NovelToon NovelToon
The Curious Queen GL Indo

The Curious Queen GL Indo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / GXG
Popularitas:977
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Tatapan Clarissa menyapu seluruh ruangan. "Jangan jadikan masalah ini sebagai alasan untuk menyalahkan atau menjauhi Anela. Apalagi menjadikannya bahan gosip. Kebiasaan itu bisa terbawa sampai ke dunia kerja, dan di sana itu bukan cuma gak profesional, tapi juga memalukan."

Semua mengangguk, bukan karena paham, tapi supaya sesi nasihat itu cepat selesai. Begitu Clarissa akhirnya meninggalkan ruangan, keheningan cuma bertahan beberapa detik sebelum percikan api meledak lagi.

"Duh, yang dulu sok suci sekarang mendadak kicep," celetuk Septi sinis.

"Nah, iya. Gw awalnya gak peduli mereka mau belok, lurus, zigzag juga. Tapi kalau udah ganggu begini, ya beda cerita," timpal Marey.

"Bukan lagi," Okta menimpali. "Mungkin orang-orang kayak mereka emang gitu kali ya. Seenaknya sendiri, gak pake mikir."

Janu berdiri sambil menyilangkan tangan di dada. Tatapannya langsung menusuk ke arah Anela yang duduk diam di samping Ruby. "Inget gak omongan lo dulu, Nel? katanya gak bakal ganggu siapa pun, gak bakal bikin masalah. Sekarang? Satu asrama jadi trauma gara-gara mantan lo."

Ruby melirik ke sekeliling. Beberapa orang seperti Desy, Febi, dan Mei tampak menunduk. Tapi Kimi? Ia duduk dengan wajah datar, walau matanya sudah seperti mau menyala.

Anela menarik napas pelan, lalu bicara tenang. "Aku juga gak nyangka dia bisa. sampai segitunya-"

"Halah, bacot," potong Apri dengan nada meremehkan. "Pasti lo mutusin dia dengan gaya nyolot lo itu kan? Makanya tuh cowok sampe gila."

"Paling juga gini kali," sambung Septi cekikikan, menirukan nada manja, "Maaf ya, aku udah jadian sama cewek. Anjir."

Beberapa orang tertawa kecil.

Ruby akhirnya berdiri. Tidak marah, tapi sorot matanya dingin dan tegas. "Nela udah jelasin, Udah minta maaf juga. Kalian tau dia gak sepenuhnya salah, tapi tetap aja kalian senang bikin dia terpojok. Kapan kalian berhenti pura-pura jadi korban, padahal yang kalian lakuin ini juga bentuk kekerasan?"

Juni menunjuknya dengan tawa mengejek. "Nah tuh, pacarnya belain,"

"Gak bisa dibiarin," ujar Okta enteng. "Kita kasih efek jera aja, biar tau diri."

Ruby mengangkat alis. "Efek jera? Emang sebesar apa salahnya?"

Ketegangan mulai terasa. Kimi yang dari tadi menahan diri, akhirnya maju ke depan Ruby dengan ekspresi panik.

"Eh, tenang dulu ya, semua. Bener kata Uby, masalahnya udah kelar. Jangan diperpanjang lagi ya. Damai, biar enak satu asrama."

Semua langsung menatap kimi.

"Kim, lo belain mereka?" tanya Janu dengan nada curiga.

"Tapi Uby gak salah kan? Jangan marahin dia," kata Kimi polos.

Juli cepat-cepat maju, menarik Kimi ke samping. "Oke, udah malam. Emosi bikin darah tinggi. Mending tidur, besok masih ada kelas. Yuk, bubar-bubar."

Tapi Marey malah menunjuk Ruby. "Bentar. Lo apain Kimi, hah? Lo racun ya?"

"Aku gak diracun," protes Kimi cepat. "Uby itu tem-"

Juli buru-buru menutup mulutnya. "Hehe, kalian tahu kan, si bocil ini kalau ngomong suka ngawur."

Beberapa masih menatap curiga, tapi akhirnya Janu mendekat, menatap Ruby tajam, "Kalau sampai lo ngapa-ngapain Kimi, lo berurusan sama kita semua.

Kimi mendelik, tapi belum sempat buka mulut, dia sudah diseret keluar.

Begitu ruangan sepi, Anela pelan-pelan bicara dengan nada lelah. "Maaf ya, Ru. Gara-gara aku, kamu sampai diomongin begitu."

Ruby menatapnya sebentar. "Gak usah dipikirin."

"Tapi mereka bener. Mungkin kamu mending jauhin Kimi. Aku gak mau dia jadi sasaran juga."

Ruby terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Itu bukan keputusanku, Nel. Kalau dia mendekat, aku gak bakal menjauh."

Anela tersentak. "Maksud kamu?"

"Gak usah dipikirin, Udah malam. Istirahat aja." Malam itu mereka semua kembali ke kamar masing- masing. Masalahnya memang tampak selesai, tapi hawa dingin yang menggantung di udara seolah bilang, belum ada yang benar-benar beres.

~

Kimi gelisah di kamarnya. Ia tak menyangka ternyata peserta lain benar-benar serius soal menjauhkannya dari Ruby. Mereka bahkan berusaha membujuknya pindah kamar dengan alasan mulai dari "buat keamanan" sampai "biar gak keseret dosa".

Tapi kimi, dengan segala daya khayal dan logika absurd yang dimilikinya berhasil menolak satu persatu.

Yang jelas, dia sudah bersumpah akan bertahan sampai titik darah penghabisan.

Karena khawatir dengan Ruby, Kimi menunggu sampai jam sepuluh malam, waktu di mana peserta lain sudah mager dan menyerah dengan kasur masing-masing. Ia segera meluncur ke kamar Ruby.

Tok-tok.

Pintu terbuka. Kali ini Kimi tidak langsung nyelonong seperti biasa. Ia berdiri manis, menunggu Ruby memberi isyarat.

"Kenapa muka lo cemberut gitu?" tanya Ruby heran.

Kimi duduk di tepi kasur sambil menghela napas berat. "Aku cuma syok. Kenapa mereka semua lebih posesif dari orang tuaku ya?"

Ruby terkekeh. "Tau dari mana? Bisa jadi orang tua lo bakal lebih parah kalau tau lo deket-deket sama gw."

Kimi cepat-cepat menggeleng. "Enggak kok. Mama sama Papa bebasin aku temenan sama siapa aja, asal gak ikut mabuk atau main judi."

Ruby menaikkan sebelah alis. "Tapi kalau pacaran, banyak larangan?"

Kimi menggeleng lagi. "Asal pacarku kaya sih, mereka setuju aja."

Ruby langsung ngakak. Absurd banget keluarga bocah ini, batinnya. Tapi tawanya mendadak berhenti waktu Kimi bertanya dengan polos.

"Uby, kamu kaya gak?"

Ruby refleks menaikkan alis. "kenapa nanya gitu?"

"Kalau kamu kaya, aku mau ajak kamu pacaran."

Ruby melongo. Jantungnya langsung meloncat, entah karena kaget atau kena serangan jantung ringan.

"Gak usah aneh-aneh deh. Dunia kami tuh gak segampang yang lo bayangin."

Kimi mengerutkan kening. "Kata Abang dunia memang keras. Jadi apa bedanya dunia ini sama dunia itu?"

Ruby menghela napas panjang, nada suaranya lembut tapi capek. "Kejadian tadi contohnya. Mereka boleh marah, tapi yang dibawa-bawa malah orientasi. Ini baru skala kecil, Kim. Di luar sana bisa lebih sadis lagi."

Kimi terdiam sesaat, lalu menatap Ruby serius. "Tapi, By... kalau semua orang di dunia hujat aku, kamu tetap belain aku kan?"

Nada polosnya bikin Ruby nyaris kehilangan kata. Entah karena terhipnotis atu memang dari hati yang terdalam, Ruby menjawab lirih,

"Gw bakal belain lo, meski gw sendiri yang berdarah- darah,"

"Berarti kamu gak bakal ninggalin aku kan?"

"Enggak bakal lah," jawab Ruby tanpa ragu.

Kimi langsung berdiri, tersenyum lebar dengan mata berbinar. "Jadi kita udah jadian."

Ruby akhirnya tersadar, bingung sendiri. "Kok..."

.

1
filusi
ceritanya bagus bet semoga cepat update
Benrycia_: Makasih
total 1 replies
Anonim
Up terus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!