NovelToon NovelToon
25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

25 VS 50 Mertua Sang Don Juan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Beda Usia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang penuh drama, Mahendra bangkit dari kursinya.

Ia kembali mengulurkan tangan kekarnya, menuntun Luna meninggalkan ruang makan yang kini telah sunyi.

Langkah kaki mereka membawa mereka menaiki tangga megah menuju lantai dua, hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berukir mewah.

Begitu pintu terbuka, sebuah kamar utama yang luar biasa luas dan megah langsung tersaji di depan mata.

Kamar itu bernuansa modern klasik dengan ranjang king size beludru kelabu, sofa santai di sudut ruangan, serta jendela kaca besar yang menghadap langsung ke taman belakang istana Dirgantara.

"Ini kamar kita, Luna," ucap Mahendra dengan suara baritonnya yang berat, menutup pintu kamar rapat-rapat hingga menyisakan privasi mutlak bagi mereka berdua.

Pria itu melangkah mendekati sofa, melonggarkan satu kancing teratas kemejanya, lalu berbalik menatap Luna lekat-lekat. "Dan, apa ada yang ingin kamu sampaikan? Sejak tadi di bawah aku perhatikan kamu terus melamun."

Luna baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab, namun fokusnya terpecah saat merasakan getaran di tas kecilnya.

Ponselnya berdering nyaring. Luna buru-buru mengambil ponselnya, menatap layar yang menampilkan sebuah nama, lalu jemarinya bergerak cepat mematikan nada dering tersebut tanpa mengangkatnya.

Mahendra yang memperhatikan gerak-gerik istri kecilnya langsung menaikkan sebelah alisnya yang tebal.

Langkah kakinya yang tegap bergeser, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum maskulinnya yang mahal kembali mendominasi indra penciuman Luna.

"Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Sampai-sampai suamimu kamu hiraukan, hm?" tanya Mahendra dengan wajah penuh tanda tanya.

Luna menelan salivanya dengan susah payah. Ia mendongak, menatap dada tegap Mahendra yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.

"Mas, besok aku sudah mulai bekerja lagi," ucap Luna dengan suara lirih namun tegas.

Ia menunjukkan layar ponselnya yang baru saja menerima pesan singkat.

"Pak Dika sudah memintaku untuk masuk kerja. Proyek yang kemarin tertunda harus segera diselesaikan."

Mendegar nama pria itu disebut, Mahendra tidak marah.

Pria berusia 50 tahun itu justru tertawa kecil—sebuah tawa meremehkan yang penuh dengan pesona arogan khas penguasa bisnis kelas atas.

"Nyonya Mahendra akan bekerja di tempat musuhku?" sindir Mahendra, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang penuh teka-teki.

Luna mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.

"Mas, bukankah dari dulu aku memang bekerja di sana? Bahkan sebelum kejadian kemarin, Papa—maksudku Mas—juga tahu kalau aku adalah sekretaris pribadi Pak Dika."

"Tapi sekarang sudah berbeda, Luna," potong Mahendra cepat.

Ia memajukan wajahnya, mengunci manik mata Luna dengan tatapan yang begitu dalam dan posesif.

"Kamu istriku. Dan kamu harus mendampingiku, bukan Dika."

"Tapi, Mas, aku tidak bisa egois dan keluar begitu saja secara mendadak. Kontrak kerjaku masih berjalan, dan aku punya tanggung jawab di sana," bela Luna, mencoba memberikan alasan rasional sebagai seorang wanita karier yang mandiri.

Mahendra menatap Luna selama beberapa detik, menilai kesungguhan di mata istrinya.

Alih-alih mendebat panjang lebar, sang Don Juan yang selalu mendapatkan apa pun yang diinginkannya ini justru membalikkan badannya dengan santai.

Ia menyambar kunci mobil mewah yang terletak di atas meja nakas.

"Baiklah, ayo sekarang kita temui Dika," ucap Mahendra tanpa keraguan sedikit pun.

"Hah? Sekarang?"

Sebelum Luna sempat memprotes lebih jauh, Mahendra sudah menggenggam tangan istrinya dengan sangat erat.

Dengan langkah lebar dan mantap, ia membawa Luna keluar dari kamar, menuruni tangga, dan langsung menuju ke garasi mobil tanpa memedulikan tatapan heran dari para pelayan yang berpapasan dengan mereka.

Hanya butuh waktu tiga puluh menit bagi sedan mewah Mahendra untuk membelah jalanan kota dan sampai di depan lobi gedung pencakar langit milik Pratama Group—perusahaan kompetitor utama Dirgantara Group yang dipimpin oleh Dika.

Begitu mobil berhenti, Mahendra langsung turun dan membukakan pintu untuk Luna.

Beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung membeku di tempat saat melihat sang titan bisnis, Mahendra Dirgantara, menginjakkan kaki di wilayah musuh besarnya.

Ditambah lagi, pria paruh baya itu dengan sangat protektif merangkul pinggang ramping Luna, menuntunnya masuk menuju lift khusus.

"Mas, apa harus seperti ini?" bisik Luna panik, mencoba melepaskan rangkulan tangan kekar Mahendra di pinggangnya karena merasa menjadi pusat perhatian.

"Kita bisa membicarakannya baik-baik nanti."

Mahendra mempererat rangkulannya, merapatkan tubuh ringkih Luna ke sisi tubuh tegapnya seolah sedang memamerkan barang berharga miliknya kepada dunia.

Ia menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras penuh wibawa.

"Harus, Luna. Karena sekarang kamu adalah istriku, bukan istri Fauzan," sahut Mahendra dengan suara baritonnya yang berat, memberikan penegasan mutlak bahwa mulai hari ini, tidak akan ada satu pria pun di dunia ini—termasuk Dika—yang boleh mengatur atau memiliki kendali atas hidup istrinya.

Pintu ruang kerja CEO Pratama Group yang berlapis kaca tebal itu terbuka lebar.

Dika, pria muda berwajah tampan yang sedang fokus meneliti berkas di balik meja kerjanya, seketika mendongak.

Ekspektasinya untuk melihat sekretaris andalannya datang sendirian runtuh seketika saat matanya menangkap sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang berjalan penuh wibawa di samping Luna.

Dika terkejut ketika melihat mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam ruang pribadinya.

Kehadiran Mahendra Dirgantara di kantornya laksana sebuah anomali besar yang tak pernah ia duga.

Dika bangkit dari kursi kebesarannya, tatapannya beralih pada Luna yang tampak salah tingkah.

"Luna? Bukankah besok kamu baru mulai masuk? Dan, maaf, aku kemarin tidak bisa datang ke pernikahanmu karena ada urusan mendadak di luar kota. Omong-omong, di mana Fauzan?" tanya Dika beruntun, benar-benar buta akan badai yang terjadi di hari pernikahan sekretarisnya itu.

"I-ya, Pak Dika, tapi..." Luna terbata.

Sebelum Luna sempat menyusun kalimat, Mahendra sudah melangkah maju dengan santai.

Tanpa menunggu dipersilakan, pria berusia 50 tahun itu menarik salah satu kursi kulit mewah di hadapan Dika lalu mendudukinya.

Aura dominan sang Don Juan seketika menguasai atmosfer ruangan, membuat Dika otomatis mengatupkan mulutnya.

Dika menghela napas pendek, mencoba menetralisir rasa tegangnya.

Ia kembali duduk di kursinya dan menatap saingan bisnis terberatnya itu dengan kening berkerut.

"Mahendra Dirgantara, ada apa sebenarnya? Sampai-sampai seorang petinggi Dirgantara Group sudi menginjakkan kaki di kantor saya?" tanya Dika sinis, namun tetap tersirat rasa penasaran yang besar.

"Ah, maaf. Aku sampai lupa tidak menyapamu."

Mahendra tertawa kecil—sebuah tawa bariton yang terdengar meremehkan sekaligus penuh kemenangan.

Ia menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran kursi, lalu menatap Dika dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.

"Tidak perlu formalitas, Dika. Aku ke sini hanya ingin meluruskan beberapa hal yang tertunda kemarin," ucap Mahendra dengan nada suara yang teramat tenang.

Tanpa basa-basi lagi, Mahendra mengalirkan penjelasan singkat namun padat mengenai kekacauan di hari pernikahan kemarin.

Dengan gaya bicaranya yang lugas, ia menceritakan bagaimana putranya, Fauzan, kabur bersama wanita lain, dan bagaimana dirinya sendiri yang akhirnya maju menjabat tangan ayah Luna untuk mengambil alih posisi mempelai pria demi menyelamatkan kehormatan keluarga besar.

Dika membelalakan matanya tak percaya. Ia menatap Luna dengan pandangan syok yang luar biasa, mencoba mencari kebohongan di wajah sekretarisnya itu. Namun, melihat Luna yang hanya tertunduk dalam dengan jemari yang bertautan erat, Dika tahu bahwa cerita gila dari mulut Mahendra adalah kebenaran yang mutlak.

"Luna, apa semua ini benar?" tanya Dika.

Luna memberanikan diri mendongak, menatap mata atasannya dengan perasaan campur aduk.

"I-ya, Pak Dika. Beliau, sekarang sudah resmi menjadi suami saya, dan—"

Sebelum Luna sempat menyelesaikan kalimat penjelasannya atau sekadar berpamitan dengan sopan, Mahendra langsung memotong pembicaraannya.

Pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Dika dengan sorot mata sekeras batu karang yang memancarkan otoritas mutlak.

"Buatkan surat pengunduran diri Luna sekarang juga," titah Mahendra tanpa keraguan sedikit pun, nadanya dingin namun telak menusuk harga diri Dika sebagai atasan.

"Karena sekarang, dia adalah Nyonya Mahendra Dirgantara, bukan lagi sekretaris pribadimu yang bisa kamu perintah sesuka hati."

1
tiara
semoga tuan Mahendra dapat diselamatkan,
Mundri Astuti
tendang sekalian duo ular itu Mahendra
Mundri Astuti
tuh kannn mang dah ada rasa si Mahendra..tapi gpp lun, daripada dpt cere, mending yg ini y lun kakap sekalian 😄
my name is pho: 🤭🤭heheh iya kak
total 1 replies
Mundri Astuti
modus aki" 😄

terimakasih thor dah double up 🙏❤️
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Mundri Astuti
lah si Mahendra...itu yg dikirim ke tim IT kau video asli istrimu loh, kamu ga risih...napa bukan byr perempuan lain aja si yg mirip gitu lantas di edit
Mundri Astuti
coba kaya apa y pembalasan mahendra🤔
Mundri Astuti
Alhamdulillah....
tiara
Semoga Mahendra selamat,dan cepat mencari yang menyebabkan dirinya pingsan
Mundri Astuti
mudah"an selamat Mahendra...
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
Fitra Sari
lanjut KK
Mundri Astuti
wayolohhh lunaa
Ita Putri
dih....amnesia anda ya
kan sudah buang Azura anda faizan
Mundri Astuti
ayo Luna tunjukkan klo kamu tuh bisa Badas...
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi
Mundri Astuti
ya ampun Mahendra ...tua" keladi ni mah 😄, bucin abis romannya😛
tiara
terlambat pa Dika,kalah cepat sama ayahnya Fauzan
tiara
Luna sudah mulai merasa nyaman tuh dengan pa suami
Mundri Astuti
Luna dah mulai da rasa ni
Ros 🍂
lanjut Thor 💪🏼
Ros 🍂
pengen getok Mila Thor 🤭
Ros 🍂
Hadirrr Thor, Semangat 💪🏻💪🏻
Ros 🍂: sama-sama kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!