Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Tahta yang Berat
Pertempuran usai.
Aequoria menang.
Para Siren Aequoria yang selamat berkerumun di alun-alun kota — ada yang menangis, ada yang tertawa, ada yang hanya terdiam, tidak percaya bahwa mereka masih hidup. Beberapa saling berpelukan, melepaskan rasa takut yang dipendam selama sepuluh tahun. Beberapa lainnya duduk di atas pasir, menatap kosong ke arah mayat-mayat Siren Hitam yang bergelimpangan.
Luka ada di mana-mana. Darah biru keperakan mengotori pasir putih yang dulu bersih. Beberapa bangunan yang baru selesai diperbaiki hancur lagi. Taman laut tempat Nana dan Jeno pernah berpelukan — tempat mawar biru ibunya tumbuh — rusak parah, bunga-bunga biru itu terinjak dan layu.
Tapi mereka menang.
Aramis ditangkap.
Dua Siren penjaga menyeretnya melewati alun-alun. Rambut merah darahnya yang dulu indah kini hanya tinggal beberapa helai kusut. Wajahnya dipenuhi bintik hitam — tanda sihir hitamnya mulai memakan tubuhnya sendiri. Matanya yang merah menyala kini redup, hampir padam.
Beberapa Siren meludah ke arahnya. Beberapa lain hanya menatapnya dengan mata penuh kebencian.
"Ratu pembunuh!" teriak seorang Siren tua. "Kau bunuh suamiku!"
"Kau bunuh anakku!" teriak yang lain.
Aramis tidak menjawab. Ia hanya tertawa — tertawa kecil, pahit, dan hancur — saat tubuhnya diseret ke penjara bawah laut.
Tiga hari kemudian.
Nana berdiri di depan cermin dari batu kaca yang dipoles. Seorang dayang Siren membantunya mengenakan jubah upacara — jubah panjang dari rumput laut emas yang ditenun khusus oleh para perajin Aequoria.
Jubah itu berat. Jauh lebih berat dari yang Nana kira.
"Kau gugup?" tanya Jeno dari belakang. Ia sudah berdiri di pintu kamar, mengenakan seragam upacara Kepala Penjaga — sisik bajunya berwarna perak, melambangkan kesetiaan pada Ratu.
"Gugup," jawab Nana. Suaranya masih serak — Lembah Bisu meninggalkan bekas. Tapi ia sudah bisa bicara. Pelan, kadang pecah, tapi bisa.
Jeno tersenyum. "Kau tidak perlu gugup. Mereka sudah mencintaimu."
"Mereka belum tahu aku," kata Nana. "Mereka hanya tahu aku yang bertarung. Belum tahu aku yang... tidak bisa menghitung pajak."
Jeno tertawa kecil. "Itu urusanku nanti. Aku bisa hitung."
"Kau bisa hitung?"
"Aku Kepala Penjaga. Aku harus bisa menghitung berapa banyak Siren musuh yang aku tebas."
Nana tersenyum — untuk pertama kalinya dalam tiga hari. "Itu bukan hitungan. Itu perkiraan kasar."
"Detail."
Upacara penobatan digelar di alun-alun kota.
Ribuan Siren berkumpul. Beberapa datang dari kerajaan tetangga — Kerajaan Selatan, Kerajaan Barat, bahkan Kerajaan Timur yang jarang ikut campur urusan politik.
Mereka semua ingin melihat Ratu baru Aequoria.
Lira — Siren perempuan pertama yang dibebaskan Nana dari kutukan batu — membawa mahkota di atas bantal dari cangkang kerang. Mahkota itu bukan mahkota tua milik Aramis atau Ruenna. Mahkota itu baru — dibuat oleh para perajin Aequoria dari mutiara dan bunga laut biru, melambangkan awal yang baru.
Lira berenang mendekat, berlutut di depan Nana.
"Nanara Ciel Aequoria," kata Lira, suaranya bergetar. "Kau datang dari daratan, tidak tahu siapa dirimu. Kau bertarung melawan musuh yang lebih kuat. Kau mengorbankan suaramu untuk membebaskan saudara-saudari kami dari kutukan. Kau menyembuhkan yang sakit. Kau memaafkan yang bersalah."
Air mata Lira jatuh.
"Kau pantas menjadi Ratu kami."
Ia meletakkan mahkota itu di kepala Nana.
Para Siren bersorak. Bukan sorak-sorai yang keras dan riuh — tapi sorakan yang pecah dari dada yang sesak. Suara-suara yang terbata, tangis yang tertahan, dan tepuk tangan yang menggetarkan air laut.
Beberapa Siren berlutut. Beberapa menangis. Beberapa hanya tersenyum — senyum lega setelah sepuluh tahun ketakutan.
Nana berdiri di hadapan mereka. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut — tidak sakit, tapi haru.
Ia membuka mulutnya. Suaranya serak. Tapi ia bisa.
"Aku... tidak tahu cara menjadi ratu," katanya. "Aku tidak tahu cara berperang. Aku tidak tahu cara... membuat kerajaan makmur."
Diam.
"Tapi aku tahu satu hal: Aku tidak akan meninggalkan kalian. Aku tidak akan menjadi seperti Aramis. Aku akan belajar. Aku akan berjuang. Aku akan menjadi ratu yang kalian banggakan."
Diam lagi.
Kemudian — seorang Siren tua di barisan depan mulai bertepuk. Perlahan. Satu per satu. Lalu yang lain ikut. Lalu semua.
Aequoria bersorak untuk ratu mereka.
Di samping Nana, Jeno berdiri dengan dada membusung.
Ia tidak pernah membayangkan ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia hanya berpikir: jaga bayi ini. Jangan biarkan dia mati.
Sekarang, bayi itu telah menjadi ratu.
Dan ia — Jeno, Siren biasa tanpa darah biru, tanpa takhta — berdiri di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?" bisik Nana tanpa menoleh.
"Aku pikir," bisik Jeno balik, "bahwa kau terlihat cantik dengan mahkota."
Nana tersenyum kecil. "Kau tidak boleh bilang begitu di depan umum."
"Aku tidak bilang. Aku bisik."
"Sama saja."
"Tidak. Bilang pakai suara. Bisik pakai napas. Ada bedanya."
Nana hampir tertawa. Tapi ia menahannya. Ia adalah ratu sekarang. Ratu tidak tertawa di depan rakyatnya — setidaknya tidak di upacara penobatan.
Tapi di dalam hati, ia tertawa.
Dan di dalam dadanya, Jantung Aequoria berdenyut — bahagia.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang dan semua pidato selesai, Nana duduk sendirian di balkon istana.
Balkon yang sama di mana dulu ia dan Jeno berpelukan setelah pertempuran pertama melawan Aramis.
Balkon yang sama di mana ia memutuskan untuk mencari ayahnya.
Balkon yang sama di mana ia sekarang menjadi Ratu.
Jeno keluar dari balik tirai, membawa mangkuk dari cangkang kerang.
"Kau belum makan," katanya.
"Aku tidak lapar."
"Kau harus makan. Ratu tidak boleh kurus."
Nana menerima mangkuk itu. Sup rumput laut — hangat, gurih, rumah.
"Kau masak ini?" tanyanya.
"Lira yang masak. Aku hanya mengambilnya dari dapur."
"Jadi kau tidak masak?"
"Aku Kepala Penjaga. Tugasku melindungi, bukan memasak."
"Tadi kau bilang kau bisa menghitung."
"Itu berbeda."
Nana tertawa — sungguhan kali ini. Suaranya masih serak, tapi tawanya nyata.
Mereka makan bersama di balkon, ditemani cahaya ubur-ubur raksasa yang perlahan meredup — tanda malam telah tiba.
"Jeno," kata Nana setelah mangkuknya kosong.
"Ya?"
"Terima kasih. Untuk semuanya."
Jeno tidak menjawab.
Ia hanya meraih tangan Nana dan menggenggamnya erat.
Diam mereka — di balkon istana, di bawah laut yang gelap — terasa cukup.