NovelToon NovelToon
THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

THE LAST SUNRISE: ECHOES OF LIGHT Before The Sky Turns Red

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Fantasi
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Kurniawan Wawan

THE LAST SUNRISE

Echoes of Light: Before the Sky Turns Red

Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.

Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.

Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: RESEP RAHASIA BIMO

Misi pagi itu sebenarnya sepele. Hanya patroli rutin di perbatasan Sektor 4 untuk memastikan tidak ada kebocoran radiasi. Tidak ada monster, tidak ada tembak-menembak, hanya berjalan kaki selama empat jam di bawah terik lampu matahari buatan yang disetel terlalu tinggi.

Tapi entah kenapa, pulang ke markas, rasa lelah mereka terasa sampai ke tulang. Bukan sekadar pegal otot, tapi kelelahan mental yang membuat anggota tubuh terasa seperti timah.

"Aku... nggak bisa... gerak..." keluh Kai, terjatuh lemas di sofa ruang rekreasi begitu pintu terbuka. Matanya tertutup, napasnya tersengal-sengal. "Energi ku habis. Sistem tubuhku minta shutdown."

Elara, yang biasanya paling tegar, duduk bersandar di dinding dengan wajah pucat. "Aku setuju. Rasanya seperti baterai kita dicopot paksa. Aneh sekali."

Bimo, yang sepertinya masih punya sisa tenaga sedikit lebih banyak dari yang lain, tidak ikut mengeluh. Dia justru langsung berjalan menuju dapur dengan langkah mantap, meski keringat membasahi punggung seragamnya.

"Tunggu di situ," kata Bimo singkat. "Jangan kemana-mana. Aku bakal benerin kalian."

Raka, yang sedang memijat pelipisnya yang berdenyut, menatap punggung lebar teman besarnya itu. "Bim, lo yakin kuat masak? Kita semua butuh istirahat, bukan kerja rodi."

Bimo menoleh sekilas, tersenyum tipis. Senyum yang kali ini tidak selebar biasanya, ada kedalaman aneh di matanya. "Percaya sama aku, Rak. Ini bukan kerja rodi. Ini obat."

Dua puluh menit kemudian, aroma yang belum pernah mereka cium sebelumnya memenuhi seluruh markas.

Bukan aroma bumbu instan atau ransum militer yang dipanaskan ulang. Ini aroma kaldu yang dimasak perlahan selama berjam-jam, aroma bawang yang ditumis dengan kesabaran, aroma rempah-rempah yang hangat dan memeluk hidung. Aroma yang mengingatkan pada rumah yang sudah lama hilang.

"Bimo... apa yang lo masak?" tanya Elara, hidungnya kembang-kempis, rasa lapar yang tiba-tiba muncul mengalahkan rasa lelahnya.

Bimo muncul dari dapur membawa sebuah panci besar berasap dan empat mangkuk keramik tebal. Di dalamnya terdapat sup kental berwarna kuning keemasan, dengan potongan daging lunak, sayuran yang masih renyah, dan taburan daun bawang iris yang segar. Uapnya menari-nari di udara, seolah hidup.

"Makan," perintah Bimo lembut, meletakkan mangkuk di depan masing-masing dari mereka. "Hati-hati, panas."

Raka mengambil sendoknya, meniup sup itu pelan, lalu mencicipi satu suapan kecil.

Begitu cairan hangat itu menyentuh lidahnya, sesuatu yang ajaib terjadi.

Rasa lelah yang tadi menusuk-nusuk tulangnya seolah menguap. Otot-otot kakinya yang tegang mendadak rileks. Kehangatan itu menjalar dari perut ke seluruh dada, menyebar hingga ke ujung jari, mengusir dingin dan berat yang sempat membelenggu tubuhnya. Bahkan pikirannya yang tadi berkabut menjadi jernih kembali.

"Gila..." desis Raka, matanya membelalak. "Ini... ini enak banget. Bim, gue rasanya kayak baru tidur sepuluh jam!"

Kai yang tadinya lemas seperti boneka kain, sekarang sudah duduk tegak, menyendok sup itu dengan lahap. "Ini mustahil! Komposisi kimianya... ini harusnya mengandung stimulan alami! Tapi ini cuma makanan biasa kan?"

"Enak banget, Bim," tambah Elara, yang kini pipinya sudah merona merah sehat. Dia menatap mangkuknya seolah itu adalah harta karun. "Aku nggak tahu kalau lo bisa masak selevel ini. Ini... ini rasanya seperti kasih sayang."

Bimo tidak ikut makan segera. Dia hanya duduk di ujung meja, menopang dagu dengan tangan besarnya, menatap teman-temannya yang melahap masakannya dengan mata berbinar-binar. Ada kepuasan mendalam di wajahnya, jenis kepuasan yang tidak didapat dari memenangkan pertarungan atau menyelesaikan misi.

"Makan yang habis," kata Bimo pelan. "Jangan disisain."

Mereka menghabiskan sup itu dalam hening yang nikmat. Hanya terdengar suara sendok berdenting pelan dan napas lega. Saat mangkuk terakhir kosong, Raka meletakkan sendoknya, menatap Bimo dengan tatapan penuh tanya dan kekaguman.

"Bim," panggil Raka lembut. "Serius deh. Dari mana lo belajar masak seenak ini? Di akademi nggak diajarin bikin kaldu se'ajaib' ini. Ini rasanya... punya jiwa."

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Bimo terdiam sebentar. Senyum lebarnya yang biasanya langsung muncul untuk menutupi segala hal, kali ini tidak datang secepat itu. Dia menatap mangkuk kosong di depannya, jarinya mengusap tepi keramik itu pelan. Cahaya lampu dapur memantul di matanya, membuat sorot matanya terlihat sayu, jauh, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat jauh di masa lalu.

"Dari jalanan," jawab Bimo akhirnya. Suaranya rendah, berbeda dari biasanya yang lantang dan bersemangat.

"Jalanan?" tanya Kai bingung.

Bimo mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir. "Dari jalanan. Dulu... sebelum masuk akademi, sebelum jadi prajurit keren ini... aku cuma anak preman kecil di sektor kumuh."

Raka, Elara, dan Kai terdiam, mendengarkan dengan saksama. Mereka jarang sekali mendengar Bimo bicara tentang masa lalunya dengan nada seserius ini.

"Di sana, kalau lo nggak bisa berantem, lo kelaperan," lanjut Bimo, matanya menerawang. "Tapi kalau lo cuma bisa berantem, lo juga nggak bakal punya teman. Orang bakal takut sama lo, tapi nggak bakal ada yang mau deketin lo."

Dia berhenti sejenak, menelan ludah. "Aku belajar masak karena... itu satu-satunya cara biar orang mau berteman sama aku. Kalau aku bisa bagiin makanan enak, cuma sedikit, orang-orang di gang itu bakal ngajak aku duduk bareng. Mereka bakal ketawa bareng aku. Mereka bakal lupa kalau aku ini anak yatim yang bau dan jorok."

Bimo mengangkat wajahnya, menatap ketiga temannya satu per satu. Matanya berkaca-kaca, tapi dia menahannya agar tidak jatuh.

"Jadi, resep rahasia ini bukan dari buku masakan, Rak. Ini dari rasa takut sendirian. Kalau nggak bisa masak enak, nggak bakal ada yang mau berteman sama anak preman kayak aku dulu."

Hening.

Ruangan itu sunyi, tapi bukan sunyi yang canggung. Itu adalah keheningan yang penuh dengan pemahaman baru. Tiba-tiba, setiap suapan sup yang baru saja mereka makan terasa memiliki bobot emosi yang luar biasa berat. Itu bukan sekadar kalori. Itu adalah permintaan tolong dari seorang anak kecil yang ingin diterima, yang diubah menjadi bahasa cinta paling tulus oleh seorang pria besar yang baik hati.

Elara menunduk, menyembunyikan kilatan air mata di sudut matanya. Kai melepas kacamata hitamnya, mengusap matanya cepat-cepat.

Raka merasakan dadanya sesak. Dia menatap Bimo, sahabat besarnya yang selalu tertawa paling keras, yang selalu melindungi mereka di garis depan, ternyata menyimpan luka lama yang dia obati dengan memberi makan orang lain.

"Bim..." panggil Raka, suaranya tercekat. "Lo nggak perlu masak buat kami supaya kami mau berteman sama lo. Kami... kami udah sayang sama lo apa adanya. Mau lo masak enak atau nggak, lo tetap saudara kami."

Bimo menatap Raka. Untuk sesaat, topeng "raksasa ceria"-nya retak sepenuhnya. Wajah aslinya yang rapuh dan rindu kasih sayang terlihat jelas. Lalu, perlahan, senyum tulus merekah di wajahnya. Senyum yang lebih hangat dari sup yang baru saja mereka makan.

"Aku tau, Rak," bisik Bimo, suaranya serak. "Makanya aku masak. Bukan supaya kalian mau temenan sama aku. Tapi karena aku sayang kalian. Karena lihat kalian kenyang dan bahagia... itu bikin aku ngerasa nggak sendirian lagi."

Air mata Elara akhirnya jatuh, satu tetes membasahi pipinya. Dia tidak menghapusnya. Kai tersenyum getas, mengangguk setuju.

Raka meraih tangan Bimo yang besar dan kasar di atas meja, menggenggamnya erat. "Terima kasih, Bim. Untuk makanannya. Dan... untuk semuanya."

Bimo membalas genggaman itu, kuat dan hangat. "Sama-sama, kawan. Habisin ya, nanti aku buatkan lagi. Stok bahan makanan masih banyak."

Mereka tertawa kecil, tawa yang bercampur dengan haru. Suasana di ruangan itu berubah total. Ikatan di antara mereka bukan lagi sekadar rekan satu tim atau sesama prajurit. Malam itu, di bawah cahaya lampu dapur yang kuning temaram, mereka benar-benar menjadi keluarga. Keluarga yang dibangun di atas piring-piring kosong dan cerita-cerita yang dulu disembunyikan.

Di luar jendela, angin malam berhembus kencang, membawa serta debu emas mikroskopis dari tubuh Raka yang beterbangan semakin banyak. Tapi Raka tidak peduli. Dia hanya ingin momen ini abadi. Ingin terus melihat Bimo tersenyum seperti itu.

Namun, tanpa mereka sadari, setiap janji kebahagiaan yang mereka ucapkan, setiap kehangatan yang mereka rasakan, hanyalah pemanasan sebelum badai sesungguhnya datang mengetuk pintu. Dan resep rahasia Bimo, seajaib apa pun, mungkin tidak akan cukup untuk menyembuhkan luka yang akan ditorehkan oleh takdir besok lusa.

Tapi untuk malam ini, biarkan mereka percaya bahwa cinta bisa disajikan dalam semangkuk sup hangat. Biarkan mereka percaya bahwa kehangatan ini akan bertahan selamanya.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!