Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM PERTAMA YANG PENUH KERUSUHAN
Malam pertama. Sebuah frasa yang bagi kebanyakan pengantin baru berarti lilin aromaterapi, musik jazz lembut, dan tatapan penuh cinta. Namun bagi Alya, "Malam Pertama" di apartemen mewah klan De Calvi lebih terasa seperti malam pengungsian akibat banjir rob di Jakarta Utara—penuh kepanikan, teriakan, dan benda-benta yang beterbangan.
Alya duduk bersila di tengah tempat tidur king size yang luasnya bisa dipakai untuk main futsal. Dia masih mengenakan gaun pengantin putih gadingnya, tapi hiasan rambutnya sudah dia preteli satu per satu karena bikin kepala cenat-cenut. Di depannya, empat pria yang baru saja sah menjadi suaminya sedang berdiri kaku seperti manekin di etalase toko jas mahal.
"Oke, Bang. Sekarang kita bahas aturan mainnya," ujar Alya sambil menepuk kasur. "Ini kamar gede banget, tapi kalau kita berlima tidur di sini, ini namanya bukan malam pertama, ini namanya asrama haji!"
Etienne, si bungsu yang selalu punya nyali paling besar untuk menggoda, melangkah maju sambil melonggarkan dasinya. Seringainya nakal. "Tapi Alya, sumpah darah tadi mengatakan kita adalah satu. Mana mungkin suami meninggalkan istrinya sendirian di malam yang dingin ini? C'est cruel (Itu kejam)."
"Kejam matamu!" semprot Alya. "Gue ini orang Indonesia, Bang. Kita punya sopan santun. Satu lawan satu aja gue gemeteran, apalagi satu lawan empat kembar begini. Bisa-bisa besok pagi gue berubah jadi geprek!"
Marc terkekeh, membersihkan kacamatanya dengan ujung kemeja. "Tenanglah, Chérie. Kami tidak sebuas yang kau bayangkan. Kami hanya ingin memastikan kau aman. Valois mungkin saja mengirim pembunuh lewat ventilasi atau jendela."
"Alasan! Bilang aja mau modus!" Alya menunjuk Marc dengan jari telunjuknya yang mungil.
Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan keras. Bukan ketukan sopan, melainkan gedoran darurat. Julien, yang posisinya paling dekat dengan pintu, langsung mencabut pistol dari balik jasnya. Gerakannya sangat cepat, seolah itu adalah insting alami.
"Siapa?" tanya Julien dingin.
" Monsieur, ini koki dapur bawah. Ada masalah di gudang makanan!" teriak sebuah suara dari luar.
Lucien mengernyitkan dahi. "Masalah apa?"
"Ada... ada bau menyengat yang membuat semua staf pingsan! Kami pikir ini serangan gas kimia dari klan musuh!"
Mata Alya membelalak. Dia teringat sesuatu. "Aduh mampus! Tas gue!"
Alya melompat dari tempat tidur, hampir saja tersandung gaunnya sendiri, dan berlari menuju tas selempang bututnya yang tergeletak di kursi rias. Dia membongkarnya dengan panik.
"Bang... kayaknya itu bukan gas kimia," gumam Alya sambil mengangkat sebuah botol plastik kecil yang tutupnya sudah pecah karena terhimpit saat pelarian di kastil tadi. "Ini terasi udang super dari pasar induk. Tadi kayaknya pecah pas gue terjungkal di lumpur."
Keempat pria itu terdiam. Aroma itu mulai merembes masuk ke dalam kamar. Bau terasi yang difermentasi dengan sempurna, sangat nikmat bagi pecinta sambal, namun bagi hidung orang Paris yang hanya terbiasa dengan bau keju brie, itu adalah senjata pemusnah massal.
" Putain de merde! (Sialan!)" umpat Etienne sambil menutup hidungnya. "Bau apa ini? Apakah ada iblis yang baru saja mati di dalam tasmu?"
"Enak aja! Ini bumbu paling mahal di dunia kalau lu tahu rasanya!" bela Alya.
Kerusuhan pertama dimulai. Staf keamanan apartemen mulai berlarian di lorong dengan masker gas, mengira ada serangan teroris biologis. Lucien harus keluar untuk menenangkan anak buahnya, sementara Marc sibuk menelepon tim pembersih khusus untuk menangani "tumpahan kimia" di tas Alya.
"Ini malam pertama paling bau dalam sejarah mafia Prancis," gerutu Julien sambil membuka semua jendela lebar-lebar, membiarkan angin malam Paris yang dingin masuk untuk mengusir aroma terasi.
"Maaf ya, Bang. Namanya juga kecelakaan," Alya nyengir tak berdosa.
Setelah drama terasi mereda dan staf apartemen kembali tenang (meski beberapa masih terlihat mual), mereka berlima kembali berkumpul di kamar. Kali ini Alya sudah berganti pakaian. Dia menolak memakai baju tidur sutra yang tipis dan lebih memilih memakai kaos oversize bergambar ayam jago dan celana pendek selutut.
"Kenapa kau memakai baju... mangkuk mie itu?" tanya Lucien yang sekarang sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka.
"Ini namanya daster gaya baru, Bang. Nyaman. Adem," jawab Alya ketus.
"Tapi ini malam pertama kita, Alya," kata Etienne, mencoba mendekati Alya di tempat tidur. "Harusnya ada sedikit... gairah."
"Gairah, gairah! Sini kalau mau gairah!" Alya tiba-tiba mengambil bantal dan memukulkannya ke wajah Etienne dengan keras. BUK!
" Hey! " Etienne terkejut.
"Itu gairah pertama! Mau lagi?!" Alya mengambil bantal lain dan melemparkannya ke arah Marc.
Dalam sekejap, kamar mewah itu berubah menjadi medan perang bantal. Alya berlari di atas kasur, melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja diberi gula berlebih. Marc awalnya mencoba menghindar dengan gaya elegan, tapi setelah kepalanya kena telak oleh bantal bulu angsa, jiwa kompetitifnya muncul.
"Oh, kau ingin bermain perang, Madame? D'accord, kau akan merasakannya," Marc mengambil bantal sofa dan mengejar Alya.
Julien yang biasanya kaku pun tidak luput dari serangan. Alya melempar guling ke arahnya saat dia sedang lengah. Julien menangkap guling itu dengan refleks snipernya, menatap guling itu sejenak, lalu menatap Alya yang sedang tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang merasuki si pendiam itu, dia ikut bergabung dalam kekacauan.
Lucien berdiri di pojok ruangan, menatap keempat orang itu dengan tangan bersedekap. Dia adalah sang Don, pemimpin klan yang paling ditakuti. Harusnya malam ini dia duduk dengan segelas whisky, membahas strategi politik dunia bawah. Tapi di depannya, saudara-saudaranya—pembunuh-pembunuh berdarah dingin—sedang sibuk saling lempar bantal dengan seorang gadis Indonesia yang rambutnya sudah acak-acakan.
"Berhenti," perintah Lucien dengan suara baritonnya.
Semua berhenti. Alya terengah-engah di atas kasur dengan bantal di pelukannya. Etienne sedang menjepit kepala Marc dengan bantal, dan Julien berdiri di atas kursi.
"Lucien, dia yang mulai!" protes Etienne.
Lucien berjalan mendekat. Dia naik ke atas kasur, membuat Alya mundur perlahan karena takut sang singa marah. Lucien mengambil satu bantal yang tersisa di bawah kakinya.
"Kau pikir kau bisa menang melawan empat De Calvi, Alya?" tanya Lucien dingin.
"Eh... Bang... jangan serius-serius dong, kan cuma bercand—"
BUK! Lucien menghantamkan bantal itu ke kepala Alya dengan lembut tapi cukup untuk membuat Alya terjengkang ke belakang.
"SERANG!" teriak Etienne.
Dan meledaklah kerusuhan babak kedua. Kelima orang itu saling pukul menggunakan bantal hingga beberapa bantal pecah dan bulu angsa beterbangan di seluruh kamar, menciptakan efek salju di dalam ruangan. Alya tertawa sampai perutnya sakit, sebuah tawa lepas yang belum pernah dia rasakan sejak menginjakkan kaki di Paris.
Di sela-sela tawa itu, Alya melihat wajah keempat suaminya. Mereka tidak lagi terlihat seperti monster atau penguasa kejam. Mereka terlihat seperti... manusia. Pria-pria yang selama ini dipaksa menjadi mesin pembunuh, kini bisa tertawa hanya karena sebuah permainan konyol.
Setelah satu jam berperang, mereka semua tumbang. Kelimanya berbaring telentang di atas kasur yang sudah berantakan dan penuh bulu. Napas mereka memburu, membelah keheningan malam.
"Gila... capek banget," gumam Alya.
"Ini... lebih melelahkan daripada menembak lima orang dari jarak satu kilometer," sahut Julien sambil mengatur napas.
"Tapi ini menyenangkan," tambah Marc.
Etienne menoleh ke arah Alya. "Kau benar-benar aneh, Alya. Kau mengubah malam pertama yang seharusnya sakral menjadi kerusuhan taman kanak-kanak."
Alya tersenyum, menatap langit-langit kamar. "Daripada tegang-tegangan terus kayak kabel listrik, mending begini kan? Jadi, sekarang siapa yang mau pijitin kaki gue? Pegel nih abis parkour tadi sore."
"Aku tidak memijat kaki orang," kata Lucien tegas.
Lima menit kemudian, Lucien duduk di ujung kasur, dengan kikuk mencoba memijat telapak kaki Alya. Marc duduk di sisi kiri memijat bahu Alya, Etienne di sisi kanan mencoba memijat tangan Alya (meski lebih banyak menggodanya), dan Julien berdiri di dekat jendela, tetap waspada namun matanya sesekali melirik ke arah mereka dengan tatapan yang lebih hangat.
"Bang Lucien, tekanannya kurang kenceng. Kayak nggak makan sebulan aja," keluh Alya.
Lucien menggeram rendah. "Jangan memancing emosiku, Alya, atau aku akan mematahkan kakimu daripada memijatnya."
"Dih, galak amat. Padahal tadi ikutan main bantal."
Di tengah suasana yang mulai tenang itu, tiba-tiba terdengar suara ledakan dari kejauhan. Bukan ledakan besar, tapi cukup untuk membuat getaran tipis di jendela.
Dalam sekejap, atmosfir di kamar itu berubah total. Tawa menghilang. Keempat pria itu bangkit berdiri secara serentak. Pijatan di kaki Alya berhenti. Lucien dan Marc segera mengambil ponsel mereka, sementara Julien sudah berada di balkon dengan teropong bidiknya.
"Apa itu, Bang?" tanya Alya, suaranya kembali kecil.
"Valois," jawab Marc singkat setelah melihat pesan di ponselnya. "Mereka mencoba meledakkan salah satu gudang distribusi kita di pinggiran kota. Itu adalah pesan balasan untuk pernikahan ini."
Lucien memakai jasnya kembali dengan gerakan yang sangat efisien. "Alya, kau tetap di sini. Kamar ini antipeluru dan pintunya tidak bisa dibuka dari luar tanpa kode biometrik kami. Jangan keluar sampai salah satu dari kami menjemputmu."
Alya berdiri, menatap mereka satu per satu. "Kalian mau pergi? Perang lagi?"
Etienne mendekati Alya, mengecup keningnya dengan cepat. "Hanya urusan kecil, Chérie. Kami akan kembali sebelum matahari terbit. Anggap saja ini sebagai 'kembang api' perayaan pernikahan kita."
"Hati-hati ya... Bang Curut semua," bisik Alya.
Julien menoleh sebelum keluar. "Kunci pintunya. Dan... simpan terasimu baik-baik."
Pintu kamar tertutup dan terkunci secara otomatis. Alya berdiri sendirian di kamar luas yang penuh dengan bulu angsa dan aroma samar terasi. Dia berjalan ke jendela, melihat empat mobil hitam melesat keluar dari gedung apartemen dengan kecepatan tinggi.
Dia menghela napas panjang, lalu merebahkan diri di tempat tidur yang berantakan itu. "Malam pertama yang penuh kerusuhan," gumamnya. "Dari bau terasi, perang bantal, sampai ledakan beneran. Selamat datang di kehidupan barumu, Alya. Kayaknya daster motif macan gue emang cocok buat lingkungan begini."
Alya mencoba memejamkan mata, tapi pikirannya tetap tertuju pada empat pria yang baru saja pergi bertaruh nyawa. Dia menyadari bahwa meskipun pernikahan ini diawali dengan kesemprulan dan paksaan, ada sesuatu yang mulai tumbuh di hatinya—sebuah rasa ingin memiliki dan dilindungi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Awas aja kalau mereka pulang lecet-lecet," ancam Alya pada kegelapan. "Gue kasih kompres pake ulekan cabai biar tahu rasa!"
Dan di tengah kesunyian apartemen mewah itu, Alya akhirnya tertidur, memimpikan sebuah rumah di Jakarta yang penuh dengan aroma masakan ibunya, namun kali ini ada empat pria tampan yang sedang antre untuk minta tambah nasi.