NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Istri Rahasia Seorang Perfeksionis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Brilliante Brillia

Daniela Arden Atmaja terpaksa masuk ke dunia malam demi bertahan hidup.

Darren Arkhanio Callister adalah pria perfeksionis yang menilai segalanya dari apa yang terlihat. Baginya, Daniela tidak pantas berada dalam hidupnya, apalagi ia sudah memiliki Crissiana, kekasih sempurna.

Namun di ujung napasnya, sang kakek memohon Darren menikahi Daniela, cucu dari almarhum sahabatnya.
Pernikahan pun akhirnya terjadi secara diam-diam. Tanpa cinta. Tanpa pengakuan. Tanpa diketahui siapa pun.

Darren tetap merendahkan Daniela dan tidak pernah ingin mengenalnya. Sementara Daniela memilih cuek dan tak perduli. Mau menikah pun karena permintaan terakhir dari sahabat almarhum kakeknya.

Hingga sebuah insiden terjadi.
Harga diri Daniela direnggut.
Saat Darren akhirnya menyadari bahwa Daniela tidak seperti yang ia kira, semuanya sudah terlambat.

Daniela pergi tanpa penjelasan dan tanpa jejak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Kelam

Darren terus mendekap Daniela, berusaha membagi kehangatan tubuhnya demi mengusir rasa dingin yang menyelimuti gadis itu. Ia bisa merasakan tubuh Daniela gemetar hebat dalam pelukannya, sementara napas gadis itu terdengar pendek dan putus-putus.

"Tahan sebentar, dokter akan segera sampai," bisik Darren di telinga Daniela.

Meskipun suaranya terdengar datar, ada nada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Daniela tidak menjawab. Ia hanya merintih lirih dengan mata tertutup rapat. Tangannya mencengkeram erat kaus yang dikenakan Darren, seolah sedang mencari pegangan di tengah rasa sakit yang terus melilit perutnya.

Tak lama kemudian, Bi Ita kembali ke kamar dengan membawa baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Di belakangnya, Dokter Gunawan melangkah terburu-buru sambil menjinjing tas medisnya. Wajah dokter paruh baya itu terlihat sangat serius melihat kondisi pasiennya yang sudah tidak berdaya.

"Tolong letakkan dia di ranjang, Mas Darren. Saya harus segera memeriksanya," ujar Dokter Gunawan sambil menyiapkan peralatan medisnya.

Darren perlahan meletakkan tubuh Daniela di atas kasur, namun Daniela enggan melepaskan cengkeramannya pada baju Darren. Darren terpaksa memegang tangan gadis itu dan mengusapnya pelan agar cengkeramannya melonggar, membiarkan Dokter Gunawan melakukan tugasnya.

Dokter Gunawan memeriksa denyut nadi, tekanan darah, dan menyentuh bagian perut Daniela yang terasa keras. Setiap kali tangan dokter itu menekan lembut perutnya, Daniela meringis kesakitan dengan sisa tenaga yang ada. Keringat dingin kembali membanjiri keningnya hingga rambutnya nampak basah dan lepek.

"Dehidrasinya sangat parah, Mas. Tekanan darahnya juga turun drastis," kata Dokter Gunawan sambil dengan sigap memasangkan selang infus ke pembuluh darah di punggung tangan Daniela.

Daniela sedikit tersentak saat jarum itu menusuk kulitnya, namun ia terlalu lemas untuk sekadar berteriak. Ia hanya bisa mengerang pelan sambil memalingkan wajahnya ke arah Darren. Matanya yang sayu seolah memohon agar rasa sakit ini segera berakhir.

"Apa yang terjadi padanya, Dok? Tadi dia baik-baik saja saat mulai makan malam," tanya Darren sambil berdiri di samping ranjang dengan rahang yang mengeras.

"Ini gejala keracunan zat pencahar dosis tinggi, Mas. Reaksinya sangat cepat dan merusak keseimbangan cairan dalam tubuhnya. Jika kita terlambat sepuluh menit saja, dia bisa pingsan karena syok dan itu akan sangat berbahaya bagi jantungnya," jelas Dokter Gunawan tanpa mengalihkan pandangannya dari botol infus yang mulai meneteskan cairan penyelamat.

Mendengar penjelasan itu, tangan Darren yang berada di samping tubuhnya mengepal kuat. Ia menatap wajah Daniela yang masih memucat pasi di bawah sinar lampu kamar yang benderang. Penderitaan yang dialami Daniela malam ini benar-benar di luar dugaannya, dan kenyataan terburuk bahwa hal ini terjadi di bawah atap rumahnya sendiri membuat amarahnya mulai mendidih.

***

Sementara itu Aisyah semakin ketakutan mendengar dari Bi Ita tentang kondisi Daniela. Ia cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya.

Aisyah menutup pintu kamarnya rapat-rapat lalu menguncinya dengan tangan gemetar. Ia menyandarkan punggung di pintu sambil mengatur napas yang terasa sesak. Dengan gerakan terburu-buru, ia merogoh ponsel dari saku celemeknya dan mencari nama Selina.

Begitu teleponnya tersambung, Aisyah hampir menangis karena tidak bisa menahan rasa takutnya lagi.

"Halo, Nona Selina... gawat, Nona. Keadaannya jadi kacau sekali," bisik Aisyah sambil menoleh ke arah pintu, takut ada yang menguping.

"Ada apa? Kenapa kamu menelepon malam-malam begini? Apa dia sudah mulai mulas?" tanya Selina dari seberang telepon dengan nada santai.

"Bukan cuma mulas, Nona. Non Daniela pingsan di kamar mandi. Wajahnya putih seperti mayat dan tubuhnya dingin sekali. Sekarang Tuan Darren sudah memanggil dokter pribadi ke rumah!"

Terdengar suara helaan napas kaget dari seberang telepon.

"Apa? Sampai panggil dokter? Memangnya berapa banyak kamu memasukkan obat itu ke minumannya?" tanya Selina dengan nada yang tiba-tiba berubah tajam dan penuh selidik.

"Semuanya, Nona. Kan botol yang Nona berikan itu sangat kecil jadi saya tuangkan semuanya ke dalam gelas jus jeruknya tanpa sisa," jawab Aisyah jujur dengan suara bergetar.

"Bodoh, tolol! Kamu gila ya?" bentak Selina dengan suara meninggi.

"Aku kan sudah bilang masukkan seperlunya saja! Itu cuma buat kasih pelajaran supaya dia sakit perut dan malu di depan Darren, bukan buat bikin dia mati! Kamu tahu tidak, dosis sebanyak itu sangat berbahaya!"

Aisyah semakin gemetar mendengar kemarahan Selina.

"Saya... saya pikir lebih banyak lebih bagus supaya Nona juga puas melihat dia menderita. Saya benar-benar tidak tahu kalau reaksinya bakal separah ini."

"Dengar ya, Aisyah yang bodoh," suara Selina kini terdengar dingin dan penuh ancaman.

"Kalau sampai Darren curiga dan kamu ketahuan, jangan pernah berani sebut nama aku di depan dia. Jangan pernah bawa-bawa namaku kalau kamu masih sayang pada nyawamu dan nyawa keluargamu. Aku bisa cuci tangan dengan sangat bersih, karena apa? Aku punya uang! Kalau kamu sampai bicara macam-macam, aku pastikan kamu hanya akan tinggal nama! Paham?"

"Tapi Nona, bagaimana kalau Tuan Darren memaksa saya bicara?" tanya Aisyah panik.

"Itu urusanmu! Tutup mulutmu rapat-rapat jika kamu dan keluargamu masih mau selamat. Jangan pernah hubungi aku lagi sampai keadaan tenang!"

Selina langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Aisyah menatap layar ponselnya yang sudah gelap dengan perasaan hancur. Ia merasa benar-benar sendirian dan dijadikan tumbal dalam rencana ini.

Ia jatuh terduduk di lantai kamarnya, meratapi kebodohannya yang terlalu menuruti nafsu dendamnya pada Daniela. Kini ia hanya bisa berharap dokter tidak menemukan bukti apa pun, meskipun hatinya terus dihantui rasa bersalah melihat kondisi Daniela yang kritis di atas sana.

***

Sepanjang sisa malam itu, Darren tidak benar-benar beranjak dari sisi Daniela. Ia hanya duduk di kursi sofa single yang ia tarik mendekat ke samping ranjang, memperhatikan setiap tetes cairan infus yang masuk ke tubuh gadis itu.

Waktu seolah berjalan sangat lambat sampai akhirnya cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat.

"Air..." Rintih Daniela lirih.

Suaranya nyaris tidak terdengar, hanya berupa getaran parau di tenggorokan yang terasa sangat kering.

Darren yang sempat memejamkan mata sejenak langsung tersentak bangun. Ia segera menuangkan air putih ke dalam gelas dan membantu Daniela bangun sedikit lebih tinggi dengan menyandarkan bantal di kepala ranjang.

"Pelan-pelan," ucap Darren sambil mengarahkan sedotan ke bibir Daniela yang terlihat mengelupas dan pucat.

Daniela meminum air itu dengan rakus, namun setelah beberapa teguk, ia kembali memejamkan mata karena kepalanya terasa berdenyut hebat. Wajahnya tidak lagi sepucat semalam, tapi masih ada gurat kelelahan yang sangat dalam di bawah matanya.

"Perut kamu masih sakit?" tanya Darren pelan.

Daniela mencoba menggerakkan tubuhnya, merasakan sisa-sisa rasa mulas. Tapi yang terasa kini malah rasa nyeri tumpul yang menyiksa di seluruh perutnya. Rasanya seperti habis dipukuli, pegal yang sangat kuat dan sensasi tidak nyaman yang meluas. Semua itu efek dari rasa mulas yang sudah mulai mereda.

Daniela mengangguk lemah sambil meremas selimut.

"Masih melilit... tapi tidak seperti semalam," jawab Daniela lirih. Ia menatap tangannya yang masih tertusuk jarum infus dan perban kecil bekas suntikan penenang.

Ingatannya tentang kejadian semalam masih samar-samar, namun rasa sakit yang membuatnya meringkuk di lantai kamar mandi itu masih membekas kuat di kepalanya. Ia merasa seolah seluruh energinya telah diperas habis, meninggalkan tubuhnya terasa seringan kapas dan tak bertenaga.

Bi Ita masuk membawakan nampan berisi bubur hangat yang cair dan obat dari dokter. Melihat Daniela sudah siuman, mata Bi Ita langsung berkaca-kaca karena lega.

"Syukurlah Non sudah bangun. Bibi takut sekali semalam," kata Bi Ita sambil meletakkan nampan di meja nakas.

Daniela mencoba memberikan senyum tipis, namun ia bahkan tidak punya tenaga untuk menarik sudut bibirnya dengan benar. Ia hanya bisa menatap Darren yang masih duduk di sampingnya dengan wajah yang tidak terbaca, namun pria itu tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Daniela, seolah memastikan bahwa gadis di depannya ini benar-benar tidak akan menghilang lagi ke dalam ambang bahaya.

"Tuan, sekarang istirahat saja sebentar, masih ada waktu sebelum berangkat ke kantor. Biar non Daniela saya yang urus." Kata Bi Ita dengan sopan. Darren hanya mengangguk. Tapi sebelum keluar ia membantu Bi Ita menyusus bantal di bawah punggung Daniela supaya gadis itu bisa makan dengan nyaman saat nanti disuapi Bi Ita. Setelah itu barulah ia keluar kamar tanpa sepatah katapun.

***

Siang hari Darren pulang ke rumah dan langsung melihat keadaan Daniela. Syukurlah, gadis itu sudah mulai membaik meski masih terlihat lemah. Ia juga merasa tenang karena kini Daniela diurus seorang suster yang ia sewa.

"Bi Ita, saya tunggu di ruang kerja saya dan ajak sekalian Aisyah!" kata Darren tegas.

Lalu ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Bi Ita dan Aisyah masuk. Bi Ita terlihat tenang, sementara Aisyah sedang berjuang sekuat tenaga untuk menjaga kestabilan emosionalnya. Ia sekuat hati menahan tangis dan getaran di tubuhnya yang semakin hebat.

"Duduk!"

Darren menatap tajam satu per satu dari mereka.

1
mimief
Wkwkwk dia yg ngidam...ya nak siksa aja ayah mu 🤣😭
Ariany Sudjana
Darren couvade syndrome, makanya Daniela ga merasa ngidam 😄
Neng Nosita
giliran Darren yg ngidam😄
Muft Smoker
astagaaaa Darren lupa ingatan ,, jgn sampe si Selina ngaku2 jdi istri ny Darren deeh ,,
kak jgn jahat2 sama Daniela yx kak ,,
lgi hamil looo dy ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁
Nessa
sudah ku dugaa akan ada drama hilang ingatan, it’s okay lah semoga darren dan daniela segera bertemu
Brilliante Brillia
Assalamualaikum
para readers tercinta, jika buku induk ada kesamaan dengan buku lain, mohon jangan nge-judge ini plagiat ya. otor bersumpah demi apapun tak ada plagiat karena sudah merasakan bagaimana rasanya di-plagiat-n. mungkin hanya kesamaan beberapa part aja.
terimakasih 🙏🫶
mimief
jgn kejam kejam lah Thor sama Daniella😔
Brilliante Brillia: tenang aja kk, semua akan indah pd waktunya 😄
total 1 replies
partini
OMG ko bisa sama jalan cerita nya Thor welehhhhh , sama yg lagi kau baca ok lah aku selesai dulu yg itu soalnya Agi seru"nya jadi aku tinggal yg ini
Nessa
waduhhhh darren 🙊🙈🙈🙈
Neng Nosita
plies jangan dibikin amnesia Thor,kasihan nanti daniela😄
mimief
ya...dibikin amnesia ya Thor.trus lupa ntar Ama Daniella
bayinya gimana Thor nasibnya 🫣😭😭
partini
berharap Darren di bikin muntah" lemes sama Debay ternyata kecelakaan wehh,, jangan" sama nih kaya novel yg lagi aku baca kecelakaan terus hilang malah nikah sama ulet bulu 🤦🤦🤦 Ampe bininya lahiran
Ivy
Daniela hamidun wah tocker juga Darren 😂
Muft Smoker
ni Mah Darren versi sachet udh hadiiir ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
next kak
mimief
lagi Thor....lanjut
lanjut
partini
Darren Junior ini mah,,si Kunti bogel Selina pintar kamu yah luar biasa emeng si yg namanya ulet bulu di mana" selalu beruntung punya seribu cara bikin huru hara pernovelan
Nessa
daniela hamil ea thor
Neng Nosita
apakah ortu Darren gak tahu tentang wasiat kakeknya Darren?
olyv
lanjut
Nessa
akan syok saat tau wanita yang kalian hina itu istri sah nya darren menatu kalian sendiri wkwkwk…
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!