NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Kabut turun begitu rendah, menyelimuti hamparan hijau perkebunan teh seolah-olah desa kecil di lereng gunung ini sedang terisolasi dari dunia luar. Udara sedingin es menusuk hingga ke tulang, namun aktivitas di sekitar Villa Dirgantara sudah mulai berdenyut sejak pukul lima pagi. Sore nanti adalah hari keberangkatan ke Jakarta, dan ketegangan samar mulai terasa di setiap sudut rumah besar itu.

Arlan Dirgantara berdiri di beranda depan, kemeja flanel gelapnya dibiarkan terbuka di bagian kerah, memperlihatkan urat lehernya yang tegas. Di tangannya, secangkir kopi hitam pekat yang masih mengepulkan uap tipis dibiarkan mendingin. Matanya yang tajam tidak berkedip menatap jalan setapak yang menghubungkan bangunan utama dengan paviliun belakang.

Ia sedang menunggu.

Sejak malam di mana ia mendengar isak tangis yang menyayat hati dari balik pintu kayu itu, ada sesuatu yang bergeser di dalam dada Arlan. Sisi skeptisnya yang biasanya selalu curiga terhadap setiap gerak-gerik wanita—warisan dari kehancuran pernikahannya dengan Stella—mendadak tumpul setiap kali berhadapan dengan Gita. Atau lebih tepatnya, Bianca Adytama. Nama asli itu kini terasa seperti sebuah teka-teki yang paling ingin ia pecahkan, sekaligus sebuah wilayah terlarang yang ingin ia kuasai sepenuhnya.

"Tuan Arlan? Semua berkas untuk kunjungan blok utara sudah saya siapkan di dalam mobil."

Suara itu datang dari arah samping. Bianca berdiri di sana, mengenakan seragam pelayan abu-abunya yang khas, dilapisi sebuah kardigan rajut tua berwarna krem yang sudah agak pudar warnanya. Meski penampilannya sangat bersahaja, cara wanita itu berdiri—dengan punggung tegak, tangan bertaut anggun di depan, dan tatapan mata yang jernih namun tenang—selalu berhasil membuat Arlan merasa terintimidasi dalam diam. Aura berkelas itu tidak bisa disembunyikan oleh kain murah sekalipun.

Arlan tidak langsung menjawab. Ia menyesap kopinya perlahan, matanya sengaja menyapu wajah Bianca yang polos tanpa kosmetik.

"Kita tidak pakai mobil," ujar Arlan akhirnya, suaranya berat dan serak khas bangun tidur. "Hari ini kita jalan kaki keliling perkebunan. Saya ingin memeriksa saluran irigasi di blok tengah yang dilaporkan tersumbat. Kamu ikut saya."

Bianca mengernyit kecil, sebuah gerakan halus yang hampir tidak terlihat jika Arlan tidak memperhatikannya dengan teliti.

"Tapi Tuan, jalan ke blok tengah cukup curang dan berlumpur setelah hujan semalam. Bukankah lebih baik Pak Asep saja yang menemani?"

"Pak Asep punya urusan lain di pabrik," potong Arlan cepat, nadanya mutlak dan tidak menerima bantahan. Pria itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja kayu beranda dengan bunyi denting yang tegas. "Dan saya tidak suka mengulang perintah saya, Gita. Bersiaplah dalam lima menit."

Bianca menahan napas sejenak, lalu menundukkan kepalanya patuh. "Baik, Tuan."

Perjalanan menuju blok tengah perkebunan teh terasa begitu sunyi, hanya diiringi oleh suara sepatu mereka yang menginjak tanah basah dan desau angin yang mempermainkan daun-daun teh. Arlan berjalan di depan dengan langkah lebar dan berwibawa, sementara Bianca mengikuti dari belakang, menjaga jarak profesional yang aman.

Namun, Arlan tampaknya sengaja memperlambat langkahnya. Setiap beberapa meter, ia akan berhenti dengan alasan memeriksa kualitas daun teh atau struktur tanah, namun matanya selalu melirik ke arah Bianca, memastikan wanita itu tidak tertinggal atau kesulitan berjalan di medan yang licin.

"Gita!"

Sebuah suara bariton yang ramah mendadak memecah kesunyian di antara mereka. Dari arah jalur setapak yang berlawanan, muncul seorang pria muda mengenakan jaket jins dan sepatu bot karet. Namanya Fajar, putra tertua Pak Haji sekaligus pemilik rumah kontrakan sederhana yang dulu disewa Bianca saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini sebelum bekerja di vila.

Fajar adalah sosok pemuda desa yang tampan, berpendidikan cukup baik karena sempat kuliah di kota besar, dan memiliki senyum yang tulus. Sejak pertama kali melihat "Gita", Fajar tidak pernah menyembunyikan ketertarikannya.

Wajah Bianca sedikit melunak, ia melempar senyum tipis yang sopan. "Kang Fajar. Baru dari pasar?"

"Iya, Neng Gita. Tadi habis bantu Bapak antar pesanan sayur," Fajar melangkah mendekat, mengabaikan atmosfer dingin yang mendadak memancar dari sosok pria bertubuh tegap di samping Bianca. Fajar merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil berisi kue ape, jajanan pasar tradisional yang hangat.

"Ini... tadi ingat Neng Gita suka kue ini pas masih tinggal di rumah Bapak. Masih hangat, dimakan buat pengusir dingin."

Bianca tertegun, ragu untuk menerima. "Ah, Kang Fajar tidak usah repot-repot..."

"Tidak repot sama sekali, Neng. Malah saya sengaja cari tadi—"

"Gita."

Satu kata itu diucapkan Arlan dengan nada yang begitu rendah, hampir seperti geraman harimau yang sedang mengendus bahaya di wilayah kekuasaannya. Pria itu melangkah mundur, menyejajarkan posisinya dengan Bianca, bahkan dengan sengaja menggeser tubuhnya sedikit ke depan sehingga tubuh tegapnya menghalangi pandangan Fajar dari Bianca.

Atmosfer di sekitar mereka mendadak turun drastis. Fajar menghentikan kalimatnya, menatap Arlan dengan tatapan bingung sekaligus segan, sementara Arlan menatap pemuda desa itu dengan sepasang mata yang sedingin es dan penuh intimidasi.

"Maaf, Kang Fajar," ujar Arlan, suaranya terdengar seperti logam yang bergesekan. Tegas, dingin, dan penuh otoritas. "Asisten saya sedang dalam jam kerja. Dia tidak punya waktu untuk mengobrol atau menikmati jajanan pasar."

Fajar menelan ludah, mencoba mempertahankan harga dirinya sebagai seorang laki-laki. "Saya hanya ingin menyapa Neng Gita, Tuan Muda Dirgantara. Kami sudah kenal lama sejak dia pertama kali datang ke desa ini."

"Dulu mungkin iya. Tapi sekarang, dia adalah tanggung jawab saya di Villa Dirgantara," Arlan memajukan tubuhnya satu langkah, membuat Fajar terpaksa mundur secara naluriah. Tangan Arlan bergerak dengan sangat impulsif—sebuah tindakan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Ia meraih pinggang Bianca dari samping, menarik tubuh wanita itu hingga merapat sempurna ke sisi tubuhnya yang kokoh.

Bianca tersentak, matanya membelalak menatap Arlan dari samping. Sentuhan tangan Arlan di pinggangnya terasa begitu protektif, posesif, dan penuh dominasi mutlak yang membuat seluruh sarafnya menegang.

"Dan sebagai pemilik wilayah ini, saya tidak suka jika ada pekerja saya yang diganggu saat sedang bertugas," lanjut Arlan, matanya menyipit tajam, memberikan peringatan yang sangat jelas pada Fajar bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar. "Silakan lanjutkan urusan Anda."

Fajar menatap tangan Arlan yang melingkar erat di pinggang Bianca, lalu menatap wajah Bianca yang tampak kaku. Dengan senyum kecut yang dipaksakan, pemuda itu akhirnya mengangguk.

"Baik, Tuan. Maaf mengganggu. Mari, Neng Gita."

Setelah Fajar melangkah pergi dengan terburu-buru di balik kabut, Bianca segera bergerak melepaskan diri dari cengkeraman tangan Arlan. Napasnya memburu, wajahnya yang tadi pucat kini merona merah karena campuran antara amarah dan debaran aneh yang tak bisa ia kendalikan.

"Apa yang Anda lakukan, Tuan Arlan?!" desis Bianca, suaranya tidak lagi terdengar seperti seorang pelayan yang patuh, melainkan seperti Bianca Adytama yang menuntut penjelasan.

"Itu sangat tidak sopan dan memalukan! Kang Fajar hanya berniat baik!"

Arlan membalikkan tubuhnya, menatap Bianca dengan tatapan yang menyala. Rasa cemburu samar yang sejak tadi membakar dadanya kini meledak menjadi sebuah ketegangan romantis yang sangat intens di antara mereka.

"Berniat baik?" Arlan tertawa sinis, melangkah maju hingga Bianca terpaksa mundur menempel pada sebuah pohon pelindung di tepi kebun teh.

"Pria itu menatapmu seolah-olah dia berhak memilikimu, Gita. Dan aku... aku sangat tidak suka melihat ada orang lain yang mencoba menyentuh apa yang ada di bawah kendaliku."

"Saya bukan barang milik Anda, Tuan!" balas Bianca, dadanya naik turun karena emosi. "Saya hanya bekerja di vila Anda!"

"Kamu adalah asisten pribadiku sekarang. Dan itu berarti, seluruh waktumu, perhatianmu, dan keselamatanmu adalah urusanku," Arlan mencondongkan tubuhnya, mengunci tubuh Bianca dengan kedua tangannya yang bertumpu pada batang pohon di kanan-kiri kepala wanita itu. Jarak mereka begitu dekat hingga Bianca bisa merasakan embusan napas hangat Arlan di permukaan kulit wajahnya.

Aroma parfum sandalwood Arlan bercampur dengan wangi maskulin tubuhnya seolah mengepung seluruh indra penciuman Bianca, membuatnya pening sekaligus terpaku.

"Jangan pernah tersenyum pada pria lain seperti itu lagi, Bianca," bisik Arlan, suaranya melembut namun intensitas posesif di dalamnya justru semakin pekat. "Matamu... senyummu... itu hanya boleh kamu tunjukkan di depanku. Mengerti?"

Bianca menatap langsung ke dalam manik mata Arlan yang gelap. Di sana, ia tidak melihat ketamakan atau kelicikan seperti yang biasa ia lihat pada pria-pria di masa lalunya yang pernah dikenalnya. Di mata Arlan, yang ada hanyalah sebuah luka yang dalam, dibalut oleh ego seorang pria yang ingin melindungi apa yang ia anggap berharga.

"Anda gila, Tuan Arlan..." bisik Bianca lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin malam yang mulai berhembus.

"Mungkin," jawab Arlan, ujung jarinya perlahan terangkat, mengusap lembut pipi Bianca yang dingin karena angin pagi, meninggalkan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh tubuh wanita itu.

***

1
Verawati Naycyl
mulai seru nich..
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!