JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘
Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Suasana Mansion Widjaja pagi itu terasa begitu berat dan kaku. Sinar matahari yang menembus jendela besar ruang makan justru mempertegas ketegangan di antara Haura dan Anggara. Haura duduk dengan tenang, menyantap roti panggangnya tanpa suara, berusaha mengabaikan tatapan tajam sang ayah di seberang meja. Setiap kali Anggara melirik, Haura dengan sengaja membuang muka, menatap taman belakang seolah-olah pemandangan di sana jauh lebih menarik daripada pria yang memberinya kehidupan itu.
Sepuluh menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan hingga akhirnya, suara bel pintu mansion berdenting. Marco datang.
Haura merasakan detak jantungnya berpacu hebat. Melati, yang duduk di ujung meja, memberikan isyarat halus pada putrinya. "Haura, naik ke kamar dulu, sayang. Mama ingin bicara empat mata dengan Marco."
Haura sempat ragu, namun melihat tatapan menenangkan dari mamanya, ia mengangguk. Ia sempat memberikan tatapan sekilas yang penuh arti pada Marco saat pemuda itu melangkah masuk ke ruang makan. Anggara, yang sedari tadi menahan amarah, berdiri dengan kasar, mendengus sinis ke arah Marco, lalu melenggang pergi menuju ruang kerjanya tanpa sepatah kata pun—meninggalkan ruangan itu hanya untuk Melati dan Marco.
Marco berdiri tegak, kemeja putihnya rapi, meski ia bisa merasakan atmosfer yang sangat intimidatif di ruangan itu.
"Marco," panggil Melati lembut, memecah sunyi.
"Iya, Tante," jawab Marco sopan, meski suaranya sedikit parau karena gugup.
Melati tersenyum tipis, menunjuk kursi di hadapannya. "Jangan panggil Tante. Panggil saja Mama. Saya tahu Mama kandungmu sudah tidak ada, kan? Kamu bisa anggap saya Mama kamu mulai hari ini."
Marco terpaku. Ia tidak menyangka sambutan yang akan ia terima justru sehangat ini, jauh dari bayangan kemarahan yang ia siapkan sejak semalam. "Iya... Mama," ucapnya pelan, terasa asing namun lega di lidahnya.
Melati menyesap tehnya sejenak sebelum menatap mata Marco dalam-dalam. "Saya dengar dari Arlo dan Haura. Papa kamu... Andi, dan Mama tiri kamu, tidak pernah menganggapmu ada dan selalu menyepelekanmu? Apa itu benar, Marco?"
Marco menunduk, mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Benar, Ma. Mereka selalu menganggap saya pengganggu. Apapun yang saya lakukan, selalu salah di mata mereka."
Melati menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Ternyata kamu dan Haura itu sama. Sama-sama korban ego Papa kalian. Haura itu anak saya yang paling dekat dengan saya. Dia punya hati yang lembut sekali, meskipun kadang dia sangat judes dan keras kepala. Dia menutupi rasa sepinya dengan kesibukan jastip itu."
"Saya tahu, Ma. Saya sudah melihatnya sendiri," sahut Marco tulus.
"Marco," suara Melati berubah menjadi lebih serius, namun tetap penuh kasih. "Kamu masih muda. Hidupmu masih panjang. Saya tidak akan melarang kamu untuk dekat dengan Haura, tapi saya minta satu hal: perbaiki sikapmu. Cara kamu bicara dengan orang yang lebih tua, cara kamu menunjukkan kemarahanmu—itu hanya akan merugikanmu sendiri. Kamu harus lebih bijak jika ingin berdiri sejajar dengan Haura di masa depan."
Marco mengangguk penuh tekad. "Saya akan berusaha, Ma. Saya janji."
"Dan..." Melati merogoh tas tangan di sampingnya, mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna perak elegan. "Kalau kamu memang serius dengan anak saya, selesaikan kuliahmu. Dan ini..."
Marco menerima kartu nama itu dengan tangan gemetar. "Itu apa, Ma?"
"Itu kartu nama anak sulung saya, Elang Widjaja. Dia punya perusahaan investasi besar yang juga merupakan rekan bisnis Papa kamu. Kalau kamu tidak keberatan, mulai besok kamu bisa melamar magang di sana sambil menyelesaikan kuliahmu. Itu kesempatan besar untuk membangun kariermu sendiri, tanpa harus bergantung pada nama Andi Permana atau mengandalkan bantuan finansial dari Haura."
Marco terdiam, menatap kartu nama itu dengan perasaan campur aduk. Ini adalah jalan keluar yang ia cari selama ini—peluang untuk membuktikan bahwa ia bukan sekadar "berandalan" tanpa masa depan.
"Terima kasih, Ma. Ini... ini sangat berarti bagi saya," ucap Marco dengan suara serak.
Tiba-tiba, suara riuh dari balik tirai ruang makan mengalihkan perhatian Melati.
"Duh, miringin lagi, Arlo! Tante nggak kelihatan!"
"Sst! Diem, nanti ketahuan Eyang!"
Melati mendengus kesal, ia bangkit dari kursinya dan berjalan cepat menuju balik tirai ruang makan. Ia menyibak kain itu dengan kasar. Di sana, Haura dan Arlo sedang berhimpitan, berusaha menguping pembicaraan dengan wajah memerah karena panik.
"Haura! Arlo! Apa-apaan kalian ini?!" tegur Melati sambil berkacak pinggang.
Haura nyengir lebar, wajahnya tampak sangat tidak bersalah. "Eh, Mama... tadi kami cuma mau ambil... minum, Ma!"
"Minum kok sampai desak-desakan gitu?!" Melati menggelengkan kepala, namun ia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat putrinya yang tampak jauh lebih ceria pagi ini.
Marco berdiri, menatap Haura dengan senyum paling tulus yang pernah ia tunjukkan. Haura menatap kartu nama di tangan Marco, lalu menatap mamanya dengan mata berkaca-kaca.
"Mama tidak akan menjodohkan Haura lagi dengan pria pilihan Papa?" tanya Haura hati-hati.
Melati berjalan mendekat, merangkul bahu putrinya dan Marco secara bersamaan. "Mama cuma ingin Haura bahagia. Kalau pria di depan Mama ini bisa membuktikan dirinya layak, kenapa tidak? Tapi ingat, Marco, tantangan sebenarnya bukan cuma Mama, tapi Papa kamu dan Papa Haura."
"Saya siap, Ma," jawab Marco tegas, matanya berkilat penuh keyakinan. "Saya akan buktikan bahwa saya pantas untuk Haura, dengan cara saya sendiri."
Haura mengeratkan genggamannya pada lengan Marco. Di tengah mansion yang tadinya terasa dingin dan mencekam, pagi itu mendadak penuh dengan janji dan harapan. Perjuangan memang masih jauh di depan mata, namun setidaknya, mereka tidak lagi harus berjuang dalam kesendirian. Dan bagi Marco, kartu nama Elang Widjaja di tangannya bukan sekadar kertas—itu adalah tiket pertamanya untuk menjadi pria yang layak bagi sang Ratu Jastip.
***
Sinar matahari siang mulai terasa menyengat saat Haura dan Marco melangkah keluar dari pintu utama Mansion Widjaja. Kelegaan yang nyata terpancar dari raut wajah Haura; beban yang selama dua hari ini menghimpit dadanya seolah terangkat sebagian setelah percakapan dengan sang Mama. Di belakang mereka, Arlo mengekor dengan langkah santai, sesekali menyisir rambutnya dengan jemari, tampak tidak peduli dengan ketegangan yang baru saja terjadi.
Haura berhenti tepat di dekat sedan putihnya. Ia berbalik, menatap Marco yang tampak jauh lebih tenang setelah bertemu dengan Melati. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal di benak Haura mengenai hubungan Marco dengan keluarganya.
"Marco," panggil Haura lembut. Ia menyelipkan jemarinya ke lengan jaket Marco, sedikit menarik perhatian pemuda itu. "Kamu beneran nggak mau pulang dulu ke rumah Papa kamu? Seenggaknya buat ambil barang-barang kamu atau sekadar... ya, menyapa?"
Marco mendengus kasar, wajahnya yang tadi lembut seketika mengeras. Ia menatap ke arah gerbang mansion, lalu beralih menatap Haura dengan pandangan tidak suka. "Nggak, Ay. Aku males banget ketemu Papa, apalagi kalau harus lihat muka Tante Anggun yang penuh sandiwara itu. Cuma buang-buang energi."
Haura menghela napas, jemarinya mengusap punggung tangan Marco dengan gerakan menenangkan. "Jangan gitu, Marco. Biar bagaimana pun, dia Papa kamu, kan? Hubungan darah itu nggak bisa diputus cuma karena kalian lagi ada konflik. Kalau kamu terus-terusan ngehindar, mereka bakal makin merasa menang."
Marco tertawa sinis, suara tawanya terdengar getir. "Menang? Mereka nggak bakal pernah menang, Ay. Lagipula, buat apa aku balik ke sana? Rumah itu bukan lagi tempat aku pulang sejak Mama nggak ada. Buat mereka, aku cuma benalu yang harus disingkirkan biar harta warisan mereka nggak terbagi."
Arlo yang berdiri di belakang mereka akhirnya ikut nimbrung, menyambar pembicaraan dengan nada yang sengaja dibuat ringan. "Bener kata Haura, Co. Kalau lo nggak nunjukin diri lo, mereka bakal ngira lo beneran 'habis' gara-gara diusir. Kadang lo harus nunjukin kalau lo masih ada, biar mereka nggak bisa seenaknya naruh lo di bawah kaki mereka."
Marco menatap Arlo sekilas, lalu beralih kembali ke Haura. "Aku nggak butuh pengakuan mereka. Aku cuma butuh masa depan yang aku bangun sendiri, dan tadi Mama kamu udah kasih jalan itu lewat Elang. Itu lebih dari cukup."
Haura menatap lekat ke dalam mata cokelat gelap Marco. Ada luka yang dalam di sana, luka yang selama ini Marco sembunyikan di balik topeng kenakalan dan sikap tengilnya. "Aku tahu itu sulit, Marco. Tapi aku nggak mau kamu punya penyesalan di masa depan cuma karena kamu terlalu marah sekarang. Kamu harus jadi pria yang lebih besar dari mereka. You have to be the bigger person."
"Kamu mau aku balik ke sana?" tanya Marco, suaranya melembut, menuntut jawaban jujur dari Haura.
"Aku mau kamu berdamai sama diri kamu sendiri," jawab Haura tulus. "Kalau kamu balik ke sana cuma buat ambil barang atau sekadar nunjukin kalau kamu baik-baik aja, itu adalah kemenangan buat kamu. Bukan buat mereka."
Marco terdiam cukup lama. Ia menatap kaki-kakinya sendiri yang terbalut sepatu sneakers kotor—kontras dengan lingkungan mansion yang serba mewah. "Kalau aku balik ke sana, mungkin aku bakal ngomong sesuatu yang bikin mereka makin benci sama aku."
"Itu lebih baik daripada kamu lari terus," sahut Arlo lagi sambil menyalakan ponselnya. "Gue dukung lo, Co. Kalau butuh temen buat 'saksi', gue siap nemenin lo ke sana."
Haura tersenyum, menyentuh pipi Marco dengan lembut. "Dengar, Ay. Kamu nggak perlu minta maaf atas siapa kamu. Kamu hebat, kamu kuat, dan kamu punya tekad. Kalau kamu ke sana buat ngambil barang-barang kamu dan pergi dengan kepala tegak, itu artinya kamu sudah menang."
Marco menghela napas panjang, akhirnya mengangguk pelan. "Oke, oke. Aku bakal ke sana nanti sore. Tapi janji, kamu harus temenin aku sampai di depan gerbang. Aku nggak mau masuk ke rumah itu sendirian."
"Pasti," jawab Haura mantap. "Aku bakal temenin kamu sampai ke ujung dunia kalau perlu."
Marco tersenyum tipis, senyum yang kali ini tidak tampak dingin atau sinis, melainkan penuh dengan rasa syukur yang mendalam. Ia meraih tangan Haura dan mencium punggung tangan wanita itu di depan Arlo, membuat keponakan Haura itu mendecak kagum sekaligus geli.
"Nggak usah pamer kemesraan di depan jomblo, woi!" seru Arlo sambil berjalan mendahului mereka menuju mobilnya.
Haura dan Marco terkekeh. "Ay," panggil Marco lagi, suaranya kini terdengar serius. "Makasih ya. Karena sudah sabar ngadepin aku yang berantakan ini."
"Kamu nggak berantakan, Marco. Kamu cuma belum ketemu orang yang tahu cara merapikan kamu," jawab Haura sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Marco tertegun sebelum akhirnya tertawa renyah.
Mereka pun berjalan menuju mobil masing-masing. Di dalam sedan putihnya, Haura menatap kaca spion, melihat Marco yang masih berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan penuh pemujaan. Perjalanan menuju pendewasaan ini memang berat, penuh dengan kerikil tajam dari keluarga mereka yang saling bersinggungan. Namun, melihat betapa Marco mulai belajar untuk menghadapi ketakutannya sendiri, Haura merasa bahwa mereka sedang menulis cerita yang jauh lebih indah daripada sekadar kisah cinta atasan dan bawahan yang terlarang.
Hari ini adalah langkah kecil bagi Marco untuk menghadapi dunianya, dan langkah besar bagi mereka untuk mempertahankan apa yang telah mereka mulai di atas meja packing ruko yang sederhana itu. Dengan tekad yang baru dan dukungan yang tak tergoyahkan, mereka pun melaju membelah jalanan, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi di depan sana—baik itu kemarahan sang Papa atau badai kehidupan yang lebih hebat lagi.
***
Jangan lupa baca ini yaw
semangattt