NovelToon NovelToon
Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Pengkhianatan Manis Adik Kandung Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Mbak Rani!" Tyas langsung memeluk kakaknya erat.

​"Wah, adik Mbak sudah besar sekarang, ya. Makin cantik," puji Rani tulus, mengusap kepala adiknya. Rani kemudian beralih ke suaminya yang berdiri di ambang pintu. "Mas, ini Tyas."

​Tyas beralih menyalimi tangan Angga. "Halo, Mas Angga. Mohon bantuannya ya selama Tyas kuliah di sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pertemuan yang tidak di sengaja

Setelah kepergian Rani, rumah itu kembali jatuh dalam kesunyian yang mencekam. Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar begitu nyaring, mengisi setiap sudut ruangan yang sepi. Di dalam kamarnya, Tyas masih tertidur, mencoba meredakan rasa mulas di perutnya akibat hari pertama haid.

​Angga yang masih berada di kamar utama akhirnya memutuskan untuk bangkit. Karena jam masuk kerjanya di bank masih beberapa jam lagi, ia berniat untuk mandi terlebih dahulu. Agar tidak mengganggu ketenangan kamar utamanya, Angga melangkah keluar menuju kamar mandi tamu yang letaknya berada di lorong yang sama dengan kamar Tyas.

​Uap air hangat memenuhi kamar mandi saat Angga menyelesaikan ritual paginya. Beberapa menit berselang, ia memutar kunci dan membuka pintu kamar mandi. Angga keluar hanya dengan sepotong handuk putih yang melilit pas di sepinggangnya, memamerkan dada bidang dan bahunya yang masih basah oleh sisa-sisa air.

​Namun, baru dua langkah keluar dari ambang pintu, langkah Angga mendadak terkunci. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik.

​Tepat di depannya, Tyas sudah berdiri. Rupanya, gadis itu baru saja keluar dari kamarnya dengan maksud yang sama. Tyas mengenakan piyama berbahan satin tipis berwarna pastel—pakaian tidur yang baru ia ganti setelah merasa sedikit gerah. Bahan satin yang jatuh dan licin itu melekat sempurna di kulitnya, mencetak dengan sangat jelas lekuk tubuh adiknya yang sintal, padat, dan bohay. Siluet dadanya yang membusung dan lekuk pinggulnya yang menonjol benar-benar terekspos tanpa ampun di bawah pencahayaan lorong rumah yang terang.

​"Eh... Mas Angga," ucap Tyas terkejut. Suaranya terdengar canggung sekaligus serak khas bangun tidur. Ia refleks merapatkan kedua tangannya di depan perut, mencoba menutupi tubuhnya yang mengenakan satin tipis itu. "Tyas... Tyas juga mau mandi, Mas. Perut Tyas sudah agak mendingan setelah minum teh dari Mbak Rani tadi."

​Angga terpaku di tempatnya, matanya seolah menolak untuk dialihkan. Pandangannya menyapu wajah polos Tyas yang sedikit merona karena malu, lalu turun ke leher jenjang dan lekuk tubuh ranum adik iparnya yang begitu menggoda. Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Angga bisa mencium aroma samar tubuh Tyas yang bercampur dengan wangi sabun mandi yang baru saja ia gunakan.

​Suasana lorong yang sunyi itu mendadak terasa begitu panas. Iman Angga yang sempat ia tata kembali setelah kepergian Rani, kini runtuh berkeping-keping dalam satu kedipan mata, diguncang hebat oleh pemandangan indah namun terlarang di hadapannya.

​"Oh... iya, silakan masuk. Mas sudah selesai kok mandinya," ujar Angga dengan suara yang agak tercekat. Ia berusaha keras menetralkan ekspresi wajahnya, meski debaran di dadanya kini bergemuruh hebat seperti genderang perang.

​"Makasih, Mas," jawab Tyas agak canggung.

​Karena ukuran lorong yang tidak terlalu luas dan posisi Angga yang masih berdiri di dekat ambang pintu, ruang gerak untuk mereka berpapasan menjadi sangat terbatas. Tyas melangkah maju untuk masuk ke dalam kamar mandi, sementara Angga mencoba memundurkan badannya dan merapat ke dinding lorong untuk memberi jalan.

​Namun, dalam jarak yang begitu rapat dan suasana yang diliputi kecanggungan, sebuah ketidaksengajaan terjadi.

​Saat Tyas memutar tubuhnya untuk melangkah melewati ambang pintu, bagian belakang tubuhnya—pantatnya yang sintal dan berisi di balik piyama satin tipis itu—tidak sengaja menyenggol dan bergesekan langsung dengan dada sixpack Angga yang polos tanpa busana.

​Deg!

​Sentuhan yang berlangsung hanya sepersekian detik itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi bagi Angga. Kulit dada bidangnya yang masih lembap oleh sisa air mandi bisa merasakan dengan sangat jelas kehangatan dan kelembutan tubuh adik iparnya. Tekstur kain satin yang licin justru membuat gesekan tidak sengaja itu terasa semakin intens.

​"Ah... maaf, Mas Angga! Tyas nggak sengaja," ucap Tyas spontan dengan wajah yang seketika memerah padam karena malu. Ia buru-buru melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan gugup.

​"I-iya, gak apa-apa, Tyas," sahut Angga, terbata-bata.

​Klik. Pintu kamar mandi segera ditutup dari dalam oleh Tyas, disusul suara gemercik air yang mulai menyala.

​Sementara itu, Angga masih berdiri mematung di lorong yang sepi. Napasnya memburu. Sentuhan fisik yang tak terduga barusan benar-benar menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosionalnya. Rasa jenuh yang menumpuk selama lima tahun dan dahaga akan gairah muda seolah mendapat bahan bakar baru. Dengan jantung yang masih berdegup kencang, Angga melangkah kembali ke kamarnya, menyadari bahwa mengabaikan pesona Tyas di rumah ini akan menjadi hal yang mustahil baginya.

1
Anonim
Kurang ajar banget si angga dan si tyas ini,buat rani tau lebih cepat thor tentang kebangsatan suami dan adik nya
Anonim
Lama bener thor muter nya ,si rani kapan sadar perselingkuhan adik nya sama suami nya jangan kelamaan
Anonim
Si rani kenapa oneng sih g bisa liat sekilas model ade nya kek apaan dah ,cuek apa emang buta dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!