Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya sang raja Dan runtuhnya dinasti palsu
Gedung Feng Group yang menjulang setinggi 88 lantai di pusat kota Kulai pagi itu tampak seperti sarang semut yang sibuk. Ratusan wartawan sudah berkumpul di lobi utama, menantikan pengumuman besar dari Feng Yao mengenai masa depan perusahaan setelah "tragedi" yang menimpa sang CEO sah, Feng Yan.
Di atas podium mewah, Feng Yao berdiri dengan setelan jas abu-abu yang tampak sangat mahal. Dia berkali-kali menyeka air mata buaya di sudut matanya dengan sapu tangan sutra.
"Hari ini adalah hari yang paling berat bagi keluarga Feng," ucap Feng Yao dengan nada suara yang sengaja dibuat parau dan penuh duka. "Adikku, Feng Yan... sang jenius yang kita cintai, telah berpulang akibat kecelakaan tragis semalam di vila peristirahatannya. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati kita semua."
Para pemegang saham tertunduk lesu. Feng Yao menyeringai tipis di balik sapu tangannya. Dia melirik ke arah Sekretaris Han yang memberikan kode jempol—artinya semua saham sudah berhasil dialihkan ke atas namanya.
"Oleh karena itu, demi menjaga stabilitas Feng Group, saya, Feng Yao, dengan berat hati bersedia mengemban tanggung jawab sebagai CEO baru dan..."
DUMMMMM!!!
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah gerbang utama lobi. Pintu kaca antipeluru yang sangat tebal itu hancur berkeping-keping menjadi butiran kristal. Sebuah mobil sport perak metalik dengan desain futuristik melesat masuk ke dalam lobi, melakukan drifting sempurna di atas lantai marmer yang licin, lalu berhenti tepat di depan podium.
Suasana mendadak senyap. Ribuan pasang mata menatap mobil yang tampak seperti jatuh dari langit itu.
Pintu mobil terbuka ke atas secara otomatis. Seorang pria dengan jaket kulit hitam yang robek di beberapa bagian, namun tetap terlihat sangat berwibawa, turun dari kursi pengemudi. Dia melepas kacamata hitamnya, menampakkan sepasang mata hitam dengan kilatan emas yang sangat dominan.
"Maaf aku terlambat, Kak. Jalanan bawah tanah agak macet karena ada beberapa tikus yang mencoba menghalangiku," suara berat dan merdu Feng Yan bergema di seluruh lobi, memecah kesunyian seperti dentuman genta raksasa.
Feng Yao menjatuhkan mikrofon emasnya. Wajahnya yang tadi pucat karena duka palsu, kini berubah menjadi seputih kertas semen. Bibirnya gemetar hebat, matanya melotot seolah melihat iblis keluar dari neraka. "F-F-FENG YAN?! KAU... KAU HARUSNYA SUDAH MATI! VILA ITU MELEDAK!"
"Meledak?" Feng Yan tertawa kecil, suara tawa yang sangat narsis namun menenangkan bagi para pendukungnya. Dia berjalan memutar ke sisi lain mobil, membukakan pintu untuk seorang wanita yang mengenakan gaun merah sutra yang memukau—Lin Diya.
Diya keluar dari mobil dengan dagu terangkat tinggi. Meski gaunnya sedikit kotor dan rambutnya hanya diikat asal-asalan, aura pengacaranya kembali meledak seribu kali lipat lebih kuat. Dia memegang sebuah map kulit hitam yang tersegel rahasia.
"Tuan Feng Yao," suara Diya terdengar tegas dan dingin melalui pengeras suara yang masih menyala di podium. "Saya, Lin Diya, pengacara utama Mandala Group sekaligus pengacara pribadi Tuan Feng Yan, menyatakan bahwa Rapat Umum Pemegang Saham ini ilegal."
Diya melangkah naik ke podium, mengabaikan tatapan syok dari semua orang. Dia meletakkan map itu di depan wajah Feng Yao. "Semua dokumen pengalihan saham yang Anda tanda tangani pagi ini adalah palsu. Tuan Feng Yan sudah melakukan 'Akses Langit' terhadap seluruh sistem perbankan keluarga Feng sejak tiga jam yang lalu. Saat ini, Anda tidak memiliki satu sen pun saham di perusahaan ini. Sebaliknya... Anda memiliki tiket gratis menuju penjara atas dakwaan percobaan pembunuhan berencana."
"TIDAK MUNGKIN! INI PASTI MIMPI!" Feng Yao berteriak histeris, dia mencoba menerjang Diya, namun sebelum tangannya bisa menyentuh ujung gaun merah itu, Feng Yan sudah berpindah tempat dengan kecepatan cahaya.
Feng Yan mencengkeram pergelangan tangan Feng Yao dengan kekuatan yang sanggup meremukkan baja. "Jangan sentuh mutiaraku, Kak. Kau sudah kehilangan hakmu untuk hidup di bawah bayanganku."
Feng Yan menarik mikrofon dari tangan kakaknya, lalu menatap ke arah kamera wartawan dengan senyum miring yang paling mematikan. "Pengumuman hari ini berubah. CEO Feng Group tidak akan diganti. Dan mulai hari ini, Feng Group secara resmi mengakuisisi Mandala Group dengan satu syarat tambahan: Nona Lin Diya akan menjadi pendamping hidup sekaligus penguasa hukum di samping tahtaku."
DUOOORRR!!!
Pernyataan itu jauh lebih meledak daripada rudal di vila semalam. Diya mematung, wajahnya merah padam sekejap. "T-TUAN FENG! GAK USAH PAKE ACARA LAMARAN DI DEPAN WARTAWAN JUGAAA!"
Reyhan muncul dengan gaya polisi keren, seragam taktisnya melekat sempurna di badannya yang tegap. Dia melangkah maju sambil melepas kacamata hitamnya, mengeluarkan borgol dengan sekali klik yang sangat memuaskan.
"Feng Yao, Anda ditahan atas tuduhan konspirasi pembunuhan dan terorisme kota. Silakan ikut kami!"
Feng Yao jatuh terduduk di podium, pingsan seketika dengan mulut berbusa—persis seperti patung yang roboh diterjang badai.
Pagi itu, di bawah kilatan lampu flash kamera, Feng Yan kembali menduduki tahtanya. Dan di sampingnya, Lin Diya sadar bahwa dia baru saja menandatangani kontrak paling berbahaya seumur hidupnya: Kontrak menjadi permaisuri di puncak tahta CEO muda yang narsis, sakti, dan sangat mencintainya dengan cara yang ugal-ugalan.
Di bawah hujan lampu flash kamera yang menyilaukan dan gemuruh bisikan ribuan orang di lobi Feng Group, Lin Diya hanya bisa berdiri mematung. Tangannya masih digenggam erat oleh Feng Yan—genggaman yang terasa hangat, posesif, dan penuh dengan aliran energi Qi yang menenangkan jiwanya yang sempat terguncang.
Dia menatap Feng Yao yang sedang diseret keluar oleh Reyhan dan tim taktisnya. Dinasti palsu yang dibangun dengan darah dan pengkhianatan itu runtuh hanya dalam hitungan menit di tangan seorang pria yang seharusnya sudah mati.
"Tuan Feng... pengumuman barusan itu melanggar kontrak kerja kita," bisik Diya pelan, mencoba mempertahankan sisa-sisa aura galak pengacaranya di tengah wajahnya yang masih merah padam.
Feng Yan menoleh, menatap Diya dengan sepasang mata emasnya yang berkilat nakal namun penuh kesungguhan. Dia mendekatkan bibirnya ke telinga Diya, mengabaikan teriakan pertanyaan dari para wartawan yang haus berita.
"Diya, di dunia ini, kontrak hukum bisa kau batalkan. Tapi kontrak takdir yang sudah ku-akses sejak malam kecelakaan itu... tidak akan pernah bisa kau tuntut di pengadilan manapun," bisik Feng Yan lembut. "Selamat datang di tahtaku, Mutiara. Mulai hari ini, kau bukan lagi sekadar pengacara Mandala, tapi kau adalah satu-satunya hukum yang akan kupatuhi."
Diya tertegun, jantungnya berdegup kencang melampaui logika hukum manapun yang pernah dia pelajari. Di tengah kemegahan gedung Feng Group yang kembali ke tangan pemilik sahnya, Lin Diya sadar bahwa pelariannya telah usai. Dia tidak lagi dikejar oleh maut, melainkan sedang ditarik masuk ke dalam pusaran takdir seorang CEO yang terlalu sakti untuk dunia nyata, dan terlalu narsis untuk dilepaskan.
Raja telah kembali ke tahtanya, dan sang pengacara galak kini resmi terjebak dalam sangkar emas yang paling indah sekaligus paling berbahaya di dunia.