Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.
Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.
bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Ancaman yang Lebih Berani
Suara teriakan dari luar gerbang memecah keheningan sore itu. Naura langsung berdiri dengan wajah pucat pasi, tangannya menggenggam ujung bajunya erat-erat. Ia tidak menyangka Paman Surya dan Bibi Rina berani datang lagi, apalagi kali ini membawa dua orang asing yang tampak mengintimidasi.
Aldo juga berdiri, raut wajahnya yang tadinya sedikit lembut kembali berubah menjadi dingin dan tajam. Ia melangkah mendekat, berdiri di samping Naura dengan sikap protektif. "Tetap di belakang saya," bisiknya pelan, namun cukup jelas terdengar oleh Naura.
Mereka berdua berjalan menuju gerbang. Begitu melihat Aldo muncul, Bibi Rina justru tersenyum licik, seolah tidak takut lagi seperti sebelumnya. "Tuan Aldo, lama tidak bertemu. Kami datang bukan untuk membuat keributan, tapi untuk membicarakan hak kami," ucapnya dengan nada sok sopan.
"Hak apa yang kalian maksud? Sudah saya katakan sebelumnya, jangan ganggu dia lagi," jawab Aldo dengan nada dingin dan tegas.
Paman Surya tertawa sinis. "Kalian pikir kami takut hanya karena kalian punya uang? Kami sudah tahu semuanya! Naura ini tinggal di sini, jadi pasti dia dapat gaji besar. Dia harus memberi kami uang sebagai balas budi karena sudah membesarkannya. Kalau tidak, kami akan bawa kasus ini ke pengadilan dan meminta hak asuh serta tunjangan hidup!"
Dua orang pria di samping mereka pun melangkah maju sedikit, menatap Aldo dengan pandangan menantang. "Lebih baik serahkan uangnya dengan damai. Kami tidak mau ada kekerasan, tapi kalau dipaksa..." ujar salah satu dari mereka dengan suara berat.
Naura merasa marah sekaligus sedih. "Kalian tidak tahu malu! Selama ini saya bekerja keras untuk membiayai diri sendiri, bahkan gaji saya yang dulu selalu kalian ambil habis! Kalian tidak pantas disebut keluarga!" bentaknya dengan suara bergetar, namun berusaha tegas.
"Berani kamu bicara begitu! Kami bisa membuat hidupmu sulit, termasuk majikanmu ini!" ancam Bibi Rina, lalu menoleh ke arah Aldo. "Tuan, kami tahu Tuan orang kaya dan berpengaruh. Tapi masalah keluarga ini bisa merusak nama baik Tuan juga kalau tersebar luas. Lebih baik Tuan berikan kami uang dua puluh juta rupiah, dan kami akan pergi dan tidak pernah mengganggu lagi."
Aldo hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang membuat mereka merasa tidak nyaman. "Jadi ini cara kalian memeras? Mengancam akan merusak nama baik?"
"Kalau Tuan tidak mau, ya terpaksa," jawab Paman Surya dengan keras.
Aldo mengeluarkan ponselnya dan menekan beberapa tombol. Dalam hitungan detik, suara terdengar dari seberang. "Pak Aldo, ada yang bisa saya bantu?"
"Kirim tim keamanan dan hubungi polisi. Ada orang yang mencoba memeras dan mengancam di kediaman saya," perintah Aldo dengan tenang.
Mendengar itu, wajah Paman Surya dan Bibi Rina berubah pucat. Mereka tidak menyangka Aldo akan bertindak secepat itu. "Tunggu! Kami tidak memeras! Kami hanya menuntut hak!" seru Paman Surya dengan nada panik.
"Apakah kalian mengira saya tidak tahu cara kerja kalian? Kalian datang dengan membawa orang asing, mengancam, dan meminta uang dalam jumlah besar. Itu jelas termasuk tindak pidana pemerasan. Kalian mau diseret ke kantor polisi dan diadili?" tantang Aldo.
Salah satu pria yang dibawa mereka merasa gentar. "Kita pergi saja. Ini tidak sepadan," bisiknya pada Paman Surya.
Namun, Bibi Rina masih berusaha mempertahankan diri. "Tidak! Kami tidak akan pergi sampai dapat uang! Kalau tidak, kami akan menyebarkan berita bahwa Naura tinggal di sini bukan sebagai pembantu, tapi sebagai simpanan Tuan! Mari kita lihat apakah nama baik Tuan Pratama masih bersih setelah itu!"
Ancaman itu membuat darah Naura mendidih. Ia tidak menyangka bibinya bisa sebohong dan sekejam itu. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Aldo justru tertawa pelan. Suara tawanya terdengar dingin dan penuh tekanan.
"Silakan saja. Kalian bisa menyebarkan berita bohong sebanyak yang kalian mau. Tapi ingat, saya memiliki tim hukum terbaik di negeri ini. Kalian akan dituntut atas pencemaran nama baik dan akan dipaksa membayar ganti rugi yang nilainya bisa membuat kalian hidup susah selama bertahun-tahun. Apakah kalian siap mengambil risiko itu?"
Nada bicara Aldo sangat meyakinkan dan penuh keyakinan. Paman Surya dan Bibi Rina saling pandang, melihat ketakutan di mata satu sama lain. Mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa menang melawan orang sekaya dan sekuat Aldo. Ancaman mereka tiba-tiba terasa sangat lemah.
Belum sempat mereka menjawab, beberapa mobil patroli polisi dan mobil keamanan perusahaan sudah tiba di depan gerbang. Beberapa petugas polisi turun dan mendekat.
"Ada laporan tentang tindakan pemerasan di sini," kata salah satu petugas.
Paman Surya dan Bibi Rina langsung mundur ketakutan. "Tidak... tidak ada pemerasan. Kami hanya salah paham. Kami akan pergi sekarang," ujar Paman Surya terbata-bata.
"Kalian tidak bisa pergi begitu saja. Kami akan memeriksa laporan ini," kata petugas polisi.
Namun, Aldo mengangkat tangan sedikit. "Tidak perlu, Pak. Saya rasa mereka sudah mengerti pelajaran ini. Biarkan mereka pergi, tapi ingatkan mereka bahwa kalau berani datang lagi atau menyebarkan berita bohong, saya tidak akan segan menyeret mereka ke pengadilan."
Petugas polisi mengangguk, lalu memperingatkan Paman Surya, Bibi Rina, dan dua orang yang mereka bawa. Dengan wajah penuh amarah dan rasa malu, mereka akhirnya pergi dengan langkah tergesa-gesa, tidak berani menoleh lagi.
Setelah situasi mereda dan polisi pergi, suasana kembali hening. Naura masih berdiri di tempatnya, perasaan campur aduk memenuhi dadanya—marah, sedih, namun juga sangat berterima kasih. Ia menoleh ke arah Aldo yang sedang menatapnya dengan pandangan lembut yang jarang ia tunjukkan.
"Terima kasih, Tuan. Kalau tidak ada Tuan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi," ucap Naura dengan suara pelan dan sedikit bergetar.
Aldo menggeleng pelan. "Tidak perlu berterima kasih. Mereka tidak berhak mengganggumu. Dan tolong, jangan panggil saya 'Tuan' terus-menerus saat kita berdua saja. Nama saya Aldo."
Naura tertegun sejenak, lalu mengangguk perlahan. "Baik... Aldo."
Mendengar namanya disebut dari mulut Naura, hati Aldo terasa hangat. Ia menatap gadis itu dalam-dalam, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, "Naura, kamu tidak perlu takut lagi. Selama kamu di sini, saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu atau memerasmu. Ingat itu."
Kata-kata itu membuat mata Naura berkaca-kaca. Selama ini, ia selalu merasa sendirian dan tidak berdaya, namun kini ada seseorang yang berjanji akan melindunginya. Rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya perlahan menyelimuti hatinya.
Sejak kejadian itu, Paman Surya dan Bibi Rina benar-benar tidak berani muncul lagi. Mereka sadar bahwa melawan Aldo hanya akan mendatangkan kerugian bagi diri mereka sendiri. Hidup di rumah besar itu kembali tenang, namun hubungan antara Naura dan Aldo kini menjadi semakin dekat.
Aldo mulai sering pulang lebih awal dari kantor, hanya untuk duduk bersama Naura di teras sambil menikmati sore hari. Ia mulai bercerita sedikit tentang pekerjaannya, meski tidak terlalu mendetail, dan menanyakan hal-hal tentang kehidupan Naura. Ia bahkan mulai membelikan Naura pakaian yang layak dan buku-buku baru, tanpa membuat gadis itu merasa rendah diri atau terbebani.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk di taman sambil menatap bintang-bintang di langit, Aldo menoleh ke arah Naura dan berkata tiba-tiba, "Naura, saya ingin bertanya sesuatu. Apakah kamu pernah berpikir untuk memutuskan hubungan dengan mereka? Dengan paman dan bibimu itu?"
Naura terdiam sejenak, lalu menunduk. "Saya pernah memikirkannya. Tapi mereka adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki, meski mereka memperlakukan saya dengan buruk. Saya merasa berutang budi karena mereka memberi saya tempat tinggal saat saya tidak punya apa-apa."
Aldo menggeleng pelan. "Utang budi tidak berarti harus membiarkan dirimu disakiti dan dimanfaatkan selamanya. Menjauh dari orang yang terus menyakitimu bukan berarti tidak tahu berterima kasih. Itu berarti kamu menghargai dirimu sendiri."
Kata-kata Aldo membuat Naura berpikir dalam-dalam. Ia tahu ucapan itu benar. Selama ini ia membiarkan dirinya terus disakiti hanya karena rasa tanggung jawab yang salah. Namun, untuk memutuskan hubungan itu bukanlah hal yang mudah. Ia butuh waktu dan keberanian.
Namun, takdir seolah memberikan jawabannya lebih cepat dari yang ia kira. Beberapa hari kemudian, surat datang dari kantor polisi. Ternyata, Paman Surya dan Bibi Rina tertangkap tangan melakukan penipuan di tempat lain dan kini ditahan di penjara. Berita itu membuat Naura tertegun, namun di sisi lain, ia juga merasa ada beban berat yang terangkat dari pundaknya.
Kini, tidak ada lagi ancaman dari masa lalunya. Ia bebas menjalani hidupnya dengan tenang. Namun, kebebasan itu juga membuatnya semakin sadar akan perasaan yang tumbuh di hatinya terhadap Aldo. Dan ia mulai menyadari, bahwa pria dingin di sampingnya itu juga memiliki perasaan yang sama—perasaan yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang tulus.
Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/