NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jarak yang Sengaja Diciptakan

Pagi berikutnya datang dengan langit Jakarta yang cerah namun terasa gersang bagi Andra. Sejak pukul tujuh lewat lima belas menit, ia sudah duduk di balik meja administrasi lantai 17. Monitor komputer di hadapannya menampilkan barisan jadwal kegiatan yang padat untuk satu minggu ke depan, namun pikiran Andra tidak sepenuhnya berada di sana. Kejadian kemarin sore, pertemuan dengan Gunawan di lift lantai 15, serta pertengkaran hebat yang ia dengar dari balik pintu kaca, terus berputar seperti rekaman usang di kepalanya.

Andra menatap telapak tangannya sendiri yang bertumpu di atas meja kayu. Ia ingat bagaimana ia sengaja menggunakan kalimat formal yang kaku untuk menolak secara halus tatapan rapuh Nadia kemarin. Ia tahu tindakan itu melukai perasaan bos wanitanya, namun itu adalah satu-satunya benteng yang bisa ia bangun untuk menyelamatkan mereka berdua dari kesalahan yang lebih besar.

Denting lift berbunyi tepat pukul delapan. Andra langsung membetulkan posisi duduknya, menegakkan punggung, dan memasang ekspresi wajah sedatar mungkin.

Nadia melangkah keluar dari lift. Pagi ini ia mengenakan setelah blazer berwarna hitam pekat dengan potongan bahu yang tegas, dipadukan dengan kemeja sutra berwarna senada di dalamnya. Penampilannya sangat tertutup, misterius, dan dingin. Sanggul rambutnya terikat sangat kencang, tidak menyisakan ruang untuk kelemahan sedikit pun. Jejak air mata atau kerapuhan yang Andra saksikan kemarin sore telah menguap tanpa bekas, digantikan oleh topeng pimpinan perusahaan yang angkuh dan tidak tersentuh.

Selamat pagi, Bu Nadia, sapa Andra sambil berdiri dan mengangguk sopan, menjaga agar nada suaranya tetap berada di frekuensi profesional yang konvensional.

Nadia menghentikan langkahnya tepat di samping meja Andra. Ia tidak menoleh secara penuh, hanya melirik sekilas melalui sudut matanya yang tajam. Tatapannya begitu dingin, sedingin es yang membeku di puncak gunung.

Selamat pagi, Andra. Tolong siapkan ruang rapat kecil untuk jam sepuluh nanti. Saya ada pertemuan internal dengan tim kreatif untuk membahas eksekusi produksi iklan kosmetik. Dan jangan lupa, kopi saya letakkan saja di meja kerja seperti biasa, ujar Nadia dengan nada suara yang datar, cepat, dan tanpa ekspresi kehangatan sedikit pun. Panggilan Mbak Nadia yang sempat mereka sepakati kini menguap begitu saja, digantikan oleh formalitas korporat yang kaku.

Baik, Bu. Segera saya siapkan semuanya, jawab Andra patuh.

Nadia melangkah masuk ke dalam ruangannya, dan pintu kaca bergeser menutup dengan bunyi klik yang tegas. Andra mengembuskan napas perlahan setelah wanita itu menghilang di balik dinding kaca yang dilapisi tirai tipis. Jarak yang sengaja ia ciptakan kemarin sore kini dibalas dengan jarak yang jauh lebih lebar oleh Nadia. Ada rasa lega di hati Andra karena dinding pembatas itu telah kembali tegak, namun di sudut batinnya yang lain, ada rasa hampa yang perlahan-lahan mulai mengendap.

Tepat pukul sebelas lewat tiga puluh menit siang, kurir katering eksklusif yang biasa mengantar tas termal hitam berisi dua kotak bekal kembar kembali muncul di lobi lantai 17. Pria paruh baya itu berjalan mendekati meja Andra dengan senyum ramah yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Selamat siang, Mas Andra. Ini kiriman makan siang seperti biasa dari kediaman Ibu Nadia, ucap kurir tersebut sembari mengulurkan tas termal hangat itu.

Namun, sebelum Andra sempat mengulurkan tangan untuk menerima tas tersebut, pintu ruangan Nadia terbuka. Nadia melangkah keluar dengan beberapa lembar dokumen di tangan kirinya. Ia menatap kurir itu, lalu beralih menatap Andra dengan pandangan yang kosong.

Pak, mulai besok dan seterusnya, tolong sampaikan ke bagian dapur di rumah saya untuk membatalkan pengiriman dua porsi makan siang ini. Cukup siapkan satu porsi saja untuk saya, dan tidak perlu diantar ke kantor lagi. Saya akan makan di luar mulai sekarang, potong Nadia dengan suara yang jernih namun terdengar sangat mutlak.

Kurir itu sempat tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. Baik, Ibu Nadia. Instruksi saya catat. Kalau begitu, untuk hari ini bagaimana, Bu?

Berikan saja keduanya pada asisten saya. Saya ada janji makan siang bisnis dengan klien di daerah Senayan, jawab Nadia dingin. Tanpa melihat ke arah Andra sedikit pun, wanita itu melangkah melewati meja depan, berjalan lurus menuju lift eksekutif, dan pergi meninggalkan keheningan yang mencekik di koridor lantai 17.

Kurir tersebut menyerahkan tas termal hitam itu ke atas meja Andra dengan tatapan agak bingung, lalu pamit pergi setelah Andra mengucapkan terima kasih dengan senyum yang dipaksakan.

Andra duduk kembali di kursinya, memandangi tas hitam di hadapannya. Ia membuka ritsleting tas tersebut, mengeluarkan dua kotak bekal bersekat yang terbuat dari baja tahan karat premium itu. Di dalamnya, aroma hidangan mewah kembali menguar, namun kali ini makanan itu tidak lagi membangkitkan selera makannya. Meja marmer putih di dalam ruangan Nadia akan tetap kosong siang ini, dan rutinitas rahasia mereka telah berakhir sepenuhnya.

Andra mengambil salah satu kotak bekal, membukanya, lalu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya secara perlahan. Rasanya hambar, jauh lebih hambar dari nasi merah yang ia keluhkan dua hari lalu. Di tengah kemewahan makanan kota yang ada di hadapannya, Andra mendadak sangat merindukan rumah panggungnya di desa, merindukan oseng tempe buatannya sendiri yang dinikmati bersama ibu dan adiknya di atas tikar pandan yang robek. Di sana, meskipun mereka miskin dan kekurangan, tidak ada jarak yang menyakitkan atau kebohongan moral yang harus ia tanggung setiap hari seperti di bawah atap gedung Apex Media ini.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!