Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Calon Istri Nathaniel?
Coffee shop pagi itu terasa hangat dengan aroma biji kopi yang baru dipanggang dan riuh rendah percakapan pengunjung. Alessia melangkah masuk dengan gaya effortless, mengenakan kacamata hitam yang ia selipkan di kerah blusnya. Kali ini, ia benar-benar bersikeras datang sendiri, mengabaikan tawaran Nathaniel yang sempat memasang wajah cemas saat melepasnya di lobi kantor.
"Haii semuanya!" sapa Alessia ceria, langsung mengambil tempat duduk di antara teman-temannya yang sudah menunggu.
Lady, yang sejak tadi tampak tidak sabar, segera condong ke depan meja. Matanya berkilat penuh rasa ingin tahu yang tidak terbendung. Sebagai sahabat yang tahu betapa protektifnya Nathaniel, berita tentang "calon istri" sang Direktur Utama Sinclair Group adalah topik terpanas di lingkaran mereka.
"Al... siapa sih calon istri Nathaniel? Satu kantor heboh, tapi fotonya nggak ada yang tahu," tanya Lady, suaranya naik satu oktav karena penasaran.
Alessia menyesap iced americanonya perlahan, mencoba menyembunyikan senyum kecil yang hampir lolos. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang saat harus membicarakan dirinya sendiri sebagai orang lain.
"Hm ada... kenalan Ayah," jawab Alessia singkat, berusaha terdengar senatural mungkin. Ia teringat bagaimana semalam Nathaniel memeluknya erat di sofa, dan kini ia harus berpura-pura menjadi "adik" yang informan.
"Kamu udah pernah ketemu langsung? Cantik nggak? Levelnya sebanding nggak sama Nathaniel yang tinggi, gagah, pintar, dan perkasa itu?" cecar Lady lagi, tidak puas dengan jawaban umum Alessia.
Alessia meletakkan gelasnya, menyandarkan punggung dengan gaya anggun yang sangat khas Sinclair. "Belum, aku belum ketemu secara formal. Pacar Kakak itu super sibuk, dia punya dunianya sendiri yang padat sekali," jawab Alessia bohong, meski hatinya sedikit geli menyebut dirinya sendiri sebagai wanita super sibuk.
"Masa sih? Secantik apa sampai Nathaniel yang sedingin es itu bisa luluh? Jangan-jangan dia model internasional ya?" Lady terus menebak-nebak, sementara teman-temannya yang lain mulai ikut berdiskusi seru.
Alessia hanya tersenyum tipis, menatap pantulan dirinya di jendela kaca coffee shop. Ia merasa menang dalam permainan rahasia ini. Di mata dunia, Nathaniel adalah pria lajang yang sedang menunggu perjodohan, namun hanya Alessia yang tahu bahwa setiap malam, pria itu hanya memikirkan satu wanita yang sekarang sedang duduk santai menyesap kopi bersama teman-temannya.
"Ya... kita lihat saja nanti kalau waktunya sudah tepat," pungkas Alessia misterius, membuat rasa penasaran Lady semakin memuncak.
———
Alessia mempercepat langkahnya menyusuri koridor, aroma kopi yang ia bawa perlahan tertutup oleh rasa dingin yang menjalar di punggungnya. Senyum ramah yang tadi ia bagikan kepada para staf kini memudar, digantikan oleh kerutan cemas di dahi. Tatapan para staf yang biasanya ceria, kini tampak menunduk seolah tidak berani menatap matanya secara langsung.
"Nona Alessia... Ibu Anda ada di ruangan," bisik salah satu sekretaris dengan nada bicara yang sangat hati-hati.
"Ibu? Kenapa?" gumam Alessia pelan. Jantungnya mulai berdegup kencang, menciptakan ritme yang tidak beraturan di balik blus sutranya.
Ia mendorong pintu ruangan eksekutif itu dengan perlahan. Suasana di dalam terasa sangat kontras dengan keramaian di luar; hening, berat, dan penuh tekanan. Di sana, Rosetta Sinclair duduk dengan anggun namun kaku di sofa kulit, berhadapan langsung dengan Nathaniel.
Nathaniel sendiri duduk dengan posisi tegap, namun rahangnya yang mengeras dan tangannya yang tertaut erat di atas lutut menunjukkan bahwa ia sedang berada dalam mode defensif. Tinggi badannya yang menjulang biasanya memberikan kesan dominan, namun di hadapan tatapan tajam Rosetta, ia tampak seperti seorang prajurit yang sedang diinterogasi.
"Apa sudah ketahuan?" gumam Alessia dalam hati, jemarinya meremas kuat kantung belanjaan kopi yang masih ia pegang.
Rosetta menoleh saat mendengar pintu terbuka. Matanya yang biasanya hangat kini tampak menyelidik. "Ah, Alessia. Kebetulan sekali kamu sudah kembali. Sini, duduklah," ajak Rosetta dengan nada bicara yang tenang namun menyimpan otoritas yang tak terbantah.
Alessia melirik Nathaniel, mencari petunjuk lewat kontak mata, namun Nathaniel hanya menatapnya sekilas dengan sorot mata yang seolah memberi peringatan: Hati-hati.
"Ada apa, Bu? Tumben sekali Ibu ke kantor tanpa memberi kabar dulu," tanya Alessia, mencoba bersikap senatural mungkin meski suaranya sedikit bergetar.
Rosetta menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang halus namun terasa nyaring di keheningan itu. "Ibu baru saja mengobrol dengan Nathaniel soal... 'calon istri' yang ramai dibicarakan kolega Ayahmu belakangan ini. Dan Ibu merasa ada sesuatu yang kalian berdua sembunyikan dari kami."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alessia. Ia bisa merasakan keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya. Apakah rahasia di apartemen malam itu telah tercium oleh insting seorang ibu?
"Kamu diam-diam menjodohkan Nathaniel dengan temanmu, ya?" tanya Rosetta, tatapannya beralih dari Nathaniel ke Alessia dengan binar menyelidik yang kini terasa lebih seperti rasa penasaran seorang ibu daripada interogasi polisi.
Alessia sempat terpaku sesaat, otaknya berputar cepat menangkap "pelampung penyelamat" yang dilemparkan ibunya secara tidak sengaja. Ia tertawa kecil, sebuah tawa yang sedikit dipaksakan untuk menutupi sisa kegugupannya.
"Astaga, Ibu... aku pikir ini soal apa," ujar Alessia sembari meletakkan kopinya ke meja dengan gerakan yang kini lebih rileks. "Iya, Bu... kemarin sempat aku kenalkan dengan Lady. Tapi sepertinya Kak Nathaniel memang terlalu kaku, dia merasa tidak cocok dengannya."
Rosetta manggut-manggut, namun raut wajahnya belum sepenuhnya puas. Ia menyandarkan punggungnya yang anggun ke sofa, menatap kedua anaknya bergantian. "Lalu kalau memang tidak cocok, kenapa ada desas-desus soal 'calon istri' yang sampai ke telinga ayah Lady? Tuan Park bahkan sempat menyinggungnya di telepon tadi pagi. Siapa wanita yang kalian maksud itu?"
Pertanyaan itu bagaikan granat yang pinnya baru saja ditarik. Kesunyian kembali menyergap. Alessia melirik ke arah Nathaniel, mencari bantuan. Ia bisa melihat jakun Nathaniel naik-turun saat pria itu menelan ludah.
"Oh, itu..." Alessia menggantung kalimatnya, lidahnya mendadak kelu. Ia tidak menyangka kebohongannya pada Lady di coffee shop tadi akan berputar secepat ini sampai ke telinga orang tuanya.
"Itu cuma alibi, Bu," potong Nathaniel tiba-tiba. Suara baritonnya terdengar mantap, meski tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas kain celananya sendiri. "Supaya Lady tidak berharap lagi dan tidak terus-menerus mengejarku. Aku bilang padanya bahwa sudah ada wanita pilihan Ayah yang sedang dekat denganku. Hanya agar dia menjauh."
Rosetta menyipitkan mata, menatap putra angkat kebanggaannya itu dengan saksama. "Benar begitu, Nathan? Kamu tidak sedang menyembunyikan seseorang yang nyata dari Ibu?"
"Benar, Bu. Fokusku saat ini hanya untuk Sinclair Group dan memastikan Alessia belajar dengan benar di kantor," jawab Nathaniel dengan wajah sedatar es, sebuah kebohongan sempurna yang terlatih bertahun-tahun demi menjaga kepercayaan keluarga ini.
Rosetta akhirnya tersenyum kecil, tampak menerima penjelasan itu. "Lain kali, jangan gunakan alasan seperti itu. Bisa-bisa Ayahmu benar-benar mencarikan wanita itu sampai ketemu."
Begitu Rosetta berdiri untuk pamit, Alessia dan Nathaniel saling melempar pandang. Sebuah tatapan rahasia yang sarat akan peringatan: permainan ini semakin berbahaya, dan benteng yang mereka bangun mulai retak oleh kebohongan mereka sendiri.