Warning!!!!!!
Shenina Valerie Arous hanya menginginkan satu hal—cinta yang tulus.
Namun, pria yang ia cintai justru memberinya kasih sayang karena rasa kasihan.
Saat hatinya hancur, seorang pria berbahaya muncul dalam hidupnya.
Arsen Erzaquel Lergan—pewaris keluarga ternama yang terbiasa mendapatkan segalanya, termasuk dirinya.
Obsesi Arsen bukan cinta. Itu lebih seperti penjara yang tak terlihat.
Di saat yang sama, Andrew Kyle hadir sebagai satu-satunya pria yang tulus, rela melakukan apapun demi kebahagiaannya.
Di antara cinta, obsesi, dan pengkhianatan—
pilihan Shena akan menentukan apakah ia akan diselamatkan… atau justru hancur lebih dalam.
Dan ketika sebuah rahasia besar terungkap, segalanya tak akan pernah sama lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nupitautari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
8 bulan telah berlalu. Waktu yang di anggap sebagian orang tak terasa berlalu terlalu cepat, bagi Shena terasa berjalan sangat lambat.
Ia duduk sambil menyulam sebuah syal merah. Perutnya membesar. Sesekali terasa pergerakan kecil di perutnya. Menurut Shena bayinya sepertinya kembar. Ia bisa merasakan dua detak jantung berdetak di perutnya.
Apakah Shena sudah berdamai dengan nasibnya dan menerima takdir bahwa ia akan terkurung selamanya di dalam ruangan sempit ini? Tidak. Shena tidak pernah menerimanya. Ia selalu memikirkan cara terbaik tanpa di curigai ayahnya untuk melarikan diri. Hanya saja ia menunggu momen yang tepat dan kepercayaan dari ayah nya untuk bisa membukakan pintu.
Selama Shena terkurung di ruangan ini, ayahnya tak pernah sama sekali masuk. Semua keperluan Shena di masuk kan lewat lubang pintu yang juga terbuat dari besi, sama seperti pintu itu sendiri.
Shena menyalakan televisi untuk mengusir keheningan. Setelah televisi menyala, ia melanjutkan merajut syal merah itu. Televisi menyiarkan berita. Shena tidak terlalu memperhatikan sampai nama yang ia kenal di sebut, Shena terdiam sejenak lalu memperhatikan televisi. Itu adalah wajah Arsen. Dia menggandeng tangan seorang wanita dengan begitu mesra. Tagline berita berjudul "pewaris utama keluarga Lergan dan putri bungsu keluarga Smith hari ini menggelar pertunangan secara mewah di luar negeri". Itu adalah pertunangan Arsen Erzaquel Lergan dan Carla Smith.
Shena mencengkram kuat jarum rajut di tangannya. Sorot matanya memancarkan kebencian dan rasa sakit yang mendalam. "Kenapa dia bisa bertunangan setelah menghancurkan hidup ku dengan begitu mudahnya?" Batin Shena.
Air mata tak terbendung lagi menetes di wajah Shena yang nampak sangat kurus. Bibirnya bergetar seolah ingin memaki namun tak sanggup berkata-kata lagi. "Apa hanya hidupku yang berhenti sampai di sini?" Batin Shena sedih.
Televisi tetap menyala hingga malam bahkan ketika Shena hanya meringkuk di atas kasur lusuhnya. Televisi seharian menyiarkan pesta pertunangan Arsen dengan kekasihnya. Hati Shena terasa sakit mendengarnya namun tak mau berhenti untuk mendengar kan. Semakin sakit ia maka akan semakin besar rasa bencinya pada Arsen. Ia ingin memupuk rasa benci ini agar tidak ada lagi rasa sedih dan kecewa yang tersisa.
.
.
.
Satu bulan setelah berita pertunangan Arsen. Kini usia kandungan Shena menginjak 9 bulan. Ia akan segera melahirkan bulan ini. Shena mengelus perutnya lembut, menatap perutnya dengan sedikit senyum di wajahnya. "Apa kau sudah bersiap untuk pergi?" Tanya Shena pada bayi yang ada di perutnya. "Aku mungkin tidak mau menjadi ibu mu tapi aku akan tetap melahirkan kalian" ucap shena.
Sebentar lagi pagi. Ayah nya akan mengantar makanan setiap pagi. Shena mengambil jarum rajutnya. Ia lalu menarik gaunnya ke atas paha. Shena menarik nafas dalam, ia memejam kan mata lalu dengan sekuat tenaga Shena menancapkan ujung jarum tajam yang sudah ia asah selama berbulan-bulan ke paha atasnya. Darah segar keluar dari pahanya. Shena membekap mulut nya agar tidak berteriak. Ia lalu mencabut jarum rajut itu dan mengambil syal merah untuk menutupi tangannya yang memegang jarum rajut itu. Ia lalu duduk di depan pintu menunggu ayahnya datang mengantarkan makanan.
Pukul 6 pagi, waktu yang di tunggu-tunggu Shena telah tiba. Darah di pahanya tidak kunjung berhenti keluar. Lantai berceceran dengan darah sementara tubuh Shena sudah sangat pucat kehabisan banyak darah.
Matthew datang membawa sekantung plastik berisi makanan. Shena mendengar suara kunci berderit dan lubang kecil di bagian bawah pintu di buka perlahan. "Tolong aku, ku mohon" ucap Shena lemah.
Matthew segera menarik lagi kantung plastik itu. Ia lalu menundukkan tubuhnya untuk mengintip ke dalam. Ada banyak darah berceceran di lantai dan darah itu berasal dari paha Shena. "Apa dia akan segera melahirkan?" Pikir Matthew.
Shena mungkin tidak berarti bagi siapapun, namun tidak bagi Arsen. Selama Shena dan anaknya masih hidup maka Arsen akan berada dalam kendali Matthew juga Cassandra. Cassandra mungkin tidak tahu keberadaan bayi Shena karena jika sampai dia tahu maka bayi itu pasti sudah di lenyapkan. Namun, semakin banyak kelemahan Arsen maka semakin mudah pula Arsen di kendalikan.
Matthew menutup kembali lubang itu dan berlari ke luar secepat kilat. Shena khawatir apakah ayahnya tidak mau menolongnya? Kalau begini ia bisa mati bersama anaknya.
Sekitar 1 menit Shena menunggu, ia hampir pasrah. Tak lama kemudian, suara kunci pintu terbuka terdengar di telinga Shena. Ia mencengkram tangannya yang memegang jarum dengan erat.
Matthew membuka pintu sepenuhnya. Ia segera menghampiri Shena dan berjongkok. "Apa kau akan segera melahirkan?" Tanya Matthew tanpa ekspresi.
Shena memegang tangan Matthew dengan tangan kirinya. Ia memohon. "Tolong selamatkan aku dan anakku. Aku ingin hidup" pinta Shena. Ia bahkan menangis.
Matthew bergerak untuk menggendong Shena. Ketika tangan kanan Shena sudah berada di belakang leher Matthew, ia menyingkirkan syal yang menutupi tangannya dan langsung menusuk leher Matthew dengan kuat.
Shena segera berdiri dengan sisa tenaga yang ada lalu menendang dada Matthew dengan sekuat tenaga. Tubuh Matthew terjatuh ke arah belakang. Shena segera berlari ke arah pintu.
"Akhh..." Teriak Shena kesakitan kala Matthew menarik kaki kirinya. Ia terjatuh. Darah segar mengalir dari rahimnya. Ia memegang perutnya kesakitan. Beruntung Shena menahan tubuhnya dengan tangan sehingga tidak terjadi benturan secara langsung di perutnya. Namun tangannya mengalami cidera.
Shena berbalik dan menendang wajah Matthew kuat. Ia mengambil kembali jarum rajut yang tergeletak di lantai dan menancapkan kembali jarum itu pada dada bagian kanan Matthew. Matthew berteriak kesakitan. Tangannya bergerak untuk menahan tangan Shena yang memegang jarum rajut. Shena yang kalah tenaga tidak tinggal diam. Ia memajukan kepalanya dan menggigit leher Matthew sampai berdarah. Matthew berteriak kesakitan dan tangannya berusaha menyingkirkan kepala Shena. Ketika tangan Shena yang memegang jarum terlepas, ia segera menancapkan jarum itu ke mata kanan Matthew. Matthew mendorong Shena kuat untuk menjauhkan Shena darinya.
Dirasa ada kesempatan untuk melarikan diri, Shena berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Ia berjalan dengan tertatih-tatih hingga berhasil mencapai pintu keluar. Shena langsung mendorong pintu baja itu dan menguncinya.
*Hi readers. Jangan lupa untuk memberikan dukungan kalian pada novel ini dengan cara berikan komentar terbaik kalian, kasih like dan vote novel ini ya. Dukungan kalian pada novel ini sangat berarti karena itu akan menjadi semangat buat author menyelesaikan cerita ini hingga akhir. Tetap pantau terus ga kelanjutan dari cerita ini. Akan ada banyak keseruan yang kalian dapatkan. Happy reading all 🙏