NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Cinta Yang Kupaksa Kau Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Murni / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:40.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.

Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.

Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.

Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.

Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.

Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Posisi yang Tergantikan

Suara guru terdengar. Alvian menoleh.

“Di mana ayahnya, Nak?”

Pertanyaan itu lembut. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak. Alvian diam. Beberapa detik. Lalu ia tersenyum. Tipis.

“Abi… lagi banyak kerjaan, Bu,” ucapnya pelan. “Nyari uang buat Al dan Umi.”

Guru itu terdiam sejenak. Lalu tersenyum, meski matanya berbeda.

“Iya… gak apa-apa.”

Alvian mengangguk. Namun kali ini… ia tidak lagi melihat ke gerbang. Tatapannya turun. Ke tangannya sendiri. Yang kosong.

Di pinggir lapangan, Ayza berdiri. Tangannya menutup mulutnya sendiri. Menahan sesuatu yang hampir pecah.

Ia melihat semuanya. Setiap detik. Setiap harap. Setiap senyum kecil yang dipaksakan anaknya.

Dan saat itu… ia sadar. Yang sedang patah… bukan hanya hatinya. Tapi juga, kepercayaan seorang anak yang belum pernah belajar kecewa.

Suara guru kembali terdengar, jelas dan penuh semangat.

“Baik, kita mulai acaranya. Lomba bawa kelereng dengan sendok. Bapak-bapak, silakan menggendong putra-putrinya di pundak. Dan anak-anak, silakan gigit sendok yang sudah diberi kelereng.”

Seketika suasana menjadi ramai.

Para ayah langsung mengangkat anak-anak mereka ke bahu. Tawa kecil terdengar di sana-sini. Sendok mulai digigit, kelereng diletakkan dengan hati-hati.

Alvian berdiri di tempatnya. Ia menggigit sendoknya pelan, lalu meletakkan kelereng di atasnya.

Sendiri. Tanpa pundak untuk dinaiki.

Tubuh kecilnya tampak lebih rendah dibanding teman-temannya yang berada di atas bahu ayah masing-masing.

Hingga—

“Maaf terlambat.”

Suara itu terdengar cukup jelas di tengah riuh halaman sekolah. Beberapa kepala langsung menoleh.

Ayza ikut menoleh. Alvian juga. Dahi mereka sama-sama berkerut.

Bukan… bukan suara yang mereka harapkan.

Seorang pria melangkah mendekat. Napasnya sedikit terengah, seolah benar-benar datang dengan tergesa.

Fahri.

Langkahnya berhenti di dekat barisan. Tatapannya langsung mencari satu sosok.

Dan saat matanya bertemu dengan Alvian, ada sesuatu yang bergerak di sana. Rasa bersalah… yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Alvian masih menatapnya. Beberapa detik.

“Om Fahri…?” ucapnya pelan.

Fahri tersenyum. Dipaksakan. Ia mendekat, berdiri tepat di depannya. Menatap bocah itu beberapa detik. Ada sesuatu yang bergerak di matanya… lalu ia jongkok.

“Terlambat dikit,” ucapnya pelan.

Alvian masih menatapnya. Bingung. Setengah berharap. Setengah ragu.

“Abi…” suaranya kecil, “…gak datang?”

Pertanyaan itu. Langsung. Tanpa pelindung.

Fahri terdiam. Satu detik. Dua detik. Lalu ia mengangkat tangan, merapikan kerah baju Alvian dengan hati-hati.

“Iya, Jagoan.” Ia berjongkok, menyamakan tinggi. “Abi…” kalimat itu sempat tertahan di tenggorokannya. “…lagi gak bisa datang," ujarnya pelan. “Tapi… dia gak mau kamu sendirian.”

Alvian menatap Fahri. Sedikit lebih lama. Tangannya masih memegang sendok dengan kelereng di atasnya.

“Jadi... Abi yang suruh Om?” tanyanya polos.

Pertanyaan itu, membuat napas Fahri tercekat sesaat. Ia mengangguk pelan.

“Iya.”

Alvian terdiam. Matanya menatap Fahri. Dalam. Seolah mencoba memastikan… apakah kalimat itu cukup.

“Jadi…” Fahri melanjutkan, suaranya dibuat seringan mungkin, “hari ini, boleh gak… Om yang nemenin?”

Kening tak langsung menjawab. “Ya sudah,” katanya akhirnya. Pelan. “Om aja.”

Sederhana. Tanpa protes. Tanpa kecewa yang ditunjukkan. Namun justru itu… yang membuat dada Ayza terasa seperti diremas.

Di pinggir lapangan, jemarinya mencengkeram ujung kerudungnya sendiri.

Fahri berdiri. Menatap panitia.

“Saya bisa gantiin, 'kan?” tanyanya.

Guru itu mengangguk cepat. “Bisa, Pak. Silakan.”

Fahri langsung berbalik ke Alvian. Ia tersenyum tipis.

“Ayo.” Ia berjongkok sedikit. “Naik.”

Alvian ragu sepersekian detik. Matanya sempat melirik ke arah gerbang.

Kosong.

Lalu ia mendekat. Perlahan. Naik ke pundak Fahri.

“Pegangan yang kuat, ya,” ucap Fahri pelan.

Tanpa banyak kata, ia mengangkat tubuh kecil itu ke pundaknya. Gerakannya mantap. Terbiasa.

Alvian sedikit kaget di awal. Tangannya refleks memegang kepala Fahri agar tidak jatuh.

Dari atas sana… pandangannya berubah. Tinggi. Sama seperti anak-anak lain.

Sendok di mulutnya kembali tegak. Kelereng masih di tempatnya. Dan sekarang, ia tidak lagi terlihat paling kecil di antara yang lain.

Di pinggir lapangan, Ayza berdiri diam. Matanya tidak lepas dari pemandangan itu.

Ada nyeri yang perlahan memenuhi dadanya.

Bukan karena Fahri datang. Tapi karena… orang yang seharusnya berada di sana, memilih tidak ada.

Tangannya perlahan menutup mulutnya sendiri. Menahan sesuatu yang hampir pecah.

Entah mengapa, pemandangan itu terasa seperti sesuatu yang perlahan merenggut tempatnya.

Di atas pundak Fahri, Alvian menatap ke arah gerbang sekali lagi. Hanya sekilas. Lalu kembali lurus ke depan. Dan kali ini… ia tidak lagi menunggu.

Peluit dibunyikan.

Lomba dimulai.

Langkah Fahri stabil. Hati-hati. Seolah bukan hanya menjaga kelereng itu… tapi juga sesuatu yang jauh lebih rapuh di atas pundaknya.

Di atas sana, Alvian diam. Tidak bersorak. Tidak tertawa seperti anak-anak lain. Namun tangannya… perlahan mencengkeram kepala Fahri lebih erat.

Dan di antara riuh tawa anak-anak yang digendong ayah mereka... hanya satu anak yang sedang belajar… menerima seseorang yang datang… bukan karena ia ditunggu.

Lomba berlangsung. Langkah demi langkah.

Beberapa anak tertawa saat kelereng mereka jatuh. Beberapa ayah ikut menahan tubuh anak mereka agar tetap seimbang.

Di barisan itu, Fahri berjalan hati-hati.

Tangannya menahan kaki Alvian agar tetap stabil di pundaknya.

“Fokus,” ucapnya rendah.

Di atas, Alvian menggigit sendoknya dengan serius. Alisnya sedikit berkerut. Fokus. Sesekali tubuh kecil itu goyah, tapi ia cepat menyeimbangkan diri.

Kelereng itu… tidak jatuh. Sampai garis akhir.

“Bagus!” seru seseorang.

Beberapa anak bersorak.

Fahri menurunkan Alvian perlahan. Tangannya masih berada di bahu bocah itu, memastikan ia berdiri dengan baik.

Alvian melepas sendok dari mulutnya. Napasnya sedikit lebih cepat.

“Al hebat,” ujar Fahri sambil tersenyum tipis.

Alvian menatapnya. Beberapa detik. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan… tapi masih ia tahan.

“Om…” panggilnya pelan.

Fahri mengangguk. “Iya?”

Alvian menunduk sebentar. Kakinya menggeser tanah pelan.

Lalu—

“Kalau nanti ada acara lagi…” suaranya kecil, “…Om boleh datang lagi?”

Fahri terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa seperti ditekan sesuatu.

“Boleh,” jawabnya akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya.

Alvian mengangguk kecil. Lalu ia menambahkan—

“Daripada… gak ada yang datang.”

Kalimat itu. Ringan. Polos. Namun jatuh… tepat di tempat yang paling dalam.

Fahri tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi berada di bahu Alvian… perlahan mengencang.

Di pinggir lapangan, Ayza memejamkan matanya. Satu kalimat itu… lebih menyakitkan dari apa pun yang ia tahan sejak tadi pagi.

Alvian tidak menangis. Tidak marah. Ia hanya… menerima. Dan justru itu, yang paling menghancurkan.

 

Di seberang jalan.

Sebuah mobil hitam terparkir rapi, sedikit jauh dari gerbang sekolah. Mesinnya mati.

Namun pengemudinya… tidak pergi.

Kaisyaf duduk di kursi kemudi. Tangannya masih berada di setir, tapi tidak benar-benar menggenggam. Tatapannya lurus ke depan.

Ke arah lapangan. Ke arah keramaian itu.

 

...🔸🔸🔸...

...“Anak tidak selalu butuh yang terbaik. Kadang, yang datang saja sudah cukup.”...

...“Yang paling melukai bukan kehilangan, tapi ketika seseorang memilih tidak hadir.”...

...“Ada anak yang tidak menangis saat kecewa, mereka hanya berhenti berharap.”...

...“Satu tidak datang, satu terpaksa datang, satu menerima… dan satu hanya bisa melihat.”...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anonim
Husain segera menghubungi Kaisyaf setelah mendengar Alvian berbicara tentang Abi-nya.

Nara yang menerima panggilan telepon dari Husain ke ponsel Kaisyaf. Ia mengaku sebagai sekretaris Kaisyaf.

Husain merasa ada sesuatu yang disembunyikan dalam rumah tangga Kaisyaf dan Ayza.
Yunita Sophi
yakin sekali kamu Reza klo Ayza mau balikan sama kamu... ya nggak lah mana ada perempuan waras mau mungut bekas orang yg gak waras juga...
Siti Jumiati
lanjut kak nana💪🙏
Siti Jumiati
lanjut kak nana... /Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
falea sezi
MC oon menye menye males
Wardi's
percuma rez, ayza jg gk bakall mau sama kamu..
LibraGirls
rezaaaaa rezzzaaaa gilaaaaa sediri jadi nya
Wahyuningsih 🇮🇩🇵🇸
klo emng kaysaf fix dibikin mati..sy sarankan agar ayza dibiarkan JD single parent aja Thor..ya kali dpt Fahri..adik mantan suami yg cukup kurang waras..bisa makin sengsara hidup kayza..klo menurut nalar dan logika sy lho ya 🤭✌️
septiana
lanjut kak Nana semangat 💪🥰
asih
Karna Kai lebih percaya pada fahri utk jadi penggantinya daripada kamu Reza,
lagian kalau tdk bersama Kai apa dia mau balikan sama kamu, lelaki bodoh yg hanya mikir egonya sendiri ..

riwayat paru² Kai satu tahun itu sdh termasuk lama berkembang dengan keadaan dia yg sempat koma dulu, q jg pernah jaga pasien paru² cepet banget perkembangannya hingga tdk bisa bertahan lama sudah koid diannya
Gadis misterius
kaysaf jngn lp nanti ayza harus ada yg menjaga , Knp km yg panas klu fahri blom menikah reza Allah maha kuasa siapa tau jodohnya ayza yg sdh disiapkan ilahi istilah kata orang baik jodohnya juga baik ... reza terbiasa dimanja dan banggakan makanya dia selalu lempar batu sembunyi tangan krakter reza yg bikin muaakkk
Eka Burjo
Reza, masih belum waras🙄
Dek Sri
lanjut
Fadillah Ahmad
Ayo Ksk Nana... Lsnjutkan Terus Kak 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Iya juga sih, ya 😂😂😂 Kalau tidak, kenapa Fahri belum menikah coba? di usianya yang sudah tiga puluh tahun? Apa coba, yang di tunggu? Lihat Dean? Dia saja Sudah Move On, bahkan Sudah memiliki Istri 😂😂😂 Sementara Fahri? Masih menantikan Ayza menjadi Mohon Maaf 🙏🙏🙏 'Janda' 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Nah kan... Seperti yang aku duga kan? di Bab-bab awal? Sekarang terbukti bukan? 😂😂😂🙏

Bagi Kslian, ysng belum membaca, Kisah Ayza dan Ksisyaf Season 1, silakan baca juga ya 🙏🙏🙏😁 Soalnya ini Season 2 😁😁😁 Judulnya "Wa'Alaikumsalam Mantan Imam" itu Season 1 ya... Khusus bagi yang belum membaca Season 1 nya, ya... 🙏🙏🙏😁
Dew666
🪻
Hanima
Lanjut Ayza 😔
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Up lagi Kak 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lsnjutkan lagi Ksk 🙏🙏🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!