Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
khawatir/luka
Bab 25
Saat ini Nayla sedang duduk di ranjang nya ia sedang merapikan obat obatan di dalam kotak, sesaat kemudian terlihat Sari masuk dengan langkah tergesa.
“Dok,” panggilnya.
Nayla menoleh lalu ia memperhatikan Wajah Sari sejenak.
Nayla meletakkan botol antiseptik di tangannya.
“Ada apa? Kok wajah kamu seperti itu?” tanyanya sambil tersenyum.
“Anu, dok... anu.”
“Anu-anu apa?” Ia beranjak, menghampiri Sari, lalu berhenti di depannya.
“Sar.”
Sari menarik napas sebentar, seperti sedang menyusun kata.
"tadi saya lihat Letnan Raditya terluka. Barusan dibawa masuk ke pos komando. Kakinya—”
Nayla sudah bergerak sebelum Sari selesai bicara.
“Dok, tunggu. Tadi saya dengar kata prajuritnya tidak terlalu parah—”
Nayla tidak berhenti.
Pos komando tidak jauh. Tiga puluh langkah dari tenda medis — jarak yang biasanya Nayla tempuh santai. Pagi ini terasa lebih panjang dari seharusnya.
Di depan pintu pos, dua prajurit berdiri. Mereka menoleh saat melihat Nayla mendekat.
“Dok,” salah satu dari mereka — Hendra, yang lengannya masih dibalut — sedikit mengangguk.
“Letnan di dalam.”
Nayla tidak menggubris. Ia melangkah cepat masuk, lalu mendorong pintu.
Terlihat di sana: Raditya duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Celana kargo kiri sudah digulung ke lutut. Betis kirinya — goresan panjang, mungkin dua belas sentimeter, merah dan kotor di beberapa bagian. Dimas berdiri di sebelahnya dengan kain lap basah di tangannya, ekspresinya menunjukkan orang yang berusaha membantu tapi tidak yakin caranya benar.
Raditya tidak melihat ke lukanya. Matanya di peta yang terbentang di meja di depannya — tetap bekerja, seolah tidak ada yang terjadi pada kakinya.
“Dokter,” suara Dimas sedikit lega saat melihat Nayla masuk.
Nayla hanya mengangguk.
Raditya yang mendengar Dimas memanggil dokter berbalik. Matanya bertemu dengan mata Nayla sedetik. Lalu turun ke tas medis di bahunya.
Ia mengembuskan napas. “Saya tidak apa-apa,” ucapnya. Datar. Seperti biasa — atau hampir seperti biasa. Ia lalu menunduk menatap luka itu.
“ini Sudah dibersihkan.”
“Saya yang dokter di sini, Pak.”
“Tapi—”
Ucapan Raditya terputus karena melihat tatapan Nayla.
Nayla melangkah mendekat, menarik kursi, duduk di depan Raditya. Ia membuka tasnya tanpa meminta izin.
“Dibersihkan seadanya itu tidak cukup untuk luka yang kena kawat berduri, apalagi kalau kawatnya berkarat. Bisa bahaya.”
“Iya, tapi kan ini biasa say...”
“Bapak dokter?”
Raditya tidak menjawab.
“kalau bukan Diam dan biarkan saya bekerja.”
Nayla memeriksa luka itu dengan teliti. Goresan memanjang dari pertengahan betis ke arah pergelangan — tidak dalam, tapi cukup panjang untuk khawatir soal infeksi. Di beberapa titik, kotoran merah kecokelatan masih menempel di tepi luka. Kawat berduri yang tidak bersih.
“Sakit?” ucap Nayla, mendongak menatap wajah Raditya.
“Tidak,” jawab Raditya sambil menatap lukanya.
Nayla mengangguk. Ia tahu kalau itu sakit.
Dimas dari sudut ruangan berdehem kecil — suara orang yang menyembunyikan tawa di balik batuk.
Nayla menuangkan antiseptik ke kasa, lalu ia mulai membersihkan luka dengan gerakan hati-hati tapi teratur.
Raditya tidak bersuara. Tidak bergerak. Tapi Nayla melihat — dari sudut matanya — otot di rahangnya mengencang satu kali ketika cairan antiseptik menyentuh bagian paling dalam dari goresan itu. Satu kali saja. Lalu kembali datar.
“Kawatnya apakah sudah dicabut semua, Pak?” tanya Nayla.
“Sudah.”
“Yakin?”
“Iya,” balas Raditya.
Nayla tidak langsung percaya. Ia memeriksa ulang dengan jari bersarung tangan — menelusuri tepi luka pelan-pelan.
“Sss...” suara itu keluar sebelum Raditya sempat menahannya. Sangat pelan, hampir tidak terdengar. Tapi Nayla mendengarnya.
Ia berhenti. Menatap titik yang baru ia sentuh. Lalu dengan pinset kecil, menarik sesuatu — kawat tipis seukuran jarum yang tertinggal di dalam luka.
ia meletakkannya di nampan kecil. Menatap Raditya.
Raditya menatap kawat tipis itu. Lalu ia menatap Nayla
“Yakin?” ulang Nayla pelan. Nadanya bukan mengejek — hanya menyatakan fakta.
hening. Tapi ada sesuatu di matanya — sesuatu yang bukan kemarahan dan bukan juga netral seperti biasanya.
“Apakah harus dijahit, dok?” tanya Dimas dari sudut, kali ini serius.
“Tidak, tidak perlu,” jawab Nayla sambil mulai membalut. “Tapi harus diganti perbannya setiap hari. Dan—” ingat ia mendongak lagi menatap Raditya, “—tidak boleh kena air kotor dulu tiga hari. Patroli tetap boleh, tapi kalau melewati sungai atau lumpur, lapor ke saya setelah kembali.”
“Saya tidak perlu—”
“Lapor ke saya setelah kembali,” ulang Nayla. Kali ini suaranya tidak memberi ruang untuk debat.
“Hmm,” jawab Raditya hanya deheman.
Dimas menoleh ke langit-langit, ekspresi orang yang baru menyaksikan sesuatu yang bersejarah.
Nayla merapikan tasnya. Berdiri. Menarik napas pelan.
“Oke, selesai,” ucapnya singkat.
Raditya mengangguk. Matanya sudah kembali ke peta. “Terima kasih.”
“Sama-sama,” balas Nayla sambil tersenyum.
lalu ia melangkah berjalan ke pintu. Tangannya sudah di kain penutup, lalu ia keluar.
Di luar pos, angin karang wilis menerpa wajahnya.
Nayla berjalan pelan ke arah tenda medis. Tasnya di bahu, langkahnya tidak terburu-buru. Tapi ada sesuatu yang berbeda dari pagi ini — sesuatu yang kecil, yang tidak bisa ia beri nama dengan tepat.
Ia berhenti sebentar di bawah pohon ketapang di tepi lapangan.
Kenapa tadi ia berlari?
Sari bilang tidak terlalu parah. Hendra bilang sudah dibersihkan. Tidak ada alasan untuk tergesa-gesa seperti itu.
Nayla menatap tangannya — tangan yang baru saja membalut luka di betis kiri seorang letnan yang selalu membuat Nya dara tinggi bahkan tidak mau mengakui ia kesakitan.
_“Kenapa saya khawatir?”_ batinnya. ia menarik napas. Melangkah lagi.
-