Dua minggu terjebak sendirian di Mall yang penuh mayat hidup, aku pikir kewarasan adalah satu-satunya senjataku. Sampai akhirnya, sekelompok gadis SMA datang membawa keceriaan yang tidak masuk akal di tengah kiamat. Di antara zombi yang kelaparan dan gadis-gadis yang hidup dalam delusi, apakah aku bisa bertahan sebagai satu-satunya orang yang masih melihat kenyataan? Selamat datang di Klub Kehidupan Sekolah yang sesungguhnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayla Zidan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: Jalan Raya Penuh Darah
Chapter 8: Jalan Raya Penuh Darah
Mesin SUV hitam ini menderu kasar, suaranya memantul di dinding-dinding beton area parkir basement. Cahaya lampu depan yang tajam menembus kabut tipis dan debu yang beterbangan, menyinari barisan mayat hidup yang kini mulai menoleh serentak ke arah kami. Ribuan mata keruh itu berkilat tertimpa cahaya, dan dalam sekejap, erangan parau mereka berubah menjadi raungan massal yang memekakkan telinga.
“Zidan, mereka datang! Cepat!” seru Kurumi. Suaranya gemetar saat dia melihat gerombolan zombi mulai berlari ke arah mobil.
“Duduk yang tenang dan pegangan erat-erat!” balasku tanpa emosi. Aku memindahkan persneling ke posisi gigi satu dan menginjak pedal gas dalam-dalam.
VROOOOM!
Ban mobil berdecit kencang di atas lantai semen yang licin sebelum akhirnya menerjang kerumunan pertama. BRAKK! DUGH! Suara benturan tubuh-tubuh busuk itu dengan bagian depan mobil terdengar mengerikan. Cairan kental kehitaman muncrat ke kaca depan, membuat pandanganku sedikit terganggu. Namun, aku tidak melepaskan gas sedikit pun.
Aku tidak peduli jika aku harus melindas mereka semua. Di mataku, ini bukan lagi pembunuhan, ini hanyalah upaya pembersihan rintangan.
“Sial, ada yang bergelantungan di pintu!” Kurumi berteriak saat seorang zombi dengan seragam pelayan restoran yang sobek-sobek menempel di kaca jendela sampingnya. Tangannya yang tinggal tulang memukul-mukul kaca dengan brutal.
“Jangan cuma teriak! Gunakan sekopmu atau apa saja, hancurkan tangannya jika dia berhasil memecahkan kaca!” perintahku dingin. Aku sengaja membanting setir ke arah pilar beton di sisi kanan, menyerempetkan sisi mobil ke pilar tersebut untuk melepaskan zombi yang menempel.
KREEEEET! Suara logam beradu dengan beton menciptakan percikan api. Tubuh zombi itu hancur terjepit di antara mobil dan pilar, jatuh tak bernyawa di belakang kami.
Kami terus melaju, menerobos labirin mobil-mobil yang ditinggalkan. Aku bisa melihat jalan keluar di depan sana—sebuah tanjakan curam yang mengarah langsung ke jalan raya. Namun, jalan itu terhalang oleh sebuah bus besar yang melintang.
“Zidan, jalannya buntu! Kita harus putar balik!” Kurumi mulai panik.
“Tidak ada kata putar balik dalam kamusku, Kurumi. Kita terjang celah di samping bus itu!” Aku melihat ada sedikit ruang di antara badan bus dan dinding terowongan. Sempit, sangat sempit. Tapi itu satu-satunya peluang.
Aku menginjak gas lebih dalam lagi. Kecepatan mobil meningkat drastis. SUV ini berguncang hebat saat ban kirinya menaiki trotoar sempit.
BRAKKKK!
Spion kiri mobil hancur seketika saat menghantam badan bus, tapi kami berhasil melewatinya. Kami meluncur keluar dari basement yang pengap dan langsung disambut oleh udara malam yang dingin di jalan raya.
Namun, pemandangan di luar tidak lebih baik. Jalan raya utama sudah menjadi kuburan massal kendaraan. Mobil-mobil saling bertabrakan, beberapa di antaranya masih mengeluarkan asap atau api kecil. Dan di antara rongsokan itu, ratusan—mungkin ribuan—zombi berkeliaran.
“Astaga… dunianya benar-benar sudah berakhir,” bisik Kurumi. Matanya menatap ngeri ke arah kerumunan yang tak terhitung jumlahnya di kejauhan.
“Berhenti melamun. Dunia lama sudah berakhir, sambutlah dunia baru yang lebih jujur ini,” kataku sambil terus mencoba bermanuver di antara bangkai mobil.
Tiba-tiba, mesin mobil mengeluarkan suara batuk yang aneh. Asap putih mulai keluar dari balik kap depan. Sepertinya tabrakan dengan pilar dan bus tadi merusak radiator atau bagian mesin lainnya.
“Zidan, asapnya!”
“Aku tahu!” Aku mencoba menahan laju mobil, tapi mesinnya tiba-tiba mati total. Setir terasa berat dan rem menjadi keras. Mobil ini berhenti tepat di tengah jalan raya yang dikepung oleh gedung-gedung tinggi.
Sial. Benar-benar sial. Logikaku sudah menghitung banyak hal, tapi kerusakan mesin di saat seperti ini adalah variabel yang sulit dikendalikan.
“Kita harus keluar. Sekarang!” Aku menyambar shotgun pompa yang tadi kuambil dari petugas keamanan dan mengalungkan tas logistik ke bahuku.
“Keluar ke sana?! Itu bunuh diri!” Kurumi menunjuk ke arah sekumpulan zombi yang mulai menyadari keberadaan kami.
“Tetap di dalam sini juga bunuh diri. Mobil ini akan jadi kaleng sarden buat mereka sebentar lagi. Keluar, Kurumi! Itu perintah!” Aku menendang pintu mobil yang sedikit penyok, memaksanya terbuka.
Aku melompat keluar, langsung mengarahkan moncong shotgun ke arah zombi terdekat yang mencoba mendekat. DOR! Suara ledakan tembakan itu mengguncang keheningan malam. Kepala zombi itu hancur seketika, menyebarkan serpihan otak di aspal.
Kurumi keluar dari pintu sebelah, memegang sekopnya dengan posisi siap tempur. Dia tampak gemetar, tapi dia tidak lari. Setidaknya dia masih punya nyali.
“Ke toko buku itu! Pintu kacanya terlihat masih kokoh!” Aku menunjuk sebuah toko buku berlantai dua di seberang jalan.
Kami berlari menembus hujan gerimis yang mulai turun. Sepatu kami menginjak genangan darah dan pecahan kaca. Setiap kali ada zombi yang terlalu dekat, aku melepaskan satu tembakan atau menghantamnya dengan popor senjata. Aku bergerak efisien, tidak membuang peluru kecuali benar-benar perlu.
“Zidan, di belakangmu!”
Aku berputar dan melihat seorang zombi pelari (runner) meluncur cepat ke arahku. Aku tidak punya waktu untuk membidik. Dengan gerakan refleks, aku mengayunkan laras senjata ke arah rahangnya, menjatuhkannya ke tanah, lalu menginjak kepalanya hingga hancur dengan sepatu botku. Dingin, cepat, dan tanpa ragu.
Kami sampai di depan toko buku. Pintu kacanya terkunci dari dalam. Tanpa pikir panjang, aku menghantam gagang pintunya dengan tembakan shotgun. DOR! Kaca itu retak seribu tapi tidak hancur sepenuhnya karena dilapisi film pengaman. Aku menendangnya hingga jebol dan menarik Kurumi masuk.
Begitu di dalam, aku segera menggeser rak buku besar untuk menutup lubang di pintu.
“Kita aman… untuk sementara,” kataku sambil mengatur napas. Ruangan toko buku ini gelap, berbau kertas lama dan debu.
Kurumi jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Kamu… kamu benar-benar tidak ragu sedikit pun tadi. Kamu membunuh mereka seolah-olah mereka hanya tumpukan sampah.”
Aku mengisi ulang peluru shotgun-ku satu per satu. Suara klik logam terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. “Karena memang begitulah adanya, Kurumi. Di dunia ini, jika kamu ragu walau hanya satu detik karena memikirkan 'kemanusiaan' mereka, kamu tamat. Aku memilih untuk hidup, sesederhana itu.”
Aku berjalan menuju jendela, mengintip dari balik tirai yang sobek. Di luar, zombi-zombi itu mulai mengerumuni SUV kita yang sudah mati.
“Istirahatlah. Kita akan berada di sini sampai pagi. Jangan menyentuh apa pun yang bisa menimbulkan suara,” kataku pelan.
Malam ini masih panjang, dan aku tahu, ini baru awal dari perjalanan berdarah kami. Tapi setidaknya, untuk saat ini, logika dinginku telah membawa kami selangkah lebih jauh dari kematian.
Catatan Penulis:
Zidan dan Kurumi berhasil mencapai tempat perlindungan baru, tapi mobil mereka hancur. Dengan logikanya yang anti-naif, Zidan harus memikirkan langkah selanjutnya di tengah kota yang sudah mati. Jangan lupa Like dan Komen ya!