Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Aula distribusi tugas dan sumber daya
Di atap asrama yang miring, bayangan Han Gu perlahan memudar, menyatu dengan kabut pagi yang dingin. Matanya tetap terpaku pada jendela kamar Xiao Chen selama beberapa detik terakhir.
"Tapi... Untuk sekarang aku akan mengawasi anak ini seperti yang diperintahkan Patriark. Aku tidak boleh gegabah karena aku hanya tahu ciri-cirinya dari kisah legenda Pedang Iblis Surgawi," bisik Han Gu pada angin malam.
Sebagai instruktur pengawas yang telah mengabdi selama puluhan tahun, Han Gu tahu bahwa kecurigaan tanpa bukti di Sekte Pedang Langit bisa berujung pada bencana politik.
Lagi pula, di dalam ruangan itu bukan hanya ada Xiao Chen, melainkan beberapa murid luar lainnya yang mendengkur keras.
"Yah, lagi pula kebanyakan pengguna pedang tersebut sebelumnya banyak yang mati antara diburu atau dilahap oleh haus darah pedang itu sendiri. Kita lihat saja," gumamnya sebelum menghilang dalam sekejap mata, meninggalkan keheningan di atap asrama.
Matahari pagi mulai menyelinap melalui celah-celah kayu asrama yang lapuk.
Xiao Chen membuka matanya, merasakan aliran energi yang sedikit lebih segar mengalir di meridiannya.
Tubuhnya terasa ringan, sebuah sensasi yang jauh berbeda dari rasa lelah yang biasanya ia rasakan di Desa Bambu.
"Kakek Roh, apa sebentar lagi aku akan mencapai ranah Pendekar Pemula?" tanya Xiao Chen dalam benaknya.
"Ya, sedikit lagi. Tapi ingat, jangan memaksakan kultivasi dulu sekarang. Aku yakin akan ada latihan kultivasi massal nanti. Hati-hati, jangan sampai gegabah menunjukkan Qi-mu yang 'berbeda' itu," jawab suara serak di dalam jiwanya.
Xiao Chen bangkit perlahan, melirik ke arah Bao Hu dan dua murid lainnya yang masih terlelap. Sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepalanya. "Kalau dipikir-pikir... kenapa Kakek Roh tidak melarangku pergi ke sekte ini jika memang sebahaya itu?"
Roh Pedang berdeham, suaranya terdengar agak malu. "Aku lupa-lupa ingat. Mungkin karena aku sudah terlalu banyak berganti-ganti pemilik dalam ribuan tahun ini, memoriku agak berantakan. Tapi hei, tidak ada salahnya kau belajar di sini. Selagi kau tidak menunjukkan potensi bahaya yang mencolok, mereka tidak akan membunuhmu. Mungkin."
Xiao Chen hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban tidak pasti itu. Tiba-tiba...
DONGGGG! DONGGGG!
Lonceng pagi menggelegar, mengguncang dinding asrama. Bao Hu yang sedang bermimpi indah mungkin sedang memeluk paha ayam raksasa langsung tersentak dan jatuh dari kasurnya dengan bunyi BRUK yang keras.
"Aduh! Tidak! Dagingku... hilang!" keluh Bao Hu sambil memegangi pantatnya yang mendarat duluan di lantai keras. Ia mendongak, melihat Xiao Chen yang sudah rapi. "Xiao Chen, kau sudah bangun?"
"Barusan. Sepertinya kita harus segera siap-siap, Bao. Hari pertama dimulai sekarang."
Langkah kaki ratusan murid baru memenuhi jalan setapak menuju Aula Distribusi. Xiao Chen dan Bao Hu berjalan di antara kerumunan, mendengarkan bisik-bisik yang penuh ambisi.
"Aku mendengar kita harus pergi ke Aula Distribusi Tugas dan Sumber Daya untuk mengambil jatah pertama kita," ucap seorang murid di depan mereka.
"Iya, kita akan mengambil Batu Qi!"
Bao Hu menyenggol lengan Xiao Chen. "Ada peraturan tidak tertulis di sekte ini, Bung. Yang kuat bisa mengambil sumber daya yang lemah. Entah dirampas diam-diam atau melalui duel paksa. Petinggi sekte tidak terlalu peduli dengan urusan murid luar, kecuali mereka punya potensi besar."
Xiao Chen menatap Bao Hu dengan kagum. "Kau benar-benar berwawasan luas, Bao. Aku merasa seperti buta tanpa penjelasanmu."
"Hehe, itu gunanya teman, kan? Aku banyak mendengar cerita dari para pengembara yang singgah di desaku dulu."
Sesampainya di aula, pemandangan diskriminasi itu terlihat jelas. Penjaga aula melayani Murid Inti dan Murid Dalam dengan senyum ramah, memberikan mereka pil-pil dalam botol giok cantik. Namun, saat sampai di bagian Murid Luar, penjaganya tampak cuek dan bahkan tidak mendongak.
"Ambillah Batu Qi Kualitas Rendah ini dan seragam abu-abu kalian. Jangan sampai lencana identitas ini hilang jika tidak mau dihukum kerja paksa!" bentak penjaga itu sambil melemparkan bungkusan ke meja.
"Haha, lihat para pecundang itu. Menyedihkan sekali," ejek seorang Murid Dalam yang lewat, mengenakan jubah biru cerah.
"Kau benar. Sudah miskin, bakat pun tidak ada. Hanya membuang-buang sumber daya sekte saja."
Xiao Chen tetap diam, wajahnya tenang meski hatinya berdenyut. Ia sudah biasa dengan tatapan itu. Saat gilirannya tiba, penjaga itu menatapnya dengan sangat sinis, seolah-olah mencium bau kemiskinan dari pakaian tambalan Xiao Chen.
"Ck, ambillah. Cepat pergi, kau menghalangi jalan," usir penjaga itu.
Xiao Chen menerima dua butir batu kusam dan seragam kasar itu tanpa sepatah kata pun. Baginya, ini adalah awal. Ia meraba bekal dari ibunya di pinggangnya, merasa sedikit hangat. "Aku hampir lupa memakannya. Nanti, setelah ini..."
Begitu mereka keluar dari aula, sebuah bayangan besar menghalangi jalan mereka. Zhao Kun, senior murid luar yang kemarin, berdiri di sana bersama tiga orang pengikutnya.
"Hei, lihat siapa ini? Anak kemarin yang berani berlagak pahlawan. Siapa namamu, Adik Seperguruan?" Zhao Kun melangkah maju, memamerkan otot lengannya yang sudah terlatih.
Xiao Chen waspada, menempatkan Bao Hu sedikit di belakangnya. "Maaf, Senior. Tapi kami harus segera kembali ke asrama."
"Tunggu dulu! Sudah mendapatkan sumber daya, kan? Berikan milik kalian, minimal satu batu per orang! Sekarang! Anggap saja ini pajak untuk tetap bisa berjalan dengan dua kaki di sini," ancam Zhao Kun.
"Maaf, Senior. Tapi ini milik kami," jawab Xiao Chen tegas.
"Kau lagi, kau lagi!" Zhao Kun kehilangan kesabaran. Tanpa peringatan, ia berlari dan melompat, melayangkan tendangan ke arah wajah Xiao Chen.
Xiao Chen secara naluriah mengangkat tangan untuk menangkis, memejamkan mata bersiap menerima benturan. Namun, suara yang terdengar justru adalah suara erangan dari belakangnya.
BRUK!
Bao Hu terhempas jatuh ke belakang, berguling beberapa meter karena tendangan Zhao Kun mendarat telak di perutnya. Bao Hu berusaha melindungi Xiao Chen, namun ia justru yang menjadi korban.
"Rasakan itu, Babi! Salahkan saja pada temanmu yang sok jagoan ini!" Zhao Kun terkekeh puas.
Melihat Bao Hu yang meringkuk kesakitan di tanah, memori kelam Xiao Chen meledak. Ia teringat saat ia dipukuli oleh Feng Lin di Desa Bambu, sementara orang-orang hanya menonton. Ia teringat ibunya yang dihina.
"Kau...!" suara Xiao Chen bergetar. Tatapan matanya yang tadinya tenang kini berubah menjadi tajam dan penuh amarah yang membara.
Zhao Kun justru tersenyum lebar. Ia memang ingin memancing emosi Xiao Chen. Di sekte ini, menyerang lebih dulu tanpa alasan bisa dihukum, tapi jika Xiao Chen yang menyerang karena provokasi, Zhao Kun bisa berdalih melakukan "pembelaan diri" sambil menghajar anak baru itu.
"Kalau kau marah... serang aku! Ayo!" tantang Zhao Kun.
Xiao Chen mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya memutih. Amarahnya hampir meluap, namun ia menarik napas panjang, mencoba mengingat kata-kata penyair itu lagi. "Dalam tenang, kekuatan terpahat..."
"Ayo, Bao. Kita pergi." Xiao Chen mengulurkan tangan, membantu Bao Hu bangkit. Ia tahu ini adalah jebakan.
"Aku... aku baik-baik saja, Xiao," bisik Bao Hu, meski wajahnya pucat karena menahan sakit.
Saat mereka berdua berjalan membelakangi Zhao Kun, sang senior merasa harga dirinya diinjak-injak. Diabaikan oleh seorang murid baru yang miskin adalah penghinaan tertinggi baginya. Ia teringat kegagalannya sendiri untuk menjadi Murid Dalam, dan rasa frustrasi itu ia tumpahkan semuanya pada punggung Xiao Chen.
"SIALAN!"
Zhao Kun berlari dengan kecepatan penuh. Ia tidak lagi sekadar memprovokasi. Ia melayangkan pukulan keras tepat saat Xiao Chen berbalik karena mendengar deru langkah kaki.
BUG!!!
Pukulan yang diperkuat sedikit Qi itu mendarat telak di pipi Xiao Chen, membuatnya terpental jatuh ke tanah. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya.
Beberapa murid yang keluar dari aula berhenti untuk menyaksikan. Feng Lin, yang sedang bersama teman-temannya di paviliun atas, menatap ke bawah dengan senyum puas. "Hajar dia sampai mati, Senior Zhao! Tunjukkan tempat yang pantas untuk sampah itu!"
"Xiao Chen!" Bao Hu berteriak panik, berusaha merangkak mendekat.
Xiao Chen bangkit perlahan. Kepalanya berdenyut, dan telinganya berdenging. Namun, rasa sakit di pipinya tidak sebanding dengan rasa muak yang memenuhi dadanya. Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.
"Senior..." Xiao Chen berdiri tegak. Auranya berubah. "Bukan berarti karena kami murid baru... kau bisa seenaknya menindas kami!"
Xiao Chen melepaskan tangan Bao Hu yang mencoba menahannya. Ia berlari. "Aku muak dengan semua orang yang suka menindas dan menghina!"
Zhao Kun berteriak penuh semangat, tangan kanannya berpendar dengan cahaya Qi yang samar sebuah teknik Ranah Pemula. Sementara itu, Xiao Chen berlari dengan tangan kosong, tanpa Qi yang terlihat, hanya bermodalkan tekad murni yang membara.
Saat kedua kepalan tangan itu hampir beradu di udara, waktu seolah melambat.