NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8: Riak tenang di balik badai

Karya Vian's

Lonceng di pintu kedai berdenting lesu saat Savya melangkah masuk. Ruangan itu gelap dan sunyi, hanya menyisakan aroma samar biji kopi yang tertinggal dari aktivitas pagi tadi. Rencananya untuk mencari inspirasi dan ketenangan di galeri pameran hancur berantakan karena pertemuan yang tidak ia sangka dengan Katya.

Savya meletakkan tas kameranya di atas meja bar dengan gerakan perlahan. Ia tidak langsung menyalakan lampu, melainkan memilih untuk duduk di sudut ruangan, membiarkan kegelapan sore menyelimutinya. Tangannya sedikit gemetar. Perkataan Katya tentang "noda di tangan" dan "pengorbanan" terus terngiang, menghantam dinding pertahanan yang selama ini ia jaga dengan rapat.

Ia tertegun dalam renungannya. Kejadian pahit masa SMA itu bukanlah sesuatu yang bisa ia lupakan begitu saja, namun ia selalu mencoba untuk menghindarinya. Menghindar bukan karena ia pengecut, melainkan karena ia tahu bahwa kembali ke masa lalu hanya akan membuatnya kehilangan diri sendiri di masa sekarang.

Aku hanya ingin tenang," bisiknya pada kesunyian kedai.

Namun, sore ini ia menyadari bahwa lari dari masalah ternyata tidak benar-benar menyelesaikannya. Masalah itu seperti riak kecil di permukaan air; tampak tenang di luar, namun menyimpan badai yang bisa meluap kapan saja jika terus ditekan. Di tengah kegelapan itu, Savya mencoba mengatur napasnya, mencoba menata kembali potongan-potongan emosinya yang sempat berantakan karena serangan verbal Katya yang tanpa henti.

Sudah sebulan pria itu—Vale**rius**—tidak muncul untuk memberikan ketenangan lewat kehadirannya yang misterius. Kini, Savya harus berjuang sendirian melawan bayang-bayang masa lalu yang mulai mengetuk pintu kedainya kembali.

Savya menyandarkan kepalanya ke dinding kayu kedai, matanya terpejam rapat. Ia menyadari bahwa hilangnya Valerius—pria yang baru sekejap ia kenal namun sudah memberikan warna berbeda—dan kembalinya Katya, adalah dua sisi koin yang sama. Keduanya hadir sebagai kekuatan yang memaksa Savya keluar dari zona nyaman yang selama ini ia jalani dengan senyum sehangat mentari pagi.

Selama ini, Savya merasa sudah cukup aman berlindung di balik rak buku dan aroma kopi. Namun, kepergian Valerius tanpa kabar selama sebulan terakhir membuatnya merasa kehilangan arah, sementara serangan verbal Katya di galeri tadi menariknya kembali ke dasar luka yang belum sepenuhnya pulih.

"Mungkin mentari pun sesekali butuh waktu untuk bersembunyi di balik awan," gumamnya pelan.

Ia merasa ironis. Senyum yang biasanya ia bagikan kepada pelanggan sebagai bentuk keramahan, kini terasa berat untuk dipasang. Savya tersadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus menghindar dengan cara menutup pintu kedai lebih awal atau menenggelamkan diri dalam novel. Dunia seolah sedang berkonspirasi untuk mengujinya: apakah ia akan tetap menjadi Savya yang hanya diam mencari ketenangan, atau ia akan belajar untuk menghadapi badai agar riak di hatinya benar-benar bisa kembali tenang.

Sambil menarik napas panjang, Savya bangkit dan menyalakan lampu kedai satu per satu. Cahaya kuning temaram mulai mengisi ruangan, seolah mencoba mengusir kegelapan yang sempat menguasai hatinya. Ia harus bersiap, karena ia tahu, Katya tidak akan berhenti sampai di sini, dan Vale... entah pria itu akan kembali atau tetap menjadi kenangan singkat di sudut kedai.

Sila mengernyitkan dahi, menatap Savya yang tampak muram di balik temaram lampu kedai. Padahal, siang tadi Savya berpamitan dengan antusias untuk mengunjungi pameran galeri—sebuah rencana yang seharusnya menjadi waktu tenangnya. Namun, alih-alih membawa cerita tentang foto-foto indah, Savya justru membawa awan mendung di wajahnya.

Melihat situasi itu, Farel segera tanggap. Ia memberikan isyarat kecil kepada Sila, lalu memilih untuk menjauh dan mulai merapikan meja-meja serta kursi yang masih berantakan. Farel menyadari bahwa dalam hal perasaan, hanya Sila yang mampu mendekati dan mengerti apa yang sedang berkecamuk di hati Savya. Ia tetap berjaga sambil bersiap karena waktu tutup kedai sudah hampir tiba.

Sila menarik kursi di hadapan Savya dengan perlahan. "Mbak? Bukannya tadi Mbak bilang mau ke galeri buat cari ketenangan?" tanya Sila dengan nada khawatir yang lembut. "Tapi kenapa wajahmu malah seperti habis dihantam badai begitu?".

Savya terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung kain dress yang ia kenakan. Ia ingin menceritakan tentang pertemuannya dengan Katya yang merusak segalanya, namun lidahnya terasa kelu.

"Aku hanya... salah memilih waktu untuk pergi, Sil," jawab Savya pelan, mencoba memaksakan sebuah senyum kecil yang tidak sampai ke mata.

Sila memegang tangan Savya, mencoba memberikan kehangatan. "Mabk tahu kan, kalau kedai ini ada bukan cuma buat pelanggan cari tenang, tapi juga buat Mbak juga merasa tenang dan nyaman? Jangan dipendam sendiri kalau riaknya sudah terlalu kencang," hibur Sila sambil sesekali melirik ke arah Farel yang masih sibuk merapikan sudut lain kedai.

Sila masih menatap intens, menunggu jawaban yang lebih pasti. Namun, Savya menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa ketenangannya yang sempat tercerai-berai. Ia merapikan beberapa helai rambutnya yang sedikit berantakan, berusaha mengembalikan raut wajah "mentari pagi" yang biasa ia tunjukkan.

"Ah, tidak apa-apa, Sil. Mungkin aku hanya terlalu lelah karena pamerannya sangat ramai tadi," ujar Savya dengan nada yang diusahakan terdengar ringan, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana stok di gudang? Apakah biji kopi yang baru datang sudah dipindahkan semua oleh Farel?"

Sila terdiam sejenak. Sebagai orang yang sudah lama bekerja bersama, ia sangat mengerti bahwa Savya sedang membangun benteng untuk melindungi hatinya yang rapuh. Ia tahu betul saat Savya mulai mengalihkan topik ke masalah pekerjaan, itu adalah tanda bahwa dia belum siap untuk menguak luka yang baru saja tersenggol.

"Stok aman, Mbak. Semuanya sudah dibereskan Farel di belakang," jawab Sila, mengikuti permainan Savya namun dengan tatapan yang tetap lembut dan penuh pengertian.

Sila kemudian mengusap pundak Savya pelan sebelum beranjak berdiri. "Mbak Savya tidak perlu memaksakan diri untuk cerita sekarang. Tapi Mbak tahu kan? Kalau Mbak sudah merasa lebih baik dan butuh telinga untuk mendengar, aku ada di sini. Jangan menanggung badainya sendirian terus."

Di sudut lain, Farel yang sedang mengelap meja bar sesekali melirik ke arah mereka. Mendengar kata-kata Sila, ia mengangguk pelan tanpa suara—sebuah gestur dukungan kecil. Ia mempercepat gerakannya merapikan kedai, memastikan Mbak Savya bisa segera pulang dan mendapatkan waktu tenang yang sangat ia butuhkan untuk memulihkan diri.

"Terima kasih, Sil," ucap Savya tulus. Suaranya kali ini terdengar lebih nyata, meski masih ada getaran kecil di sana.

Suasana kedai akhirnya benar-benar sunyi setelah Savya, Sila, dan Farel bekerja sama merapikan setiap sudut ruangan. Aroma kopi yang tadi sempat terasa menyesakkan kini berganti dengan wangi pembersih lantai yang segar. Setelah memastikan semua lampu padam dan pintu terkunci rapat, mereka bertiga berdiri di depan kedai yang kini telah gelap.

Farel dan Sila segera bersiap di atas motor masing-masing yang terparkir di bahu jalan. Sebelum mengenakan helmnya, Farel sempat menoleh ke arah Savya yang tampak bersiap untuk berjalan menuju halte bus.

"Mbak Savya, apa mau saya antar sampai rumah saja? Biar lebih aman," tawar Farel dengan nada sopan dan perhatian yang tulus.

Mbak Savya memberikan senyum tipis, jenis senyum yang biasanya ia gunakan untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja meski hatinya sedang bergejolak. "Terima kasih tawaran pintarnya, Rel. Tapi Aku sedang ingin jalan kaki ke halte. Anggap saja sedang mencari udara segar," jawab Savya lembut namun tegas.

Sila yang mengerti bahwa Mbak Savya sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan berdialog dengan pikirannya sendiri, hanya memberikan anggukan kecil pada Farel sebagai isyarat untuk tidak memaksa. Ia tahu bahwa bagi Mbak Savya, berjalan sendirian adalah cara terbaik untuk merapikan kembali riak-riak di hatinya.

"Kami duluan ya, Mbak. Hati-hati di jalan," ucap Sila sambil mulai menjalankan motornya, diikuti oleh Farel di belakangnya.

Savya melambaikan tangan pelan melihat kedua rekannya menjauh hingga lampu belakang motor mereka hilang di tikungan jalan. Kini, ia benar-benar sendiri di bawah langit senja yang mulai menggelap. Sambil melangkah pelan menuju halte, Savya menarik napas panjang. Bayangan kemarahan Katya dan tanda tanya tentang hilangnya Valerius selama sebulan ini masih membayang, namun untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati sunyinya jalanan sebagai bentuk pemulihan diri yang paling jujur.

..."Story by Vian's ."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!