyum terbaiknya… walau hanya sebentar, karena takut ketahuan.
“Saya titip Karina!” Pesan Jemian, sebelum berbalik dan meninggalkan kepala sekolah yang berusaha mengejarnya.
“Karina, nanti di jam olahraga kita ada penilaian renang. Nanti aku temani ke koperasi untuk mengambil baju renang,” bisik Bening.
“Re-renang?” Kaget Karina.
Bening menganggukkan kepalanya, sebelum pandangannya kembali fokus ke depan.
...***...
Saat ini Karina berada di toilet bersama Bening dan Winar, kedua teman barunya. Mereka sedang berganti pakaian, karena sebentar lagi ada penilaian renang di gedung samping.
Sekolah ini memang memiliki fasilitas lengkap, tidak heran bangunannya sangat luas. Namun ada yang berbeda dengan Karina, gadis itu tampak tidak bersemangat seperti biasanya.
“Tidak perlu gugup, kita juga tidak pandai berenang,” kekeh Winar sambil menepuk bahu Karina.
Bening menganggukkan kepalanya, “Yang penting kita ikut penilaian, karena nilainya nanti dipakai untuk kelulusan.”
Mendengar perkataan Bening, membuat Karina semakin tidak tenang… tetapi Karina sangat pintar menyembunyikannya.
“Ayo kita ke gedung samping!” Ajak Winar yang menarik tangan kedua temannya untuk bergegas keluar dari toilet.
Di dalam sudah ramai, karena ada kelas lain yang juga mengambil penilaian.
“Sudah lengkap semuanya?” Tanya guru olahraga yang mengara Unggulan 1.
“Sudah!” Jawab ketua kelas setelah melihat semuanya sudah berkumpul.
“Baiklah, lakukan pemanas dulu selama lima belas menit. Lalu nanti penilaian sesuai absen dan untuk Karina, karena kamu murid baru… kamu yang terakhir mengambil penilaian!”
Karina menganggukkan kepalanya, sebelum ikut berbaris seperti arahan ketua kelas yang akan memimpin pemanasan, sebelum mereka melakukan penilaian di kolam renang yang sangat luas dan dalamnya dua meter itu.
“Tidak perlu tegang, cuma nyebur dan renang sebentar sudah dapat nilai,” kata Bening yang menyadari ketegangan di wajah teman barunya itu.
Karina tersenyum tipis, sebelum kembali fokus ke depan.
Lima belas menit sudah berlalu, kini penilaian dimulai dari urut absen pertama dan yang masih menunggu giliran bisa melihat di pinggir kolam renang.
Hingga tiba giliran Bening, gadis itu meminta semangat kepada Karina dan Winar… karena sebenarnya Bening juga sangat gugup, karena ada kelas sebelah yang melihatnya.
“Pftt, renang apa itu?” Winar berusaha keras menahan tawanya, saat melihat cara berenang Bening.
Karina tersenyum tipis, karena ia mungkin lebih parah dari Bening.
“Bening, sudah berapa kali kamu penilaian renang dan hasilnya tetap sama?” Guru olahraga menggelengkan kepalanya.
Bening hanya menyengir lebar, yang terpenting ia sudah mendapatkan nilai. Lalu kini giliran Winar yang mengambil nilai dan ternyata Winar sama parahnya dengan Bening.
“Win, Win!” Sorak Bening saat melihat cara berenang Winar yang lebih parah darinya.
Sang guru menyebut nama selanjutnya, dan mendadak Karina kembali tegang saat gilirannya hampir sampai.
“Karina!”
Namanya disebut, Karina beranjak dari duduknya dan langsung disemangati oleh kedua temannya.
“Karina, wajahmu sedikit pucat. Apa kamu sakit?” Tanya sang guru.
“Tidak, saya baik-baik saja.” Jawab Karina dengan senyuman tipisnya.
“Baiklah, kalau begitu silakan masuk! Sedikit ke pinggir saja, karena dalamnya hanya 1,8 meter!” Kata sang guru yang membuat Karina turun di pinggir.
Tangannya masih berpegangan pada tangga besi yang membantunya turun, rasa dingin air kolam seakan menusuk kulit putihnya.
“Sudah siap?” Tanya sang guru yang sudah menyiapkan stopwatch.
Karina menoleh dan menganggukkan kepalanya.
“Berenang sekarang!” Seruan itu membuat Karina melepaskan pegangannya.
Mendadak suasana menjadi hening, saat melihat Karina yang tidak berenang… tetapi gadis itu malah tenggelam.
“KARINA!” Panik Bening dan Winar memecahkan keheningan.
Bersambung!
semangat thor 💪💪