Ling Fan, pemuda 17 tahun dari Klan Ling, lahir tanpa Dantian—cacat yang membuatnya dihina sebagai sampah. Di balik ejekan, dia menyimpan rahasia: tubuhnya mampu melahap Qi langit dan bumi.
Saat Klan Ling dihancurkan klan saingan, Ling Fan selamat seorang diri. Di reruntuhan, dia juga menemukan Telur Hitam misterius. Teknik terlarang terbangun "Tubuh Penelan Langit" aktif, mengubahnya dari manusia biasa menjadi pemangsa energi. Setiap luka, setiap penghinaan, hanya membuatnya makin kuat karena dia menelan semuanya.
Kini dia berjalan sendirian, dikejar sekte besar, diburu iblis kuno, dan dicap sesat. Dari Arena Batu Hitam hingga Lembah Guntur, Ling Fan menelan petir, menghancurkan jenius, dan membalik takdir. Tapi harga kekuatan itu adalah kemanusiaannya.
Ketika langit sendiri menginginkannya mati, mampukah pemuda tanpa Dantian ini menelan langit sebelum dia dilahap kegelapannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Kandang Ayam dan Teh Salju*
"Kurkaaaak!"
"Bangun. Kerja," kata Tetua Yun dari kursi goyang. Dia seruput arak pagi.
"Guru, ini jam 5 pagi," jawab Ling Fan lemas. Dia buka mata, Ayam Roh Inti Emas Tingkat 5 berdiri di dadanya.
"Di sekteku, matahari terbit jam 4," balas Tetua Yun santai. "Sapu kandang. Jangan ada bulu."
Ling Fan bangkit. Tulangnya berderak.
"Seduh teh. Air 7 derajat. Daun utuh," kata Tetua Yun tanpa menoleh. "Gagal, sarapanmu kuambil."
Yue Lian ambil ketel. Dia alirkan hawa dingin pelan. Es tipis muncul.
"Kendalikan," gumam Yue Lian. Dia tahan Domain Beku Mutlak.
Satu jam kemudian.
"Hm. Satu berhasil," kata Tetua Yun sambil ambil teh. Dia sesap. "Hambar. Ulang besok."
Dia lempar dua roti persik. "Makan. Lalu ke kebun. Cabut rumput roh."
"Guru, ayam ini Inti Emas Tingkat 5. Kenapa suruh saya sapu tanpa Qi?" tanya Ling Fan sambil ngos-ngosan.
"Karena kalau pakai Qi, kau bunuh mereka satu jentikan," jawab Tetua Yun tanpa lihat. "Lalu siapa yang bertelur untuk pil sekte? Pakai otot. Itu gunanya tubuh."
Ling Fan diam. Guru tahu kekuatan aslinya.
Siang hari, kebun belakang.
"Awas," kata Ling Fan sambil tarik Rumput Gigi Harimau. Rumput itu gigit telapaknya. Tidak berdarah.
"Lemah," kata suara dari belakang.
Chen Fei datang. Dua pengikut di belakangnya. Inti Emas Tingkat 7 semua.
"Murid Pribadi kerja kasar. Memalukan," kata Chen Fei sambil lipat tangan. "Kalian hanya Tingkat 1 dan 2. Guru pasti buta."
Yue Lian tidak menoleh. Dia terus cabut rumput.
"Jaga bicara, Senior Chen," jawab Ling Fan tenang.
"Tugas?" ejek Pengikut Satu. "Kalian cuma beban. Di Benua Yuan, Inti Emas Tingkat 1 itu kuli."
"Kalian beruntung. Kalau di luar, sudah kujadikan budak," tambah Pengikut Dua sambil tertawa.
Ling Fan berdiri. "Sudah selesai bicara?" tanyanya datar.
Chen Fei menyipitkan mata. "Kenapa? Mau lawan? Kau tidak pakai Qi saja sudah dikejar ayam. Aku Inti Emas Puncak."
"Tidak," jawab Ling Fan. "Cuma tanya. Kalau sudah, kami mau lanjut. Rumputnya banyak."
Chen Fei mendengus. "Sampah tetap sampah." Dia berbalik pergi.
Pengikut Satu sengaja tendang keranjang rumput Ling Fan. Rumput tumpah.
"Ups. Kakiku terpeleset," kata Pengikut Satu sambil tertawa.
Yue Lian angkat kepala. Matanya dingin.
"Sudah," kata Ling Fan cepat. Dia tahan tangan Yue Lian. "Belum waktunya."
Yue Lian menatap Ling Fan. Lalu angguk. Dia jongkok, pungut rumput.
Chen Fei melihat dari jauh. "Pengecut," gumamnya.
*Kota Guntur. Aula Sekte Iblis Darah.*
"Lapor," kata Tetua Iblis. Dia duduk di kursi tengkorak. Kultivasi Jiwa Baru Lahir Tingkat 3.
"Bekas Tubuh Yin Es Mutlak ditemukan di Kota Persik," jawab Murid Iblis sambil berlutut. "Tiga manusia jadi patung es. Es mengandung Hukum Waktu."
Tetua Iblis berdiri. Matanya merah. "Akhirnya. Setelah 3000 tahun, bibitnya muncul lagi."
"Siapa yang punya?" tanya Tetua Iblis.
"Gadis. Inti Emas Tingkat 2. Bersama pemuda Inti Emas Tingkat 1. Tidak ada latar belakang," jawab Murid Iblis.
"Lemah," kata Tetua Iblis sambil tertawa. "Kirim Tim Pemburu. Tangkap hidup-hidup. Tubuh itu harus jadi wadah Tuan Iblis."
"Bagaimana jika ada yang melindungi?" tanya Murid Iblis.
Tetua Iblis keluarkan token hitam. "Ini token Cabang Utama. Siapa halangi, bunuh. Bahkan jika itu Sekte Kelas 3."
"Siap," jawab Murid Iblis lalu hilang.
*Sore. Lapangan Latihan Luar Sekte Persik Emas.*
Ling Fan bawa ember air ke gudang pil. Tanpa Qi. Tangannya gemetar.
"Lihat. Murid Pribadi jadi kuli air," kata Murid Gemuk Inti Emas Tingkat 6. Dia duduk makan bakpao.
"Katanya jenius dari Dunia Bawah," ejek Murid Kurus Inti Emas Tingkat 5. "Ternyata di sini cuma Tingkat 1. Kasian."
Ling Fan lewat. Tidak jawab.
Plak.
Kaki Murid Gemuk menjegal. Ember jatuh. Air tumpah semua.
"Ups. Tidak sengaja," kata Murid Gemuk sambil tertawa. "Ambil lagi sana. Oh ya, airnya harus dari Mata Air Dingin di bawah jurang. Kalau air biasa, Tetua Yun marah."
Murid Kurus ikut tertawa. "Kasihan. Sudah lemah, disiksa pula."
Ling Fan jongkok. Dia pungut ember penyok.
"Butuh bantuan?" tanya suara lembut.
Lin Xi mendekat. Inti Emas Tingkat 4. Murid dalam. Wajahnya ramah.
"Jangan dengarkan mereka," kata Lin Xi sambil bantu tegakkan ember. "Di sini memang keras. Tapi Guru pasti ada alasan pilih kalian."
"Terima kasih, Senior Lin," jawab Ling Fan.
"Biar kuantar ke Mata Air Dingin. Jalannya licin," kata Lin Xi.
"Menjilat Murid Pribadi baru?" ejek Murid Gemuk. "Hati-hati, Lin Xi. Nanti kau ikut jadi kuli."
Lin Xi tidak peduli. Dia jalan duluan.
Di jalan turun.
"Hati-hati dengan Senior Chen Fei," bisik Lin Xi. "Dia calon Ketua berikutnya. Kalian rebut posisi Murid Pribadi, dia dendam."
"Kami tahu," jawab Ling Fan.
"Tapi... kalian aneh," kata Lin Xi pelan. "Kemarin aku lihat Ayam Roh mematukmu. Paruhnya bisa hancurkan besi. Kau cuma terpental. Orang biasa sudah mati."
Ling Fan senyum. "Mungkin aku tebal."
Lin Xi tatap Ling Fan lama. Lalu angguk. "Hati-hati."
*Malam. Puncak Persik Bersalju.*
Ling Fan lap kandang. Ayam Roh tidur. Dia lihat bulu jatuh. Refleks tangkap. Tidak ada suara.
Yue Lian duduk di ambang pintu. Di tangan ada teh. 7 derajat. Daun utuh. Dia berhasil.
Tetua Yun keluar gubuk. Dia lihat teh, lihat kandang bersih.
"Besok, kalian ikut ke Hutan Persik Hitam," kata Tetua Yun tiba-tiba. "Cari Buah Persik Jiwa. Satu untuk pil, satu untuk kalian."
"Buah itu dijaga Ular Roh Jiwa Baru Lahir Tingkat 1," lanjut Tetua Yun. "Kalian Inti Emas Tingkat 1 dan 2. Mati, salah sendiri."
Ling Fan dan Yue Lian saling lihat.
"Siap, Guru," jawab Ling Fan.
"Bagus," kata Tetua Yun. Dia masuk gubuk. "Sudah 3000 tahun tidak ada yang bisa petik Buah itu. Kecuali monster," gumamnya sebelum tutup pintu.
Di luar, Chen Fei mengintip dari batu.
"Hutan Persik Hitam? Guru mau bunuh mereka," gumam Chen Fei senang. "Bagus. Aku tidak perlu kotor tangan."
Dia tidak tahu. Ular Roh Jiwa Baru Lahir Tingkat 1 bagi Ling Fan dan Yue Lian hanya latihan pagi.