NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Ruang rehabilitasi medis rumah sakit pagi itu terasa begitu dingin dan sunyi.

Sinar matahari fajar menembus celah jendela kaca besar, menyinari barisan peralatan besi, matras, dan palang sejajar (parallel bars) yang tampak mengintimidasi.

Bagi orang awam, tempat ini adalah ruang pemulihan. Namun bagi Diandra, ruangan ini adalah medan pertempuran pertamanya setelah kembali ke tubuh aslinya.

Dua orang fisioterapis senior dan seorang dokter spesialis rehabilitasi fisik sudah berdiri siaga di samping matras.

Tuan Bayu memantau dari sudut ruangan dengan Gurat kecemasan yang mendalam di wajah tuanya.

"Nyonya Diandra, kita akan memulai dengan stimulasi otot pasif dan latihan pembebanan ringan terlebih dahulu," ujar dokter dengan nada hati-hati.

"Mengingat raga Anda telah membeku selama lima tahun, persendian Anda mengalami kaku kronis dan otot-otot kaki Anda mengalami atrofi yang cukup parah. Sesi ini akan terasa sangat berat, jadi tolong katakan jika Anda sudah tidak kuat."

Diandra tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menganggukkan kepalanya dengan tegas. Sorot mata aslinya memancarkan tekad yang mutlak.

Dengan dibantu oleh kedua terapis, tubuh tirus Diandra perlahan dipindahkan dari kursi roda ke atas matras latihan.

"Baik, kita mulai dengan peregangan tendon Achilles dan otot betis. Tarik napas dalam-dalam, Nyonya..."

Begitu terapis mulai mendorong telapak kaki Diandra ke arah dalam untuk merenggangkan otot ototnya yang telah lama memendek, rasa sakit yang luar biasa seketika meledak.

Rrrrgh!

Diandra mencengkeram sisi matras kulit itu hingga jemarinya memutih.

Sensasinya luar biasa menyiksa, seolah-olah barisan jarum gelondongan yang membara sedang ditusukkan beramai-ramai ke dalam serat otot dan sendi pergelangan kakinya.

Otot-ototnya yang atrofi selama beberapa waktu menimbulkan rasa sakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Keringat dingin langsung bercucuran membanjiri pelipis dan membasahi baju rumah sakit yang ia kenakan.

"Tahan, Nyonya... sedikit lagi. Satu, dua, tiga..." terapis terus menghitung, memberikan tekanan konstan yang membuat seluruh tubuh Diandra bergetar hebat menahan perih.

Napas Diandra memburu, memutus pasokan udara di paru-parunya.

Rasa sakit fisik ini begitu nyata, seolah-olah tubuhnya menolak untuk dibangunkan dari tidur panjangnya.

Pada detik kelima belas, rasa kaku dan nyeri yang menjalar hingga ke pinggang membuat Diandra sempat memejamkan mata rapat-rapat.

Benaknya berbisik, memintanya untuk berhenti. Raga aslinya terlampau lemah untuk menanggung siksaan ini.

Namun, tepat ketika ia merasa ingin menyerah dan menghentikan sesi latihan, Diandra membuka kembali kelopak matanya.

Ia memalingkan wajahnya yang basah oleh peluh ke arah jendela kaca besar yang membatasi

ruang rehabilitasi dengan koridor luar.

Dari posisi matrasnya, ia bisa melihat dengan jelas pintu ganda ruang ICU tempat Pratama dirawat yang berada tepat di seberang lorong.

Di balik kaca steril ruang ICU itu, siluet tubuh tegap suaminya yang terbaring kaku dikelilingi kabel medis tampak samar-samar terlihat.

Pemandangan itu seketika memicu detak jantung Diandra untuk berpacu lebih liar.

Ingatan tentang punggung Pratama yang hancur melepuh demi menjadikannya tameng hidup malam itu kembali berputar seperti film di benaknya.

Pengorbanan Pratama, air mata yang tumpah di gudang berkarat, dan janji mereka di alam bawah sadar seketika membakar seluruh semangatnya yang sempat meredup.

‘Aku tidak boleh kalah oleh rasa sakit ini. Mas Pratama bertaruh nyawa untuk membawaku kembali ke tubuh ini,’ batin Diandra, amarah dan cintanya menyatu menjadi bahan bakar yang menggelegak di dalam dada.

Diandra memejamkan matanya kembali selama satu detik.

Kali ini, ia tidak lagi melihat kegelapan. Di dalam benaknya, ia membayangkan kalau suaminya ada di sampingnya.

Ia bisa merasakan bayangan kehangatan tangan besar Pratama yang kekar sedang menggenggam erat jemarinya, memberikan kekuatan spiritual yang tak kasat mata. Ia seolah mendengar suara bariton Pratama yang berbisik rendah di telinganya: “Berdirilah, Diandra. Aku menunggumu.”

Sentuhan imajiner itu terasa begitu nyata, menghapus segala keraguan di hatinya.

Diandra membuka matanya lebar-lebar, menatap langsung ke arah kedua kakinya yang sedang ditekan paksa oleh terapis.

"M-mas... aku bisa. Aku pasti bisa..." gumam Diandra dengan suara yang bergetar hebat namun sarat akan penekanan mutlak.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Diandra justru balik menekan kakinya, melawan arah dorongan terapis untuk memaksa otot-otot betisnya bekerja kembali.

Tindakan nekat itu membuat rasa sakitnya berlipat ganda hingga air mata Diandra menetes melewati pelipisnya, namun ia tidak lagi mengerang.

Ia menelan bulat-bulat rasa perih itu.

Kedua terapis itu sempat terkesiap melihat lonjakan kemauan yang begitu masif dari pasien yang baru bangun dari koma lima tahun.

Tuan Bayu yang menyaksikan dari sudut ruangan hanya bisa membekap mulutnya sendiri, menahan tangis haru sekaligus bangga melihat keras kepalanya sang putri yang diwarisi dari dirinya.

Sesi terapi fisik pertama yang menyiksa itu terus berlanjut selama satu jam penuh.

Diandra tidak meminta jeda sepeser pun. Setiap kali ototnya menjerit kesakitan, matanya akan kembali mengarah pada ruang ICU Pratama, mengunci pandangannya pada satu-satunya alasan mengapa ia harus kembali berdiri tegak di atas dunia ini.

Mita dan Ferdian mengira mereka telah memenangkan permainan, namun mereka tidak tahu bahwa singa betina yang asli telah bangun dan sedang mengasah cakarnya dengan rasa sakit.

Baru saja Diandra menyelesaikan sesi terapinya yang melelahkan dan kembali dipindahkan ke atas kursi roda, suasana tenang di lantai khusus ICU itu pecah berkeping-keping.

Biiiiiip! Biiiiiip! Biiiiiip!

Suara lengkingan alarm dari dalam ruang ICU Pratama mendadak berbunyi konstan dengan nada tinggi yang memekakkan telinga. Itu bukan lagi bunyi detak jantung yang melambat, melainkan sinyal bahaya absolut.

"Dokter! Pasien mengalami fibrilasi ventrikel! Detak jantungnya tidak beraturan dan tekanan darahnya merosot drastis!" teriak perawat dari dalam ruangan melalui interkom.

Pintu ganda ruang ICU digebrak kasar dari dalam. Tiga orang dokter spesialis jantung dan barisan perawat bergegas berlari menerobos masuk dengan membawa troli darurat berisi obat-obatan dosis tinggi dan alat kejut jantung.

Tirai-tirai pembatas langsung ditarik menutup, menyembunyikan raga Pratama yang mulai kejang akibat pasokan oksigen ke otak yang terputus total.

"Mas Pratama?!"

Jantung Diandra serasa berhenti berdetak detik itu juga.

Tanpa memedulikan rasa sakit yang masih membakar otot-otot kakinya, Diandra memutar paksa roda kursi rodanya dengan tangan telanjang, mendorong dirinya secepat mungkin hingga menempel pada dinding kaca tebal yang membatasi ruang ICU.

"Nyonya Diandra, Anda tidak boleh mendekat! Tolong mundur, Nyonya!" Diko yang baru saja tiba mencoba menahan kursi roda Diandra, namun wanita itu mencengkeram pembatas besi dengan kekuatan yang luar biasa.

Diandra mengabaikan semuanya. Kedua telapak tangannya menempel erat pada kaca steril yang dingin.

Dari celah tirai yang sedikit terbuka, ia bisa melihat dada suaminya kembali dihantam oleh lempeng defibrillator.

Tubuh tegap itu tersentak kasar, namun grafik di layar monitor di atasnya justru bergerak acak, kacau, dan perlahan-lahan mulai membentuk garis lurus yang mematikan.

Biiiiiiiiiiiiiiiiiip...

Garis itu mendatar. Pratama kembali kehilangan detak jantungnya.

"Satu kali lagi! Naikkan dosis epinefrin! Charge to 200 joules! Clear!" seru suara dokter yang terdengar samar dari balik dinding kedap suara.

Melihat tubuh suaminya yang tak berdaya itu dipermainkan oleh maut untuk kesekian kalinya, pertahanan emosional Diandra runtuh sepenuhnya.

Jiwanya yang semula sekeras baja seketika retak. Ia tidak lagi mampu menahan air matanya. Diandra menangis sesenggukan, bahunya berguncang hebat, dan dadanya terasa seperti ditarik paksa hingga berdarah dari dalam.

"Mas... kumohon... jangan seperti ini," isak Diandra, suaranya parau dan bergetar hebat.

Air matanya membasahi permukaan kaca, menghalangi pandangannya yang kian mengabur oleh keputusasaan.

Ia mengingat bagaimana jiwa mereka sempat berpelukan di alam bawah sadar, bagaimana Pratama berjanji akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke pelukannya. Namun kini, pria itu justru melangkah semakin jauh menuju kegelapan.

"Buat apa aku hidup, Mas. Kalau kamu meninggal dunia?" jerit Diandra lirih di sela tangis sesenggukannya. Suaranya terdengar begitu rapuh, kehilangan seluruh keangkuhan seorang nyonya besar.

"Aku berjuang menahan rasa sakit ini, aku memaksa tubuhku untuk bangun dan berjalan lagi, semuanya hanya untuk bersamamu! Jika kamu pergi, untuk apa semua raga ini kembali?!"

Diko yang berdiri di belakangnya terpaksa memalingkan wajah, tidak tega melihat pemandangan yang begitu menyayat hati.

Seorang Diandra yang begitu ditakuti oleh lawan-lawannya, kini bersimpuh di atas kursi roda, mengemis pada takdir agar tidak merenggut nyawa suaminya.

Di dalam ruangan, dokter kembali menempelkan alat kejut jantung ke dada Pratama untuk ketiga kalinya.

Detik-detik itu berjalan seperti siksaan abadi bagi Diandra yang terus menatap lurus ke dalam, bersiap menyerahkan seluruh sisa hidupnya jika garis di layar monitor itu benar-benar tidak lagi kembali meliuk.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!