NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:561
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Perhatian Jeongin.

Cahaya pagi menembus celah tirai studio, jatuh lembut di atas meja yang masih berantakan dengan kertas, gelas air mineral kosong, dan buku catatan kecil yang semalam nyaris tak lepas dari tangan seseorang. Junho mengerjapkan mata perlahan.

Pandangannya buram beberapa detik sebelum akhirnya menyadari—ia tertidur di depan layar komputer yang masih menyala, menampilkan file lirik Eclipse Memory yang belum sempat ia simpan.

Udara pagi di ruang itu terasa dingin dan sedikit pengap. Bau kopi basi dari cangkir yang tertinggal sejak malam sebelumnya bercampur dengan aroma elektronik dari perangkat yang masih menyala. Ia mendesah pelan, meregangkan tubuh, dan baru sadar betapa kaku bahunya setelah duduk terlalu lama.

Seluruh tubuhnya seperti ditarik gravitasi yang lebih berat dari biasanya. Rasa nyeri menjalar dari tengkuk hingga punggung bawah, membuatnya refleks menekan pelipis dengan jari telunjuk dan ibu jari yang berdenyut sakit.

Di layar, kursor masih berkedip di akhir kalimat yang belum rampung.

“Eclipse Memory, a story of light that once vanished in shadow…”

Kalimat itu berhenti di sana, menggantung, seolah menunggu sesuatu yang tak kunjung ia temukan.

Junho menatapnya lama, seakan mencari makna yang bahkan dirinya pun tak mengerti. Ia mengingat samar suara Nala semalam—pelan, teratur, dengan nada serius saat menjelaskan konsep visualisasi cahaya dan bayangan.

Lalu ingatan itu bercampur dengan suara kecil benda pecah, darah di ujung jari, dan tatapan canggung yang tak sengaja mereka bagi.

“Apa aku terlalu memikirkannya?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar di antara dengung komputer.

Ia tahu tubuhnya sudah kelelahan, tapi pikirannya masih berputar pada detail kecil—bagaimana Nala berusaha menahan nyeri, bagaimana dirinya tanpa sadar terlalu cepat mengambil alih.

Ia menatap jam digital di dinding. 07.18 pagi.

Sudah lewat waktu briefing pertama, tapi rasanya langkahnya tak sanggup membawa tubuh itu ke mana pun. Dia menekan tombol save, menutup layar, dan bersandar kembali pada kursi.

Kursi itu terasa dingin, tapi anehnya memberi ketenangan. Sejenak ia hanya diam, menatap langit-langit studio yang putih polos.

Suara samar burung di luar jendela menyelinap masuk bersama cahaya lembut yang jatuh ke lantai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Junho membiarkan dirinya diam begitu saja—tanpa jadwal, tanpa suara kamera, tanpa beban peran sebagai pemimpin yang harus selalu terlihat kuat.

“Rasanya… tubuhku benar-benar menolak hari ini,” bisiknya, suara serak keluar dari tenggorokan kering.

Ia berdiri perlahan, menyambar jaket yang tergantung di sandaran kursi, lalu menatap ruangan itu sekali lagi.

Studio itu kini terlihat seperti saksi bisu: tempat di mana lirik ditulis dengan sisa tenaga, tawa singkat terpantul di dinding, dan sesuatu yang samar mulai tumbuh di antara kesunyian malam.

Ia menutup komputer, mematikan lampu utama, hanya menyisakan cahaya matahari yang masuk dari balik tirai. Langkahnya berat ketika berjalan menuju pintu. Setiap langkah seperti menarik kembali beban semalam—lelah yang tak hanya di tubuh, tapi juga di kepala.

Dia keluar dari studio, menutup pintu perlahan. Koridor gedung masih cukup sepi, hanya suara langkahnya yang bergema pelan di lantai marmer.

Di luar, udara pagi menyambutnya dengan hembusan lembut, membuat helai rambutnya bergerak ringan. Mobil hitam yang biasa menjemputnya terparkir tak jauh. Stafnya menunduk sopan, tapi Junho hanya mengangguk singkat.

“Batalkan jadwal pagi ini. Aku akan pulang,” katanya datar, suaranya terdengar lelah tapi tegas.

“Baik, Junho-ssi. Apa Anda ingin saya antar ke apartemen?”

Junho mengangguk pelan, membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang. Begitu pintu tertutup, dunia luar terasa kembali jauh. Ia menyandarkan kepala ke jendela, menatap jalan yang mulai ramai di luar.

Sinar matahari pagi memantul di kaca, membuat wajahnya tampak setengah tenggelam dalam cahaya. Matanya menutup perlahan, membiarkan dirinya tenggelam dalam hening.

Mobil melaju perlahan di jalanan kota Seoul yang mulai hidup. Di dalamnya, seorang pria terdiam—antara kelelahan, kebingungan, dan sesuatu yang belum bisa ia beri nama.

════ ⋆★⋆ ════

Sementara itu di sebuah apartemen, Nala terlihat cukup panik karena bangun kesiangan, dia berlari kesana-kemari pergi ke kamar mandi dan bersiap secepat mungkin.

Bahkan rasa lapar di pagi hari dia kesampingkan, dia tidak bisa datang terlambat — satu hal yang dia pelajari selama beberapa bulan bekerja di sana orang Korea begitu benci kata terlambat dan pekerja yang lelet — hal itu memaksa nya harus tetap datang tepat waktu, lagipula dia tidak melewatkan barang sehari pun karena dia cukup terlibat di sana.

Setelah memastikan semua dokumen dan barang-barangnya masuk ke tas, Nala segera mengenakan sepatunya sebelum akhirnya keluar menuju basement parkiran untuk mengambil mobilnya.

“Masih ada 30 menit sebelum terlambat,” ujarnya sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan normal karena tidak ingin terlibat masalah lalu lintas.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya Nala sampai di gedung tersebut. Ia memarkirkan mobilnya di area parkir khusus karyawan. Sebelum akhirnya turun, ia menarik napas pelan dan menatap sejenak gedung tinggi di hadapannya, berusaha menenangkan diri sebelum memulai hari yang pasti tidak akan mudah.

Saat hendak melangkah masuk, ia melihat Jeongin yang sedikit kesulitan membawa beberapa berkas yang tampaknya akan digunakan untuk rapat nanti sore.

“Biar aku bantu,” ujar Nala yang membuat Jeongin tersenyum.

“Terima kasih, Nala-ya,” ujar Jeongin sambil tersenyum tipis.

Mereka akhirnya masuk bersama dan mengisi data kehadiran sebelum menuju lift. Hanya keheningan yang menemani keduanya hingga akhirnya Jeongin berkata,

“Kamu terlihat lelah, Nala,” ujarnya, yang membuat Nala menoleh sekilas sebelum tersenyum tipis.

“Ya, hanya sedikit. Tadi aku hampir terlambat karena bangun terlalu siang. Rasanya baru tidur setengah jam,” kata Nala yang membuat Jeongin terkekeh pelan.

“Bukankah semalam kamu di Studio 4 bersama mereka untuk mendengarkan demo?” tanyanya.

Nala mengangguk.

“Iya. Aku pulang agak malam, jadi ya masih mengantuk,” jawab Nala, diiringi suara tink dari pintu lift yang terbuka di hadapan mereka.

Keduanya melangkah keluar menuju ruangan Creative Writing & Concept Division – Sub A. Begitu masuk, beberapa orang sudah mulai sibuk mengobrol. Ada juga yang sedang sarapan pagi karena jam kerja memang belum sepenuhnya dimulai.

Nala meletakkan barang-barangnya dan juga berkas milik Jeongin, lalu duduk hendak menyalakan komputer. Namun belum sempat ia melakukannya, Jeongin sudah menarik tangannya hingga Nala yang tidak siap langsung berdiri.

“Kenapa?” tanya Nala bingung.

“Kita sarapan dulu, ayo,” ujarnya sambil menarik tangan Nala.

Namun Nala menahan diri lalu berkata,

“Ini sudah hampir masuk waktu kerja,” ujarnya sembari menggeleng cepat.

“Kalau kamu tidak sarapan, kamu tidak akan bisa bekerja. Ayolah, cepat,” ujarnya.

Nala terdiam sejenak, berusaha menimbang ucapan Jeongin. Pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas kecil sebelum pasrah mengikuti langkah pria itu yang membawanya menuju kantin di agensi tersebut.

Kantin pagi itu belum sepenuhnya ramai. Aroma kopi bercampur roti panggang menelusup lembut ke udara, berpadu dengan cahaya matahari yang menembus kaca besar di sisi timur. Nala duduk di pojok dekat jendela, seperti kebiasaannya setiap kali terpaksa sarapan di tempat itu.

Ia menatap menu di layar digital, mencoba menemukan makanan yang aman untuknya. Jeongin berdiri di samping, memandangi layar yang sama.

“Kamu mau apa?” tanyanya, matanya tak beralih dari pilihan makanan.

Nala menunduk, sedikit berpikir dia selalu benar benar ragu membeli makanan di luar tapi perut nya memang sudah lapar.

“Aku… hm, mungkin roti isi telur dan jus jeruk saja. Pastikan tanpa ham atau daging ya, Oppa,,” ucapnya hati-hati, seperti biasa setiap kali berada di luar negeri.

Jeongin menoleh sekilas dan tersenyum kecil.

“Tentu. Aku hafal, kamu selalu memastikan makanannya halal, kan, tidak ada daging babi dan alkohol,” ujarnya ringan, lalu beranjak ke kasir sebelum Nala sempat menolak.

Pria itu sudah hapal betul apa yang tidak bisa di makan oleh Nala, bulan lebih bekerja bersama membuat nya mulai terbiasa dengan Nala. Hingga tak lama, dua nampan mendarat di meja mereka. Nala menatapnya dengan sedikit terkejut.

“Kamu pesan dua?” tanyanya, melihat semangkuk bubur hangat di samping roti miliknya.

“Yang satu untukku, tapi kamu boleh ambil kalau masih lapar,” sahut Jeongin santai, duduk di seberangnya. “Aku sengaja pilih bubur ayam tanpa topping daging. Aman untuk mu juga,”

Dia menyodorkan sendok pada Nala, Nala dengan lembut mengambil nya.

“Terima kasih,” jawab Nala pelan. Ia menunduk sedikit, merasa canggung atas perhatian kecil itu.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang tidak janggal. Nala menyuap rotinya perlahan, menatap sesekali ke luar jendela. Suasana pagi di Seoul terasa lebih hidup dari biasanya — kendaraan lalu-lalang, orang-orang bergegas dengan ritme cepat yang kini mulai ia kenali.

Jeongin memperhatikannya diam-diam. Gadis itu tampak sederhana; wajah tanpa riasan, rambut digulung asal, tapi matanya… mata itu memancarkan sesuatu yang tenang sekaligus menyimpan letih yang sulit dijelaskan.

“Kau selalu terlihat tenang, padahal aku tahu kamu sering begadang,” ujar Jeongin tiba-tiba, suaranya rendah tapi jujur. Nala menoleh singkat, tersenyum samar.

“Itu bagian dari pekerjaanku. Kalau aku panik, aku takkan sempat menulis dengan kepala jernih,” ujarnya, lalu menyeruput jus jeruknya pelan.

Jeongin menatap tangannya sendiri, seolah menimbang sesuatu sebelum kembali berkata.

“Kamu bekerja terlalu keras, Nala. Kadang aku pikir kamu lupa bahwa tubuhmu juga butuh istirahat.”

Nada suaranya berubah—ada ketulusan yang samar, sesuatu yang tak lagi terdengar seperti sekadar rekan kerja. Nala terdiam sejenak, lalu menghela napas kecil.

“Mungkin. Tapi aku lebih takut mengecewakan orang lain daripada merasa lelah,” ujar nya pelan, tanggung jawab nya bukan hanya untuk pekerjaan nya tapi untuk dunia dan reputasi artis nya juga.

Dia tidak boleh mengecewakan siapapun.

Jeongin menatapnya lama kali ini, tanpa kata. Ia ingin mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, bahwa tidak semua orang akan pergi hanya karena kau tidak sempurna. Tapi kata-kata itu tertahan di ujung lidahnya. Sebagai gantinya, ia hanya mendorong gelas air ke arah Nala.

“Minum dulu, kamu sering lupa minum kalau makan,” ujar nya lembut, Nala menatap gelas itu, lalu dirinya, dan tersenyum.

“Kau memperhatikan banyak hal ya. Terimakasih banyak,” ujar nya yang membuat Jeongin tertawa kecil, mencoba menutupi gugup yang samar.

“Itu tugasku sebagai rekan kerja yang baik, bukan?” ujar nya sembari menggerlingkan mata nya.

“Begitu ya,” balas Nala ringan, meski ada sesuatu di tatapannya—rasa heran, mungkin juga kehangatan yang ia sendiri tak sadari.

Sarapan itu berakhir dengan tenang, tapi Jeongin tahu sesuatu dalam dirinya tidak lagi sama. Ia menatap Nala yang sibuk merapikan berkasnya, lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri, nyaris tak terdengar di tengah hiruk-pikuk kantin.

“Sepertinya… aku mulai menyukainya.”

Setelah sarapan singkat itu, keduanya kembali ke lantai divisi. Suasana kantor kini sudah berubah: langkah-langkah terburu-buru memenuhi koridor, bunyi keyboard bersahutan, dan aroma kopi kembali mengudara.

Nala berjalan di sisi Jeongin dengan langkah sedikit lebih tenang dibandingkan saat pagi tadi—mungkin karena perutnya yang kini sudah terisi, atau mungkin karena percakapan sederhana yang entah mengapa terasa hangat.

Begitu sampai di ruang Creative Writing & Concept Division – Sub A, Nala langsung duduk di kursinya, menyalakan komputer, lalu mulai menata berkas-berkas untuk rapat siang nanti. Sementara Jeongin juga ikut duduk di sebelahnya, namun matanya masih sempat menatap Nala sekilas.

Perempuan itu tampak tenggelam dalam konsentrasi. Jari-jarinya menari di atas keyboard dengan ritme yang cepat namun teratur, sesekali menunduk untuk mencatat sesuatu di buku kecil di samping laptopnya.

Sekilas, dari sudut pandang Jeongin, ada kesan yang sulit dijelaskan—antara kagum dan cemas, karena gadis itu tampak menanggung beban yang terlalu besar untuk tubuh serapuh itu.

Beberapa jam berlalu. Suara mesin printer dan derik kursi menjadi latar yang biasa. Saat jarum jam menunjuk angka sebelas, Nala berdiri dengan gelisah.

“Oppa, kamu tahu di mana file presentasi ‘Lunaris Concept - Phase II’? Aku rasa aku sudah mencetaknya semalam, tapi aku tidak menemukannya,” ujar nya yang dengan wajah gelisah dan bingung.

Jeongin menoleh, lalu berdiri.

“Sebentar, biar aku bantu.” Ia berjalan mendekat, membuka laci-laci di sekitar meja kerja Nala dengan ketelitian yang luar biasa.

Dan benar saja—di bawah tumpukan catatan kecil dan storyboard, file itu terselip rapi.

“Ini.” Ia mengangkat map berwarna abu-abu itu dengan senyum tipis. "Aku melihat kamu menyelipkannya di sini, mungkin waktu itu kamu terlalu sibuk hingga kehilangan fokus," ujar nya yang membuat Nala menatapnya lega.

“Astaga, aku benar-benar lupa. Terima kasih, Oppa. Kau menyelamatkanku,” ujar nya yang membuat Jeongin terkekeh pelan.

“Sudah menjadi kebiasaan, sepertinya,” gumamnya pelan—lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Nala tidak menangkapnya, sibuk menata ulang meja kerjanya. Jeonggin kembali duduk di kursi nya, memperhatikan bagaimana gadis itu kembali bekerja seolah tak pernah merasa lelah.

Ia ingin berkata sesuatu—sekadar mengingatkan untuk istirahat sejenak atau minum air, tapi ia tahu, kalimat seperti itu hanya akan membuat Nala merasa diawasi.

Maka yang ia lakukan hanyalah diam-diam meletakkan sebotol air mineral di sisi laptop Nala saat Nala sedang meninggalkan meja nya, dan tak lama kemudian saat dia kembali, suara lembut terdengar.

“Oppa, kamu taruh air di sini?” panggil Nala, tanpa menoleh pada Jeongin yang duduk di sampingnya, Jeongin mendongak dari layar monitornya.

“Hm? Ya. Kamu tadi belum sempat minum lagi, kan?” ujar nya yang membuat Nala menatap botol itu sejenak, lalu tersenyum samar.

“Kamu perhatian sekali ya. Terima kasih.”

Jawaban itu seharusnya biasa saja, tapi entah mengapa membuat dada Jeongin terasa sedikit berat. Ia berusaha mengalihkan pandangan kembali ke layar, pura-pura sibuk memeriksa laporan.

Namun pikirannya tak bisa diam. Ada sesuatu yang mulai tumbuh pelan—bukan sekadar rasa kagum, tapi semacam keinginan untuk melindungi, memastikan bahwa gadis itu tidak terus menanggung semuanya sendiri.

Dan saat Nala tertawa kecil di meja sebelah karena salah ketik, Jeongin tersadar bahwa suara itu… mulai menjadi hal yang ingin ia dengar setiap hari.

"Aku... Akan mencobanya..."

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!