NovelToon NovelToon
IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

IN THE NAME OF LOVE: Saat Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: BYNK

‎Menikah dengan pria yang dicintai jutaan orang adalah mimpi yang bahkan tak pernah berani Nala Aleyra Lareina harapkan. Ia hanya seorang penulis asal Indonesia—dikenal karena karya-karyanya yang menyentuh jutaan hati.

Tapi dunia berkata lain.

‎Pertemuannya dengan Kim Namjunho, idol ternama Korea, terjadi tak terduga. Yang semula hanya sorotan kagum… berubah menjadi kisah penuh perjuangan.

‎Junho lelah menjadi bayangan sempurna yang dielu-elukan semua orang. Dalam Nala, ia menemukan rumah—bukan penggemar, bukan sorotan, melainkan perempuan nyata yang mencintainya sebagai manusia biasa.

‎Namun cinta tak cukup. Mereka menikah tanpa restu keluarga, tanpa persetujuan dunia. Dan Nala… menjadi istri rahasia, disembunyikan dari publik demi karier Junho.

‎Apakah cinta mereka cukup kuat untuk melawan dunia? Atau akan hancur perlahan oleh kenyataan yang tak pernah memberi ruang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Kesibukan seorang idol.

Pagi itu seperti biasanya, Junho terbangun dari tidurnya. Mata coklatnya menatap sekeliling kamar luasnya yang serba rapi—nyaris terlalu rapi untuk seseorang yang tinggal sendirian. Cahaya matahari menerobos dari celah tirai, memantul di dinding putih dan membuat ruangan terasa hangat.

Dengan gerakan malas, dia mengusap wajahnya, lalu meraih ponsel di atas nakas. Notifikasi berderet: pesan dari manajer Sungwoo, jadwal kegiatan, dan satu notifikasi dari aplikasi fan platform.

Sekilas dia membuka pesan dari LYNX, membaca rundown hari ini, syuting variety show, lalu rekaman untuk konten mingguan SOLIX yang akan diunggah ke kanal resmi mereka dan tentunya latihan. Hari yang padat, seperti biasa.

“Hari baru, rutinitas yang sama…” gumamnya pelan sambil berdiri menuju dapur minimalis.

Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara. Di meja, sudah ada sarapan yang disiapkan oleh staf apartemennya. Junho duduk diam, menatap piringnya, lalu perlahan mulai menyuap. Tidak tergesa, tapi juga tidak sepenuhnya menikmati. Rutinitas pagi yang sederhana, namun terasa mekanis—seolah semua bergerak sesuai jadwal, bukan keinginan.

Setelah selesai, ia berdiri, melangkah menuju kamar mandi. Uap hangat mengisi ruangan saat air mulai mengalir. Cermin di depannya memantulkan sosok yang telah terbiasa menanggung ekspektasi dunia; Kim Namjunho — the leader of SOLIX, sosok yang dikenal karena karisma dan kecerdasannya, tapi juga sering disalahartikan sebagai pria yang tidak pernah lelah.

Setelah selesai bersiap, Junho langsung bergegas keluar dari apartemennya, membawa tas dan beberapa barang di dalamnya. Langkahnya tenang menuju mobil khusus yang memang selalu ia pakai untuk pulang-pergi dari perusahaan ke apartemennya. Ia duduk di kursi belakang.

Ia menyandarkan kepalanya saat mobil melaju dengan tenang di jalanan pagi yang masih diselimuti udara dingin. Pemandangan kota Seoul yang mulai sibuk terlihat samar di balik jendela mobil yang sedikit berkabut.

Tak lama kemudian mobilnya sampai di agensinya. Dengan langkah tenang, ia keluar dari mobil lalu berjalan cepat menuju pintu masuk. Banyak orang lalu-lalang di luar gedung mewah tersebut—staf, pekerja produksi, beberapa penggemar yang sudah berdiri di seberang jalan.

Namun Junho tidak terlalu memedulikannya. Pemandangan itu sudah terlalu biasa baginya yang sudah bertahun-tahun berada di sana.

Saat masuk, Manajer Han langsung mendekatinya lalu berkata,

“Pagi, Junho-ssi. Lima menit lebih lambat dari biasanya,” tegurnya datar, tapi dengan nada yang sudah terlalu akrab.

Hal itu membuat Junho hanya terkekeh kecil.

“Setidaknya aku tidak telat dua puluh menit seperti Yoohan hyung minggu lalu, kan?” balasnya santai.

Manajer Han mendengus kecil, menahan tawa.

“Aigoo… baiklah, kau menang. Mari,” ucapnya sembari menuntun Junho untuk berkumpul terlebih dahulu dengan beberapa member SOLIX yang memang sudah berkumpul di sana.

“Jadwal pertama kita variety show?” tanya Junho, memecah keheningan di dalam lift.

“Tepat. Kita syuting di dekat Sungai Han. Di sana pasti banyak fans yang datang, dan tidak menutup kemungkinan akan ada haters juga,” jawab Manajer Han.

Junho menggeleng cepat.

“Again… tolong amankan tempatnya. Aku tidak ingin ada kendala berarti,” ujarnya singkat.

Manajer Han hanya mengangguk pelan.

Lift terbuka dengan bunyi ting pelan.

Keduanya langsung melangkah menuju salah satu ruangan khusus tempat SOLIX berkumpul. Di sana sudah cukup ramai—semua member sudah berada di dalam.

Bahkan si bontot, Kiyoon, masih terlihat sarapan, disuapi oleh Hoseung. Kebiasaan itu sepertinya tak pernah berubah meskipun mereka sudah lama bersama.

“Jinjja… kalian ini,” gumam Manajer Han pelan, menggeleng melihat pemandangan yang sudah terlalu familiar.

“Kalian bisa bersiap dahulu. Kami akan panggil saat waktunya tiba,” ujar Manajer Han sembari keluar dari ruangan tersebut.

Junho mendekati mereka lalu duduk di salah satu sofa di samping Kiyoon yang tengah sibuk mengunyah makanannya.

“Pagi, hyung-nim,” ucap Kiyoon dengan mulut penuh sehingga suaranya terdengar lirih, Junho melirik sekilas.

“Makan yang banyak, Kiyoon-ah,” balasnya datar.

Tanpa banyak bicara ia membuka ponselnya, sementara di sisi lain Jinwoo dan Yoohan terlihat berbicara serius dengan ekspresi yang agak tegang.

Di sudut ruangan, Jihwan dan Taeyang terlihat sibuk bercanda. Tawa mereka sesekali pecah, membuat suasana ruangan terasa lebih hidup. Sedangkan Hoseung duduk di hadapan Junho sambil tetap sabar menyuapi Kiyoon yang duduk di sampingnya seperti anak kecil.

“Aku rasa Junho hyung dan Jinwoo hyung pakai baju couple,” ujar Jihwan tiba-tiba, menunjuk ke arah mereka. Jinwoo menoleh sebentar lalu mengangguk santai.

“Setting perusahaan,” ujarnya pendek.

“Arasseo, arasseo…” Jihwan langsung tertawa, seolah itu sudah menjadi hal yang sangat biasa. Dia lalu menghela napas dramatis.

“Kadang aku bingung, hyung. Kenapa agensi suka sekali menciptakan rumor baru untuk publik? Kita semua tahu sudah banyak pemikiran miring tentang kau dan Junho hyung, Taeyang dan Kiyoon… tapi mereka masih saja membuat kita terlihat—”

Ucapannya terhenti ketika Taeyang memotong cepat.

“Tidak normal,” lanjut Taeyang datar.

Junho menatap sekilas ke arah Jihwan dan Taeyang, mendengarkan percakapan mereka tanpa benar-benar berniat ikut campur. Namun, ekspresi datarnya sedikit berubah saat mendengar kata terakhir itu.

“Tidak normal?” ulangnya pelan. Nada suaranya rendah, namun cukup jelas terdengar di seluruh ruangan.

“Hyung, maksudku bukan begitu,” ujar Taeyang buru-buru sambil menegakkan duduknya. “Hanya saja… terkadang agensi membuat kita tampak seperti—entahlah—karakter fiksi yang bisa diatur semaunya. Bahkan interaksi sederhana pun bisa dijadikan umpan untuk rumor yang lebih gila.”

Ucapannya membuat Yoohan mendengus kecil dari sisi sofa.

“Kau baru sadar sekarang? Aigoo… dari awal debut saja sudah begitu,” katanya sambil menyandarkan punggungnya. “Ingat waktu aku disuruh ganti gaya rambut lima kali dalam seminggu hanya demi ‘menjaga citra grup’? Hanya Tuhan yang tahu berapa helai rambutku yang tersisa setelah itu,” timpalnya sembari menghela napas panjang.

“Dan ingat saat kita disuruh berbagi kamar di reality show?” timpal Jinwoo sembari menyilangkan tangan di dada. “Itu semua bukan demi kenyamanan, tapi agar kamera bisa menangkap momen yang ‘menjual keintiman’. Mereka pikir fanservice adalah kebenaran absolut dalam industri ini.”

Ucapan Jinwoo membuat Jihwan menunduk pelan. Ekspresinya muram.

“Aku ingat saat disuruh terus-menerus menempel pada Taeyang hyung,” ujar Kiyoon tiba-tiba, masih memegang sendok di tangannya. “Awalnya aku bingung kenapa staf menyuruh seperti itu. Lalu setelah seminggu berlalu aku melihat video kami diunggah… dan banyak yang berkomentar kalau kami romantis. Padahal…”

Kiyoon tidak melanjutkan ucapannya. Ia hanya menatap makanannya sejenak.

“Padahal kita hanya ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan bahan konsumsi publik,” ucap Taeyang pelan.

Hoseung yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara. Suaranya tenang, namun tajam.

“Industri ini tidak mencari manusia, Jihwan-ah. Mereka mencari citra. Dan selama citra itu mendatangkan uang… mereka tidak peduli apa yang hancur di baliknya.”

Ruangan itu mendadak senyap.

Hanya terdengar suara Kiyoon yang masih sibuk mengunyah, seolah tidak sepenuhnya memahami beratnya topik yang sedang mereka bicarakan.

Junho menutup ponselnya perlahan. Tatapannya kini lebih serius.

“Aku rasa… itulah harga dari sorotan,” ujarnya pelan. “Tapi tetap saja, ada batas yang tidak seharusnya dilewati. Mempelintir hubungan, menanamkan isu yang bahkan tak pernah ada—itu bukan strategi. Itu penghancuran karakter.”

Jinwoo mengangguk pelan.

“Sayangnya, Junho-ah, sebagian besar publik lebih percaya pada hal yang membuat mereka bersemangat daripada kebenaran yang membosankan,” jawabnya.

Taeyang terkekeh pahit.

“Kebenaran tidak pernah viral, hyung. Jinjja…”

Mereka semua terdiam kembali. Masing-masing larut dalam pikiran.

Dunia luar mungkin melihat mereka sebagai bintang yang bercahaya sempurna. Namun di dalam ruang latihan itu, mereka hanyalah manusia yang terjebak dalam sistem yang sama—sistem yang mereka cintai sekaligus benci.

Beberapa menit kemudian, suara ketukan pelan terdengar dari pintu.

Tok tok.

Manajer Han muncul dari balik pintu.

“Sudah siap? Kita berangkat dalam lima menit,” ujarnya.

Junho bangkit perlahan dari sofa, meraih jaket hitamnya yang terlipat di samping.

“Baiklah… mari kembali menjadi bintang lagi,” gumamnya singkat.

Senyumnya samar—antara lelah dan pasrah.

Dan dengan itu, seluruh anggota SOLIX pun meninggalkan ruangan, melangkah menuju jadwal berikutnya. Segala keluh dan luka kembali mereka sembunyikan di balik cahaya kamera. Mereka keluar dari ruangan itu menuju area parkir belakang gedung LYNX Entertainment. Sebuah mobil van hitam sudah berhenti di depan pintu keluar staf.

Di dalamnya, keenam member lain sudah lebih dulu berkumpul. Junho memang masuk agak terlambat karena harus melakukan sesuatu terlebih dahulu. Saat ia naik ke dalam van dan duduk di kursi belakang, beberapa member SOLIX langsung menoleh.

“Hyung dari mana dulu?” goda Jihwan, alisnya terangkat nakal.

“Dari toilet,” ujar Junho singkat tanpa menatap Jihwan.

“Tapi kenapa aku mencium parfum wanita? Apa aku salah?” tanya Jinwoo sambil menyipitkan mata, pura-pura mencium udara di sekitarnya.

“Akhh iya benar… hyung ganti parfum atau—” Ucapannya dipotong cepat oleh Yoohan. Pria yang biasanya tidak pernah ikut campur itu akhir-akhir ini justru terlihat sangat menikmati menggoda Junho.

“Dia pasti menemui penulis itu,” ujarnya santai.

Kalimat itu membuat semua orang langsung menatap Junho serempak. Junho mendengus kesal.

“Apalah kalian ini. Aku memang dari toilet. Seharusnya kalian pakaikan aku GPS supaya puas menguntitku, dan jiwa penasaran kalian itu hilang,” ujarnya dengan nada sedikit kesal.

Padahal pada kenyataannya ia memang pergi ke toilet… lalu sempat mampir ke kantor penerjemah untuk memastikan sesuatu. Tidak lebih. Namun tentu saja, itu tidak menghentikan mereka untuk terus menggoda.

“Ah, toilet katanya,” sahut Hoseung dari kursi depan dengan nada menggoda, sambil melirik Junho melalui kaca spion tengah. “Lucu sekali, karena biasanya orang tidak keluar dari toilet dengan aroma bergamot dan white musk seharum itu. Aigoo… leader-nim ini mencurigakan sekali.”

Suara tawa langsung memenuhi mobil, bahkan Jihwan sampai menepuk pahanya pelan sambil berkata.

“Hyung, kalau seperti ini caranya, aku rasa kita harus ganti jadwal latihan jadi ‘menyelidiki kehidupan rahasia leader’. Jujur saja, siapa pun yang bisa meluluhkan hati Junho hyung itu pasti luar biasa.”

Kiyoon yang duduk di pojok, masih memainkan ponselnya, ikut menimpali tanpa mengangkat kepala.

“Atau mungkin kita buat konten baru untuk STARNET? Judulnya ‘Who is Junho meeting secretly?’ Pasti trending dalam hitungan jam,” katanya santai. “Aku jamin, seluruh LUNARIS akan menetapkan hari patah hati nasional.”

Ucapan itu membuat semua orang tertawa. Bahkan Hoseung sampai mengusap sudut matanya karena terlalu keras tertawa.

“Jinjja… kalian ini.”

Junho memutar bola matanya pelan, lalu menatap mereka satu per satu dengan ekspresi datar.

“Kalian semua punya terlalu banyak waktu luang, rupanya. Haruskah aku minta Manajer Han menambah sesi latihan vokal untuk kalian?” ujarnya.

Yoohan mendengus kecil.

“Ancaman klasik dari seorang leader,” katanya santai sambil menyandarkan kepala ke jendela. “Tapi kali ini tidak efektif, Junho-ya. Karena yang kami lihat hanyalah wajah seseorang yang berusaha keras menutupi sesuatu.”

“Benar, benar! Kau bahkan tidak marah sungguhan. Itu saja sudah mencurigakan!” seru Jihwan cepat, penuh semangat.

Namun Junho hanya diam karena dia sendiri bahkan tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Ada sesuatu yang aneh dengan perasaannya akhir-akhir ini—sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa pahami. Jinwoo menyeringai tipis, menyilangkan tangan di dada.

“Kalau begitu, kapan kami harus menyiapkan hadiah pernikahanmu, Junho-ah?” katanya santai. “Kau ingin apa? Apartemen baru? Mobil sport?”

Junho benar-benar mendesah panjang.

“Aku hanya pergi ke toilet lalu berbicara dengan seseorang di kantor penerjemahan, hyung. Bukan dengan—”

“—penulis itu?” potong Hoseung cepat, nadanya pura-pura polos namun jelas penuh sindiran.

Mobil kembali bergemuruh oleh tawa bahkan Manajer Han yang sedang mengemudi di depan hanya menggeleng kecil sambil bergumam pelan.

“Aigoo… anak-anak ini.”

Junho akhirnya menutup mata, menyandarkan kepala di kursi, lalu berkata datar.

“Terserah saja. Lebih baik kau diam dan urusi wanita model itu.”

Semua orang langsung terkekeh.

“Owohh—double kill!” seru Yoohan dramatis.

Tawa kembali meledak di dalam mobil, semua orang tahu Jihwan akhir-akhir ini sedang dekat dengan seorang model majalah remaja yang namanya cukup di sebut-sebut publik. Namun jelas semua itu hanya rahasia kecil di antara mereka dan perusahaan saja.

“Begitulah cara pria menghindar ketika terpojok,” ujar Hoseung santai.

Tawa kembali pecah, memenuhi seluruh kabin van hitam itu.

Di luar, jalanan Seoul mulai padat oleh lalu lintas pagi. Namun suasana di dalam mobil terasa hangat—penuh canda, ejekan, dan kebersamaan khas tujuh pria yang telah berbagi perjalanan panjang bersama. Hingga akhirnya suara Manajer Han terdengar dari kursi depan.

“Kita sudah hampir sampai. Bersiaplah, semua.”

Seketika suasana di dalam mobil sedikit mereda, waktu untuk bercanda hampir habis. Saatnya kembali menjadi bintang.

Cahaya matahari pagi menembus kaca mobil, menerpa wajah Junho yang kini tampak sedikit lebih tenang. Ia menarik napas dalam, lalu menatap keluar jendela, melihat kerumunan fans yang mulai memenuhi area syuting.

Di antara hiruk pikuk itu, ia tahu — sorotan akan kembali padanya, dan permainan peran sebagai sang bintang pun akan segera dimulai.

1
Araya
drama banget sih orang' tuanya Junho 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ramapratama
Bau bau romansa nya udah kecium 🤣🤣🤣 tapi salut deh sama arc nya mind-blowing banget, biasanya kalau cerita idol idol gini arc nya paling mentok, ketemu tiba-tiba lalu jatuh cinta atau kalau gak. gak sengaja nabrak terus salah satunya suka, tapi Yan ini ada alasan logis nya. keren banget, semangat ya💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!