NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 : Rapat Para Tetua

Keesokan harinya, Lin Chen tanpa sengaja mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ia dengar.

Saat itu, ia sedang berjalan melewati lorong belakang gedung utama kediaman Klan Lin. Lorong tersebut jarang digunakan karena hanya menghubungkan ruang arsip, gudang penyimpanan, dan ruang rapat para tetua.

Ketika hendak melewati area itu, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Suara percakapan dari balik pintu ruang rapat terdengar cukup jelas.

"...kita tidak bisa membiarkan keadaan ini terus berlanjut."

Lin Chen langsung mengenali suara tersebut.

Itu adalah Lin Hai, pamannya sekaligus adik dari mendiang ayahnya. Sejak kedua orang tuanya meninggal, pria itulah yang secara resmi bertanggung jawab atas dirinya.

"Lin Chen sudah berusia tujuh belas tahun," lanjut Lin Hai. "Jika dalam beberapa tahun ke depan tidak ada perkembangan sama sekali, namanya akan menjadi bahan tertawaan bagi seluruh klan di Kota Langit Biru."

"Bukan hanya dirinya."

Suara lain menyahut.

Itu adalah Tetua Lin Dao.

"Reputasi Klan Lin juga akan terkena dampaknya. Kondisi klan kita saat ini sudah cukup sulit. Turnamen Sekte Bulan Perak bulan depan adalah kesempatan penting untuk menunjukkan kekuatan generasi muda kita."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Jika Lin Chen hadir sebagai bagian dari rombongan klan, meskipun hanya sebagai penonton, orang-orang pasti akan bertanya. Mereka juga akan mengingat hasil penilaiannya kemarin."

Suasana di dalam ruangan menjadi hening beberapa saat.

Kemudian terdengar suara ketiga yang lebih tua dan berat.

"Lalu apa yang kalian usulkan?"

Itu adalah Tetua Lin Shan, salah satu tetua senior di Klan Lin yang jarang berbicara kecuali dalam masalah penting.

"Kita tidak bisa begitu saja mengusir anggota garis keturunan utama tanpa alasan yang jelas."

Lin Hai mengembuskan napas pelan. "Tidak perlu mengusirnya." Nada suaranya terdengar tenang. "Cukup kirim dia keluar dari klan."

"Kirim ke mana?"

"Tugas pengumpulan tanaman obat di Pegunungan Cang Lei."

Ruangan kembali sunyi.

Lin Hai melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.

"Kita bisa menggunakan alasan bahwa klan sedang memberinya kesempatan untuk mencari bahan obat guna memperbaiki meridian yang rusak."

Usulan itu terdengar masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Namun justru itulah yang membuat Lin Chen merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

"Tetapi Pegunungan Cang Lei bukan tempat yang aman."

Tetua Lin Shan akhirnya berbicara.

"Terlebih bagi seseorang yang masih berada di Tingkat Pertama Kebangkitan Roh."

"Tidak ada yang mengatakan tempat itu aman."

Lin Hai menjawab tanpa ragu.

"Namun jika sesuatu terjadi di alam liar, tidak seorang pun dapat menyalahkan klan."

Keheningan yang panjang menyelimuti ruangan.

Tidak ada yang langsung menyetujui.

Tetapi yang lebih buruk, tidak ada pula yang menolak.

Di luar pintu, Lin Chen berdiri mematung.

Napasnya tertahan.

Jantungnya berdegup keras di dalam dada.

Bukan karena ketakutan.

Melainkan karena kenyataan yang baru saja ia dengar.

Selama ini, masih ada bagian kecil dalam dirinya yang percaya bahwa pamannya setidaknya masih peduli.

Memang tidak hangat.

Tidak dekat.

Namun Lin Hai tidak pernah secara terang-terangan merendahkannya seperti anggota klan lainnya.

Lin Chen mengira itu karena rasa tanggung jawab keluarga.

Ternyata ia salah.

Pria itu hanya menunggu kesempatan yang tepat.

Kesempatan untuk menyingkirkannya tanpa meninggalkan noda pada nama Klan Lin.

Perlahan, Lin Chen melangkah mundur menjauhi pintu.

Satu langkah.

Lalu satu langkah lagi.

Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Setelah cukup jauh, ia berbalik dan berjalan kembali menuju kamarnya.

Sepanjang perjalanan, pikirannya terasa kosong.

Tidak ada amarah maupun kesedihan.

Hanya keheningan yang aneh.

Sesampainya di kamar, ia duduk di tepi ranjang dan menatap keluar jendela.

Langit di atas Kota Langit Biru tampak suram.

Awan-awan gelap berkumpul di atas pegunungan yang menjulang di kejauhan, menutupi sebagian besar cahaya matahari.

Pemandangan itu terasa seperti gambaran nasibnya sendiri.

Selama beberapa saat, Lin Chen hanya duduk diam.

Kemudian perlahan pikirannya mulai bekerja kembali.

Jika para tetua benar-benar mengirimnya ke Pegunungan Cang Lei, maka pengumuman resminya mungkin tidak akan lama lagi.

Ia harus bersiap.

Membawa bekal.

Mengumpulkan obat-obatan sederhana.

Menyimpan persediaan makanan. Dan yang terpenting, memikirkan cara bertahan hidup.

Karena ia tahu satu hal dengan sangat jelas.

Jika dirinya benar-benar meninggalkan Klan Lin kali ini, maka perjalanan itu tidak akan sekadar menjadi tugas biasa.

Itu bisa menjadi jalan menuju kematian.

Atau justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Lin Chen mengepalkan tangannya perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak mendengar percakapan para tetua, secercah tekad muncul kembali di matanya.

Mereka mungkin menganggapnya sebagai beban.

Mereka mungkin berharap ia menghilang di Pegunungan Cang Lei dan tidak pernah kembali.

Namun jika takdir benar-benar memaksanya melangkah keluar dari perlindungan Klan Lin, maka ia akan memanfaatkan kesempatan itu dengan caranya sendiri.

Dan ketika suatu hari nanti ia kembali, ia tidak akan kembali sebagai Lin Chen yang mereka kenal hari ini.

Apa pun yang menantinya di luar sana, hidupnya akan berubah mulai saat itu.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!