Igrisia Devalona Bharata terlahir dari darah campuran dewa dan peri, hingga memiliki kekuatan dasyat dan di akui sebagai dewi alam. Namun kekuatan itu membuat para dewa merasa takut, hingga membuatnya jatuh ke dunia manusia dan kehilangan segalanya. Tekad dendam yang membara membuatnya bangkit mencari pecahan kristal jiwa, yang kini dimiliki oleh para pangeran di tiap kerajaan. Perjuangan panjang membuatnya berhasil mencapai tujuan. Namun perasaan yang terjalin dan kontak fisik yang terus terjadi membuatnya bimbang, haruskah dia membalas dendam atau tinggal di bumi dan hidup bahagia bersama pangeran yang dicintainya. Persaingan cinta pun tak terelakkan membuat igris harus mengambil keputusan di saat yang paling krusial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Usu dedek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jabatan sementara.
Sontak perkataan zain membuat istana menjadi ribut. Pangeran muda itu melepaskan kembali mahkotanya. Dengan suara yang menggelegar dia menyatakan,
"Dengan ini aku menyatakan, aku menerima jabatan ini tapi sampai sang Dewi telah berhasil menemukan semua kristal jiwanya, baru aku akan kembali menduduki jabatan ini."
Seketika keadaan Istana menjadi hening. Yang terdengar hanya suara bisik-bisik yang tak berani dilepaskan. Semua mata tertuju ke arah Pangeran Muda itu, setiap kata yang terlontar menjadi pertanyaan. Kenapa Zean rela melepaskan jabatannya hanya karena perasaan. Dalam benak Igris selalu bertanya apa yang sebenarnya pengeran itu inginkan.
"Bukankah setiap orang menginginkan kekuatan dan kekuasaan? Namun setelah mendapatkannya, Kenapa dia melepaskannya?"
Tak sedikit orang-orang mempertanyakan hal itu kepada pangeran Zean. Bahkan dewan istana turut bingung atas sikapnya. Orang gila mana yang mau melepaskan jabatan yang baru saja diterimanya hanya karena wanita. Namun siapa yang tahu bahwa setelah menjalin kontrak darah dan melakukan kultivasi ganda, hati sang pangeran itu benar-benar telah terikat dan tak akan bisa lepas.
Sebenarnya igris hanya menggodanya dan mengatakan kebohongan, kontrak darah itu tak bisa diputus begitu saja terkecuali keduanya telah memenuhi syarat yang menjadikan kontrak darah itu harus berakhir. Namun igris tidak menyangka, kalau jawaban Zein malah akan memilih untuk meninggalkan segalanya hanya untuk mengikutinya.
Sang pangeran putih itu lalu bergegas menuruni singgasana dan menghampiri ayahnya, dia melepaskan mahkotanya lalu menyerahkannya kepada sang ayah. Dengan mata yang berbinar dan suara yang tegap dia pun berkata,
"Ayah, untuk sementara kota Ocra akan kuserahkan kembali kepadamu. Tentu saja jika ada hal mendesak aku akan datang kembali ke kota."
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Igris memotong keharmonisan ayah dan anak itu. "Aku sudah susah payah membuat peraturan baru dan membentuk kota baru. Tapi kau malah melepaskan ini semua?"
"Aku sudah pernah mengatakan kepadamu bahwa kau adalah duniaku, Dewi! Jika kau tidak ada disampingku, bagaimana mungkin aku bisa menjabat sebagai penguasa kota." debat Zean.
Pangeran harimau itu tidak merasa malu atau gentar di hadapan Raja Hermes sang raja dunia, disaksikan seluruh penduduk kota Ocra, dia meluapkan perasaannya kepada sang Dewi tersebut. Rasa cintanya benar-benar telah mengakar mendarah daging, sehingga tak ingin berpisah dengan sang Dewi. Sekalipun dia tahu, kalau di masa depan nanti Dewi itu akan banyak memiliki pasangan. Namun Zean tak peduli, baginya Igris adalah cinta pertamanya dan selamanya akan tetap begitu.
"Tapi Zain, tujuan hidupku hanya satu, yaitu mengumpulkan kristal dan membalas dendam. Sedangkan kau punya masa depan,"
"Aku tidak peduli! Masa depan seperti apa yang ada. Selama itu bisa bersamamu, aku akan terus mengikutimu. Aku mengumumkan, aku hanya akan menerima jabatan ini setelah kau benar-benar selesai dalam pencarian dan misi penaklukan. Setelah Neuzella benar-benar berdiri sebagai negara, baru aku akan kembali ke kota Ocra."
Igris pun tertunduk dan memeluknya dengan hangat, ternyata hati Zean benar-benar lembut, dia rela melepaskan jabatannya hanya karena perasaannya kepada Igris. Wanita itu sedikit merasa bersalah, karena sebelumnya dia hanya ingin menyerap kekuatan kristal, namun sekarang sepertinya hatinya sudah tercecer oleh perasaan yang tak seharusnya dia miliki.
Sebuah perasaan tabu yang tak harus dirasakan oleh seorang Dewi, namun harus bagaimana lagi, mereka telah lama bersama. Selama berbulan-bulan menghabiskan waktu bahkan sudah melakukan spiritual ganda, tidak mungkin sama sekali mereka tidak memiliki perasaan.
Mendengar ucapan tersebut penasehat kerajaan pun memberikan sebuah catatan kontrak bahwa Zain telah melepaskan kekuasaannya untuk sementara, namun tetap menjadi penguasa kota. Hanya saja untuk saat ini, digantikan oleh sang ayah.
Semua penasehat kerajaan, panatua kerajaan dan juga dewan istana setuju dengan langkah yang diambil. Sampai Igris benar-benar siap dan menjadikan Neuzella sebagai negara, Zean akan kembali memimpin kota Ocra.
Zean lalu meletakkan kembali mahkota miliknya di atas kepala sang ayah, mantan Raja Ornebic. Mantan raja begitu terharu, dia memeluk dengan bangga putranya tersebut. Dia tak menyangka, ternyata anak yang dulu pernah dia penjarakan hanya karena rasa kecemburuan para selir, memiliki hati yang sangat besar.
"Putraku, maaf atas sikap ayah dahulu." ucap sang raja dengan suara penuh haru sambil memeluk erat tubuh pangeran itu.
Pangeran Zean ikut terharu dan membalas pelukan sang ayah, karena baru kali ini dirinya dipanggil dengan nada selembut itu apalagi dengan sebutan putra, biasanya Zein hanya dipanggil sebagai Pangeran Harimau.
Dewan istana dan kerabat Ratu Ornebic merasa keheranan atas sikap Zein. Cintanya kepada Igris telah membuatnya meletakkan mahkotanya.
Mantan raja pun berjanji akan menjaga kota dengan sebaik-baiknya. Sampai ketika Zean benar-benar memutuskan untuk menjabat sebagai penguasa kota, barulah mantan Raja akan mengembalikan mahkota itu kepada pemiliknya.
Raja Hermes beserta Danji dan juga Ana saling tatap, mereka tak menyangka bahwa ada pemandangan yang tak terduga. Sebuah pemandangan yang menyayat hati paling dalam. Seorang pangeran yang dikenal sebagai pangeran harimau putih yang memiliki kekuatan garang dan dahsyat di medan perang bahkan di penjara bertahun-tahun, namun kini luluh di hadapan seorang wanita yang belum lama dikenalnya.
Rasa cinta itu memang menggelikan, dia bisa mempengaruhi siapapun. Bahkan rasa cinta bisa mengubah batu yang keras menjadi lembut seperti jelly. Pepatah lama mengatakan, kalau cinta sudah melekat maka apapun akan terasa nikmat, ternyata itu benar adanya.
Zean tidak merasa menyesal atas keputusannya, dengan bangga dan senyum yang sumringah ia meninggalkan mahkota dan juga Kerajaan miliknya. Lagi pula Zean merasa kalau kedudukan itu bukanlah keinginannya yang sesungguhnya.
Yang diinginkannya hanyalah hidup damai bersama Pujaan hatinya, kemanapun dia pergi maka Zean akan mengikutinya. Itulah keinginan sebenarnya dari sang pangeran tersebut.
Keesokan harinya.
Di pagi hari yang cerah itu embun menetes secara perlahan dari atas dedaunan. Pemandangan indah di kota Ocra mulai mencerminkan kehijauan dari padang yang semula tandus. Pagi itu kabut masih sangat tebal, udara terasa sangat dingin, namun Raja Hermes dan juga Danji sudah bersiap untuk kembali ke kerajaan Neuzella. Dengan berpakaian rapi dan selimut tebal yang terbuat dari bulu harimau putih, Raja Hermes dan Danji diantar oleh Tuan kota sampai ke pintu gerbang.
Tak lupa di Igris dan Zean pun ikut bersama mengantar kepulangan sang ayah. Raja Hermes memeluk erat tubuh putrinya sebagai tanda perpisahan. Sebelum naik ke kereta kuda, sang raja berkata,
"Igris, selanjutnya pergilah ke wilayah timur daratan Lumina. Taklukan kerajaan es dan dapatkan pangeran mahkota yang memegang kendali batu kristal jiwa. Dengan begitu kau akan mendapatkan embun teratai suci. Lau bisa menyembuhkan racun dari jantungmu."
"Baik, ayahanda." balas Igrisia mengangguk.
"Bawa ini tuan putri," potong Danji sembari menyerahkan sesuatu yang tampak besar dari dalam karung di sambut dengan cepat oleh Ana si pelayan centil.
Ana penasaran dan cepat-cepat ingin membukanya. "Apa ini?"