Ada sebuah kepercayaan pada legenda 'pamali' di kampung kebun jeruk nipis. yang dimana para gadis yang belum menikah dilarang keluar malam hari, duduk di depan pintu, potong kuku malam hari, gunting rambut pas malam hari.
Namun ada, sekelompok remaja yang melanggar aturan itu dan berujung malapetaka bagi dirinya sendiri. Dari mereka diganggu setan di rumah sampai dibuat tersesat di hutan belakang rumah.
Apakah Anda bisa menyelesaikan pamali yang telah mereka langgar dan pergi dari pamali ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Samsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
‘kalo Dinda sama Risma masih di villa berarti yang di depan gua siapa?’
Bunga langsung memasukkan kembali ponselnya dan tepat saat ia melihat lurus kedepan.
Bunga melihat kedua orang didepan nya itu benar benar mirip Dinda dan Risma, tapi saat perhatian nya mulai turun ke kaki.
Bunga menahan nafas melihat kaki kedua nya tidak menginjak aspal, jantung bunga langsung berdebar kencang.
‘udah, fiks ini bukan Dinda sama Risma. Tapi kok bisa sih’ batin bunga tidak punya pilihan selain tetap jalan mengikuti Alfin.
Memperhatikan bagaimana sahabatnya itu begitu asyik mengobrol dengan sosok yang menyerupai Dinda dan Risma tanpa ia ketahui.
Sudah hampir setengah jam mereka jalan namun tidak juga menemukan ujung jalan raya nya.
“Lah, setau gua yah. Sepanjang jalan ini ujung kan jalan raya yang bisa belok kanan, kiri sama lurus. Tapi ini kok gak ada?” Heran Alfin tetap berfikir logis.
Melihat itu perasaan bunga sudah tidak tenang, namun ia mencoba menutupi nya.
“Mungkin saja kita salah jalan” jawab nya dengan suara pelan.
“Bisa jadi sih dinda, tapi kan dari tadi kita cuma lurus masa sih iya salah arah” ujar Alfin yang kebingungan melihat ekspresi bunga.
Merasa diperhatikan bunga langsung menoleh ke arah Alfin. “Gak mungkin salah arah lah, ini kita udah bener bener ngikutin jalan nya”
Mendengar penjelasan itu Alfin terdiam sejenak, kembali mengingat mengingat jalan yang baru mereka lewati.
Di saat Alfin lagi kebingungan mencari ujung jalan, bunga menyadari keanehan lain dari dua sosok itu.
Mereka tidak lagi menoleh ke arah nya, hanya saat bersapa tadi di awal, sebelum bunga tau kebenarannya.
‘ya, ampun ada bau amis dari mereka. Terus ini si Alfin bener bener buta apa gimana sih? … Masa hantu di samping nya gak tau’
Bunga meringis dalam hati nya, semakin ia perhatikan semakin banyak hal janggal di kedua sosok itu.
Baju yang mereka pakai penuh bercak darah, bagian kepala mereka tertusuk sebuah paku.
Dan lebih parahnya lagi kuku tangan mereka sangat panjang dan runcing di ujungnya.
Berbanding terbalik dengan Alfin yang begitu santai mengobrol dengan kedua sosok menyamar sebagai Dinda dan Risma itu.
“Aku rasa sebenarnya kalian berdua belum sampai di ujung jalan, kan kita di kampung pelosok jadi ada kemungkinan jarak ke jalan raya sangat jauh” ujar nya membuat bulu kuduk bunga berdiri seketika.
“Iya, juga yah. Tumben pinter lu Risma. Kalau begitu ayo kita lanjut jalan aja” sahut Alfin memimpin di depan dengan penuh percaya diri.
Sedangkan di belakang bunga hanya bisa berdoa dalam hati nya agar bisa kembali ke villa.
Namun jauh kali mereka melangkah, semakin tercium pekat bau amis di hidung bunga.
“Ini kita udah jala dari loh, masa iya selama ini sih. Gila banget lah Jing” maki bunga muak dengan kondisi yang benar benar tidak berpihak pada nya.
“Sabar dikit lah, gua yakin kita bakal sampai di ujung jalan raya terus busa cari penginapan gitu” timpal Alfin tetap fokus lurus kedepan.
Namun Alfin mulai menyadari suatu hal, sekitar nya kini dipenuhi pohon rindang yang besar. Ditambah suasana yang sunyi dan dingin membuat nya merasa seperti berada di pegunungan bukan daratan jalan aspal.
“Bunga …. “ Tepat saat Alfin menolehkan kepalanya ke belakang.
Dengan jelas ia melihat Dinda dan Risma berubah menjadi sosok aneh berwajah penuh goresan dan ada paku menancap dalam kepala mereka.
“Setan jir, lari bunga” mendengar itu bunga reflek langsung ikut lari dengan alfin.
Meninggalkan dua sosok aneh itu yang tertawa nyaring seolah mau menakut-nakuti diri nya dan bunga.
“Tunggu dulu, gua rasa hantu tadi udah gak ngikutin kita deh” ucap bunga dengan nafas memburu ia langsung menjatuhkan diri nya di dekat pohon besar.
Bersandar sejenak, mengatur nafasnya setelah kejadian menyeramkan tadi.
Untuk beberapa saat keadaan kembali hening, tidak ada suara jangkrik, hanya hembusan angin dingin dan perasaan tidak tenang di hati nya.
__________________________________
Di sisi lain Bagas, Dimas dan Farhan kaget melihat Alfin tidak ada di kasur nya.
“Lah, kemana nih bocah? Jangan bilang dia benar benar keluar malam lagi” gumam Farhan mencoba menghubungi nomor Alfin, namun tidak kunjung berhasil.
“Gimana? Bisa gak nelpon Alfin?” Tanya Bagas melihat ekspresi temannya ia sudah tau jawabannya.
“Nomornya gak bisa dihubungi jir, kek hilang sinyal kah tuh hp Alfin. Tapi sebenarnya dia sama bunga kemana sih?” Dimas ikut mencoba menelepon nomor bunga.
Namun hasilnya sama ‘nomor yang kamu hubungi sedang berada diluar jangkauan’.
Keresahan mulai memenuhi perasaan nya, Bagas dan Farhan. Ia khawatir terjadi apa-apa pada kedua sahabatnya itu.
Tok … tok … tok …
“Guys, ayo sarapan dulu yuk. Yang lain udah di meja makan tinggal kalian sama bunga yang belum nih” panggil Cantika tidak tau apa yang sedang terjadi.
“Oke, bentar yah. Kita bakal turun” sahut Bagas langsung mengajak Dimas dan Farhan keluar dari kamar menuju dapur.
Sesampainya di meja makan mereka langsung duduk, mencoba menghindar dari pertanyaan yang mungkin akan muncul.
Pak yahman yang sadar ada murid yang belum hadir, ia langsung buka suara. “Ini bunga sama Alfin kemana? Kok gak turun mereka?”
Bagas, Farhan dan dimas langsung terdiam saling menatap satu sama lain. “Mereka berdua kecapean pak, makanya gak ikut sarapan pagi”
Pak yahman menatap lurus kedepan, ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan ketiga murid cowok ini.
“Baiklah, kalo begitu kita sarapan pagi dulu dan jangan lupa berdoa” tegas pak yahman.
“Baik pak” jawab serempak para murid.
Mereka berdua bersama dan memakan sarapan mereka dengan tenang. Setelah selesai sarapan semua murid berdiri di halaman villa.
“Kegiatan kita hari ini adalah mengunjungi tempat balai desa, jarak nya cukup jauh dari sini. Tapi tenang saja kita bakal pake pick up kemarin itu” jelas Bu Windy memberikan buku note beserta pulpen ke para murid.
“Eh, tunggu ini si bunga sama Alfin bener bener capek apa gimana? Sampai gak keluar kamar nih” tanya Bu nana mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“I-iya Bu, mereka kecapean banget. Apalagi bunga kan paling aktif dari awal kegiatan” jawab Bagas dengan keringat dingin, karena ia paling susah untuk berbohong seperti ini jika tidak terpaksa.
“Jadi kayaknya mereka berdua gak bakal ikut kegiatan hari ini Bu” sahut Farhan ikut buka suara membantu teman nya itu.
Setelah mendengar penjelasan dari kedua orang tersebut Bu Windy, Bu nana, pak Yanto, pak yahman dan pak Rusdi mengangguk kecil.
“Iya, biarin aja mereka memang selalu paling heboh waktu kegiatan hari sih. Jadi biarkan saja mereka berdua istirahat sekarang” ucap pak Rusdi angkat bicara.
Dan selesai sarapan mereka kini naik ke atas mobil pick up untuk pergi menuju ke rumah pak kades langsung.
“Udara nya sejuk banget yah” ujar putri menikmati hembusan angin pagi.
“Suasana kayak gini emang enak banget” seru dini melihat pemandangan sekitar.
*Guys mohon maaf tolong diam sebentar, aku lagi nyatet hasil kegiatan kita sehari-hari nih” tegur Tia dengan sopan dan semua murid cewek pun langsung diam.
Dan ketika mobil pick up melaju melewati gerbang masuk kampung, Farhan melihat sesuatu yang tidak asing.
Sebuah jejak kaki manusia yang seperti nya baru saja dilewati beberapa jam yang lalu.
‘lah, emang ada yang boleh keluar jam segitu yah. Ini jejak kaki kayak dari semalam gak sih. Gak masuk akal’
Farhan langsung menyenggol lengan kedua temannya itu. “kenapa cuy?”
Farhan tidak menjawab ia langsung menoleh ke arah jalan aspal yang mereka lewati.
Melihat itu Dimas dan bagas terdiam sejenak, Bagas reflek mengambil ponselnya.
Farhan bisa melihat dengan jelas Bagas menelpon nomor Alfin. Dan …
Aneh nya ada suara ponsel getar di sekitar mereka. “Bentar” Farhan langsung memeriksa teman teman cowok nya dan tidak ada yang menyembunyikan ponselnya Alfin.
Tapi suara getaran itu masih terdengar jelas oleh nya, Dimas dan bagas.
“Ini kenapa cuy? Beneran gak masuk akal” panik Dimas tidak bisa berfikir positif.
Melihat kedua teman nya yang mulai panik dan khawatir, Bagas langsung berisik pelan. “Gua rasa Alfin dan bunga masuk ke dunia jin”
Mendengar itu sontak Farhan dan dimas tercengang bukan main.