"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.
Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?
Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: TAMU YANG TAK DIUNDANG
Bab 18: Tamu yang Tak Diundang
Suasana sore di kediaman baru Aruna yang seharusnya tenang mendadak berubah mencekam. Setelah melihat foto Kenzo yang dikirim oleh nomor misterius itu, Aruna langsung menjemput anaknya dengan pengawalan ketat dari tim keamanan yang disewa Adrian. Kenzo kini tertidur pulas di kamarnya, tidak menyadari bahwa maut baru saja mengintip dari balik balon merah di sekolahnya.
Aruna berdiri di ruang tengah, menatap layar monitor CCTV yang memantau setiap sudut rumahnya. Tangannya masih gemetar. "Adrian, sudah ada kabar dari tim pelacak nomor itu?"
Adrian menggeleng pelan sambil terus mengetik di laptopnya. "Nomornya burner phone, sekali pakai langsung mati. Tapi aku menemukan sesuatu yang lebih mengganggu. Fasilitas medis tempat Bimo ditahan... secara administratif, pemiliknya adalah perusahaan cangkang yang berbasis di Panama. Dan tebak siapa salah satu pemegang sahamnya? Keluarga besar Siska."
Aruna mengepalkan tinju. "Jadi keluarga Siska bukan sekadar orang kaya baru. Mereka punya jaringan untuk menyuap sistem hukum."
Tiba-tiba, bel pintu depan berbunyi. Ting-nong.
Aruna dan Adrian saling pandang. Tidak ada tamu yang dijadwalkan datang jam sembilan malam begini. Pengawal di depan gerbang melaporkan melalui handy-talky.
"Bu Aruna, ada seorang kurir membawa paket besar. Katanya kiriman mendesak dari 'Sahabat Lama'. Sudah kami periksa, isinya bukan bom, hanya sebuah kotak kayu tua."
"Bawa masuk, tapi biarkan di teras. Jangan dibuka sampai aku di sana," perintah Aruna tegas.
Aruna keluar menuju teras, didampingi dua pengawal. Di sana, sebuah kotak kayu berukir kuno terletak di atas meja. Aruna menggunakan pisau kecil untuk mencongkel tutupnya. Saat kotak itu terbuka, aroma melati yang sangat kuat—aroma favorit Siska—langsung menyeruak.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah boneka beruang lusuh milik Kenzo yang dulu hilang saat mereka masih tinggal bersama Bimo. Namun, yang mengerikan adalah boneka itu kini tidak lagi memiliki kepala. Di tempat kepala yang hilang, terdapat sebuah perangkat tablet kecil yang otomatis menyala saat terkena cahaya.
Layar tablet itu menampilkan siaran langsung. Aruna menutup mulutnya dengan tangan, menahan jerit.
Di layar itu, terlihat Tyas. Pria itu diikat di sebuah kursi besi di dalam ruangan yang tampak seperti gudang bawah tanah. Wajahnya babak belur, matanya bengkak. Dan yang paling mengerikan adalah sosok yang berdiri di belakang Tyas.
Seorang wanita mengenakan topeng porselen putih, namun rambut panjangnya yang dicat pirang sangat mencirikan Siska. Wanita itu memegang sebuah pisau bedah yang berkilat dingin.
"Halo, Aruna... atau harus kupanggil Rhea?" suara wanita itu terdengar melalui speaker tablet, sedikit terdistorsi namun penuh kebencian. "Kamu pikir dengan memasukkan kami ke penjara, permainannya selesai? Kamu hanya memindahkan papan caturnya ke tempat yang lebih gelap."
"Siska! Lepaskan Tyas! Dia tidak tahu apa-apa!" teriak Aruna ke arah layar, meski ia tahu itu mungkin komunikasi searah.
"Tyas adalah pengkhianat, dan pengkhianat punya tempat khusus di neraka," wanita bertopeng itu mengusap pisau bedahnya ke pipi Tyas yang gemetar hebat. "Bimo mengirimkan salam. Dia bilang, dia merindukan masakanmu... dan dia sangat ingin melihatmu hancur pelan-pelan. Mulai malam ini, setiap orang yang membantumu akan menghilang satu per satu. Dan yang terakhir... adalah pangeran kecilmu."
BIP.
Layar mati.
"Kurang ajar!" Adrian membanting tinjunya ke tembok.
"Mereka benar-benar sudah gila. Mereka bermain-main dengan nyawa manusia di depan mata kita!"
Aruna terdiam, namun matanya yang tadi penuh ketakutan kini berubah menjadi sedingin es. Ia teringat kata-kata Maya di klinik dulu: Bimo punya sejarah, dan sejarah itu adalah senjata.
"Adrian," panggil Aruna dengan nada suara yang sangat tenang, ketenangan yang justru menakutkan.
"Ya?"
"Hubungi Maya. Dia bilang Bimo punya asisten sepuluh tahun lalu sebelum dia. Aku ingin tahu siapa saja musuh-musuh lama Bimo yang masih hidup. Jika Bimo punya jaringan gelap, maka kita akan buat jaringan kita sendiri. Kita tidak bisa lagi main cantik dengan hukum."
Aruna mengambil boneka beruang tanpa kepala itu dan melemparkannya ke tempat sampah.
"Mereka ingin perang di kegelapan? Baiklah. Aku akan buat kegelapan mereka terasa seperti siang hari bagi mereka. Kita akan memburu mereka sebelum mereka sempat menyentuh gerbang rumah ini lagi."
Malam itu, Aruna tidak tidur. Ia duduk di ruang kerjanya, memetakan kembali semua koneksi keluarga Siska.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung...
Bab 19: Jejak Berdarah di Gudang Tua.