Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Di Balik Gaun
Kanaya berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang dibalut gaun malam berwarna biru elektrik, warna yang Arkan pilihkan tanpa bertanya seleranya. Gaun itu sangat indah, namun baginya, itu terasa seperti rantai yang dipoles. Di dalam tas kecilnya, foto pengkhianatan Arkan tersimpan rapi. Malam ini bukan sekadar gala dinner; malam ini adalah pelariannya.
"Sudah siap?" Arkan muncul. Ia berdiri di belakang Kanaya, menatap pantulan mereka di cermin. "Warna itu cocok untukmu. Membuatmu terlihat mahal."
Kanaya tidak tersenyum. "Terima kasih atas pujian harganya, Arkan."
Arkan mengabaikan sindiran itu dan menyampirkan kalung berlian ke leher Kanaya. Jarinya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Kanaya, membuat wanita itu refleks menegang. "Ingat, malam ini ada klien dari Singapura. Mereka sangat tradisional. Jangan tunjukkan sikap membangkangmu itu kalau tidak mau kontrak bisnisku berantakan."
Apa peduliku dengan bisnismu? gumam Kanaya dalam hati. "Aku mengerti. Ayo pergi."
Gala dinner diadakan di ballroom hotel bintang lima. Ruangan itu dipenuhi orang-orang kelas atas yang saling melempar senyum palsu. Arkan merangkul pinggang Kanaya dengan posesif sepanjang malam, memperkenalkannya sebagai "sosok di balik kesuksesannya".
"Pak Arkan, istri Anda benar-benar mempesona," puji Mr. Tan, klien dari Singapura. "Kabarnya kalian sudah lama bertunangan ya?"
Arkan tersenyum lebar, jemarinya mengusap pinggang Kanaya. "Benar, Mr. Tan. Kanaya adalah alasan saya bekerja keras selama ini. Kami hanya lebih suka menjaga privasi."
Kanaya hanya bisa mengangguk pelan. Setiap kali Arkan menyentuhnya, ia merasa ingin berteriak. Namun, matanya terus melirik jam di dinding. Pukul 20.30. Ia harus segera pergi sebelum jam 10 malam.
"Arkan, aku perlu ke toilet sebentar," bisik Kanaya saat Arkan sedang asyik membahas masalah saham.
Arkan meliriknya tajam, menyelidiki. "Jangan lama-lama. Sepuluh menit lagi kita harus naik ke panggung untuk sesi foto."
"Aku perempuan, Arkan. Memperbaiki riasan butuh waktu," sentak Kanaya pelan agar tidak menarik perhatian.
Arkan melepaskan rangkulannya. "Janu akan menunggumu di depan pintu toilet. Jangan macam-macam."
Kanaya berjalan cepat menuju area toilet wanita yang terletak di lorong sepi. Benar saja, Janu sudah berdiri di sana seperti patung. Kanaya masuk ke dalam, mengunci pintu bilik, dan segera mengganti sepatu hak tingginya dengan sepatu flat yang sudah ia sembunyikan di dalam tas besar yang ia titipkan di loker hotel sebelumnya—dengan bantuan seorang pelayan yang ia suap dengan sisa uang tabungannya.
Ia keluar melalui pintu servis di bagian belakang toilet yang biasanya digunakan petugas kebersihan. Dengan jantung yang berdegup kencang, Kanaya berlari menuruni tangga darurat dan keluar menuju parkiran belakang.
Ia memesan taksi online dengan ponsel cadangan yang ia beli diam-diam. Tujuannya satu 'Kafetaria Rumah Sakit Medika.'
Pukul 21.50, Kanaya sampai di kafetaria yang sudah mulai sepi. Ia duduk di sudut paling gelap, menutupi wajahnya dengan syal gaun malamnya. Tak lama kemudian, seorang pria dengan jaket kulit hitam dan topi rendah duduk di depannya.
"Kamu datang tepat waktu," ucap pria itu. Suaranya serak dan berat.
"Siapa kamu? Dan kenapa kamu punya foto itu?" Kanaya langsung menodong dengan pertanyaan.
Pria itu membuka topinya sedikit. Kanaya terperangah. "Vandiko?"
"Bukan, bodoh. Aku asisten pribadi Vandiko yang dia pecat kemarin karena Arkan menghancurkan keluarga Alister," pria itu mendesis. "Aku punya semua akses ke file Vandiko. Foto itu diambil saat Arkan melakukan kesepakatan gelap dengan rival perusahaannya sebulan sebelum ayahmu ditangkap."
"Apa maumu?"
"Aku mau uang. Dan aku tahu kamu mau bukti untuk menjatuhkan suamimu yang iblis itu," pria itu menyodorkan sebuah flashdisk. "Di sini ada rekaman suara saat Arkan memerintahkan orang untuk memanipulasi komputer ayahmu. Harganya sepuluh miliar."
"Sepuluh miliar? Aku tidak punya uang sebanyak itu!" Kanaya berteriak tertahan.
"Minta pada Arkan. Dia kaya raya, kan? Bilang saja untuk belanja tas. Aku beri waktu dua hari. Kalau tidak, flashdisk ini akan aku berikan pada dewan komisaris yang membenci Arkan. Kamu tahu apa artinya? Ayahmu tetap akan masuk penjara karena kasusnya akan dibuka kembali sebagai konspirasi bersama."
Kanaya merasa dunianya runtuh. Ia terjepit di antara dua monster. "Tolong, beri aku waktu..."
"Dua hari, Kanaya. Atau semuanya hangus." Pria itu berdiri dan menghilang di kegelapan parkiran.
Kanaya terpaku, menggenggam tasnya dengan tangan gemetar. Ia harus segera kembali ke hotel sebelum Arkan menyadari kepergiannya.
Pukul 22.15, Kanaya menyelinap kembali melalui pintu servis toilet. Ia mengganti sepatunya dan merapikan rambutnya yang berantakan. Saat ia keluar dari pintu toilet, Janu masih berdiri di sana, namun wajah asisten itu tampak sangat pucat.
"Mbak Kanaya... dari mana saja?" bisik Janu.
"Aku kan sudah bilang, aku di dalam," jawab Kanaya mencoba tenang.
"Pak Arkan sudah tahu. Beliau sedang menunggu di dalam mobil."
Lutut Kanaya nyaris lemas. Ia berjalan mengikuti Janu menuju mobil mewah yang terparkir di depan lobi. Di dalam, Arkan duduk dengan suasana yang sangat mencekam. Lampu interior mobil dimatikan, hanya menyisakan keremangan dari lampu jalan.
"Masuk," perintah Arkan singkat.
Kanaya duduk di sampingnya. Begitu pintu tertutup, Arkan langsung mencengkeram rahang Kanaya dengan tenaga yang sanggup meremukkan tulang.
"Dari mana kamu?" desis Arkan. Suaranya sangat rendah, tanda bahwa amarahnya sudah di puncak.
"Aku... aku di toilet, Arkan."
"Bohong!" Arkan melemparkan sepatu hak tinggi Kanaya yang tertinggal di bilik toilet ke arah lantai mobil. "Petugas kebersihan menemukannya. Dan CCTV di pintu servis memperlihatkan seorang wanita dengan gaun biru keluar dari sana. Mau coba bohong lagi?"
Kanaya terdiam, napasnya memburu. Ia tidak bisa berkutik.
"Siapa yang kamu temui? Apa kamu menghubungi Vandiko?" Arkan mendekatkan wajahnya, matanya berkilat penuh amarah dan kecemburuan yang aneh.
"Bukan urusanmu!" Kanaya balas berteriak, mencoba melepaskan cengkeraman Arkan.
Arkan justru semakin menekan rahang Kanaya. "Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku! Aku sudah memperingatkanmu, Kanaya. Jangan bermain api denganku. Kamu pikir kamu bisa menjatuhkanku dengan cara picik ini?"
Arkan merampas tas kecil Kanaya dan menggeledahnya. Ia menemukan foto yang tadi diberikan pria misterius itu. Arkan menatap foto itu sejenak, lalu tertawa mengejek. Ia merobek foto itu menjadi potongan-potongan kecil di depan wajah Kanaya.
"Kamu pikir kertas sampah ini bisa menghancurkanku? Aku yang memiliki hukum di kota ini, Kanaya!"
"Kamu jahat, Arkan! Kamu menjual perusahaanmu sendiri dan menjebak Ayah!"
Arkan terhenti sejenak, lalu menyeringai licik. "Ya, aku melakukannya. Lalu apa? Kamu tidak punya bukti selain robekan kertas ini. Dan sekarang, karena pembangkanganmu, aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."
Arkan menekan tombol interkom ke arah supir. "Janu, arahkan mobil ke rumah lama Kanaya sekarang. Aku ingin Nyonya Arkan melihat bagaimana aku bisa menghentikan kehidupan seseorang."
"Jangan! Arkan, aku mohon! Jangan sakiti Ayah!" Kanaya berlutut di lantai mobil, memegang kaki Arkan sambil menangis histeris.
Arkan tidak peduli. Ia menatap ke luar jendela dengan wajah dingin seolah-olah permohonan Kanaya adalah angin lalu. "Kamu yang memulai permainan ini, Kanaya. Sekarang, nikmati hasilnya."
Kanaya meratap di kaki Arkan, menyadari bahwa pelariannya malam ini justru membawa ayahnya ke pintu kematian. Ia menyadari satu hal yang terlambat. Arkan tidak hanya memiliki hartanya, tapi dia memiliki setiap napas orang-orang yang Kanaya cintai.