NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Waktu seolah merayap di dalam Istana Sayap Timur yang terisolasi. Empat bulan telah berlalu sejak Lilianne von Eisenhardt dinyatakan mengandung benih kekaisaran, dan empat bulan pula ia tidak pernah menginjakkan kaki di luar koridor panjang yang dijaga oleh sepuluh prajurit elit berbaju zirah hitam.

Namun, kamar pengantin yang dulunya terasa seperti sel penjara yang dingin kini telah bertransformasi. Di bawah tangan lembut Lilianne, ruangan luas itu kini berbau harum lavender dan lili hutan. Tirai-tirai obsidian yang tebal selalu dibuka lebar sejak fajar menyingsing, membiarkan cahaya matahari menyapu lantai marmer yang kini selalu bersih berkilau.

Lilianne duduk di kursi beludru di dekat balkon. Perutnya yang kini berusia empat bulan sudah menonjol jelas di balik gaun sutra longgar berwarna biru pucat. Tangannya yang mungil perlahan membelai tonjolan itu, sementara matanya terpaku pada taman kecil yang berada di bawah balkonnya. Arthur memang membangun dinding yang tinggi untuk menutupi pandangan dunia luar, namun ia memberikan Lilianne sebuah oase sebuah taman pribadi yang hanya bisa dilihat dari balkon kamar mereka.

"Kau menendang lagi hari ini, Pangeran Kecil?" bisik Lilianne dengan senyum tipis yang sarat akan kedewasaan prematur.

Di usianya yang baru lima belas tahun, Lilianne telah belajar sesuatu yang tidak diajarkan di buku manapun cara menjinakkan badai tanpa harus menantangnya. Ia menyadari bahwa melawan Arthur hanya akan membuat pria itu semakin menggila dengan obsesinya. Maka, ia memilih untuk menjadi air yang tenang, yang perlahan-lahan merembes masuk ke celah-celah hati batu suaminya.

**

Sore itu, suara langkah sepatu bot yang berat bergema di koridor. Lilianne tidak lagi gemetar saat mendengarnya. Ia justru menutup buku sastra kuno yang sedang dibacanya dan berdiri meskipun sedikit berat untuk menyambut suaminya.

Pintu terbuka. Arthur masuk dengan jubah hitam yang berbau debu dan keringat, wajahnya tampak kuyu setelah berjam-jam memimpin rapat dewan militer yang tegang. Begitu matanya menangkap sosok Lilianne yang berdiri dengan perut buncitnya, sorot

matanya yang tajam seketika melunak.

"Aku sudah bilang, kau tidak perlu berdiri setiap kali aku datang," ujar Arthur dengan suara parau. Ia mendekat, tangannya yang kasar langsung meraih pinggang Lilianne, menopang beban tubuh istrinya seolah Lilianne adalah porselen yang sangat rapuh.

Lilianne tersenyum, menyentuh lengan zirah Arthur dengan lembut. "Saya ingin menyambut suami saya. Apakah itu dilarang, Yang Mulia?"

Arthur tidak menjawab, namun ia menuntun Lilianne kembali duduk. Ia berlutut di depan istrinya, menyandarkan kepalanya di atas pangkuan Lilianne sebuah tindakan yang hanya ia lakukan di dalam kamar ini, jauh dari mata dunia yang mengenalnya sebagai monster kejam.

"Yang Mulia," panggil Lilianne lembut, jemarinya menyisir rambut hitam Arthur yang berantakan. "Buku-buku yang Anda bawakan kemarin sudah habis saya baca. Bisakah saya meminta lebih banyak? Saya ingin buku tentang sejarah Kekaisaran Valerieth yang lebih mendalam, dan mungkin... buku tentang pengetahuan alam."

Arthur mendongak, matanya yang biru gelap menatap Lilianne dengan rasa ingin tahu. "Kenapa kau begitu haus akan ilmu, Lili? Kau berada di sini, dalam perlindunganku. Kau tidak perlu memikirkan sejarah atau politik yang membosankan itu."

Lilianne menatap mata suaminya dengan ketulusan yang membuat Arthur terdiam. "Karena saya adalah Putri Mahkota Anda, yang mulia. Meskipun saya terkurung di sini, anak kita akan menjadi penguasa suatu hari nanti. Bagaimana saya bisa mendidiknya jika ibunya tidak tahu apa-apa tentang negeri tempat ia akan memerintah? Saya tidak ingin menjadi sekadar perhiasan yang cantik."

Arthur terdiam cukup lama. Ia melihat tekad di mata gadis remaja yang dipaksanya dewasa ini. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya, namun ego dan ketakutannya akan kehilangan tetap lebih besar.

"Akan aku bawakan besok. Apapun yang kau inginkan," gumam Arthur. Ia kemudian mencium tangan Lilianne, sebuah kecupan yang lama dan penuh pemujaan. "Terima kasih karena sudah menjaga tempat ini tetap indah. Baunya... mengingatkanku pada sesuatu yang sudah lama hilang."

**

Malam harinya, setelah makan malam yang disuapkan langsung oleh Arthur sebuah rutinitas posesif yang kini mulai diterima Lilianne sebagai bentuk kasih sayang yang canggung mereka duduk bersama di balkon. Udara malam musim semi berembus sejuk.

"Yang Mulia, kenapa Anda tidak pernah membiarkan jendela ini terbuka jika Anda sedang tidak ada?" tanya Lilianne pelan, kepalanya bersandar di bahu lebar Arthur.

Arthur mengeratkan pelukannya, tangannya tidak pernah lepas dari perut Lilianne. "Karena angin di luar sana membawa bau pengkhianatan, Lili. Aku tidak ingin satu pun suara dari luar masuk dan meracuni pikiranmu. Aku lebih suka kau hanya mendengar suaraku."

Lilianne menghela napas. Ia menoleh, menatap profil wajah suaminya yang tegas. Di balik rahang yang mengeras dan sorot mata yang kaku, Lilianne kini bisa melihat seorang pria yang sebenarnya tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya. Arthur dibesarkan di medan perang; baginya, kasih sayang adalah proteksi, dan proteksi adalah pengurungan.

"Anda tahu, Arthur," bisik Lilianne. "Terkadang saya merasa kasihan pada Anda."

Arthur menegang. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Lilianne dengan pandangan tajam yang bisa membuat jenderal perang sekalipun berlutut ketakutan. "Kasihan? Kau mengasihani Putra Mahkota Valerieth?"

Lilianne tidak gentar. Ia justru menggenggam tangan Arthur yang besar. "Ya. Karena Anda merasa harus memikul seluruh beban kekaisaran ini sendirian. Anda merasa harus menjadi monster agar tidak ada yang menyakiti saya. Tapi, Yang Mulia... Anda tidak perlu menjadi monster di depan saya. Di kamar ini, Anda hanyalah suami saya, dan ayah dari anak ini."

Mata Arthur berkilat, ada gejolak emosi yang tertahan di sana. Ia ingin marah karena otoritasnya ditantang, namun kelembutan Lilianne melumpuhkannya. Ia menarik Lilianne kembali ke dalam pelukannya, kali ini dengan cara yang lebih halus, seolah takut jika ia terlalu kuat memeluk, Lilianne akan hancur.

"Kau terlalu muda untuk memahami betapa kotornya dunia ini, Lili," bisik Arthur parau. "Tapi kau benar... di kamar ini, bau lili hutan ini... membuatku merasa bisa bernapas kembali."

Lilianne memejamkan matanya, menikmati detak jantung Arthur yang stabil. Ia mulai memahami kenyataan pahitnya Arthur bukan orang jahat secara alami, ia hanyalah produk dari didikan kaisar yang gagal. Dia kaku karena tidak pernah dipeluk; dia kasar karena hanya pedang yang menemaninya tumbuh.

Lilianne yang baru berusia lima belas tahun kini memerankan peran ganda: sebagai istri yang patuh, sebagai calon ibu, dan secara diam-diam sebagai penjinak monster.

"Yang mulia," panggil Lilianne lagi dengan suara manis yang kini menjadi candu bagi sang putra mahkota.

"Ya?"

"Jika saya belajar dengan giat, dan jika saya memberikan pangeran yang sehat untuk Anda... maukah Anda memberikan saya satu permintaan lagi?"

Arthur menghela napas, menenggelamkan wajahnya di rambut perak Lilianne yang harum. "Permintaan apa?"

"Izinkan Lisa untuk masuk sekali-sekali. Saya butuh teman bicara saat Anda sedang di medan perang. Kesunyian terkadang membuat pusing saya kembali datang," bohong Lilianne dengan nada yang sangat meyakinkan. Ia tahu Arthur paling tidak tahan jika mendengar Lilianne merasa sakit.

Arthur terdiam. Kecurigaannya berperang dengan rasa ibanya. "Hanya Lisa. Dan hanya di bawah pengawasan penjagaku. Jika aku menemukan satu pesan rahasia atau satu kata yang mencurigakan... aku akan menghukumnya di depan matamu."

"Tentu, Yang Mulia. Terima kasih," jawab Lilianne, meskipun di dalam hatinya ia tersenyum penuh kemenangan.

Satu pintu sel telah sedikit terbuka. Lilianne tahu, kunci emas dari Kaisar masih tersimpan aman. Sekarang, dengan Lisa yang akan segera kembali ke sisinya, ia bisa mulai mengumpulkan informasi. Ia akan tetap menjadi mawar yang indah dan harum di dalam sangkar ini, namun ia akan memastikan bahwa duri-durinya tumbuh dengan kuat secara diam-diam.

Saat Arthur akhirnya tertidur di sampingnya malam itu, Lilianne menatap rembulan dari jendela yang terbuka. Perang di luar sana mungkin sedang berkecamuk, namun di dalam kamar yang harum ini, ia telah berhasil menanamkan satu benih kekuatan: Arthur mulai bergantung padanya secara emosional. Dan di dunia politik, ketergantungan adalah senjata yang paling mematikan.

"Tidurlah, Suamiku," bisik Lilianne sambil mengusap kening Arthur. "Aku akan menjadi duniamu, seperti yang Anda inginkan. Tapi akulah yang akan menentukan bagaimana dunia itu bergerak."

****

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!